Buku: Ketika Hati Beriktikaf

Download Pdfnya Klik
حِينَما تَعْتَكِفُ القُلُوبُ
Ketika Hati Beriktikaf
Penulis:
Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-‘Aql
Penerbit:
Markaz An-Nukhab Al-‘Ilmiah
Daftar isi
Sifat Pertama: Memutus Ketergantungan kepada Makhluk 5
Sifat Kedua: Hidup Bersama Al-Qur’an 10
Sifat Ketiga: Pemusatan Hati dan Kesungguhannya Menghadap Allah 27
Sifat keempat: Merasakan Kebersamaan Allah dengan Hamba-Nya 30
Sifat Kelima: Mengagungkan Allah 33
Sifat Keenam: Kefakiran Hamba kepada Rabbnya dan Rasa Butuh kepada-Nya 41
Sifat Ketujuh: Menghadirkan Karunia dan Anugerah Allah 46
Sifat Kedelapan: Mengakui Dosa dan Kekurangan 53
Sifat Kesembilan: Menghadap kepada Allah dengan Merutinkan Zikir 57
Sifat Kesepuluh: Menghadap kepada Allah dengan Memperbanyak Doa 68
Sifat Kesebelas: Tunduk dan Khusyuk 77
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah yang menjadikan tempat pandangan-Nya adalah hati, bukan rupa dan tubuh. Salawat dan salam semoga tercurah dengan kesempurnaan yang paling sempurna kepada Nabi kita Muhammad, pemimpin keturunan Adnan, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau yang memiliki ketakwaan dan keimanan.
Amma ba‘du:
Banyak sekali orang yang, ketika mendengar kata iktikaf, yang terlintas di benak mereka hanyalah iktikaf jasmani di salah satu rumah Allah. Dalam bayangan mereka, iktikaf terbatas pada pengertian lahiriah semata. Padahal, meskipun itu merupakan salah satu syarat iktikaf, bukan itulah tujuan utamanya.
Sesungguhnya tujuan dan maksud utama dari iktikaf adalah iktikaf hati, yaitu hati yang menjadi tempat pandangan Allah.
Seperti sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ».
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”[1]
Betapa banyak seorang hamba yang berdiam (iktikaf) dengan tubuhnya di rumah Allah, tetapi ia tidak sampai pada hakikat iktikaf yang dikehendaki Allah. Karena itu, Allah menggantungkan kebaikan yang diberikan-Nya kepada seorang hamba sesuai kebaikan yang ada di dalam hatinya. Allah berfirman:
﴿إِن يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّا أُخِذَ مِنكُمْ﴾
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian.” (QS. Al-Anfāl: 7).
Semakin benar hati seseorang dan semakin jauh ia dari ketergantungan kepada dunia, maka semakin banyak anugerah dan pemberian Allah yang datang kepadanya. Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah hari-hari yang paling layak untuk mendapatkan anugerah tersebut. Dan orang yang ber-iktikaf di rumah Allah dengan iktikaf hati adalah yang paling pantas mendapatkannya, karena keikhlasan dan kedekatannya kepada Allah.
Agar iktikaf benar-benar menjadi iktikaf hati, bukan sekadar iktikaf jasmani, dan agar seorang yang ber-iktikaf dapat merasakan manisnya ibadah ini, lalu ibadah itu menjadi lurus baginya, ruhnya dapat menikmati kekhusyukan di dalamnya, serta ia dapat menghadirkan makna-makna penghambaan saat menjalaninya, maka sepatutnya ia memperhatikan sifat-sifat berikut:
Sifat Pertama: Memutus Ketergantungan dengan Makhluk
Sesungguhnya rahasia dan tujuan akhir dari iktikaf adalah berkhalwat (menyendiri) bersama Allah, mengosongkan hati, dan memutus keterikatannya dengan sesama makhluk. Oleh karena itu, hal yang paling pantas bagi orang yang beriktikaf adalah menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah khusus, menghadapkan diri kepada Tuhannya dengan mengosongkan hati hanya untuk Allah, terus-menerus mendesak dalam mencari rida-Nya, dan memelas sungguh-sungguh (al-ilhaf)[2] dalam meraih ampunan dan pemaafan-Nya.
Sebagaimana perkataan ‘Athā’ rahimahullah: “Perumpamaan orang yang ber-iktikaf seperti seseorang yang memiliki kebutuhan kepada seorang raja yang agung. Ia duduk di depan pintunya seraya berkata: ‘Aku tidak akan beranjak hingga kebutuhanku dipenuhi.’ Demikian pula orang yang ber-iktikaf; ia duduk di rumah Allah seraya berkata: ‘Aku tidak akan pergi hingga aku diampuni.’”[3]
Karena itu, disyariatkan bagi orang yang ber-iktikaf untuk menjauh dari manusia, tidak banyak bergaul dan tidak menetap di majelis-majelis mereka. Imam Ahmad rahimahullah telah menegaskan bahwa sepatutnya orang yang beriktikaf tidak berbaur dengan manusia, meskipun hal itu untuk tujuan mengajarkan ilmu atau mengajarkan bacaan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya keadaan yang paling sempurna baginya adalah menyendiri dan mengosongkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berzikir, dan berdoa kepada-Nya.[4]
Dengan melihat secara lebih mendalam, kita mendapati bahwa ibadah iktikaf dikaitkan dengan ibadah puasa, karena hikmah pensyariatan keduanya sama, yaitu memperbaiki hati dengan takwa kepada Allah. Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ (البقرة: 183).
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).
Seorang hamba yang berpuasa akan mencapai puncak perbaikan hatinya ketika ia menjauh dari manusia, lalu ber-iktikaf dengan hati dan raganya, menyendiri bersama Rabbnya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Termasuk dari petunjuk Nabi ﷺ dalam iktikaf adalah menyendiri dari manusia, dan beliau memerintahkan agar dibuatkan tenda (ṣikhāb/khībā’)[5] untuk beliau di masjid, yang beliau tempati untuk menyendiri bersama Rabbnya.
Sebagaimana ucapan ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً، فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ».
“Nabi ﷺ biasa ber-iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Aku membuatkan bagi beliau sebuah tenda; beliau salat Subuh lalu masuk ke dalamnya.”[6]
Sesungguhnya berbagai ketaatan dan banyak bentuk ibadah terkumpul pada diri orang yang ber-iktikaf, yang menyendiri bersama Rabbnya. Dan ibadah yang paling agung dan paling mulia adalah ibadah hati. Karena hati adalah pemimpin seluruh anggota badan, maka ia layak mendapatkan ibadah yang paling mulia: keikhlasan.
Tidak ada keadaan yang lebih banyak menumbuhkan dan menyempurnakan keikhlasan selain kondisi seorang hamba yang hancur hatinya, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Rabbnya saat ia menyendiri bersama Allah dan menetap dalam ketaatan-Nya. Pada saat itu ia akan merasakan manisnya iman, menemukan rasa dan kenikmatan yang tidak ada bandingannya.
Allah berfirman:
﴿ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ﴾
“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Al-Ḥadīd: 21).
Sifat Kedua: Hidup Bersama Al-Qur’an
Inti ibadah dan sumber kehidupan hati yang pertama adalah Kitab Allah, yang Allah jadikan sebagai ruh, kehidupan, dan cahaya. Allah berfirman:
﴿ وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ﴾ (الشورى: 52).
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu ruh (Al-Qur’an) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan tidak pula iman. Tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syūrā: 52).
Tidak mengherankan jika seorang mukmin menemukan kehidupan hatinya melalui tadabbur Al-Qur’an. Dengan bacaan yang perlahan dan penuh penghayatan, ia merasakan manisnya bermunajat dengan kalam Rabbnya. Ia hidup dalam keluasan makna ayat-ayat yang ruhnya mengalir ke relung hatinya. Saat itu ia merasakan kehidupan hati yang berbeda, dan dalam bacaannya ia mendapati kenikmatan yang tidak mampu diungkapkan oleh lisan dan tidak bisa dituliskan oleh pena, karena agungnya firman Rabb semesta alam dan keindahan retorikanya yang mempesona. Keagungan itu membuat jiwa menjadi lembut, diliputi ketenangan dan rasa takut (khusyuk). Maka tampaklah bagi hati makna-makna yang memancar sebagai cahaya dan hujan rahmat yang memancarkan kewibawaan dan keindahan pada diri pembacanya.
Sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi, demikian pula Al-Qur’an adalah musim semi bagi hati orang-orang beriman. Ia adalah sungai kehidupan bagi hati mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakkur. Bacaan seperti itu melahirkan cinta, kerinduan, rasa takut, harapan, dan seluruh kondisi yang menjadi sumber kehidupan dan kesempurnaan hati.
Andaikan manusia mengetahui apa yang terkandung dalam membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dari segala sesuatu selainnya. Jika seorang hamba membaca Al-Qur’an dengan perenungan, hingga ia melewati ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya, maka hendaknya ia mengulanginya, meskipun seratus kali atau semalam suntuk.
Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman lebih baik daripada menyelesaikan satu kali khatam tanpa penghayatan. Itu jauh lebih bermanfaat bagi hati, lebih menguatkan iman, dan lebih mendatangkan rasa manisnya membaca Al-Qur’an. Sebab, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur adalah inti dari penyucian hati.[7]
Dan hal ini tidak berlaku bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi khusus bagi orang yang ketika memulai membaca sebuah surat, tujuan utama yang memenuhi hatinya adalah: “Kapan aku akan mengambil pelajaran dari apa yang aku baca?” — bukan: “Kapan aku menyelesaikan surat ini?”
Tujuannya adalah: “Kapan aku memahami pesan Allah? Kapan aku tersadar? Kapan aku mengambil ibrah?” Sebab membaca Al-Qur’an adalah ibadah, dan ibadah tidak dilakukan dalam keadaan lalai.”[8]
Apabila orang yang ber-iktikaf mampu hidup bersama Al-Qur’an dengan cara seperti ini, maka ia telah meraih iktikaf hati, yang merupakan tujuan utama bagi para pencari iktikaf yang benar.
Sesungguhnya hidup bersama Al-Qur’an dan mentadabburinya adalah kunci istiqamahnya hati. Tidak ada yang menandingi hidup bersama Al-Qur’an dalam mengokohkan hati dan menancapkan fondasinya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk mentadabburi kitab-Nya, merenungi maknanya, dan menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai petunjuk. Allah pun memuji orang-orang yang melakukan hal itu, menempatkan mereka pada derajat yang paling tinggi, dan menjanjikan bagi mereka anugerah yang paling mulia.
Seandainya seorang hamba menghabiskan permata umur-nya untuk tujuan yang agung ini, niscaya hal itu tidaklah terlalu banyak dibandingkan dengan apa yang merupakan puncak cita-cita, tujuan terbesar, sumber segala sumber, dan pondasi kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat), sebagai dasar bagi kebaikan agama, dunia, dan akhirat. Dengan hal itu, Allah akan menganugerahi seorang hamba kehidupan yang penuh dengan hidayah, kebaikan, dan rahmat; Allah mempersiapkan baginya kehidupan yang baik dan amal-amal saleh yang kekal.[9]
Sesungguhnya awal langkah untuk hidup bersama Al-Qur’an terletak pada tadabbur dan memperpanjang perenungan terhadap ayat-ayatnya.
Benar, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba — baik dalam kehidupan dunia maupun akhiratnya — dan tidak ada yang lebih mendekatkan dirinya kepada keselamatan selain tadabbur Al-Qur’an, memperpanjang perenungan terhadapnya, serta memusatkan pikiran pada makna-makna ayatnya.
Tadabbur Al-Qur’an menyingkapkan dengan jelas bagi seorang hamba penanda kebaikan dan keburukan hingga seluruh rincinya; jalan-jalan menuju keduanya, sebab-sebab yang melahirkan keduanya, tujuan akhir keduanya, buah dari masing-masing keduanya, serta nasib para pelakunya.
Tadabbur Al-Qur’an akan meletakkan (tatullu)[10] di tangannya kunci-kunci kebahagiaan dan ilmu-ilmu yang bermanfaat; mengokohkan dasar keimanan di dalam hatinya; membangun dan menguatkan pilar-pilarnya; menampilkan gambaran nyata tentang dunia dan akhirat, surga dan neraka, ke dalam hatinya.
Tadabbur Al-Qur’an menjadikan seorang hamba “hidup bersama umat-umat terdahulu”, menyaksikan hari-hari Allah pada mereka, memperlihatkan lokasi-lokasi ibrah, menghadirkan di hadapannya keadilan dan karunia Allah, memperkenalkannya kepada Dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, apa yang dicintai-Nya dan apa yang dibenci-Nya, jalan menuju-Nya, keadaan para penempuh jalan tersebut saat tiba di hadapan-Nya, serta rintangan-rintangan perjalanan dan penyakit-penyakitnya.
Ia juga memperkenalkannya pada jiwa manusia, sifat-sifatnya, hal-hal yang merusak amal dan hal-hal yang meluruskannya. Tadabbur Al-Qur’an memperkenalkan jalan para penduduk surga dan penduduk neraka, amal-amal mereka, keadaan-keadaan mereka, ciri-ciri mereka, derajat orang-orang yang bahagia dan yang sengsara, serta kelompok-kelompok manusia: apa yang menjadikan mereka serupa dan apa yang membedakan mereka.
Dalam merenungkan, mentadabburi, dan memahami Al-Qur’an terdapat manfaat dan hikmah yang berlipat-lipat dari apa yang telah kami sebutkan. Secara ringkas, Al-Qur’an adalah harta karun terbesar, dan Thillasmuhu[11] adalah menyelam dengan pikiran hingga mencapai kedalaman makna-maknanya.”[12]
Di antara sarana paling bermanfaat untuk membantu tadabbur Al-Qur’an adalah mengulang-ulang ayat, karena itulah jalan terbaik untuk memancing keluarnya harta karun dan rahasia-rahasia Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ bangun malam dengan satu ayat hingga waktu subuh, beliau mengulang-ulangnya.”
Ayat tersebut adalah firman Allah:
﴿إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Maidah: 118).[13]
Bishr bin as-Sarī berkata: “Ayat itu seperti kurma; semakin engkau mengunyahnya, semakin engkau mendapatkan manisnya.” [14]
Al-Muwaffaq Ibn Qudāmah berkata: “Jika tadabbur tidak bisa tercapai kecuali dengan mengulang ayat, maka hendaklah ia mengulanginya.”[15]
Di antara hal yang membantu tadabbur Al-Qur’an adalah menghadap kepadanya sepenuh hati, serta menghadirkan perasaan bahwa pembaca sedang diajak bicara oleh Allah. Hal ini termasuk faktor terbesar terbukanya makna-makna Al-Qur’an.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah —seraya merasakan limpahan makna luar biasa yang Allah bukakan ke dalam hatinya, dalam masa kurungan dan khalwatnya bersama Rabbnya, serta sepenuhnya menghadap kepada Al-Qur’an— berkata:
“Allah telah membukakan untukku di benteng ini, dalam kesempatan kali ini, dari makna-makna Al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu sejumlah perkara yang banyak ulama pun berharap mendapatkannya. Dan aku menyesal telah menyia-nyiakan sebagian besar waktuku bukan untuk mendalami makna-makna Al-Qur’an.”[16]
Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau ingin mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an, maka kumpulkanlah hatimu ketika membacanya dan mendengarnya, curahkan pendengaranmu, dan hadirkanlah dirimu seperti orang yang sedang diajak bicara dengan Al-Qur’an oleh Dzat yang berfirman dengannya —Subḥānah— kepada dirinya. Karena ia merupakan pesan (khithab) dari-Nya kepadamu melalui lisan Rasul-Nya.”
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati, atau yang mencurahkan pendengarannya, sedang ia hadir.” (QS. Qāf: 37).
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh bergantung pada adanya yang memberi pengaruh, tempat yang menerima, syarat untuk terjadinya pengaruh, dan hilangnya penghalang yang mencegahnya. Maka ayat ini mengandung penjelasan semuanya dengan lafaz yang paling ringkas, paling jelas, dan paling menunjukkan maksudnya.
Apabila yang memberi pengaruh ada —yaitu Al-Qur’an—, dan tempat yang menerima ada —yaitu hati yang hidup—, serta syaratnya terwujud —yaitu mendengarkan—, dan penghalangnya hilang —yaitu hati yang sibuk dan lalai dari makna khithab, berpaling kepada sesuatu selainnya—, maka terwujudlah pengaruh itu, yaitu manfaat dan mengambil pelajaran.[17]
Sesungguhnya karunia Allah kepada kita sangat besar, ketika Dia mengizinkan makhluk-makhluk yang lemah seperti kita untuk bermunajat kepada-Nya melalui firman-Nya yang agung. Ibnus Shalah berkata: “Telah disebutkan bahwa para malaikat tidak diberi keutamaan membaca Al-Qur’an, dan karena itu mereka sangat berhasrat untuk mendengarkannya dari kalangan manusia. Maka membaca Al-Qur’an adalah kemuliaan yang Allah memuliakan manusia dengannya. Hanya saja, kaum mukmin dari golongan jin —telah sampai kepada kami— mereka membacanya. Dan Allah lebih mengetahui.”[18]
Sesungguhnya mengingat pemilihan (ini), dan mengingat keagungan Dzat yang berfirman dengan Al-Qur’an, merupakan sarana terkuat untuk hidup bersama Al-Qur’an.
Ibnul Jauzi berkata: “Selayaknya bagi orang yang membaca Al-Qur’an yang agung untuk memperhatikan bagaimana Allah Ta‘ala telah melimpahkan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya kepada pemahaman mereka, dan hendaknya ia mengetahui bahwa apa yang ia baca bukanlah perkataan manusia, serta hendaknya ia menghadirkan keagungan Dzat yang berfirman dan mentadabburi kalam-Nya.”[19]
Dan di antara hal yang membantu untuk mentadabburi Al-Qur’an dan hidup bersamanya adalah bergembira dengannya, dan membacanya dengan jiwa yang penuh suka cita dan merasakan karunia. Maka barang siapa menginginkan pemahaman terhadap Al-Qur’an hendaklah ia membacanya dengan bacaan yang disertai kegembiraan dan suka cita; karena hal itu termasuk pendorong terbesar bagi tadabbur.
Allah Ta‘ala berfirman dalam menggambarkan hamba-hamba-Nya yang beriman:
﴿وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَنَا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴾
“Dan apabila suatu surah diturunkan, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka (surat ini) menambah iman mereka dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124).
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ • قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yūnus: 57–58).
Ibn Abī Ḥātim dalam tafsirnya berkata: “Dan diriwayatkan dari Baqiyyah, dari Shafwān —yakni Ibnul Walīd bin ‘Amr— ia berkata: Aku mendengar Anfa‘ bin ‘Abd al-Kalā‘ī berkata: Ketika datang pemasukan (kharaj) Irak kepada ‘Umar, ‘Umar keluar bersama seorang maulānya. ‘Umar mulai menghitung unta-unta itu, ternyata jumlahnya lebih banyak dari itu. Maka ‘Umar pun mengucapkan, ‘Alhamdulillāh.’ Maulanya berkata, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, demi Allah, ini termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya.’ Maka ‘Umar berkata, ‘Engkau keliru. Bukan ini yang dimaksud. (tapi) Allah berfirman:
﴿ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bersukacita; itulah yang lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. QS. Yunus: 58). Dan Ini (harta) termasuk apa yang mereka kumpulkan.’”[20]
Dan Aḥmad bin Abī al-Ḥawārī berkata: “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an, lalu aku memandang pada satu ayat darinya, maka akalku tercengang karenanya. Aku takjub kepada para penghafal Al-Qur’an, bagaimana bisa tidur terasa nyaman bagi mereka dan bagaimana mereka bisa tenang menyibukkan diri dengan sesuatu dari urusan dunia, sementara mereka membaca kalam Ar-Raḥmān. Seandainya mereka memahami apa yang mereka baca, mengetahui haknya, merasakan kelezatannya, dan menganggap manis bermunajat dengannya, niscaya hilang dari mereka rasa kantuk karena gembira dengan apa yang diberikan dan ditaufikkan kepada mereka.”[21]
Dzun Nūn al-Miṣrī mengucapkan bait syair:
مَنَعَ القُرَانُ بِوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ *** مُقَلَ الْعُيُونِ بِلَيْلِهَا لَا تَهْجَعُ
“Al-Qur’an dengan janji dan ancamannya telah menghalangi mata-mata (ahlinya) untuk tidur nyenyak di malam hari.
فَهِمُوا عَنِ الْمَلِكِ الْعَظِيمِ كَلَامَهُ *** فَهُمَا تَذِلُّ لَهُ الرِّقَابُ وَتَخْضَعُ
Mereka memahami kalam Raja Yang Maha Agung, maka tertunduklah tengkuk-tengkuk (mereka) dan merendah.”[22]
Abu Sulaimān ad-Dārānī berkata: “Ahli (ibadah) malam dalam malam mereka lebih merasakan kenikmatan daripada ahli lahw (orang-orang yang bersenang-senang) dalam kesenangan mereka. Kalau bukan karena (ada) malam, niscaya aku tidak suka tinggal di dunia.”[23]
Sebagian salaf berkata: “Betapa kasihan penduduk dunia; mereka keluar dari dunia tetapi belum pernah merasakan yang paling lezat di dalamnya.”
Mereka bertanya, “Apa yang paling lezat di dalamnya?” Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa dekat dengan-Nya, rindu untuk berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.”[24]
Rasa rindu kepada Allah, merasa dekat dengan-Nya, dan menghadap kepada-Nya, sebab terbesar yang membangkitkannya adalah hidup bersama Al-Qur’an, mentadabburinya, dan menikmati tilawahnya.
Sungguh, para salafus shalih telah memahami makna ini dan menyadarinya; maka hal itu membuahkan pada diri mereka tekad yang tinggi untuk mengosongkan pikiran demi Al-Qur’an di musim-musim turunnya rahmat. Mereka memiliki hal-hal mengagumkan bersama bacaan Al-Qur’an, dan dari mereka terdengar dengung bacaan seperti dengung lebah karena begitu terpengaruhnya mereka.
Kita semua harus meyakini bahwa hidup bersama Al-Qur’an, mentadabburinya, memahami makna-maknanya, dan mengamalkannya adalah maksud dari tilawah, sebagaimana dipahami oleh salaf kita yang shalih.
Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur’an sebagai surat-surat (risalah) dari Rabb mereka. Mereka mentadabburinya di malam hari, dan melaksanakannya di siang hari.”[25]
Maka bebaskanlah,-wahai orang yang diberi taufik-, ruhmu; agar ia dapat menghirup (litu’abba)[26] semerbak wewangian Al-Qur’an. Kosongkan hatimu, dan luangkan pikiranmu untuk Al-Qur’an, agar engkau bisa hidup bersamanya, lalu hatimu mengepak di puncak-puncak kebahagiaan, sehingga engkau meraih kemenangan yang agung.
Sifat Ketiga: Pemusatan Hati dan Kesungguhannya Menghadap Allah
Sesungguhnya tujuan dan maksud utama iktikaf adalah keistiqamahan hati. Dan hati tidak akan bisa istiqamah di atas jalan Allah melainkan dengan menghadapkan dirinya secara total dan seutuhnya kepada Allah. Kapan pun hati tersebut berpaling dari Allah dan mengembara dalam berbagai kesibukan yang jauh dari-Nya, maka sungguh ia telah kehilangan tujuan utama dari iktikaf tersebut, meskipun jasadnya sedang beriktikaf (berada di dalam masjid).
Oleh karena itu, mengingat kesalehan hati dan keistiqamahannya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala sangat bergantung pada pemusatannya kepada Allah, serta merapikan segala kekusutannya dengan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala—karena sesungguhnya kekusutan hati tidak dapat dirapikan melainkan dengan menghadapkan diri kepada Allah Ta’ala—sementara berlebihan dalam makan dan minum, berlebihan dalam bergaul dengan manusia, berlebihan dalam berbicara, dan berlebihan dalam tidur adalah hal-hal yang semakin menambah kekusutan hati, mencerai-beraikannya ke segala arah, serta memutus, melemahkan, menghambat, atau menghentikan perjalanannya menuju Allah Ta’ala; maka rahmat (kasih sayang) Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya menuntut adanya syariat puasa bagi mereka, guna menghilangkan kelebihan makan dan minum, serta membersihkan hati dari campuran syahwat yang menghambat perjalanannya menuju Allah Ta’ala. Allah mensyariatkannya sesuai dengan kadar kemaslahatan, sehingga seorang hamba dapat mengambil manfaat darinya di dunia dan akhirat, tanpa mendatangkan mudarat baginya dan tanpa memutus kemaslahatannya yang segera (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat).
Dan Allah mensyariatkan pula bagi mereka iktikaf; yang mana maksud dan ruh (esensi) utamanya adalah: menautkan hati kepada Allah Ta’ala, memusatkannya hanya kepada-Nya, berkhalwat (menyendiri) bersama-Nya, serta memutus segala kesibukan dengan makhluk untuk kemudian sibuk hanya kepada-Nya Subhanah. Sehingga, zikir kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dan ketundukan menghadap kepada-Nya menempati ruang-ruang kerisauan hati dan lintasan pikirannya, lalu mengambil alih posisi semua itu.[27]
Seluruh cita-cita dan kerisauannya tertuju hanya kepada-Nya, seluruh lintasan pikirannya dipenuhi dengan zikir kepada-Nya serta memikirkan cara meraih keridaan-Nya dan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan demikian, keintimannya bersama Allah menggantikan keintimannya dengan sesama makhluk. Hal ini sekaligus mempersiapkannya untuk mendapatkan keintiman bersama-Nya pada hari kesepian yang mencekam di alam kubur kelak, di saat tidak ada lagi teman yang menemaninya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat membuatnya bahagia selain Dia. Inilah tujuan iktikaf yang paling agung.”[28]
Sifat keempat: Merasakan Kebersamaan Allah dengan Hamba-Nya
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ • وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴾
“(Yaitu Tuhanmu) yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerakmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 218–219).
Ini adalah ayat yang agung, yang darinya seorang hamba yang beriman dapat menangkap bahwa Allah selalu melihat dirinya dalam setiap keadaan, perubahan, dan ibadahnya.
Maksudnya: “Dia melihatmu dalam ibadah yang agung ini, yaitu salat, ketika engkau berdiri dan ketika engkau bergerak antara rukuk dan sujud. Ibadah ini disebutkan secara khusus karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia; serta karena siapa saja yang menghadirkan kedekatan Rabb-nya di dalam salat, niscaya ia akan khusyuk dan tunduk.”[29]
Ayat yang mulia ini datang di penghujung Surah Asy-Syu‘arā’ setelah perintah kepada Nabi ﷺ untuk memberi peringatan, tetap teguh di atas kebenaran, dan bertawakal kepada Allah. Seakan-akan di dalamnya terdapat isyarat bahwa menghadirkan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya dan pengawasan-Nya terhadapnya ketika menunaikan ibadah, merupakan bekal ruhani yang menghibur hati orang beriman dalam perjalanannya menuju Allah, mengangkat rasa sesaknya, dan menghilangkan hiruk-pikuk, kekeruhan, serta kepedihan hidup dari dirinya.
Sesungguhnya menghadirkan makna kebersamaan ini, merasakan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya, pengetahuan-Nya terhadap keadaannya, serta ilmu-Nya terhadap rahasia dan yang tampak darinya, pada ucapan dan amalnya; sungguh hal itu cukup untuk menghilangkan tirai dari hati, dan membersihkan debu kotoran dunia darinya. Sebagai gantinya, akan hadir keikhlasan, yang diselimuti pagar kejujuran bersama Allah dan keinginan untuk meraih pahala serta karunia-Nya di akhirat.
Barang siapa dalam melaksanakan ibadah memiliki kedudukan pengawasan diri seperti ini, maka cita-citanya tidak akan tertuju kecuali kepada kedudukan yang paling tinggi di akhirat. Karena dunia dan bagian-bagiannya, bila disertai kesadaran akan kebersamaan Allah dan pengawasan-Nya, akan menjadi seperti jerami kering yang diterbangkan angin. Namun jika pengawasan itu hilang atau melemah di hati seorang hamba, maka dorongan nafsu akan menyerangnya seperti serangan singa buas terhadap mangsanya pada hari lapar dan ketika tak ada pengawas.
Sifat Kelima: Mengagungkan Allah
Sesungguhnya asas dalam penghambaan kita kepada Allah adalah ia tegak di atas pengagungan, pemuliaan, dan penghormatan kepada-Nya. Bulan Ramadan, sepuluh (hari) terakhirnya yang mulia, dan iktikaf merupakan pintu-pintu keberkahan untuk menumbuhkan pengagungan dan pemuliaan ini di dalam hati kita. Momentum-momentum ini termasuk sebab terbesar yang mewariskan tuntutan agung ini.
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā dalam menafsirkan firman Allah Ta‘ala:
﴿ مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا ﴾
“Apa yang membuat kalian tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya?”[30]
Maka hak tawqīr (penghormatan) adalah pengagungan di dalam hati, dan hak pengagungan di hati adalah ketaatan dengan anggota badan.[31]
Setiap kali seorang mukmin mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang di dalamnya terdapat penyebutan nama-nama Allah yang indah, keagungan, dan kemuliaan-Nya, niscaya hatinya tercabut karena pengagungan dan pemuliaan kepada Allah. Ia membaca firman Allah Ta‘ala:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67).
Maka mengalirlah ke dalam hatinya berbagai perasaan pengagungan dan pemuliaan kepada Allah; perasaan yang deras, yang mengikis sisa-sisa keterikatan kepada dunia dan sikap condong kepadanya, hingga tidak tersisa di dalam hati tempat bersemayam bagi selain pengagungan kepada Allah.
Ia membaca firman-Nya:
﴿ وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴾ [الأنعام: 59]
“Dan pada sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun di kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah dan yang kering, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Al-An‘ām: 59).
Ia merenungkan ayat ini dan berhenti pada makna-maknanya, maka bangkitlah dalam hatinya berbagai nuansa rasa akan keagungan kalam ini dan keagungan Dzat yang berfirman dengannya .
Sesungguhnya ini adalah “kalam Allah, dan Allah telah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya di dalamnya dengan sifat-sifat-Nya. Terkadang Dia menampakkan diri dalam selubung wibawa, keagungan, dan keperkasaan; maka tengkuk-tengkuk pun tunduk, jiwa-jiwa hancur (tawaduk), suara-suara menjadi khusyuk, dan kesombongan meleleh sebagaimana garam meleleh di dalam air.
Dan terkadang Dia menampakkan diri dalam sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan, yaitu kesempurnaan nama-nama-Nya, keindahan sifat-sifat-Nya, dan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan Dzat-Nya. Maka kecintaan kepada-Nya menghabiskan seluruh kekuatan cinta di dalam hati hamba, karena apa yang ia kenali dari sifat-sifat keindahan-Nya dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya; sehingga hati hamba menjadi kosong dari selain kecintaan kepada-Nya.
Maka jika ada selain-Nya yang ingin menggantungkan kecintaan (hati itu) kepada dirinya, hati dan seluruh bagian dalamnya menolak hal itu dengan penolakan yang sempurna, sebagaimana dikatakan:
«يُرَادُ مِنَ الْقَلْبِ نِسْيَانُكُمْ *** وَتَأْبَى الطَّبَاعُ عَلَى النَّاقِلِ».
“Dikehendaki dari hati agar melupakan kalian, namun tabiat-tabiat menolak untuk berpindah (kecintaannya) dari kalian.”
Maka tetaplah cinta kepada-Nya itu menjadi tabiat (alami), bukan sesuatu yang dipaksakan. Dan apabila Dia menampakkan diri dengan sifat-sifat rahmat, kebaikan, kelembutan, dan ihsan, bangkitlah kekuatan harap dari diri hamba, harapannya pun meluas, keinginannya (akan rahmat Allah) menguat, dan ia berjalan menuju Rabbnya dengan “pemandu” berupa harapan yang menggiring kendaraan perjalanannya. Semakin kuat harapannya, semakin sungguh-sungguh ia dalam beramal; sebagaimana seorang petani, semakin besar harapannya terhadap hasil (al-mughal)[32], semakin ia memenuhi tanahnya dengan benih. Dan jika harapannya lemah, ia pun mengurangi penaburan benihnya…
Dan apabila Dia menampakkan diri dengan sifat-sifat keperkasaan dan keagungan, jiwa yang tenang itu memberikan apa yang ia capai berupa kerendahan (tawaduk) karena keagungan-Nya, kehancuran (tunduk) karena kemuliaan-Nya, ketundukan terhadap keagungan-Nya, serta kekhusyukan hati dan anggota badan kepada-Nya. Maka ketenangan dan wibawa menyelimuti hati, lisan, anggota badan, dan penampilannya; hilanglah ketergesa-gesaannya, keganasannya, dan ketajamannya.
Kesimpulannya, bahwa Dia terkadang memperkenalkan diri-Nya kepada hamba dengan sifat-sifat keilahian-Nya, dan terkadang dengan sifat-sifat rububiyah-Nya. Penyaksian terhadap sifat-sifat keilahian itu menimbulkan di dalam hati hamba kecintaan yang khusus, kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya, rasa dekat dan gembira dengan-Nya, berlomba-lomba untuk mendekat kepada-Nya, berusaha mendekat kepada-Nya dengan ketaatan, terus-menerus menyebut-Nya, dan lari dari makhluk menuju kepada-Nya. Sehingga Dia semata menjadi satu-satunya tujuan dan perhatian hatinya, bukan selain-Nya.
Adapun penyaksian terhadap sifat-sifat Rububiyah, hal itu menimbulkan tawakal kepada-Nya, rasa butuh kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, serta kerendahan, ketundukan, dan kehancuran (tunduk total) di hadapan-Nya.”[33]
Dan dalam sunnah yang mulia, seorang mukmin membaca hadis ‘Abdullāh bin ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَطْوِي اللهُ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟».
“Allah melipat langit-langit pada hari Kiamat, lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Di mana para penguasa yang keras (zalim)? Di mana orang-orang yang sombong?’ Lalu Dia melipat bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Di mana para penguasa yang keras? Di mana orang-orang yang sombong?’”[34]
Lalu ia menelusuri pandangan pada rahasia-rahasia hadis ini, dan hatinya berjalan dalam naungan makna-maknanya; maka dikuasailah dirinya oleh rasa takut yang penuh wibawa dan pengagungan kepada Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan. Itu adalah perasaan kemuliaan dan ketinggian, yang mengangkat hati menuju puncak kedudukan, akibat kuatnya pengaruh nash-nash ini yang menggugah hati; sehingga bangkitlah dari hati itu pengagungan, rasa takut, dan pemuliaan kepada Allah.
Maka bagaimana mungkin hati tidak ber-iktikaf (menetap) sedangkan ia telah dipenuhi dengan pengagungan kepada Allah ? Tidak diragukan lagi, jika hati telah dipenuhi dengan hal itu, ia akan sampai pada inti dan hakikat iktikaf.
Sifat Keenam: Kefakiran Hamba kepada Rabbnya dan Rasa Butuh kepada-Nya
Sesungguhnya iktikaf di salah satu rumah Allah, yaitu iktikaf hati, adalah gambaran hidup dari keadaan hina seorang hamba dan kefakirannya kepada Raabbnya. Penghambaan tidak menjadi sempurna “kecuali dengan menyempurnakan kedudukan kehinaan dan ketundukan. Makhluk yang paling sempurna dalam ubudiyah adalah yang paling besar kehinaan dan ketundukannya kepada Allah serta ketaatannya.
Seorang hamba itu hina di hadapan Rabbnya yang Hak dari seluruh sisi kehinaan; ia hina karena keperkasaan-Nya, hina karena kekuasaan-Nya, hina karena rububiyah-Nya atas dirinya dan pengaturan-Nya terhadapnya, dan hina karena kebaikan-Nya kepadanya dan nikmat-nikmat-Nya atasnya.”[35]
Sesungguhnya seorang hamba, setiap kali ia merendah di hadapan Raabbnya, ia akan lebih dekat kepada Allah, kepada rahmat-Nya, pertolongan-Nya dan pemberian-Nya. Dia memberinya taufik, menunjukinya, dan menyambung kembali hati yang patah itu. “Betapa dekatnya penyembuhan bagi hati yang hancur ini, dan betapa dekatnya pertolongan, rahmat dan rezeki kepadanya! Betapa bermanfaat dan besar hasil keadaan ini baginya! Satu butir kecil saja dari keadaan seperti ini, satu helaan napas darinya, lebih Allah cintai daripada ketaatan sebesar gunung-gunung dari orang-orang yang merasa berjasa (Al-Mudillin)[36] dan kagum dengan amal, ilmu, dan keadaan mereka. Dan hati yang paling Allah cintai adalah hati yang telah dikuasai oleh kehancuran seperti ini, dan dikuasai oleh kehinaan ini; ia menundukkan kepala di hadapan Rabbnya, tidak mengangkat kepalanya kepada-Nya karena malu dan segan kepada Allah.”[37]
Sesungguhnya Allah mencintai dari hamba-Nya bahwa saat ia dalam keadaan rendah di hadapan-Nya, terus-menerus berada dalam keadaan hina kepada-Nya, dan senantiasa fakir kepada-Nya. Bahkan hati tidak akan lurus keadaannya kecuali dengan kefakiran kepada Allah, yang merupakan inti dan ruh penghambaan.
“Hati tidak akan baik dan tidak akan beruntung, tidak akan merasakan kelezatan, tidak akan bergembira, tidak akan baik, tidak akan tenang dan tidak akan tenteram kecuali dengan beribadah kepada Rabbnya, mencintai-Nya dan kembali kepada-Nya. Sekalipun ia mendapatkan segala sesuatu yang ia nikmati dari makhluk, hatinya tidak akan tenang dan tidak akan diam, karena di dalamnya terdapat kefakiran yang bersifat bawaan kepada Rabbnya, dari sisi bahwa Dia adalah yang disembah, yang dicintai dan yang dicari.”[38]
Dan setiap kali rasa kebutuhan seorang hamba kepada Allah semakin dalam, hal itu akan mendorongnya kepada inābah (kembali kepada-Nya) dan tunduknya hati, serta berdiamnya hati pada cinta kepada Allah, banyak mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, memuji-Nya, mengagungkan-Nya dan menyanjung-Nya.
Inilah sifat seorang mukmin dalam hidupnya, pada seluruh waktunya, saat dalam keadaan jual beli, saat bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Maka bagaimana lagi keadaannya ketika ia berada di tengah medan perlombaan (dalam ketaatan), di malam-malam rahmat dan turunnya pemberian, sementara ia ber-iktikaf dengan hati dan tubuhnya di atas ketaatan kepada Rabbnya, ketika ia mencapai “kejernihan penghambaan, terbangunnya rahasia antara dia dengan Allah, dan murninya cinta; sehingga ia pagi dan petang tidak mempunyai keinginan selain Rabbnya. Sungguh, kesibukannya dengan Rabbnya telah memutus darinya semua kesibukan, kehendaknya untuk-Nya telah meniadakan seluruh kehendak yang lain, dan cintanya kepada-Nya telah menghapus dari hatinya setiap cinta kepada selain-Nya.”[39]
Sesungguhnya seorang mukmin, ketika ia meyakini kebuRabbnya kepada Rabbnya, dan merasakan bahwa hal itu adalah kebutuhan yang paling penting, ia akan sampai kepada kejernihan penghambaan dan kepada kenikmatan berkhalwat dengan Allah.
Ketika ia merasakan kefakirannya kepada Allah dan kebutuhan yang sangat untuk merendah di hadapan-Nya, lalu ia terdorong kepada itu dengan kejujuran dan terkumpulnya hati, ia akan menemukan dunia lain berupa kenikmatan ruh, kelezatan jiwa dan penyejuk pandangan; suatu kenikmatan dalam ibadah “yang tidak terjangkau oleh gambaran kata-kata, dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak memiliki bagian darinya; dan setiap orang yang lebih lurus dengannya, maka bagiannya dalam merasakan kelezatan darinya akan lebih besar.”[40]
Dan “apabila hati telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih manis, lebih lezat, dan lebih baik baginya daripada hal itu.”[41]
Maka, rahasia iktikaf adalah terus-menerus berada dalam keadaan fakir, hancur, dan merendah kepada Allah, serta menelungkupkan diri di atas ambang pintu penghambaan kepada-Nya .
Sifat Ketujuh: Menghadirkan Karunia dan Anugerah Allah
Di antara keindahan tarbiyah Qur’ani pada awal dakwah kenabian adalah apa yang disebutkan di awal Surah al-Muddatsir, ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memberi peringatan dan berdakwah, kemudian berfirman:
﴿ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ﴾ [المدثر: 6]
“Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatsir: 6).
Itu adalah wasiat rabbani yang membersihkan seorang hamba dari sikap merasa tinggi dengan amal, dan memenuhi hatinya dengan rasa wibawa dan pengagungan kepada Allah, serta menghadirkan di hadapannya pemandangan karunia-karunia-Nya yang meliputi seluruh hidupnya. Tidak ada satu jalan pun, melainkan di atasnya ada nikmat Allah kepada hamba; tidak dapat dihitung oleh orang yang menghitung, dan tidak dapat dicatat oleh lembaran-lembaran.
Sesungguhnya seorang mukmin yang sejati adalah yang senantiasa menghadirkan pemandangan karunia-karunia Rabbnya atas dirinya; karena karunia itu telah melilitnya dalam sebuah lingkaran yang memenuhi langit dan bumi. Dialah yang telah mencurahkan nikmat-nikmat, yang paling tinggi di antaranya adalah nikmat hidayah—yang lisan tak sanggup menunaikan haknya—dengannya Rabbnya mengeluarkannya dari gelapnya kesesatan menuju cahaya hidayah, dari gelombang kesesatan menuju lapang iman.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
«يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ».
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.”[42]
Karena itu Allah mencela orang yang lalai dari menyaksikan karunia-Nya. Dia berfirman:
﴿ يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ﴾ [الحجرات: 17]
“Mereka merasa telah memberi jasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kalian merasa telah berjasa kepadaku dengan keislaman kalian. Sebenarnya Allahlah yang telah memberi karunia kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada iman.’” (QS. Al-Ḥujurāt: 17).
Inilah tarbiyah al-Qur’an yang membersihkan hati dari sikap merasa tinggi, menghapus dari dirinya jalan-jalan sikap (Masārib)[43] idlāl[44] (merasa berjasa dengan amal), dan memenuhi hati dengan pengagungan kepada Allah serta pengakuan atas karunia dan anugerah-Nya.
Hal ini dipahami oleh orang-orang yang memiliki keutamaan, seperti ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu, ketika beliau ditikam, lalu ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata kepadanya untuk menghibur:
“Wahai Amīrul Mu’minīn, sungguh jika (perkara) itu terjadi, engkau telah menyertai Rasulullah ﷺ dan engkau telah berbuat baik dalam menyertainya, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan beliau ridha kepadamu. Kemudian engkau menyertai Abū Bakr dan engkau telah berbuat baik dalam menyertainya, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia ridha kepadamu. Kemudian engkau menyertai para sahabat mereka, dan engkau telah berbuat baik dalam menyertai mereka. Sungguh jika engkau berpisah dengan mereka, niscaya engkau berpisah dengan mereka dalam keadaan mereka ridha kepadamu.”
Maka ‘Umar berkata:
“Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaanku dengan Rasulullah ﷺ dan keridhaannya, maka itu hanyalah karunia dari Allah Ta‘ālā yang Dia anugerahkan kepadaku. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaanku dengan Abū Bakr dan keridhaannya, maka itu hanyalah karunia dari Allah Jalla Dzikruhu yang Dia anugerahkan kepadaku. Adapun apa yang engkau lihat dari rasa gelisahku, maka itu adalah demi engkau dan para sahabatmu. Demi Allah, seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi (Thilal Al-Ardh)[45], niscaya aku akan menebus diri dengannya dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”[46]
Sesungguhnya menghadirkan pemandangan karunia Allah akan menghilangkan dari hati sumber-sumber ‘ujub, mencucinya dari kotoran sikap merasa berjasa, dan mensucikannya dari noda; agar hati menjadi bejana yang bersih, yang disucikan dengan iman, ditinggikan dengan amalan-amalan hati, dan dapat mengambil manfaat dari amalan-amalan anggota badan. Adapun jika amalan-amalan itu ada tetapi tercampuri dengan noda ‘ujub dan idlāl (merasa berjasa dengan amal), maka amalan-amalan itu akan menghancurkan hati pelakunya, tidak menyisakan kebaikan di dalamnya dan tidak pula membiarkannya. Karena itu Allah berfirman kepada orang yang merasa berjasa dengan amalnya:
«قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ».
“Sungguh Aku telah mengampuni si Fulan, dan Aku gugurkan amalmu.”[47]
Sesungguhnya kekaguman seseorang terhadap amalnya dan sikapnya merasa berjasa dengannya adalah salah satu kejatuhan yang paling buruk dan paling jelek. Ia adalah pembakar ketaatan, lahan tumbuhnya berbagai keburukan dan aneka penyakit serta bencana.
Para salaf sangat mewaspadai ‘ujub dan lari darinya. Muṭarrif bin ‘Abdillāh bin asy-Syikhkhīr berkata:
“Sungguh, aku bermalam dalam keadaan tidur lalu paginya dalam keadaan menyesal itu lebih aku sukai daripada aku bermalam dalam keadaan bangun (salat malam) lalu paginya dalam keadaan kagum (terhadap amal).”[48]
“Sesungguhnya engkau bermalam dalam keadaan tidur lalu paginya menyesal, itu lebih baik daripada engkau bermalam dalam keadaan berdiri (salat) lalu paginya dalam keadaan kagum terhadap diri sendiri. Sebab, amal orang yang kagum pada dirinya tidak akan naik (tidak diterima). Dan engkau tertawa dalam keadaan mengakui (dosa) itu lebih baik daripada engkau menangis dalam keadaan merasa berjasa. Rintihan para pelaku dosa lebih Allah cintai daripada suara nyaring (Zajal)[49] orang-orang yang bertasbih namun merasa berjasa.”[50]
Maka, nyalakanlah—wahai orang yang ber-iktikaf—di dalam benakmu percikan rasa akan karunia Allah dan penyucian-Nya terhadap dirimu. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴾ [النور: 21]
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian menjadi bersih selamanya. Tetapi Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nūr: 21).
Sifat Kedelapan: Mengakui Dosa dan Kekurangan (Kelalaian)
Sesungguhnya pandangan sekilas dan renungan sejenak terhadap doa-doa permohonan, munajat, dan rintihan para nabi serta orang-orang saleh, akan menyingkap sebuah rahasia yang melingkupinya bagi Anda. Rahasia tersebut tidak lain adalah: doa-doa itu senantiasa mencakup pengakuan terhadap dosa dan kezaliman (diri sendiri). Berikut ini adalah catatan dan lembaran-lembaran bercahaya dari pengakuan mereka atas dosa dan kezaliman tersebut:
Ini adalah doa Adam dan Hawa:
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23).
Ini adalah Musa ‘alaihis salam—yang merupakan salah satu rasul Ulul Azmi—berdoa:
﴿رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Qashash: 16).
Dan ini adalah Yunus ‘alaihis salam, ia memohon dan bermunajat kepada Rabbnya seraya mengakui dosanya, bahkan mengakui bahwa dirinya termasuk orang-orang yang zalim:
﴿فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Maka dia berdoa dalam kegelapan (yang berlapis-lapis): ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya: 87).
Dan ketika Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu meminta petunjuk kepada Nabi ﷺ seraya berkata kepada beliau: “Ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang dapat aku panjatkan dalam salatku.” Beliau ﷺ bersabda:
«قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ».
“Ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'”[51]
Inilah Tarbiah Nabawi yang mengikis kesombongan dan keangkuhan seorang hamba, dan menjadikannya senantiasa merasa butuh (iftiqar) kepada Rabbnya, senantiasa merendah (hina) di hadapan-Nya, dan senantiasa menghadirkan dosa-dosanya di pelupuk matanya. Jika ini saja merupakan wasiat Nabi ﷺ kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu—padahal kita tahu siapa beliau dengan segala keutamaan, kepemimpinan, keagungan, pembelaannya terhadap agama, dan pengorbanannya membela nabi-Nya—lantas bagaimana halnya dengan keadaan kita, orang-orang yang berlumur dosa dan penuh kelalaian?!
Maka, wahai orang yang beriktikaf, lazimkanlah perasaan dan kesadaran ini. Akuilah dosa-dosamu, hadapkanlah dirimu kepada Tuhanmu, yakinkanlah di dalam hatimu bahwa engkau termasuk orang-orang yang zalim. Jadikanlah doa-doa yang diberkahi ini selalu menghiasi lisanmu dalam setiap keadaanmu. Namun, berhati-hatilah jangan sampai engkau sekadar mengucapkannya (tanbisa)[52] dengan bibirmu, sementara hatimu kosong dari pengakuan tersebut. Karena hakikat dari kejujuran (kesungguhan) adalah selarasnya hati dengan apa yang diucapkan oleh lisan.
Sifat Kesembilan: Menghadap kepada Allah dengan Merutinkan Zikir
Sesungguhnya merutinkan zikir kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan memuji-Nya merupakan salah satu pemandangan dari iktikafnya hati (terpautnya hati), kesehatannya, kejernihannya, serta pencapaiannya pada derajat keimanan yang tinggi.
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Sesungguhnya zikir kepada Allah Ta’ala akan memakmurkan hati, serta memenuhinya dengan cahaya dan kebahagiaan. Sebaliknya, hati yang kehilangan zikir akan berada dalam kegelapan dan kepekatan; karena “di dalam hati terdapat sebuah celah dan rasa butuh (kefakiran) yang tidak akan bisa ditutupi oleh apa pun secara mutlak melainkan dengan zikir kepada Allah.
Maka apabila zikir telah menjadi syiar (pakaian) bagi hati, di mana hatilah yang berzikir secara asas (pokok) lalu lisan sekadar mengikutinya, maka inilah zikir yang dapat menutupi celah dan menghilangkan kefakiran tersebut. Dengan demikian, pelakunya akan menjadi kaya tanpa harta, menjadi mulia tanpa kabilah (pengikut), dan menjadi berwibawa tanpa kekuasaan. Namun, apabila ia lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka keadaannya adalah kebalikan dari hal itu; ia menjadi fakir meskipun hartanya melimpah, menjadi hina meskipun ia memiliki kekuasaan, dan menjadi kerdil meskipun pengikutnya banyak.”[53]
Hati seorang mukmin tidak akan merasa tenang, tidak akan merasakan kelezatan, dan tidak akan menemukan cita rasa serta keintiman dalam kehidupan ini kecuali dengan zikir kepada Allah. Allah telah menyifati orang-orang yang beriman dan Ulul Albab (orang-orang yang berakal) bahwa mereka:
﴿يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾ [آل عمران: ١٩١]
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Maka inilah kebiasaan dan tabiat mereka: Lisan mereka senantiasa basah dengan zikir kepada Allah saat berdiri, basah dengan zikir saat duduk, dan basah dengan zikir saat berada di atas ranjang maupun saat berbaring. Hati mereka telah terpaut kepada Allah, sehingga mereka merutinkan zikir dalam segala keadaan.
Ya Allah, betapa ini merupakan isyarat Al-Qur’an yang sangat menyentuh hati!
﴿وَعَلَى جُنُوبِهِمْ﴾
“(Atau) dalam keadaan berbaring.”
Karena saking kuatnya keterikatan mereka kepada Allah, mereka tetap mengingat-Nya dalam keadaan (berbaring) ini, yang mana keadaan tersebut biasanya sangat rentan terhadap lamunan, kelalaian, atau kelelahan. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang keterikatan kuatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencapai tingkatan di mana mereka tidak akan melupakan-Nya, bahkan pada kondisi di mana kelalaian (rasa kantuk/lupa) sering kali mendominasi.
Itulah hati yang iman telah menancap kuat dan kokoh di dalamnya, sehingga hal itu memberikan pengaruh pada lisannya berupa gerakan zikir yang terus-menerus; saat berdiri, berbaring, duduk, saat masuk dan keluar, saat makan dan minum, saat terjaga dan hendak tidur, saat mukim dan safar, serta di waktu malam maupun siang.
Ia senantiasa merasa butuh (iftiqar) kepada Allah dan bergantung kepada-Nya, tidak lalai barang sesaat pun atau bahkan kurang dari itu. Jika ia lalai atau berlambat-lambat, ia akan merasakan beban yang berat di dalam jiwanya, serta perasaan kurang yang tidak bisa ditutupi melainkan dengan mengoreksi kembali jalurnya, dan mengembalikan hatinya pada sumber mata air dan kenikmatannya. Dari sanalah kemudian cahaya hatinya memancar, dan raut wajahnya berseri-seri.
Nabi ﷺ bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.”[54]
Dalam riwayat lain:
«إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
“Sesungguhnya hatiku benar-benar tertutup (Layughanu)[55] dan sesungguhnya aku memohon ampun
kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.”[56]
Beliau juga bersabda:
«وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً».
“Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”[57]
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha mendatangi Nabi ﷺ untuk meminta seorang pelayan (pembantu). Maka beliau bersabda:
«أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ؟ تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ» قَالَ عَلِيٌّ: مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ سَمِعْتُهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ. قِيلَ لَهُ: وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ؟ قَالَ: وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ.
“Maukah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada seorang pelayan? Engkau bertasbih kepada Allah ketika hendak tidur sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji Allah (tahmid) tiga puluh tiga kali, dan mengagungkan Allah (takbir) tiga puluh empat kali.” Ali berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi ﷺ.” Ada yang bertanya kepadanya: “Tidak juga pada malam (Perang) Shiffin?” Ali menjawab: “Tidak juga pada malam Shiffin.”[58]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«إِنِّي لَأُسَبِّحُ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَلْفَ تَسْبِيحَةٍ، قَدْرَ دِيَتِي».
“Sesungguhnya aku bertasbih setiap hari sebanyak dua belas ribu kali tasbih, (sebagai tebusan) seukuran diatku (tebusan nyawa).”[59]
Al-Hafizh Abdul Ghani menyebutkan dalam kitab Al-Kamal pada biografi Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertasbih dalam sehari sebanyak seratus ribu kali tasbih.[60]
Sesungguhnya Allah tidak hanya memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berzikir semata, melainkan Dia memerintahkan mereka untuk memperbanyaknya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾ [الأحزاب: ٤١-٤٢]
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42).
Dan Allah juga berfirman:
﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الجمعة: ١٠]
“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa orang-orang yang memperbanyak zikir kepada Allah adalah orang yang paling cepat mendahului orang lain dalam meraih pahala. Beliau bersabda:
«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ».
“Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.”[61]
Al-Mufarridun adalah bentuk jamak dari mufrad. Yang dimaksud dengannya adalah orang yang menyendiri dan memusatkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan hati dan lisannya karena saking banyaknya ia berzikir.
Dan karena agungnya kedudukan zikir serta besarnya pengaruhnya, maka zikir merupakan ruh dari seluruh amal perbuatan dan yang paling besar di antaranya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾ [العنكبوت: ٤٥]
“Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat/zikir) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).[62]
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menundukkan lisan dan membasahinya, serta memoles keimanan dan mengangkatnya, melebihi zikir kepada Allah . Terlebih lagi bagi orang yang secara konsisten menjaga wirid-wirid zikir, di mana ia memakmurkan setiap detik waktunya dengan hal itu, dan menghidupkan hatinya dengannya. Orang-orang saleh telah sepakat dan seia sekata bahwa zikir adalah senjata seorang mukmin yang dapat menembus tabir-tabir kelalaian, dan membuka gembok-gembok penutup hati di setiap zaman. Maka apatah lagi di zaman yang penuh dengan problematika dan silih bergantinya fitnah kehidupan ini?!
Di malam-malam sepuluh hari terakhir (Ramadan) ini—melalui hembusan angin sahur dan harumnya istigfar—tampak jelas sebuah kesempatan emas untuk memperbaiki hati: di mana terdapat kejernihan, ketenangan, dan momen-momen turunnya (Rahmat) Ilahi.
Sesungguhnya kejernihan ini, sebagaimana ia memperbarui keimanan, ia juga memperbarui pembebasan diri dari sifat kemunafikan. Karena sesungguhnya orang-orang munafik adalah manusia yang paling lalai dan paling sedikit berzikir kepada Allah.
﴿وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [النساء: ١٤٢]
“Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142).
Kewajiban seorang mukmin adalah menyelisihi sifat orang-orang munafik tersebut dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang memperbanyak zikir kepada Allah, niscaya ia terbebas dari kemunafikan.”[63]
Maka basahilah lisanmu, wahai hamba yang diberkahi, dengan zikir kepada Allah. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih memperbaiki hati melebihi zikir, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan (yutsaqqil) timbangan amal pada hari Kiamat sebagaimana zikir.
Sifat Kesepuluh: Menghadap kepada Allah dengan Memperbanyak Doa
Sesungguhnya di antara ibadah paling agung yang menampakkan kerendahan seorang hamba di hadapan Rabbnya adalah: Doa. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً﴾ [الأعراف: ٥٥]
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55).
Dan Allah juga berfirman:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠]
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Sesungguhnya ibadah doa pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan—ketika seorang hamba sedang beriktikaf—memiliki cita rasa tersendiri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah, orang-orang yang menangis dan mengondisikan diri untuk menangis (karena takut kepada-Nya). Di saat itulah mereka benar-benar merasakan kedekatan dengan Rabb (Maula) mereka dan janji pengabulan doa.
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾ [البقرة: ١٨٦]
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Kehadiran ayat yang mulia ini dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, serta posisinya yang menyela antara pembahasan puasa dan pembahasan iktikaf, merupakan isyarat agung yang menjelaskan betapa tingginya kedudukan ibadah doa ketika seorang hamba sedang berpuasa dan beriktikaf.
Ia adalah ibadah yang bersinar terang pada malam-malam di mana seorang hamba menundukkan dirinya, hatinya menjadi lembut, jiwanya menjadi halus, syahwatnya mengering, dan egonya patah. Kondisi tersebut menjadi persiapan bagi hamba untuk merespons seruan Allah—“maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku”—sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Sebab, terkabulnya doa selalu beriringan dengan hati yang hancur (merendah), jiwa yang lemah (tunduk), dan kebebasan dari tekanan syahwat. Dan kondisi ideal ini tidak akan didapatkan oleh manusia dalam keadaan apa pun sebagaimana yang ia dapatkan saat sedang berpuasa dan beriktikaf.[64]
Tempat/keadaan ini—seperti halnya tempat-tempat lain di mana hamba disunahkan untuk tunduk dan merendah di hadapan Rabbnya— (sangat pantas untuk dimanfaatkan).
At-Thabrani meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
»رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو بِعَرَفَةَ، وَيَدَاهُ إِلَى صَدْرِهِ كَاسْتِطْعَامِ الْمِسْكِينِ».
“Aku melihat Rasulullah ﷺ berdoa di Arafah, kedua tangannya berada di depan dadanya layaknya seorang miskin yang sedang meminta makan.”[65]
Dahulu, sebagian orang saleh duduk di malam hari dalam keadaan diam menundukkan kepalanya, lalu menengadahkan kedua tangannya layaknya postur seorang pengemis. Ini adalah bentuk paling sempurna dari perwujudan rasa hina, ketenangan, dan rasa butuh (iftiqar) kepada Allah.
Rasa butuh (iftiqar) di dalam doa, kerendahan hati kepada Allah, serta kesadaran hamba akan betapa besar kebutuhan dan ketergantungannya kepada-Nya, merupakan kunci/prasangka kuat bagi terkabulnya doa. Sejauh mana rasa pedih dan rasa butuh itu hadir, sejauh itu pula pengabulan akan datang.
Disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi dan selainnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
»إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ».
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi lengah.”[66]
Di antara kondisi doa yang paling indah adalah: menampakkan kehinaan dengan lisan di dalam permohonan itu sendiri, disertai dengan desakan (ilhah). Al-Awza’i rahimahullah berkata:
»يُقَالُ: أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْإِلْحَاحُ عَلَى اللَّهِ وَالتَّضَرُّعُ إِلَيْهِ».
“Dikatakan bahwa doa yang paling utama adalah yang dilakukan dengan terus-menerus mendesak (mengiba) kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya.”[67]
Di sisi At-Thabrani, dengan sanad yang padanya terdapat perselisihan, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ berdoa pada hari Arafah dengan mengucapkan:
»اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلَامِي، وَتَرَى مَكَانِي، وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي، لَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي، أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ، الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ، الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ، أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ، وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ، وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ، مَنْ خَشَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ، وَفَاضَتْ لَكَ عَيْنَاهُ، وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ، وَرَغِمَ أَنْفُهُ لَكَ، اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ شَقِيًّا، وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا، يَا خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ وَيَا خَيْرَ الْمُعْطِينَ».
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar perkataanku, melihat tempatku, dan mengetahui rahasiaku serta apa yang tampak dariku. Tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Aku adalah orang yang sengsara lagi fakir, yang memohon pertolongan dan perlindungan, yang gemetar ketakutan, yang mengakui dan membenarkan dosa-dosanya. Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang miskin, aku merintih kepada-Mu dengan rintihan pendosa yang hina, aku berdoa kepada-Mu dengan doa orang buta yang ketakutan, yang lehernya menunduk khusyuk kepada-Mu, yang kedua matanya mengalirkan air mata untuk-Mu, yang tubuhnya merendah kepada-Mu, dan yang hidungnya tersungkur debu (sujud) kepada-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku orang yang celaka dalam berdoa kepada-Mu, dan jadilah Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang kepadaku, wahai Sebaik-baik Dzat yang diminta dan Sebaik-baik Dzat yang memberi.”[68]
Dengan demikian, doa adalah inti dari ibadah (lubb at-ta’abbud) dan bentuk peribadatan yang paling murni; karena di dalamnya terkandung rasa butuh sepenuhnya kepada Allah dan rasa hina di hadapan-Nya. Doa adalah bentuk penghambaan hati yang paling bermanfaat dan paling besar pengaruhnya, terlebih lagi jika hati sang pendoa benar-benar hadir dan meresapi makna-makna dari apa yang ia panjatkan.
Apabila doa dan rintihan tersebut merupakan doa-doa yang Allah ‘Azza wa Jalla kabarkan dari doa para makhluk pilihan-Nya, maka itu adalah hal yang paling mujarab (bermanfaat) bagi hati; karena di dalamnya tercakup kumpulan doa yang komprehensif, ketundukan yang jujur, serta penghadiran makna-makna rububiyah (ketuhanan). Oleh karena itulah, para nabi selalu mengawali doa mereka dengan ucapan: “Rabbana” (Ya Tuhan kami).
Sebagian besar doa di dalam Al-Qur’an pun demikian, diawali dengan bertawasul kepada Allah melalui sifat rububiyah-Nya. Seseorang yang berdoa memohon kepada Allah seraya bertawasul dengan rububiyah-Nya, sangat pantas baginya untuk menghadirkan makna pemeliharaan (tarbiyah) Allah yang bersifat umum—yaitu penciptaan dan pengaturan alam semesta—serta makna tarbiyah Allah yang bersifat khusus—yaitu penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba pilihan-Nya, kelembutan-Nya kepada mereka, serta perbaikan-Nya atas urusan agama dan dunia mereka. Semua itu didapatkan karena mereka selalu menghadapkan diri kepada Tuhan mereka dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Maka disunahkan baginya untuk berdoa dengan doa-doa para nabi; karena doa-doa tersebut adalah doa yang menyeluruh (jami’ah). Dan sangat baik pula bagi orang yang berdoa untuk berdoa dengan doa orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rasikhuna fi al-‘ilm); karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji mereka, Allah menyebutkan doa mereka:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ﴾ [آل عمران: ٨].
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8).
Mereka bertawasul kepada Allah dengan rububiyah-Nya agar Allah menganugerahkan keistiqamahan pada hati mereka, keteguhan di atas hal-hal yang diridai Allah, penjagaan dari kesesatan, serta kemunduran dari hidayah.[69]
Sifat Kesebelas: Tunduk (Ikhbat) dan Khusyuk[70]
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memuji di dalam kitab-Nya orang-orang yang tunduk (al-mukhbitin) kepada-Nya, orang-orang yang merasa hina di hadapan keagungan-Nya, dan orang-orang yang merendah di bawah kesombongan-Nya (kekuasaan-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ * الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ﴾
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” (QS. Al-Hajj: 34-35). (Catatan koreksi: lafaz ‘al-muhsinin’ pada naskah asli telah dikoreksi menjadi ‘al-mukhbitin’ sesuai teks asli surah Al-Hajj ayat 34).
Allah Ta’ala juga berfirman:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ… أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Laki-laki dan perempuan yang khusyuk… Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Allah menyifati orang-orang mukmin dengan sifat khusyuk kepada-Nya dalam ibadah paling mulia yang selalu mereka jaga. Allah Ta’ala berfirman:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
Allah ‘Azza wa Jalla memuji orang-orang yang memiliki rasa takut dan khawatir akan azab Allah. Dia berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ﴾ [المؤمنون: ٥٧]
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 57).
Dan Dia juga berfirman:
﴿الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ﴾ [الأنبياء: ٤٩]
“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari Kiamat.” (QS. Al-Anbiya: 49).
(Sebagaimana digambarkan dalam sebuah syair):
إِذَا مَا اللَّيْلُ أَظْلَمَ كَابَدُوهُ *** فَيُسْفِرُ عَنْهُمْ وَهُمْ رُكُوعُ
Apabila malam telah gelap gulita, mereka menahan kantuk (untuk beribadah), lalu fajar pun menyingsing sementara mereka masih dalam keadaan rukuk
أَطَارَ الْخَوْفُ نَوْمَهُمْ وَقَامُوا *** وَأَهْلُ الْأَمْنِ فِي الدُّنْيَا هُجُوعُ
Rasa takut telah menerbangkan (mengusir) rasa kantuk mereka sehingga mereka terbangun, sementara orang-orang yang merasa aman (lalai) di dunia sedang terlelap tidur…
وَمَا فُرْشُهُمْ إِلَّا أَيَامِنُ أُزْرِهِمْ *** وَمَا وُسْدُهُمْ إِلَّا مُلاءٌ وَأَذْرُعُ
Tidak ada alas tidur mereka melainkan bagian kanan sarung mereka, tidak ada bantal mereka melainkan kain selimut dan lengan (mereka sendiri).
وَمَا لَيْلُهُمْ فِيهِنَّ إِلا تَحَوُّبٌ *** وَمَا نَوْمُهُمْ إِلَّا عِشَاشُ مُرَوَّعُ
Tidaklah malam mereka lewati melainkan dengan penuh rasa dosa (tahawwub/rasa bersalah), dan tidaklah tidur mereka melainkan seperti sarang burung yang ketakutan.
وَأَلْوَانُهُمْ صُفْرٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ *** عَلَيْهَا جِسَادٌ هِيَ بِالْوَرْسِ مُشْبَعُ
Warna kulit mereka memucat kuning, seakan-akan wajah mereka, dilapisi oleh za’faran (wars) yang sangat pekat.
Hakikat (akar) dari khusyuk adalah kelembutan hati, kehalusannya, ketenangannya, dan ketundukannya. Apabila hati telah khusyuk, maka seluruh anggota tubuh dan persendian akan ikut khusyuk mengikutinya, karena anggota tubuh adalah pengikut hati. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”[71]
Maka apabila hati telah khusyuk, khusyuk pulalah pendengaran, penglihatan, wajah, seluruh anggota tubuh, dan segala yang muncul darinya, bahkan sampai pada ucapannya. Oleh karena itulah Nabi ﷺ mengucapkan doa dalam rukuk beliau di dalam salat:
»خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي».
“Telah khusyuk (tunduk) kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, sumsumku, tulangku, dan urat sarafku.”[72]
Sebagian ulama Salaf pernah melihat seseorang bermain-main dengan tangannya (tidak bisa diam) di dalam salat, lalu ia berkata:
»لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا؛ لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ».
“Seandainya hati orang ini khusyuk, niscaya akan khusyuk (diam) pula anggota tubuhnya.”[73]
Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia juga menyifati bumi dengan sifat khusyuk. Allah berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ﴾ [فصلت: ٣٩]
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.” (QS. Fushshilat: 39).
Pergerakan dan kesuburannya (naiknya permukaan tanah karena tanaman tumbuh) adalah penghilang bagi sifat “khusyuk” (mati/merunduk) bumi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa “khusyuk” yang sebelumnya dialami oleh bumi adalah keadaan diam dan merendahnya. Demikian pula halnya dengan hati; apabila ia khusyuk, maka terdiam dan meredalah segala lintasan pikiran dan keinginan buruknya yang berasal dari hawa nafsu. Hati tersebut patah (merendah) dan tunduk kepada Allah .
Dengan demikian, hilanglah segala keangkuhan (al-ba’wu),[74] kesombongan, kecongkakan, dan sifat merasa besar yang sebelumnya ada di dalam hati. Kapan pun hal itu terwujud di dalam hati, maka akan khusyuk pulalah seluruh anggota tubuh, persendian, seluruh gerakan, bahkan hingga pada suaranya. Allah Ta’ala telah menyifati suara dengan sifat khusyuk dalam firman-Nya:
﴿وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا﴾ [طه: ١٠٨]
“Dan merendahlah (khusyuklah) semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaha: 108).
Khusyuknya suara adalah ketenangan dan kerendahannya setelah sebelumnya lantang dan meninggi.
Khusyuk haruslah merupakan sesuatu yang hakiki (nyata dari dalam hati), bukan dibuat-buat. Kapan pun seseorang memaksakan dan membuat-buat kekhusyukan pada anggota tubuhnya sementara hatinya kosong dan hampa dari kekhusyukan tersebut, maka itu adalah “khusyuk nifak” (kemunafikan). Hal inilah yang selalu dimohonkan perlindungan darinya oleh para ulama Salaf. Sebagaimana perkataan sebagian dari mereka (yaitu Abu Darda’):
»اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ خُشُوعِ النِّفَاقِ. قَالُوا: وَمَا خُشُوعُ النِّفَاقِ؟ قَالَ: أَنْ تَرَى الْجَسَدَ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ».
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari khusyuk kemunafikan.” Mereka bertanya: “Apakah khusyuk kemunafikan itu?” Ia menjawab: “Yaitu engkau melihat tubuh seseorang tampak khusyuk (merunduk), padahal hatinya tidaklah khusyuk.”[75]
Khusyuk yang hakiki adalah khusyuk yang membuahkan atsar (jejak/bekas), pengaruh, dan kelembutan di dalam hati. Sebagaimana Allah sebutkan dalam menyifati para ulama Ahli Kitab sebelum kita. Allah :
﴿إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبَّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبَّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا﴾ [الإسراء: ١٠٧-١٠٩]
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra: 107-109).
Ayat-ayat ini mengandung pujian bagi orang-orang yang dengan mendengarkan ayat-ayat Allah melahirkan pengaruh, kekhusyukan, dan tangisan pada diri mereka. Sebaliknya, Allah mengancam orang-orang yang berhati keras. Allah berfirman:
﴿فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ﴾ [الزمر: ٢٢-٢٣]
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu (keras) hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 22-23).
Melembutnya hati berarti hilangnya kekerasan pada hati tersebut dikarenakan datangnya kekhusyukan dan kelembutan (kasih sayang) di dalamnya.
Allah juga telah menegur orang yang hatinya tidak khusyuk saat mendengarkan Kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (khusyuk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16).
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
«مَا كَانَ بَيْنَ إِسْلَامِنَا وَبَيْنَ أَنْ عَاتَبَنَا اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا أَرْبَعُ سِنِينَ».
“Tidak ada jarak antara keislaman kami dengan teguran Allah kepada kami melalui ayat ini, melainkan hanya empat tahun saja.”[76]
Dalam riwayat lain disebutkan:
«فَأَقْبَلَ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ: أَيُّ شَيْءٍ أَحْدَثْنَا؟! أَيُّ شَيْءٍ صَنَعْنَا؟!».
“Lalu kami saling menatap satu sama lain (seraya berkata): ‘Kesalahan baru apa yang telah kita perbuat?! Dosa apa yang telah kita lakukan?!'”[77] Yakni: Mereka mulai saling menegur dan menasihati satu sama lain.
Adapun tentang keagungan Al-Qur’an dan kedahsyatan pengaruhnya terhadap jiwa orang-orang mukmin yang khusyuk, maka hal ini adalah sesuatu yang telah dipersaksikan oleh para ulama Salaf rahimahumullah. Abu ‘Imran al-Jauni rahimahullah berkata:
«وَاللَّهِ لَقَدْ صَرَّفَ إِلَيْنَا رَبُّنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ مَا لَوْ صَرَّفَهُ إِلَى الْجِبَالِ لَمَحَاهَا وَحَنَاهَا».
“Demi Allah, sungguh Tuhan kita telah menjelaskan berulang-ulang kepada kita di dalam Al-Qur’an ini (berbagai peringatan) yang seandainya Ia menjelaskannya (menurunkannya) kepada gunung-gunung, niscaya (Al-Qur’an) itu akan meluluhlantakkan dan membungkukkannya.”[78]
Malik bin Dinar sering membaca ayat ini (surah Al-Hasyr: 21), kemudian beliau berkata:
«أُقْسِمُ لَكُمْ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ بِهَذَا الْقُرْآنِ إِلَّا صُدِعَ قَلْبُهُ».
“Aku bersumpah kepada kalian, tidaklah seorang hamba (benar-benar) beriman kepada Al-Qur’an ini, melainkan pasti hatinya akan terbelah (terpecah karena takut dan tunduk).”[79]
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, bahwa ia berkata:
“Wahai anak Adam, apabila setan membisikkan kepadamu sebuah godaan dosa, atau jiwamu sendiri membisikkannya kepadamu, maka ingatlah saat itu juga apa yang Allah bebankan (pikulkan) kepadamu dari kitab-Nya, yang seandainya Dia memikulkannya kepada gunung-gunung yang kokoh, niscaya ia akan tunduk (khusyuk) dan hancur berkeping-keping. Tidakkah engkau mendengar Dia berfirman:
﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [الحشر: ٢١]
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutan kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr: 21).[80]
Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ini untukmu agar engkau memikirkannya, mengambil pelajaran darinya, dan mencegah dirimu dari bermaksiat kepada-Nya. Padahal engkau, wahai anak Adam, jauh lebih berhak untuk khusyuk mengingat Allah dan menjaga apa yang Dia bebankan kepadamu dari kitab-Nya serta hikmah yang Dia berikan kepadamu; karena engkaulah yang akan dihisab, dan untukmulah (disediakan) surga atau neraka.
Nabi ﷺ senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk, sebagaimana dalam hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ selalu berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا».
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”[81]
Oleh karena itulah Allah Ta’ala mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai macam ibadah di mana khusyuknya badan akan tampak sebagai hasil (turunan) dari khusyuknya hati, kehinaannya, dan patahnya egonya. Dan di antara ibadah yang paling agung dalam menampakkan kekhusyukan badan kepada Allah Ta’ala adalah ibadah Salat. Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk di dalamnya melalui firman-Nya:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
Dan di antara posisi paling khusyuk adalah saat Sujud. Sujud adalah posisi paling agung yang menampakkan kehinaan seorang hamba kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla, di mana seorang hamba meletakkan anggota tubuhnya yang paling mulia, paling berharga baginya, dan paling tinggi posisinya di tempat yang serendah-rendahnya yang bisa ia lakukan, lalu ia membenamkannya di atas debu/tanah. Gerakan fisik ini kemudian diikuti oleh patahnya hati (dari kesombongan), ketawadukannya, dan kekhusyukannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh sebab itulah, balasan bagi seorang mukmin apabila ia melakukan hal tersebut adalah: Allah akan mendekatkannya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ﴾ [العلق: ١٩]
“Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS. Al-‘Alaq: 19).
Dan Nabi ﷺ bersabda:
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ».
“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud.”[82]
Sujud adalah hal yang dahulu sangat dienggani dan dibenci oleh kaum musyrikin yang sombong dan enggan beribadah kepada Allah. Sebagian dari mereka ada yang berkata: “Aku benci jika harus bersujud karena nanti pantatku akan lebih tinggi diatasku.” Dan ada pula sebagian dari mereka yang hanya mengambil segenggam kerikil (dari tanah), lalu mengangkatnya ke wajahnya, dan ia merasa sudah cukup bersujud dengan cara itu.[83]
Demikian halnya Iblis, sesungguhnya Allah hanya mengusirnya semata-mata karena ia sombong dan enggan bersujud kepada Dzat yang Allah perintahkan untuk bersujud kepada-Nya. Oleh karena itu, Iblis menangis jika ada seorang mukmin yang sujud, dan ia berkata: “Anak Adam diperintahkan untuk sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud namun aku bermaksiat (menolak), maka bagiku neraka.”[84]
Dan di antara kesempurnaan khusyuk seorang hamba kepada Allah serta ketawadukannya kepada-Nya dalam rukuk dan sujudnya adalah: ketika ia telah merendahkan diri kepada Rabbnya melalui rukuk dan sujud, ia menyifati Rabbnya pada saat itu juga dengan sifat-sifat Kemuliaan (al-‘izz), Kesombongan (al-kibriya’), Keagungan (al-‘azhamah), dan Ketinggian (al-‘uluw). Maka, seakan-akan ia sedang berkata: “Hina dan rendah adalah sifatku, sedangkan tinggi, agung, dan sombong adalah sifat-Mu.”
Oleh karena itulah, disyariatkan bagi seorang hamba untuk mengucapkan dalam rukuknya: Subhana Rabbiyal ‘Azhim (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung), dan dalam sujudnya: Subhana Rabbiyal A’la (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).
Maka, kapan pun hati seorang hamba telah dipenuhi dengan rasa khusyuk, ketundukan, kerendahan, dan patahnya kesombongan ego, niscaya ia telah sampai pada inti terdalam dari ibadah, ia telah mewujudkan tujuannya, dan ia telah meraih puncaknya.
Penutup
Inilah sebelas sifat (karakteristik), yang dengannya seseorang akan diberi taufik untuk dapat menyelami ruh, inti, dan tujuan utama dari iktikaf. Tujuan (puncak) ini sejatinya tidak hanya berlaku khusus untuk iktikaf semata, melainkan berlaku untuk seluruh amal ibadah.
Semoga Allah mengaruniakan kepadaku dan kepadamu kejujuran (kesungguhan) yang berkesinambungan, serta melimpahkan karunia-Nya kepadaku dan kepadamu untuk senantiasa melazimkan rasa butuh (iftiqar) kepada-Nya dan senantiasa merendah (hina) di hadapan-Nya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar hati ini senantiasa beriktikaf (terpaut) dan terus menghadap kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari rasa hina kecuali hanya kepada-Nya, dari ketundukan kecuali hanya di hadapan-Nya, dan dari mencari tempat bersandar kecuali hanya kepada-Nya.
﴿وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾ [هود: ٨٨]
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).
Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-‘Aql
Buraidah – Al-Qasim
5 Ramadan 1435 H (5/9/1435 H)
Narahubung (Kontak):
Telepon Seluler (HP): 0504883988 – 0591100113 – 0535600013
E-mail: al.agal@hotmail.com / _khaleefa@hotmail.com
- Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, jilid 4 halaman 1986, nomor 2564, dari hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. ↑
- Ilhāf berarti sangat bersungguh-sungguh dalam meminta. Lihat: Tahdzīb al-Lughah (46/5); Lisān al-‘Arab (9/314), entri kata: (لـحـف). ↑
- Disebutkan oleh as-Sarakhsi dalam al-Mabsūth (3/815). Lihat juga: Wazhāif Ramadhān, hlm. 75. ↑
- Lihat: Madārij as-Sālikīn (1/263); Wazhāif Ramadhān, hlm. 60. ↑
- Khībā’ adalah tenda yang terbuat dari bulu atau wol. Kemudian istilah ini digunakan untuk menyebut rumah secara umum. Lihat: an-Nihāyah (9/2); Lisān al-‘Arab (14/223), entri kata: خبا. ↑
- Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/48), no. 2033; dan Muslim (2/715), no. 1172. ↑
- Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, jilid 1, hlm. 187, dengan sedikit penyesuaian. ↑
- Akhlāq Ḥamalat al-Qur’ān, hlm. 18. ↑
- Al-Qawā‘id al-Ḥisān li Tafsīr al-Qur’ān, hlm. 87. ↑
- Yatul (dibaca dengan dhammah pada huruf tā’) berasal dari fi‘il tal. Ada pula yang mengatakan yatil (dengan kasrah pada huruf tā’), yang berarti: “menuangkan” atau “melemparkan”. Lihat: an-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar (1/195); Tāj al-‘Arūs (28/138). ↑
- Ath-ṭilasm adalah nama bagi rahasia yang tersembunyi. Yang dimaksud di sini adalah makna-makna halus yang tidak tampak bagi orang yang tidak mendalam dalam pemahaman, ilmu, dan ketelitian. Lihat: Tāj al-‘Arūs (33/24–25). ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/450–451). ↑
- Diriwayatkan oleh an-Nasā’ī (2/177) no. 1310; Ibnu Mājah (1/429) no. 1350; Aḥmad (35/309) (33) no. 21388; dan al-Ḥākim (1/367) no. 879. Sanadnya hasan. ↑
- Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya az-Zarkasyī (1/471). ↑
- Mukhtaṣar Minhāj al-Qāṣidīn, hlm. 53. ↑
- Dhail Ṭabaqāt al-Ḥanābilah (4/519). Lihat juga: Ittiḥāf al-Qārī karya ad-Duhaimī, hlm. 119. ↑
- Al-Fawā’id, hlm. 3, secara ringkas. ↑
- Fatāwā Ibn aṣ-Ṣalāḥ (1/234). Lihat juga: Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (1/291). ↑
- Mukhtaṣar Minhāj al-Qāṣidīn, hlm. 46. ↑
- Tafsīr Ibn Abī Ḥātim (6/1960). ↑
- Diriwayatkan oleh as-Sulamī dalam Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah hlm. 94, dan Abū Nu‘aim dalam Ḥilyat al-Awliyā’ (1/22). ↑
- Lihat: Ḥilyat al-Awliyā’ (9/369). ↑
- Diriwayatkan oleh Abū Nu‘aim dalam al-Ḥilyah (9/275), dan Ibnu ‘Asākir dalam Tārīkh Dimashq (34/146). ↑
- Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn (1/454), dan oleh Ibn Rajab dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam hlm. 189. Lihat juga: Ittiḥāf al-Qārī karya ad-Duhaimī, hlm. 130–139. ↑
- Disebutkan oleh al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn (1/275). Lihat juga: At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalat al-Qur’ān, hlm. 28. ↑
- Al-‘ab adalah minum air dengan keras dan berturut-turut dalam beberapa tegukan, tanpa hisapan dan tanpa mengambil napas. Lihat: Kitāb al-‘Ain (1/93); Jamhara al-Lughah (1/73). ↑
- Yakni: sebagai pengganti berbagai kegelisahan dan lintasan hati. ↑
- Zād al-Ma‘ād (2/82–83). ↑
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 599. ↑
- Diriwayatkan oleh ath-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān (23/634). ↑
- Lihat: Rūḥ aṣ-Ṣiyām wa Ma‘ānīhi karya Dr. ‘Abd al-‘Azīz Kāmil, hlm. 89. ↑
- Al-mughal atau al-ghullah adalah pemasukan (hasil) yang diperoleh dari tanaman dan buah-buahan. Lihat: an-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar (3/381); Lisān al-‘Arab (11/504). ↑
- Al-Fawā’id karya Ibnul Qayyim, hlm. 69–70. ↑
- Diriwayatkan oleh al-Bukhari (9/123) no. 7412, dan Muslim (4/2148) no. 2788; lafaz ini milik Muslim. ↑
- Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah (1/289). ↑
- Al-idlāl artinya merasa berjasa (kepada Allah) dengan pemberian atau amal. Lihat: Tahdzīb al-Lughah (14/48); Lisān al-‘Arab (11/248). ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/428). ↑
- Majmū‘ al-Fatāwā (10/194). ↑
- Ṭarīq al-Hijratayn, hlm. 17. ↑
- Ṭarīq al-Hijratayn, hlm. 59. ↑
- Majmū‘ al-Fatāwā (10/187). ↑
- Potongan dari hadis qudsi, diriwayatkan oleh Muslim (4/1994) no. 2577. ↑
- Al-masārib adalah padang rumput tempat hewan ternak merumput. Lihat: al-‘Ayn (7/249). ↑
- Al-idlāl artinya merasa berjasa (karena pemberian atau amal). Lihat: Tahdzīb al-Lughah (14/48); Lisān al-‘Arab (11/248). ↑
- Ṭilā‘ul-arḍ artinya penuhiannya (sepenuh bumi). Lihat: Jamhara al-Lughah (2/915); aṣ-Ṣiḥāḥ (3/1254). ↑
- Diriwayatkan oleh al-Bukhari (12/5) no. 3692. ↑
- Hadis qudsi, diriwayatkan oleh Muslim (4/2023) no. 2621, dari hadis Jundub, dari Nabi ﷺ, dari Rabbnya. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubārak dalam az-Zuhd (1/151) no. 448; Aḥmad dalam az-Zuhd hlm. 195 no. 1342; dan Abū Nu‘aim dalam al-Ḥilyah (2/200). ↑
- Dikatakan: sami‘tu zajala al-qaum yakni “aku mendengar suara-suara mereka”. Yang dimaksud di sini adalah suara tasbih orang-orang yang bertasbih. Lihat: al-Bāri‘ fī al-Lughah, hlm. 637. ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/195). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/166) No. (834), dan Muslim (4/2078) No. (2705) dari hadis Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Dikatakan dalam bahasa Arab: nabasa – nabsan, artinya: berbicara dan menggerakkan kedua bibirnya, serta berbicara dengan perkataan yang paling sedikit. (Lihat: Al-Muhkam wa al-Muhith 8/530, dan Lisan al-‘Arab 6/225). ↑
- Al-Wabil ash-Shayyib (hlm. 139-140). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2075) No. (2702) (42) dari hadis Al-Agharr al-Muzani radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Imam An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap Sahih Muslim (17/23-24): “Mengenai sabda beliau: ‘Innahu layughanu ‘ala qalbi’ (Sesungguhnya hatiku tertutup), para ahli bahasa menyatakan bahwa kata al-ghayn dan al-ghaym memiliki makna yang sama. Yang dimaksud di sini adalah: sesuatu yang menutupi hati. Al-Qadhi berkata: Ada yang berpendapat maknanya adalah masa-masa kekosongan dan kelalaian dari berzikir yang padahal beliau selalu merutinkannya. Maka jika beliau terputus darinya atau luput (karena kesibukan), beliau menganggapnya sebagai sebuah dosa, sehingga beliau memohon ampunan karenanya. Ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah rasa gundah beliau akibat memikirkan umatnya dan keadaan mereka sepeninggal beliau, lalu beliau memohonkan ampun untuk mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan oleh kesibukan beliau mengurus kemaslahatan umat, memerangi musuh, berdiplomasi, melunakkan hati para mualaf, dan semacamnya. Karena tingginya kedudukan spiritual beliau, kesibukan (duniawi) tersebut dipandang oleh beliau sebagai sebuah ‘dosa’ (penurunan level) jika dibandingkan dengan keagungan derajat spiritualitasnya.” ↑
- Diriwayatkan pula oleh Muslim (4/2075) No. (2702) (41). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (8/67) No. (6307) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/65) No. (5362), dan Muslim (4/2091) No. (2727). ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (5/345) No. (26733), dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifah ash-Shahabah (4/1891) No. (4762). ↑
- Lihat: Al-Hawi lil Fatawi karya As-Suyuthi (52), dan Syadzarat adz-Dzahab (2/118). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2062) No. (2676) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli tafsir mengenai makna ayat ini, namun ini adalah salah satu pendapat mereka. ↑
- Lihat: Lisan al-Mizan (1955). ↑
- Lihat: Ruh ash-Shiyam wa Ma’anihu (hlm. 116). ↑
- Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (3/189) No. (2892), Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’ (8/213), dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (5/190). Sanadnya daif. ↑
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (5/394) No. (3479), At-Thabrani dalam Al-Awsath (5/211) No. (519), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/170) No. (817) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: “Hadis gharib.” ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (2/364). Lihat pula: At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr (5/346). ↑
- Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (11/174) No. (11405), dan dalam kitab Ad-Du’a (hlm. 274) No. (877). Di dalam sanadnya terdapat kelemahan. ↑
- Lihat: Al-Mawahib ar-Rabbaniyyah min Al-Ayat Al-Qur’aniyyah karya As-Sa’di (hlm. 56-58). ↑
- Lihat pembahasan mengenai sifat ini dalam kitab: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 11-28). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/20) No. (52), dan Muslim (3/1319) No. (1599) dari hadis An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/534) No. (771) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/86) No. (6787), Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (1/419) No. (1188), dan Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (2/266) No. (3308) dari perkataan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah. ↑
- Al-Ba’wu: Yang dimaksud adalah kebanggaan (kesombongan). Lihat: Ash-Shihah (6/2278), Maqayis al-Lughah (1/328), dan An-Nihayah fi Gharib al-Hadits (1/96) pada entri “ba’wu”. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (1/46) No. (143), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (7/243) No. (35711), Imam Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 117) No. (762), dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (9/220) No. (6567) secara mauquf atas Abu Darda’. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (9/220) No. (6568) dari hadis Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, namun sanadnya daif (lemah). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2319) No. (3027). ↑
- Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (9/167) No. (5256), dan ini adalah tambahan riwayat yang daif. ↑
- Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/311). Lihat: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 19). ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 258) No. (1859), dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’ (2/378). ↑
- Lihat: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 19). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2088) No. (2722). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/350) No. (482) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2/40) No. (1067), dan Muslim (1/405) No. (576) dari hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ membaca surah An-Najm lalu beliau sujud (tilawah) di dalamnya, maka orang-orang yang bersamanya pun ikut sujud, melainkan ada seorang tua yang hanya mengambil segenggam kerikil atau debu tanah lalu mengangkatnya ke dahinya, seraya berkata: “Ini sudah cukup bagiku.” Abdullah berkata: “Sungguh aku melihatnya setelah itu mati terbunuh dalam keadaan kafir.” ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/87) No. (81) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila anak Adam (manusia) membaca ayat Sajdah lalu ia bersujud, maka setan menyingkir sambil menangis dan berkata: ‘Aduhai celakanya aku, anak Adam diperintahkan untuk sujud lalu ia sujud maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud namun aku enggan, maka bagiku neraka.'” ↑
حِينَما تَعْتَكِفُ القُلُوبُ
Ketika Hati Beriktikaf
Penulis:
Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-‘Aql
Penerbit:
Markaz An-Nukhab Al-‘Ilmiah
Daftar isi
Sifat Pertama: Memutus Ketergantungan dari Makhluk 5
Sifat Kedua: Hidup Bersama Al-Qur’an 9
Sifat Ketiga: Menfokuskan Hati dan Totalitas Menghadap kepada Allah 26
Sifat keempat: Merasakan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya 29
Sifat Kelima: Mengagungkan Allah 32
Sifat Keenam: Kefakiran Hamba kepada Rabbnya dan Rasa Butuh kepada-Nya 40
Sifat Ketujuh: Menghadirkan Karunia dan Anugerah Allah 45
Sifat Kedelapan: Mengakui Dosa dan Kekurangan (Kelalaian) 52
Sifat Kesembilan: Menghadap kepada Allah dengan Merutinkan Zikir 56
Sifat Kesepuluh: Menghadap kepada Allah dengan Memperbanyak Doa 67
Sifat Kesebelas: Tunduk (Ikhbat) dan Khusyuk 76
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah yang menjadikan tempat pandangan-Nya adalah hati, bukan rupa dan tubuh. Salawat dan salam semoga tercurah dengan kesempurnaan yang paling sempurna kepada Nabi kita Muhammad, pemimpin keturunan Adnan, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau yang memiliki ketakwaan dan keimanan.
Amma ba‘du:
Banyak sekali orang yang, ketika mendengar kata iktikaf, yang terlintas di benak mereka hanyalah iktikaf jasmani di salah satu rumah Allah. Dalam bayangan mereka, iktikaf terbatas pada pengertian lahiriah semata. Padahal, meskipun itu merupakan salah satu syarat iktikaf, bukan itulah tujuan utamanya.
Sesungguhnya tujuan dan maksud utama dari iktikaf adalah iktikaf hati, yaitu hati yang menjadi tempat pandangan Allah.
Seperti sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ».
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”[1]
Betapa banyak seorang hamba yang berdiam (iktikaf) dengan tubuhnya di rumah Allah, tetapi ia tidak sampai pada hakikat iktikaf yang dikehendaki Allah. Karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menggantungkan kebaikan yang diberikan-Nya kepada seorang hamba sesuai kebaikan yang ada di dalam hatinya. Allah berfirman:
﴿إِن يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّا أُخِذَ مِنكُمْ﴾
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hati kalian, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian.” (QS. Al-Anfāl: 7).
Semakin benar hati seseorang dan semakin jauh ia dari ketergantungan kepada dunia, maka semakin banyak anugerah dan pemberian Allah yang datang kepadanya. Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah hari-hari yang paling layak untuk mendapatkan anugerah tersebut. Dan orang yang ber-iktikaf di rumah Allah dengan iktikaf hati adalah yang paling pantas mendapatkannya, karena keikhlasan dan kedekatannya kepada Allah.
Agar iktikaf benar-benar menjadi iktikaf hati, bukan sekadar iktikaf jasmani, dan agar seorang yang ber-iktikaf dapat merasakan manisnya ibadah ini, lalu ibadah itu menjadi lurus baginya, ruhnya dapat menikmati kekhusyukan di dalamnya, serta ia dapat menghadirkan makna-makna penghambaan saat menjalaninya, maka sepatutnya ia memperhatikan sifat-sifat berikut:
Sifat Pertama: Memutus Ketergantungan dari Makhluk
Sesungguhnya rahasia dan tujuan utama iktikaf adalah khalwat (meyendiri/berduaan) bersama Allah, mengosongkan hati, serta memutus segala keterikatan hati dari makhluk. Karena itu, sudah sepantasnya bagi orang yang ber-iktikaf untuk tenggelam dalam ibadah dan amal-amal khusus, menghadapkan diri kepada Rabbnya dengan hati yang bersih dari selain-Nya, dengan ilhaf[2] memohon keridaan-Nya, serta bersungguh-sungguh meraih ampunan dan maaf-Nya.
Sebagaimana perkataan ‘Athā’ : “Perumpamaan orang yang ber-iktikaf seperti seseorang yang memiliki kebutuhan kepada seorang raja yang agung. Ia duduk di depan pintunya seraya berkata: ‘Aku tidak akan beranjak hingga kebutuhanku dipenuhi.’ Demikian pula orang yang ber-iktikaf; ia duduk di rumah Allah seraya berkata: ‘Aku tidak akan pergi hingga aku diampuni.’”[3]
Karena itu, disyariatkan bagi orang yang ber-iktikaf untuk menjauh dari manusia, tidak banyak bergaul dan tidak menetap di majelis-majelis mereka. Imam Ahmad menegaskan bahwa seharusnya orang yang ber-iktikaf tidak berbaur dengan orang-orang, sekalipun untuk mengajarkan ilmu atau mengajarkan Al-Qur’an. Yang paling sempurna baginya adalah mengasingkan diri, menyendiri untuk bermunajat kepada Rabbnya, berzikir, dan berdoa kepada-Nya.[4]
Dengan melihat secara lebih mendalam, kita mendapati bahwa ibadah iktikaf dikaitkan dengan ibadah puasa, karena hikmah pensyariatan keduanya sama, yaitu memperbaiki hati dengan takwa kepada Allah. Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾ (البقرة: 183).
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).
Seorang hamba yang berpuasa akan mencapai puncak perbaikan hatinya ketika ia menjauh dari manusia, lalu ber-iktikaf dengan hati dan raganya, menyendiri bersama Rabbnya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Termasuk dari petunjuk Nabi ﷺ dalam iktikaf adalah menyendiri dari manusia, dan beliau memerintahkan agar dibuatkan tenda (ṣikhāb/khībā’)[5] untuk beliau di masjid, yang beliau tempati untuk menyendiri bersama Rabbnya.
Sebagaimana ucapan ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً، فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ».
“Nabi ﷺ biasa ber-iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Aku membuatkan bagi beliau sebuah tenda; beliau salat Subuh lalu masuk ke dalamnya.”[6]
Sesungguhnya berbagai ketaatan dan banyak bentuk ibadah terkumpul pada diri orang yang ber-iktikaf, yang menyendiri bersama Rabbnya. Dan ibadah yang paling agung dan paling mulia adalah ibadah hati. Karena hati adalah pemimpin seluruh anggota badan, maka ia layak mendapatkan ibadah yang paling mulia: keikhlasan.
Tidak ada keadaan yang lebih banyak menumbuhkan dan menyempurnakan keikhlasan selain kondisi seorang hamba yang hancur hatinya, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Rabbnya saat ia menyendiri bersama Allah dan menetap dalam ketaatan-Nya. Pada saat itu ia akan merasakan manisnya iman, menemukan rasa dan kenikmatan yang tidak ada bandingannya.
Allah berfirman:
﴿ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ﴾
“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang sangat besar.” (QS. Al-Ḥadīd: 21).
Sifat Kedua: Hidup Bersama Al-Qur’an
Inti ibadah dan sumber kehidupan hati yang pertama adalah Kitab Allah, yang Allah jadikan sebagai ruh, kehidupan, dan cahaya. Allah berfirman:
﴿ وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ﴾ (الشورى: 52).
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu ruh (Al-Qur’an) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan tidak pula iman. Tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syūrā: 52).
Tidak mengherankan jika seorang mukmin menemukan kehidupan hatinya melalui tadabbur Al-Qur’an. Dengan bacaan yang perlahan dan penuh penghayatan, ia merasakan manisnya bermunajat dengan kalam Rabbnya. Ia hidup dalam keluasan makna ayat-ayat yang ruhnya mengalir ke relung hatinya. Saat itu ia merasakan kehidupan hati yang berbeda, dan dalam bacaannya ia mendapati kenikmatan yang tidak mampu diungkapkan oleh lisan dan tidak bisa dituliskan oleh pena, karena agungnya firman Rabb semesta alam dan keindahan retorikanya yang mempesona. Keagungan itu membuat jiwa menjadi lembut, diliputi ketenangan dan rasa takut (khusyuk). Maka tampaklah bagi hati makna-makna yang memancar sebagai cahaya dan hujan rahmat yang memancarkan kewibawaan dan keindahan pada diri pembacanya.
Sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi, demikian pula Al-Qur’an adalah musim semi bagi hati orang-orang beriman. Ia adalah sungai kehidupan bagi hati mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan tafakkur. Bacaan seperti itu melahirkan cinta, kerinduan, rasa takut, harapan, dan seluruh kondisi yang menjadi sumber kehidupan dan kesempurnaan hati.
Andaikan manusia mengetahui apa yang terkandung dalam membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dari segala sesuatu selainnya. Jika seorang hamba membaca Al-Qur’an dengan perenungan, hingga ia melewati ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya, maka hendaknya ia mengulanginya, meskipun seratus kali atau semalam suntuk.
Membaca satu ayat dengan tadabbur dan pemahaman lebih baik daripada menyelesaikan satu kali khatam tanpa penghayatan. Itu jauh lebih bermanfaat bagi hati, lebih menguatkan iman, dan lebih mendatangkan rasa manisnya membaca Al-Qur’an. Sebab, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur adalah inti dari penyucian hati.[7]
Dan hal ini tidak berlaku bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi khusus bagi orang yang ketika memulai membaca sebuah surat, tujuan utama yang memenuhi hatinya adalah: “Kapan aku akan mengambil pelajaran dari apa yang aku baca?” — bukan: “Kapan aku menyelesaikan surat ini?”
Tujuannya adalah: “Kapan aku memahami pesan Allah? Kapan aku tersadar? Kapan aku mengambil ibrah?” Sebab membaca Al-Qur’an adalah ibadah, dan ibadah tidak dilakukan dalam keadaan lalai.”[8]
Apabila orang yang ber-iktikaf mampu hidup bersama Al-Qur’an dengan cara seperti ini, maka ia telah meraih iktikaf hati, yang merupakan tujuan utama bagi para pencari iktikaf yang benar.
Sesungguhnya hidup bersama Al-Qur’an dan mentadabburinya adalah kunci istiqamahnya hati. Tidak ada yang menandingi hidup bersama Al-Qur’an dalam mengokohkan hati dan menancapkan fondasinya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk mentadabburi kitab-Nya, merenungi maknanya, dan menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai petunjuk. Allah pun memuji orang-orang yang melakukan hal itu, menempatkan mereka pada derajat yang paling tinggi, dan menjanjikan bagi mereka anugerah yang paling mulia.
Seandainya seorang hamba menghabiskan permata umur-nya untuk tujuan yang agung ini, niscaya hal itu tidaklah terlalu banyak dibandingkan dengan apa yang merupakan puncak cita-cita, tujuan terbesar, sumber segala sumber, dan pondasi kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat), sebagai dasar bagi kebaikan agama, dunia, dan akhirat. Dengan hal itu, Allah akan menganugerahi seorang hamba kehidupan yang penuh dengan hidayah, kebaikan, dan rahmat; Allah mempersiapkan baginya kehidupan yang baik dan amal-amal saleh yang kekal.[9]
Sesungguhnya awal langkah untuk hidup bersama Al-Qur’an terletak pada tadabbur dan memperpanjang perenungan terhadap ayat-ayatnya.
Benar, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba — baik dalam kehidupan dunia maupun akhiratnya — dan tidak ada yang lebih mendekatkan dirinya kepada keselamatan selain tadabbur Al-Qur’an, memperpanjang perenungan terhadapnya, serta memusatkan pikiran pada makna-makna ayatnya.
Tadabbur Al-Qur’an menyingkapkan dengan jelas bagi seorang hamba penanda kebaikan dan keburukan hingga seluruh rincinya; jalan-jalan menuju keduanya, sebab-sebab yang melahirkan keduanya, tujuan akhir keduanya, buah dari masing-masing keduanya, serta nasib para pelakunya.
Tadabbur Al-Qur’an akan meletakkan (tatullu)[10] di tangannya kunci-kunci kebahagiaan dan ilmu-ilmu yang bermanfaat; mengokohkan dasar keimanan di dalam hatinya; membangun dan menguatkan pilar-pilarnya; menampilkan gambaran nyata tentang dunia dan akhirat, surga dan neraka, ke dalam hatinya.
Tadabbur Al-Qur’an menjadikan seorang hamba “hidup bersama umat-umat terdahulu”, menyaksikan hari-hari Allah pada mereka, memperlihatkan lokasi-lokasi ibrah, menghadirkan di hadapannya keadilan dan karunia Allah, memperkenalkannya kepada Dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, apa yang dicintai-Nya dan apa yang dibenci-Nya, jalan menuju-Nya, keadaan para penempuh jalan tersebut saat tiba di hadapan-Nya, serta rintangan-rintangan perjalanan dan penyakit-penyakitnya.
Ia juga memperkenalkannya pada jiwa manusia, sifat-sifatnya, hal-hal yang merusak amal dan hal-hal yang meluruskannya. Tadabbur Al-Qur’an memperkenalkan jalan para penduduk surga dan penduduk neraka, amal-amal mereka, keadaan-keadaan mereka, ciri-ciri mereka, derajat orang-orang yang bahagia dan yang sengsara, serta kelompok-kelompok manusia: apa yang menjadikan mereka serupa dan apa yang membedakan mereka.
Dalam merenungkan, mentadabburi, dan memahami Al-Qur’an terdapat manfaat dan hikmah yang berlipat-lipat dari apa yang telah kami sebutkan. Secara ringkas, Al-Qur’an adalah harta karun terbesar, dan Thillasmuhu[11] adalah menyelam dengan pikiran hingga mencapai kedalaman makna-maknanya.”[12]
Di antara sarana paling bermanfaat untuk membantu tadabbur Al-Qur’an adalah mengulang-ulang ayat, karena itulah jalan terbaik untuk memancing keluarnya harta karun dan rahasia-rahasia Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ bangun malam dengan satu ayat hingga waktu subuh, beliau mengulang-ulangnya.”
Ayat tersebut adalah firman Allah:
﴿إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Maidah: 118).[13]
Bishr bin as-Sarī berkata: “Ayat itu seperti kurma; semakin engkau mengunyahnya, semakin engkau mendapatkan manisnya.” [14]
Al-Muwaffaq Ibn Qudāmah berkata: “Jika tadabbur tidak bisa tercapai kecuali dengan mengulang ayat, maka hendaklah ia mengulanginya.”[15]
Di antara hal yang membantu tadabbur Al-Qur’an adalah menghadap kepadanya sepenuh hati, serta menghadirkan perasaan bahwa pembaca sedang diajak bicara oleh Allah. Hal ini termasuk faktor terbesar terbukanya makna-makna Al-Qur’an.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah —seraya merasakan limpahan makna luar biasa yang Allah bukakan ke dalam hatinya, dalam masa kurungan dan khalwatnya bersama Rabbnya, serta sepenuhnya menghadap kepada Al-Qur’an— berkata:
“Allah telah membukakan untukku di benteng ini, dalam kesempatan kali ini, dari makna-makna Al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu sejumlah perkara yang banyak ulama pun berharap mendapatkannya. Dan aku menyesal telah menyia-nyiakan sebagian besar waktuku bukan untuk mendalami makna-makna Al-Qur’an.”[16]
Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau ingin mendapatkan manfaat dari Al-Qur’an, maka kumpulkanlah hatimu ketika membacanya dan mendengarnya, curahkan pendengaranmu, dan hadirkanlah dirimu seperti orang yang sedang diajak bicara dengan Al-Qur’an oleh Dzat yang berfirman dengannya —Subḥānah— kepada dirinya. Karena ia merupakan pesan (khithab) dari-Nya kepadamu melalui lisan Rasul-Nya.”
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati, atau yang mencurahkan pendengarannya, sedang ia hadir.” (QS. Qāf ayat 37).
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh bergantung pada adanya yang memberi pengaruh, tempat yang menerima, syarat untuk terjadinya pengaruh, dan hilangnya penghalang yang mencegahnya. Maka ayat ini mengandung penjelasan semuanya dengan lafaz yang paling ringkas, paling jelas, dan paling menunjukkan maksudnya.
Apabila yang memberi pengaruh ada —yaitu Al-Qur’an—, dan tempat yang menerima ada —yaitu hati yang hidup—, serta syaratnya terwujud —yaitu mendengarkan—, dan penghalangnya hilang —yaitu hati yang sibuk dan lalai dari makna khithab, berpaling kepada sesuatu selainnya—, maka terwujudlah pengaruh itu, yaitu manfaat dan mengambil pelajaran.[17]
Sesungguhnya karunia Allah kepada kita sangat besar, ketika Dia mengizinkan makhluk-makhluk yang lemah seperti kita untuk bermunajat kepada-Nya melalui firman-Nya yang agung. Ibnus Shalah berkata: “Telah disebutkan bahwa para malaikat tidak diberi keutamaan membaca Al-Qur’an, dan karena itu mereka sangat berhasrat untuk mendengarkannya dari kalangan manusia. Maka membaca Al-Qur’an adalah kemuliaan yang Allah memuliakan manusia dengannya. Hanya saja, kaum mukmin dari golongan jin —telah sampai kepada kami— mereka membacanya. Dan Allah lebih mengetahui.”[18]
Sesungguhnya mengingat pemilihan (ini), dan mengingat keagungan Dzat yang berfirman dengan Al-Qur’an, merupakan sarana terkuat untuk hidup bersama Al-Qur’an.
Ibnul Jauzi berkata: “Selayaknya bagi orang yang membaca Al-Qur’an yang agung untuk memperhatikan bagaimana Allah Ta‘ala telah melimpahkan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya kepada pemahaman mereka, dan hendaknya ia mengetahui bahwa apa yang ia baca bukanlah perkataan manusia, serta hendaknya ia menghadirkan keagungan Dzat yang berfirman dan mentadabburi kalam-Nya.”[19]
Dan di antara hal yang membantu untuk mentadabburi Al-Qur’an dan hidup bersamanya adalah bergembira dengannya, dan membacanya dengan jiwa yang penuh suka cita dan merasakan karunia. Maka barang siapa menginginkan pemahaman terhadap Al-Qur’an hendaklah ia membacanya dengan bacaan yang disertai kegembiraan dan suka cita; karena hal itu termasuk pendorong terbesar bagi tadabbur.
Allah Ta‘ala berfirman dalam menggambarkan hamba-hamba-Nya yang beriman:
﴿وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَنَا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴾
“Dan apabila suatu surah diturunkan, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka (surat ini) menambah iman mereka dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124).
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ • قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itu hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yūnus: 57–58).
Ibn Abī Ḥātim dalam tafsirnya berkata: “Dan diriwayatkan dari Baqiyyah, dari Shafwān —yakni Ibnul Walīd bin ‘Amr— ia berkata: Aku mendengar Anfa‘ bin ‘Abd al-Kalā‘ī berkata: Ketika datang pemasukan (kharaj) Irak kepada ‘Umar, ‘Umar keluar bersama seorang maulānya. ‘Umar mulai menghitung unta-unta itu, ternyata jumlahnya lebih banyak dari itu. Maka ‘Umar pun mengucapkan, ‘Alhamdulillāh.’ Maulanya berkata, ‘Wahai Amīrul Mu’minīn, demi Allah, ini termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya.’ Maka ‘Umar berkata, ‘Engkau keliru. Bukan ini yang dimaksud. (tapi) Allah berfirman:
﴿ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ﴾
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bersukacita; itulah yang lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. QS. Yunus: 58). Dan Ini (harta) termasuk apa yang mereka kumpulkan.’”[20]
Dan Aḥmad bin Abī al-Ḥawārī berkata: “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur’an, lalu aku memandang pada satu ayat darinya, maka akalku tercengang karenanya. Aku takjub kepada para penghafal Al-Qur’an, bagaimana bisa tidur terasa nyaman bagi mereka dan bagaimana mereka bisa tenang menyibukkan diri dengan sesuatu dari urusan dunia, sementara mereka membaca kalam Ar-Raḥmān. Seandainya mereka memahami apa yang mereka baca, mengetahui haknya, merasakan kelezatannya, dan menganggap manis bermunajat dengannya, niscaya hilang dari mereka rasa kantuk karena gembira dengan apa yang diberikan dan ditaufikkan kepada mereka.”[21]
Dzun Nūn al-Miṣrī mengucapkan bait syair:
مَنَعَ القُرَانُ بِوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ *** مُقَلَ الْعُيُونِ بِلَيْلِهَا لَا تَهْجَعُ
“Al-Qur’an dengan janji dan ancamannya telah menghalangi mata-mata (ahlinya) untuk tidur nyenyak di malam hari.
فَهِمُوا عَنِ الْمَلِكِ الْعَظِيمِ كَلَامَهُ *** فَهُمَا تَذِلُّ لَهُ الرِّقَابُ وَتَخْضَعُ
Mereka memahami kalam Raja Yang Maha Agung, maka tertunduklah tengkuk-tengkuk (mereka) dan merendah.”[22]
Abu Sulaimān ad-Dārānī berkata: “Ahli (ibadah) malam dalam malam mereka lebih merasakan kenikmatan daripada ahli lahw (orang-orang yang bersenang-senang) dalam kesenangan mereka. Kalau bukan karena (ada) malam, niscaya aku tidak suka tinggal di dunia.”[23]
Sebagian salaf berkata: “Betapa kasihan penduduk dunia; mereka keluar dari dunia tetapi belum pernah merasakan yang paling lezat di dalamnya.”
Mereka bertanya, “Apa yang paling lezat di dalamnya?” Ia menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa dekat dengan-Nya, rindu untuk berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.”[24]
Rasa rindu kepada Allah, merasa dekat dengan-Nya, dan menghadap kepada-Nya, sebab terbesar yang membangkitkannya adalah hidup bersama Al-Qur’an, mentadabburinya, dan menikmati tilawahnya.
Sungguh, para salafus shalih telah memahami makna ini dan menyadarinya; maka hal itu membuahkan pada diri mereka tekad yang tinggi untuk mengosongkan pikiran demi Al-Qur’an di musim-musim turunnya rahmat. Mereka memiliki hal-hal mengagumkan bersama bacaan Al-Qur’an, dan dari mereka terdengar dengung bacaan seperti dengung lebah karena begitu terpengaruhnya mereka.
Kita semua harus meyakini bahwa hidup bersama Al-Qur’an, mentadabburinya, memahami makna-maknanya, dan mengamalkannya adalah maksud dari tilawah, sebagaimana dipahami oleh salaf kita yang shalih.
Al-Ḥasan al-Baṣrī berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang Al-Qur’an sebagai surat-surat (risalah) dari Rabb mereka. Mereka mentadabburinya di malam hari, dan melaksanakannya di siang hari.”[25]
Maka bebaskanlah,-wahai orang yang diberi taufik-, ruhmu; agar ia dapat menghirup (litu’abba)[26] semerbak wewangian Al-Qur’an. Kosongkan hatimu, dan luangkan pikiranmu untuk Al-Qur’an, agar engkau bisa hidup bersamanya, lalu hatimu mengepak di puncak-puncak kebahagiaan, sehingga engkau meraih kemenangan yang agung.
Sifat Ketiga: Menfokuskan Hati dan Totalitas Menghadap kepada Allah
Sesungguhnya tujuan akhir iktikaf dan maksud utamanya adalah lurusnya hati. Dan hati tidak akan lurus di atas jalan Allah kecuali bila ia menghadap kepada Allah secara total. Kapan saja hati berpaling dari Allah dan berenang dalam berbagai perkara yang jauh dari-Nya, maka terluputlah tujuan iktikaf, sekalipun tubuh tetap berada dalam keadaan iktikaf.
Oleh karena itu, “ketika kebaikan hati dan istiqamahnya di atas jalan saat berjalanan menuju Allah Ta‘ala bergantung pada terkumpulnya hati kepada Allah, dan terhimpunnya segala yang tercerai-berai darinya dengan menghadap kepada Allah secara total, — karena sungguh, keruwetan hati tidak bisa dikumpulkan dan disatukan kecuali dengan menghadap kepada Allah Ta‘ala — sedangkan berlebihan dalam makan dan minum, dalam bergaul dengan manusia, dalam berbicara, dan tidur, itu semua justru menambah keruwetan hati, mencerai-beraikannya ke setiap lembah, memutus perjalanannya menuju Allah Ta‘ala, atau melemahkannya, atau menghalanginya dan menghentikannya; maka rahmat al-‘Azīz ar-Raḥīm (Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang) kepada hamba-hamba-Nya menuntut bahwa Dia mensyariatkan bagi mereka puasa yang dapat menghilangkan kelebihan makan dan minum, dan membersihkan hati dari campuran syahwat yang menghalanginya dalam perjalanan menuju Allah Ta‘ala. Dia mensyariatkannya sesuai kadar maslahat, sehingga seorang hamba dapat mengambil manfaat darinya dalam urusan dunia dan akhiratnya, tanpa mudarat dan tanpa terputus dari kemaslahatan dunia dan akhiratnya.
Dia juga mensyariatkan bagi mereka iktikaf, yang tujuan dan ruhnya adalah berdiamnya hati di hadapan Allah Ta‘ala, terkumpulnya hati hanya kepada-Nya, berkhalwat dengan-Nya, memutuskan diri dari kesibukan dengan makhluk, dan menyibukkan diri hanya dengan-Nya semata, Subḥānah. Hingga dzikir kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dan menghadap kepada-Nya menjadi pengganti segala lintasan dan kesibukan lain di dalam hati,[27] lalu seluruh kegelisahan hati berganti menjadi hanya memikirkan-Nya; semua lintasan hati berganti menjadi dzikir kepada-Nya, dan tadabbur dalam upaya meraih keridaan-Nya dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya.
Dengan itu, rasa dekat dan tenteramnya adalah saat bersama Allah sebagai ganti dari rasa dekat dan tenteram bersama makhluk. Maka iktikaf tersebut mempersiapkannya untuk merasakan kedekatan dengan Allah pada hari kesendirian di alam kubur, ketika tidak ada lagi teman yang menghibur, dan tidak ada sesuatu pun yang membahagiakannya selain Dia.
Inilah tujuan terbesar dari iktikaf.”[28]
Sifat keempat: Merasakan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ • وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴾
“(Yaitu Tuhanmu) yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerakmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 218–219).
Ini adalah ayat yang agung, yang darinya seorang hamba yang beriman dapat menangkap bahwa Allah selalu melihat dirinya dalam setiap keadaan, perubahan, dan ibadahnya.
Maksudnya: “Dia melihatmu dalam ibadah yang agung ini, yaitu salat, ketika engkau berdiri dan ketika engkau bergerak antara rukuk dan sujud. Ibadah ini disebutkan secara khusus karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia; serta karena siapa saja yang menghadirkan kedekatan Rabb-nya di dalam salat, niscaya ia akan khusyuk dan tunduk.”[29]
Ayat yang mulia ini datang di penghujung Surah Asy-Syu‘arā’ setelah perintah kepada Nabi ﷺ untuk memberi peringatan, tetap teguh di atas kebenaran, dan bertawakal kepada Allah. Seakan-akan di dalamnya terdapat isyarat bahwa menghadirkan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya dan pengawasan-Nya terhadapnya ketika menunaikan ibadah, merupakan bekal ruhani yang menghibur hati orang beriman dalam perjalanannya menuju Allah, mengangkat rasa sesaknya, dan menghilangkan hiruk-pikuk, kekeruhan, serta kepedihan hidup dari dirinya.
Sesungguhnya menghadirkan makna kebersamaan ini, merasakan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya, pengetahuan-Nya terhadap keadaannya, serta ilmu-Nya terhadap rahasia dan yang tampak darinya, pada ucapan dan amalnya; sungguh hal itu cukup untuk menghilangkan tirai dari hati, dan membersihkan debu kotoran dunia darinya. Sebagai gantinya, akan hadir keikhlasan, yang diselimuti pagar kejujuran bersama Allah dan keinginan untuk meraih pahala serta karunia-Nya di akhirat.
Barang siapa dalam melaksanakan ibadah memiliki kedudukan pengawasan diri seperti ini, maka cita-citanya tidak akan tertuju kecuali kepada kedudukan yang paling tinggi di akhirat. Karena dunia dan bagian-bagiannya, bila disertai kesadaran akan kebersamaan Allah dan pengawasan-Nya, akan menjadi seperti jerami kering yang diterbangkan angin. Namun jika pengawasan itu hilang atau melemah di hati seorang hamba, maka dorongan nafsu akan menyerangnya seperti serangan singa buas terhadap mangsanya pada hari lapar dan ketika tak ada pengawas.
Sifat Kelima: Mengagungkan Allah
Sesungguhnya asas dalam penghambaan kita kepada Allah adalah ia tegak di atas pengagungan, pemuliaan, dan penghormatan kepada-Nya. Bulan Ramadan, sepuluh (hari) terakhirnya yang mulia, dan iktikaf merupakan pintu-pintu keberkahan untuk menumbuhkan pengagungan dan pemuliaan ini di dalam hati kita. Momentum-momentum ini termasuk sebab terbesar yang mewariskan tuntutan agung ini.
Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā dalam menafsirkan firman Allah Ta‘ala:
﴿ مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا ﴾
“Apa yang membuat kalian tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya?”[30]
Maka hak tawqīr (penghormatan) adalah pengagungan di dalam hati, dan hak pengagungan di hati adalah ketaatan dengan anggota badan.[31]
Setiap kali seorang mukmin mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang di dalamnya terdapat penyebutan nama-nama Allah yang indah, keagungan, dan kemuliaan-Nya, niscaya hatinya tercabut karena pengagungan dan pemuliaan kepada Allah. Ia membaca firman Allah Ta‘ala:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67).
Maka mengalirlah ke dalam hatinya berbagai perasaan pengagungan dan pemuliaan kepada Allah; perasaan yang deras, yang mengikis sisa-sisa keterikatan kepada dunia dan sikap condong kepadanya, hingga tidak tersisa di dalam hati tempat bersemayam bagi selain pengagungan kepada Allah.
Ia membaca firman-Nya:
﴿ وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴾ [الأنعام: 59]
“Dan pada sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun di kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah dan yang kering, melainkan (semua tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Al-An‘ām: 59).
Ia merenungkan ayat ini dan berhenti pada makna-maknanya, maka bangkitlah dalam hatinya berbagai nuansa rasa akan keagungan kalam ini dan keagungan Dzat yang berfirman dengannya .
Sesungguhnya ini adalah “kalam Allah, dan Allah telah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya di dalamnya dengan sifat-sifat-Nya. Terkadang Dia menampakkan diri dalam selubung wibawa, keagungan, dan keperkasaan; maka tengkuk-tengkuk pun tunduk, jiwa-jiwa hancur (tawaduk), suara-suara menjadi khusyuk, dan kesombongan meleleh sebagaimana garam meleleh di dalam air.
Dan terkadang Dia menampakkan diri dalam sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan, yaitu kesempurnaan nama-nama-Nya, keindahan sifat-sifat-Nya, dan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan Dzat-Nya. Maka kecintaan kepada-Nya menghabiskan seluruh kekuatan cinta di dalam hati hamba, karena apa yang ia kenali dari sifat-sifat keindahan-Nya dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya; sehingga hati hamba menjadi kosong dari selain kecintaan kepada-Nya.
Maka jika ada selain-Nya yang ingin menggantungkan kecintaan (hati itu) kepada dirinya, hati dan seluruh bagian dalamnya menolak hal itu dengan penolakan yang sempurna, sebagaimana dikatakan:
«يُرَادُ مِنَ الْقَلْبِ نِسْيَانُكُمْ *** وَتَأْبَى الطَّبَاعُ عَلَى النَّاقِلِ».
“Dikehendaki dari hati agar melupakan kalian, namun tabiat-tabiat menolak untuk berpindah (kecintaannya) dari kalian.”
Maka tetaplah cinta kepada-Nya itu menjadi tabiat (alami), bukan sesuatu yang dipaksakan. Dan apabila Dia menampakkan diri dengan sifat-sifat rahmat, kebaikan, kelembutan, dan ihsan, bangkitlah kekuatan harap dari diri hamba, harapannya pun meluas, keinginannya (akan rahmat Allah) menguat, dan ia berjalan menuju Rabbnya dengan “pemandu” berupa harapan yang menggiring kendaraan perjalanannya. Semakin kuat harapannya, semakin sungguh-sungguh ia dalam beramal; sebagaimana seorang petani, semakin besar harapannya terhadap hasil (al-mughal)[32], semakin ia memenuhi tanahnya dengan benih. Dan jika harapannya lemah, ia pun mengurangi penaburan benihnya…
Dan apabila Dia menampakkan diri dengan sifat-sifat keperkasaan dan keagungan, jiwa yang tenang itu memberikan apa yang ia capai berupa kerendahan (tawaduk) karena keagungan-Nya, kehancuran (tunduk) karena kemuliaan-Nya, ketundukan terhadap keagungan-Nya, serta kekhusyukan hati dan anggota badan kepada-Nya. Maka ketenangan dan wibawa menyelimuti hati, lisan, anggota badan, dan penampilannya; hilanglah ketergesa-gesaannya, keganasannya, dan ketajamannya.
Kesimpulannya, bahwa Dia terkadang memperkenalkan diri-Nya kepada hamba dengan sifat-sifat keilahian-Nya, dan terkadang dengan sifat-sifat rububiyah-Nya. Penyaksian terhadap sifat-sifat keilahian itu menimbulkan di dalam hati hamba kecintaan yang khusus, kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya, rasa dekat dan gembira dengan-Nya, berlomba-lomba untuk mendekat kepada-Nya, berusaha mendekat kepada-Nya dengan ketaatan, terus-menerus menyebut-Nya, dan lari dari makhluk menuju kepada-Nya. Sehingga Dia semata menjadi satu-satunya tujuan dan perhatian hatinya, bukan selain-Nya.
Adapun penyaksian terhadap sifat-sifat Rububiyah, hal itu menimbulkan tawakal kepada-Nya, rasa butuh kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, serta kerendahan, ketundukan, dan kehancuran (tunduk total) di hadapan-Nya.”[33]
Dan dalam sunnah yang mulia, seorang mukmin membaca hadis ‘Abdullāh bin ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَطْوِي اللهُ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟».
“Allah melipat langit-langit pada hari Kiamat, lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Di mana para penguasa yang keras (zalim)? Di mana orang-orang yang sombong?’ Lalu Dia melipat bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya, kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja. Di mana para penguasa yang keras? Di mana orang-orang yang sombong?’”[34]
Lalu ia menelusuri pandangan pada rahasia-rahasia hadis ini, dan hatinya berjalan dalam naungan makna-maknanya; maka dikuasailah dirinya oleh rasa takut yang penuh wibawa dan pengagungan kepada Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan. Itu adalah perasaan kemuliaan dan ketinggian, yang mengangkat hati menuju puncak kedudukan, akibat kuatnya pengaruh nash-nash ini yang menggugah hati; sehingga bangkitlah dari hati itu pengagungan, rasa takut, dan pemuliaan kepada Allah.
Maka bagaimana mungkin hati tidak ber-iktikaf (menetap) sedangkan ia telah dipenuhi dengan pengagungan kepada Allah ? Tidak diragukan lagi, jika hati telah dipenuhi dengan hal itu, ia akan sampai pada inti dan hakikat iktikaf.
Sifat Keenam: Kefakiran Hamba kepada Rabbnya dan Rasa Butuh kepada-Nya
Sesungguhnya iktikaf di salah satu rumah Allah, yaitu iktikaf hati, adalah gambaran hidup dari keadaan hina seorang hamba dan kefakirannya kepada Raabbnya. Penghambaan tidak menjadi sempurna “kecuali dengan menyempurnakan kedudukan kehinaan dan ketundukan. Makhluk yang paling sempurna dalam ubudiyah adalah yang paling besar kehinaan dan ketundukannya kepada Allah serta ketaatannya.
Seorang hamba itu hina di hadapan Rabbnya yang Hak dari seluruh sisi kehinaan; ia hina karena keperkasaan-Nya, hina karena kekuasaan-Nya, hina karena rububiyah-Nya atas dirinya dan pengaturan-Nya terhadapnya, dan hina karena kebaikan-Nya kepadanya dan nikmat-nikmat-Nya atasnya.”[35]
Sesungguhnya seorang hamba, setiap kali ia merendah di hadapan Raabbnya, ia akan lebih dekat kepada Allah, kepada rahmat-Nya, pertolongan-Nya dan pemberian-Nya. Dia memberinya taufik, menunjukinya, dan menyambung kembali hati yang patah itu. “Betapa dekatnya penyembuhan bagi hati yang hancur ini, dan betapa dekatnya pertolongan, rahmat dan rezeki kepadanya! Betapa bermanfaat dan besar hasil keadaan ini baginya! Satu butir kecil saja dari keadaan seperti ini, satu helaan napas darinya, lebih Allah cintai daripada ketaatan sebesar gunung-gunung dari orang-orang yang merasa berjasa (Al-Mudillin)[36] dan kagum dengan amal, ilmu, dan keadaan mereka. Dan hati yang paling Allah cintai adalah hati yang telah dikuasai oleh kehancuran seperti ini, dan dikuasai oleh kehinaan ini; ia menundukkan kepala di hadapan Rabbnya, tidak mengangkat kepalanya kepada-Nya karena malu dan segan kepada Allah.”[37]
Sesungguhnya Allah mencintai dari hamba-Nya bahwa saat ia dalam keadaan rendah di hadapan-Nya, terus-menerus berada dalam keadaan hina kepada-Nya, dan senantiasa fakir kepada-Nya. Bahkan hati tidak akan lurus keadaannya kecuali dengan kefakiran kepada Allah, yang merupakan inti dan ruh penghambaan.
“Hati tidak akan baik dan tidak akan beruntung, tidak akan merasakan kelezatan, tidak akan bergembira, tidak akan baik, tidak akan tenang dan tidak akan tenteram kecuali dengan beribadah kepada Rabbnya, mencintai-Nya dan kembali kepada-Nya. Sekalipun ia mendapatkan segala sesuatu yang ia nikmati dari makhluk, hatinya tidak akan tenang dan tidak akan diam, karena di dalamnya terdapat kefakiran yang bersifat bawaan kepada Rabbnya, dari sisi bahwa Dia adalah yang disembah, yang dicintai dan yang dicari.”[38]
Dan setiap kali rasa kebutuhan seorang hamba kepada Allah semakin dalam, hal itu akan mendorongnya kepada inābah (kembali kepada-Nya) dan tunduknya hati, serta berdiamnya hati pada cinta kepada Allah, banyak mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, memuji-Nya, mengagungkan-Nya dan menyanjung-Nya.
Inilah sifat seorang mukmin dalam hidupnya, pada seluruh waktunya, saat dalam keadaan jual beli, saat bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Maka bagaimana lagi keadaannya ketika ia berada di tengah medan perlombaan (dalam ketaatan), di malam-malam rahmat dan turunnya pemberian, sementara ia ber-iktikaf dengan hati dan tubuhnya di atas ketaatan kepada Rabbnya, ketika ia mencapai “kejernihan penghambaan, terbangunnya rahasia antara dia dengan Allah, dan murninya cinta; sehingga ia pagi dan petang tidak mempunyai keinginan selain Rabbnya. Sungguh, kesibukannya dengan Rabbnya telah memutus darinya semua kesibukan, kehendaknya untuk-Nya telah meniadakan seluruh kehendak yang lain, dan cintanya kepada-Nya telah menghapus dari hatinya setiap cinta kepada selain-Nya.”[39]
Sesungguhnya seorang mukmin, ketika ia meyakini kebuRabbnya kepada Rabbnya, dan merasakan bahwa hal itu adalah kebutuhan yang paling penting, ia akan sampai kepada kejernihan penghambaan dan kepada kenikmatan berkhalwat dengan Allah.
Ketika ia merasakan kefakirannya kepada Allah dan kebutuhan yang sangat untuk merendah di hadapan-Nya, lalu ia terdorong kepada itu dengan kejujuran dan terkumpulnya hati, ia akan menemukan dunia lain berupa kenikmatan ruh, kelezatan jiwa dan penyejuk pandangan; suatu kenikmatan dalam ibadah “yang tidak terjangkau oleh gambaran kata-kata, dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak memiliki bagian darinya; dan setiap orang yang lebih lurus dengannya, maka bagiannya dalam merasakan kelezatan darinya akan lebih besar.”[40]
Dan “apabila hati telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih manis, lebih lezat, dan lebih baik baginya daripada hal itu.”[41]
Maka, rahasia iktikaf adalah terus-menerus berada dalam keadaan fakir, hancur, dan merendah kepada Allah, serta menelungkupkan diri di atas ambang pintu penghambaan kepada-Nya .
Sifat Ketujuh: Menghadirkan Karunia dan Anugerah Allah
Di antara keindahan tarbiyah Qur’ani pada awal dakwah kenabian adalah apa yang disebutkan di awal Surah al-Muddatsir, ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memberi peringatan dan berdakwah, kemudian berfirman:
﴿ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ﴾ [المدثر: 6]
“Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS. Al-Muddatsir: 6).
Itu adalah wasiat rabbani yang membersihkan seorang hamba dari sikap merasa tinggi dengan amal, dan memenuhi hatinya dengan rasa wibawa dan pengagungan kepada Allah, serta menghadirkan di hadapannya pemandangan karunia-karunia-Nya yang meliputi seluruh hidupnya. Tidak ada satu jalan pun, melainkan di atasnya ada nikmat Allah kepada hamba; tidak dapat dihitung oleh orang yang menghitung, dan tidak dapat dicatat oleh lembaran-lembaran.
Sesungguhnya seorang mukmin yang sejati adalah yang senantiasa menghadirkan pemandangan karunia-karunia Rabbnya atas dirinya; karena karunia itu telah melilitnya dalam sebuah lingkaran yang memenuhi langit dan bumi. Dialah yang telah mencurahkan nikmat-nikmat, yang paling tinggi di antaranya adalah nikmat hidayah—yang lisan tak sanggup menunaikan haknya—dengannya Rabbnya mengeluarkannya dari gelapnya kesesatan menuju cahaya hidayah, dari gelombang kesesatan menuju lapang iman.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
«يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ».
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.”[42]
Karena itu Allah mencela orang yang lalai dari menyaksikan karunia-Nya. Dia berfirman:
﴿ يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ﴾ [الحجرات: 17]
“Mereka merasa telah memberi jasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kalian merasa telah berjasa kepadaku dengan keislaman kalian. Sebenarnya Allahlah yang telah memberi karunia kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada iman.’” (QS. Al-Ḥujurāt: 17).
Inilah tarbiyah al-Qur’an yang membersihkan hati dari sikap merasa tinggi, menghapus dari dirinya jalan-jalan sikap (Masārib)[43] idlāl[44] (merasa berjasa dengan amal), dan memenuhi hati dengan pengagungan kepada Allah serta pengakuan atas karunia dan anugerah-Nya.
Hal ini dipahami oleh orang-orang yang memiliki keutamaan, seperti ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu, ketika beliau ditikam, lalu ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā berkata kepadanya untuk menghibur:
“Wahai Amīrul Mu’minīn, sungguh jika (perkara) itu terjadi, engkau telah menyertai Rasulullah ﷺ dan engkau telah berbuat baik dalam menyertainya, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan beliau ridha kepadamu. Kemudian engkau menyertai Abū Bakr dan engkau telah berbuat baik dalam menyertainya, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan ia ridha kepadamu. Kemudian engkau menyertai para sahabat mereka, dan engkau telah berbuat baik dalam menyertai mereka. Sungguh jika engkau berpisah dengan mereka, niscaya engkau berpisah dengan mereka dalam keadaan mereka ridha kepadamu.”
Maka ‘Umar berkata:
“Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaanku dengan Rasulullah ﷺ dan keridhaannya, maka itu hanyalah karunia dari Allah Ta‘ālā yang Dia anugerahkan kepadaku. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaanku dengan Abū Bakr dan keridhaannya, maka itu hanyalah karunia dari Allah Jalla Dzikruhu yang Dia anugerahkan kepadaku. Adapun apa yang engkau lihat dari rasa gelisahku, maka itu adalah demi engkau dan para sahabatmu. Demi Allah, seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi (Thilal Al-Ardh)[45], niscaya aku akan menebus diri dengannya dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”[46]
Sesungguhnya menghadirkan pemandangan karunia Allah akan menghilangkan dari hati sumber-sumber ‘ujub, mencucinya dari kotoran sikap merasa berjasa, dan mensucikannya dari noda; agar hati menjadi bejana yang bersih, yang disucikan dengan iman, ditinggikan dengan amalan-amalan hati, dan dapat mengambil manfaat dari amalan-amalan anggota badan. Adapun jika amalan-amalan itu ada tetapi tercampuri dengan noda ‘ujub dan idlāl (merasa berjasa dengan amal), maka amalan-amalan itu akan menghancurkan hati pelakunya, tidak menyisakan kebaikan di dalamnya dan tidak pula membiarkannya. Karena itu Allah berfirman kepada orang yang merasa berjasa dengan amalnya:
«قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ».
“Sungguh Aku telah mengampuni si Fulan, dan Aku gugurkan amalmu.”[47]
Sesungguhnya kekaguman seseorang terhadap amalnya dan sikapnya merasa berjasa dengannya adalah salah satu kejatuhan yang paling buruk dan paling jelek. Ia adalah pembakar ketaatan, lahan tumbuhnya berbagai keburukan dan aneka penyakit serta bencana.
Para salaf sangat mewaspadai ‘ujub dan lari darinya. Muṭarrif bin ‘Abdillāh bin asy-Syikhkhīr berkata:
“Sungguh, aku bermalam dalam keadaan tidur lalu paginya dalam keadaan menyesal itu lebih aku sukai daripada aku bermalam dalam keadaan bangun (salat malam) lalu paginya dalam keadaan kagum (terhadap amal).”[48]
“Sesungguhnya engkau bermalam dalam keadaan tidur lalu paginya menyesal, itu lebih baik daripada engkau bermalam dalam keadaan berdiri (salat) lalu paginya dalam keadaan kagum terhadap diri sendiri. Sebab, amal orang yang kagum pada dirinya tidak akan naik (tidak diterima). Dan engkau tertawa dalam keadaan mengakui (dosa) itu lebih baik daripada engkau menangis dalam keadaan merasa berjasa. Rintihan para pelaku dosa lebih Allah cintai daripada suara nyaring (Zajal)[49] orang-orang yang bertasbih namun merasa berjasa.”[50]
Maka, nyalakanlah—wahai orang yang ber-iktikaf—di dalam benakmu percikan rasa akan karunia Allah dan penyucian-Nya terhadap dirimu. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴾ [النور: 21]
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian menjadi bersih selamanya. Tetapi Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nūr: 21).
Sifat Kedelapan: Mengakui Dosa dan Kekurangan (Kelalaian)
Sesungguhnya pandangan sekilas dan renungan sejenak terhadap doa-doa permohonan, munajat, dan rintihan para nabi serta orang-orang saleh, akan menyingkap sebuah rahasia yang melingkupinya bagi Anda. Rahasia tersebut tidak lain adalah: doa-doa itu senantiasa mencakup pengakuan terhadap dosa dan kezaliman (diri sendiri). Berikut ini adalah catatan dan lembaran-lembaran bercahaya dari pengakuan mereka atas dosa dan kezaliman tersebut:
Ini adalah doa Adam dan Hawa:
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23).
Ini adalah Musa ‘alaihis salam—yang merupakan salah satu rasul Ulul Azmi—berdoa:
﴿رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Qashash: 16).
Dan ini adalah Yunus ‘alaihis salam, ia memohon dan bermunajat kepada Rabbnya seraya mengakui dosanya, bahkan mengakui bahwa dirinya termasuk orang-orang yang zalim:
﴿فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
“Maka dia berdoa dalam kegelapan (yang berlapis-lapis): ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya: 87).
Dan ketika Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu meminta petunjuk kepada Nabi ﷺ seraya berkata kepada beliau: “Ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang dapat aku panjatkan dalam salatku.” Beliau ﷺ bersabda:
«قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ».
“Ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'”[51]
Inilah Tarbiah Nabawi yang mengikis kesombongan dan keangkuhan seorang hamba, dan menjadikannya senantiasa merasa butuh (iftiqar) kepada Rabbnya, senantiasa merendah (hina) di hadapan-Nya, dan senantiasa menghadirkan dosa-dosanya di pelupuk matanya. Jika ini saja merupakan wasiat Nabi ﷺ kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu—padahal kita tahu siapa beliau dengan segala keutamaan, kepemimpinan, keagungan, pembelaannya terhadap agama, dan pengorbanannya membela nabi-Nya—lantas bagaimana halnya dengan keadaan kita, orang-orang yang berlumur dosa dan penuh kelalaian?!
Maka, wahai orang yang beriktikaf, lazimkanlah perasaan dan kesadaran ini. Akuilah dosa-dosamu, hadapkanlah dirimu kepada Tuhanmu, yakinkanlah di dalam hatimu bahwa engkau termasuk orang-orang yang zalim. Jadikanlah doa-doa yang diberkahi ini selalu menghiasi lisanmu dalam setiap keadaanmu. Namun, berhati-hatilah jangan sampai engkau sekadar mengucapkannya (tanbisa)[52] dengan bibirmu, sementara hatimu kosong dari pengakuan tersebut. Karena hakikat dari kejujuran (kesungguhan) adalah selarasnya hati dengan apa yang diucapkan oleh lisan.
Sifat Kesembilan: Menghadap kepada Allah dengan Merutinkan Zikir
Sesungguhnya merutinkan zikir kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan memuji-Nya merupakan salah satu pemandangan dari iktikafnya hati (terpautnya hati), kesehatannya, kejernihannya, serta pencapaiannya pada derajat keimanan yang tinggi.
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Sesungguhnya zikir kepada Allah Ta’ala akan memakmurkan hati, serta memenuhinya dengan cahaya dan kebahagiaan. Sebaliknya, hati yang kehilangan zikir akan berada dalam kegelapan dan kepekatan; karena “di dalam hati terdapat sebuah celah dan rasa butuh (kefakiran) yang tidak akan bisa ditutupi oleh apa pun secara mutlak melainkan dengan zikir kepada Allah.
Maka apabila zikir telah menjadi syiar (pakaian) bagi hati, di mana hatilah yang berzikir secara asas (pokok) lalu lisan sekadar mengikutinya, maka inilah zikir yang dapat menutupi celah dan menghilangkan kefakiran tersebut. Dengan demikian, pelakunya akan menjadi kaya tanpa harta, menjadi mulia tanpa kabilah (pengikut), dan menjadi berwibawa tanpa kekuasaan. Namun, apabila ia lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, maka keadaannya adalah kebalikan dari hal itu; ia menjadi fakir meskipun hartanya melimpah, menjadi hina meskipun ia memiliki kekuasaan, dan menjadi kerdil meskipun pengikutnya banyak.”[53]
Hati seorang mukmin tidak akan merasa tenang, tidak akan merasakan kelezatan, dan tidak akan menemukan cita rasa serta keintiman dalam kehidupan ini kecuali dengan zikir kepada Allah. Allah telah menyifati orang-orang yang beriman dan Ulul Albab (orang-orang yang berakal) bahwa mereka:
﴿يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾ [آل عمران: ١٩١]
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Maka inilah kebiasaan dan tabiat mereka: Lisan mereka senantiasa basah dengan zikir kepada Allah saat berdiri, basah dengan zikir saat duduk, dan basah dengan zikir saat berada di atas ranjang maupun saat berbaring. Hati mereka telah terpaut kepada Allah, sehingga mereka merutinkan zikir dalam segala keadaan.
Ya Allah, betapa ini merupakan isyarat Al-Qur’an yang sangat menyentuh hati!
﴿وَعَلَى جُنُوبِهِمْ﴾
“(Atau) dalam keadaan berbaring.”
Karena saking kuatnya keterikatan mereka kepada Allah, mereka tetap mengingat-Nya dalam keadaan (berbaring) ini, yang mana keadaan tersebut biasanya sangat rentan terhadap lamunan, kelalaian, atau kelelahan. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang keterikatan kuatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencapai tingkatan di mana mereka tidak akan melupakan-Nya, bahkan pada kondisi di mana kelalaian (rasa kantuk/lupa) sering kali mendominasi.
Itulah hati yang iman telah menancap kuat dan kokoh di dalamnya, sehingga hal itu memberikan pengaruh pada lisannya berupa gerakan zikir yang terus-menerus; saat berdiri, berbaring, duduk, saat masuk dan keluar, saat makan dan minum, saat terjaga dan hendak tidur, saat mukim dan safar, serta di waktu malam maupun siang.
Ia senantiasa merasa butuh (iftiqar) kepada Allah dan bergantung kepada-Nya, tidak lalai barang sesaat pun atau bahkan kurang dari itu. Jika ia lalai atau berlambat-lambat, ia akan merasakan beban yang berat di dalam jiwanya, serta perasaan kurang yang tidak bisa ditutupi melainkan dengan mengoreksi kembali jalurnya, dan mengembalikan hatinya pada sumber mata air dan kenikmatannya. Dari sanalah kemudian cahaya hatinya memancar, dan raut wajahnya berseri-seri.
Nabi ﷺ bersabda:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.”[54]
Dalam riwayat lain:
«إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ».
“Sesungguhnya hatiku benar-benar tertutup (Layughanu)[55] dan sesungguhnya aku memohon ampun
kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.”[56]
Beliau juga bersabda:
«وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً».
“Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”[57]
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha mendatangi Nabi ﷺ untuk meminta seorang pelayan (pembantu). Maka beliau bersabda:
«أَلَا أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ؟ تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ» قَالَ عَلِيٌّ: مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ سَمِعْتُهُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ. قِيلَ لَهُ: وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ؟ قَالَ: وَلَا لَيْلَةَ صِفِّينَ.
“Maukah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada seorang pelayan? Engkau bertasbih kepada Allah ketika hendak tidur sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji Allah (tahmid) tiga puluh tiga kali, dan mengagungkan Allah (takbir) tiga puluh empat kali.” Ali berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi ﷺ.” Ada yang bertanya kepadanya: “Tidak juga pada malam (Perang) Shiffin?” Ali menjawab: “Tidak juga pada malam Shiffin.”[58]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«إِنِّي لَأُسَبِّحُ كُلَّ يَوْمٍ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَلْفَ تَسْبِيحَةٍ، قَدْرَ دِيَتِي».
“Sesungguhnya aku bertasbih setiap hari sebanyak dua belas ribu kali tasbih, (sebagai tebusan) seukuran diatku (tebusan nyawa).”[59]
Al-Hafizh Abdul Ghani menyebutkan dalam kitab Al-Kamal pada biografi Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertasbih dalam sehari sebanyak seratus ribu kali tasbih.[60]
Sesungguhnya Allah tidak hanya memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berzikir semata, melainkan Dia memerintahkan mereka untuk memperbanyaknya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾ [الأحزاب: ٤١-٤٢]
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42).
Dan Allah juga berfirman:
﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الجمعة: ١٠]
“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa orang-orang yang memperbanyak zikir kepada Allah adalah orang yang paling cepat mendahului orang lain dalam meraih pahala. Beliau bersabda:
«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ».
“Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Mufarridun itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.”[61]
Al-Mufarridun adalah bentuk jamak dari mufrad. Yang dimaksud dengannya adalah orang yang menyendiri dan memusatkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan hati dan lisannya karena saking banyaknya ia berzikir.
Dan karena agungnya kedudukan zikir serta besarnya pengaruhnya, maka zikir merupakan ruh dari seluruh amal perbuatan dan yang paling besar di antaranya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾ [العنكبوت: ٤٥]
“Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat/zikir) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).[62]
Tidak ada sesuatu pun yang dapat menundukkan lisan dan membasahinya, serta memoles keimanan dan mengangkatnya, melebihi zikir kepada Allah . Terlebih lagi bagi orang yang secara konsisten menjaga wirid-wirid zikir, di mana ia memakmurkan setiap detik waktunya dengan hal itu, dan menghidupkan hatinya dengannya. Orang-orang saleh telah sepakat dan seia sekata bahwa zikir adalah senjata seorang mukmin yang dapat menembus tabir-tabir kelalaian, dan membuka gembok-gembok penutup hati di setiap zaman. Maka apatah lagi di zaman yang penuh dengan problematika dan silih bergantinya fitnah kehidupan ini?!
Di malam-malam sepuluh hari terakhir (Ramadan) ini—melalui hembusan angin sahur dan harumnya istigfar—tampak jelas sebuah kesempatan emas untuk memperbaiki hati: di mana terdapat kejernihan, ketenangan, dan momen-momen turunnya (Rahmat) Ilahi.
Sesungguhnya kejernihan ini, sebagaimana ia memperbarui keimanan, ia juga memperbarui pembebasan diri dari sifat kemunafikan. Karena sesungguhnya orang-orang munafik adalah manusia yang paling lalai dan paling sedikit berzikir kepada Allah.
﴿وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا﴾ [النساء: ١٤٢]
“Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142).
Kewajiban seorang mukmin adalah menyelisihi sifat orang-orang munafik tersebut dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yang memperbanyak zikir kepada Allah, niscaya ia terbebas dari kemunafikan.”[63]
Maka basahilah lisanmu, wahai hamba yang diberkahi, dengan zikir kepada Allah. Karena tidak ada sesuatu pun yang lebih memperbaiki hati melebihi zikir, dan tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan (yutsaqqil) timbangan amal pada hari Kiamat sebagaimana zikir.
Sifat Kesepuluh: Menghadap kepada Allah dengan Memperbanyak Doa
Sesungguhnya di antara ibadah paling agung yang menampakkan kerendahan seorang hamba di hadapan Rabbnya adalah: Doa. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً﴾ [الأعراف: ٥٥]
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55).
Dan Allah juga berfirman:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠]
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Sesungguhnya ibadah doa pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan—ketika seorang hamba sedang beriktikaf—memiliki cita rasa tersendiri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah, orang-orang yang menangis dan mengondisikan diri untuk menangis (karena takut kepada-Nya). Di saat itulah mereka benar-benar merasakan kedekatan dengan Rabb (Maula) mereka dan janji pengabulan doa.
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾ [البقرة: ١٨٦]
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Kehadiran ayat yang mulia ini dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, serta posisinya yang menyela antara pembahasan puasa dan pembahasan iktikaf, merupakan isyarat agung yang menjelaskan betapa tingginya kedudukan ibadah doa ketika seorang hamba sedang berpuasa dan beriktikaf.
Ia adalah ibadah yang bersinar terang pada malam-malam di mana seorang hamba menundukkan dirinya, hatinya menjadi lembut, jiwanya menjadi halus, syahwatnya mengering, dan egonya patah. Kondisi tersebut menjadi persiapan bagi hamba untuk merespons seruan Allah—“maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku”—sehingga Allah pun mengabulkan doanya. Sebab, terkabulnya doa selalu beriringan dengan hati yang hancur (merendah), jiwa yang lemah (tunduk), dan kebebasan dari tekanan syahwat. Dan kondisi ideal ini tidak akan didapatkan oleh manusia dalam keadaan apa pun sebagaimana yang ia dapatkan saat sedang berpuasa dan beriktikaf.[64]
Tempat/keadaan ini—seperti halnya tempat-tempat lain di mana hamba disunahkan untuk tunduk dan merendah di hadapan Rabbnya— (sangat pantas untuk dimanfaatkan).
At-Thabrani meriwayatkan dari hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
»رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو بِعَرَفَةَ، وَيَدَاهُ إِلَى صَدْرِهِ كَاسْتِطْعَامِ الْمِسْكِينِ».
“Aku melihat Rasulullah ﷺ berdoa di Arafah, kedua tangannya berada di depan dadanya layaknya seorang miskin yang sedang meminta makan.”[65]
Dahulu, sebagian orang saleh duduk di malam hari dalam keadaan diam menundukkan kepalanya, lalu menengadahkan kedua tangannya layaknya postur seorang pengemis. Ini adalah bentuk paling sempurna dari perwujudan rasa hina, ketenangan, dan rasa butuh (iftiqar) kepada Allah.
Rasa butuh (iftiqar) di dalam doa, kerendahan hati kepada Allah, serta kesadaran hamba akan betapa besar kebutuhan dan ketergantungannya kepada-Nya, merupakan kunci/prasangka kuat bagi terkabulnya doa. Sejauh mana rasa pedih dan rasa butuh itu hadir, sejauh itu pula pengabulan akan datang.
Disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi dan selainnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
»إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ».
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi lengah.”[66]
Di antara kondisi doa yang paling indah adalah: menampakkan kehinaan dengan lisan di dalam permohonan itu sendiri, disertai dengan desakan (ilhah). Al-Awza’i rahimahullah berkata:
»يُقَالُ: أَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْإِلْحَاحُ عَلَى اللَّهِ وَالتَّضَرُّعُ إِلَيْهِ».
“Dikatakan bahwa doa yang paling utama adalah yang dilakukan dengan terus-menerus mendesak (mengiba) kepada Allah dan merendahkan diri kepada-Nya.”[67]
Di sisi At-Thabrani, dengan sanad yang padanya terdapat perselisihan, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ berdoa pada hari Arafah dengan mengucapkan:
»اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلَامِي، وَتَرَى مَكَانِي، وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي، لَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي، أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ، الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ، الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ، أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ، وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ، وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ، مَنْ خَشَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ، وَفَاضَتْ لَكَ عَيْنَاهُ، وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ، وَرَغِمَ أَنْفُهُ لَكَ، اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ شَقِيًّا، وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا، يَا خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ وَيَا خَيْرَ الْمُعْطِينَ».
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar perkataanku, melihat tempatku, dan mengetahui rahasiaku serta apa yang tampak dariku. Tidak ada sesuatu pun dari urusanku yang tersembunyi bagi-Mu. Aku adalah orang yang sengsara lagi fakir, yang memohon pertolongan dan perlindungan, yang gemetar ketakutan, yang mengakui dan membenarkan dosa-dosanya. Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang miskin, aku merintih kepada-Mu dengan rintihan pendosa yang hina, aku berdoa kepada-Mu dengan doa orang buta yang ketakutan, yang lehernya menunduk khusyuk kepada-Mu, yang kedua matanya mengalirkan air mata untuk-Mu, yang tubuhnya merendah kepada-Mu, dan yang hidungnya tersungkur debu (sujud) kepada-Mu. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku orang yang celaka dalam berdoa kepada-Mu, dan jadilah Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang kepadaku, wahai Sebaik-baik Dzat yang diminta dan Sebaik-baik Dzat yang memberi.”[68]
Dengan demikian, doa adalah inti dari ibadah (lubb at-ta’abbud) dan bentuk peribadatan yang paling murni; karena di dalamnya terkandung rasa butuh sepenuhnya kepada Allah dan rasa hina di hadapan-Nya. Doa adalah bentuk penghambaan hati yang paling bermanfaat dan paling besar pengaruhnya, terlebih lagi jika hati sang pendoa benar-benar hadir dan meresapi makna-makna dari apa yang ia panjatkan.
Apabila doa dan rintihan tersebut merupakan doa-doa yang Allah ‘Azza wa Jalla kabarkan dari doa para makhluk pilihan-Nya, maka itu adalah hal yang paling mujarab (bermanfaat) bagi hati; karena di dalamnya tercakup kumpulan doa yang komprehensif, ketundukan yang jujur, serta penghadiran makna-makna rububiyah (ketuhanan). Oleh karena itulah, para nabi selalu mengawali doa mereka dengan ucapan: “Rabbana” (Ya Tuhan kami).
Sebagian besar doa di dalam Al-Qur’an pun demikian, diawali dengan bertawasul kepada Allah melalui sifat rububiyah-Nya. Seseorang yang berdoa memohon kepada Allah seraya bertawasul dengan rububiyah-Nya, sangat pantas baginya untuk menghadirkan makna pemeliharaan (tarbiyah) Allah yang bersifat umum—yaitu penciptaan dan pengaturan alam semesta—serta makna tarbiyah Allah yang bersifat khusus—yaitu penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba pilihan-Nya, kelembutan-Nya kepada mereka, serta perbaikan-Nya atas urusan agama dan dunia mereka. Semua itu didapatkan karena mereka selalu menghadapkan diri kepada Tuhan mereka dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Maka disunahkan baginya untuk berdoa dengan doa-doa para nabi; karena doa-doa tersebut adalah doa yang menyeluruh (jami’ah). Dan sangat baik pula bagi orang yang berdoa untuk berdoa dengan doa orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rasikhuna fi al-‘ilm); karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji mereka, Allah menyebutkan doa mereka:
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ﴾ [آل عمران: ٨].
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8).
Mereka bertawasul kepada Allah dengan rububiyah-Nya agar Allah menganugerahkan keistiqamahan pada hati mereka, keteguhan di atas hal-hal yang diridai Allah, penjagaan dari kesesatan, serta kemunduran dari hidayah.[69]
Sifat Kesebelas: Tunduk (Ikhbat) dan Khusyuk[70]
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memuji di dalam kitab-Nya orang-orang yang tunduk (al-mukhbitin) kepada-Nya, orang-orang yang merasa hina di hadapan keagungan-Nya, dan orang-orang yang merendah di bawah kesombongan-Nya (kekuasaan-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ * الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ﴾
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.” (QS. Al-Hajj: 34-35). (Catatan koreksi: lafaz ‘al-muhsinin’ pada naskah asli telah dikoreksi menjadi ‘al-mukhbitin’ sesuai teks asli surah Al-Hajj ayat 34).
Allah Ta’ala juga berfirman:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ… أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Laki-laki dan perempuan yang khusyuk… Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Allah menyifati orang-orang mukmin dengan sifat khusyuk kepada-Nya dalam ibadah paling mulia yang selalu mereka jaga. Allah Ta’ala berfirman:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
Allah ‘Azza wa Jalla memuji orang-orang yang memiliki rasa takut dan khawatir akan azab Allah. Dia berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ﴾ [المؤمنون: ٥٧]
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 57).
Dan Dia juga berfirman:
﴿الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ﴾ [الأنبياء: ٤٩]
“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari Kiamat.” (QS. Al-Anbiya: 49).
(Sebagaimana digambarkan dalam sebuah syair):
إِذَا مَا اللَّيْلُ أَظْلَمَ كَابَدُوهُ *** فَيُسْفِرُ عَنْهُمْ وَهُمْ رُكُوعُ
Apabila malam telah gelap gulita, mereka menahan kantuk (untuk beribadah), lalu fajar pun menyingsing sementara mereka masih dalam keadaan rukuk
أَطَارَ الْخَوْفُ نَوْمَهُمْ وَقَامُوا *** وَأَهْلُ الْأَمْنِ فِي الدُّنْيَا هُجُوعُ
Rasa takut telah menerbangkan (mengusir) rasa kantuk mereka sehingga mereka terbangun, sementara orang-orang yang merasa aman (lalai) di dunia sedang terlelap tidur…
وَمَا فُرْشُهُمْ إِلَّا أَيَامِنُ أُزْرِهِمْ *** وَمَا وُسْدُهُمْ إِلَّا مُلاءٌ وَأَذْرُعُ
Tidak ada alas tidur mereka melainkan bagian kanan sarung mereka, tidak ada bantal mereka melainkan kain selimut dan lengan (mereka sendiri).
وَمَا لَيْلُهُمْ فِيهِنَّ إِلا تَحَوُّبٌ *** وَمَا نَوْمُهُمْ إِلَّا عِشَاشُ مُرَوَّعُ
Tidaklah malam mereka lewati melainkan dengan penuh rasa dosa (tahawwub/rasa bersalah), dan tidaklah tidur mereka melainkan seperti sarang burung yang ketakutan.
وَأَلْوَانُهُمْ صُفْرٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ *** عَلَيْهَا جِسَادٌ هِيَ بِالْوَرْسِ مُشْبَعُ
Warna kulit mereka memucat kuning, seakan-akan wajah mereka, dilapisi oleh za’faran (wars) yang sangat pekat.
Hakikat (akar) dari khusyuk adalah kelembutan hati, kehalusannya, ketenangannya, dan ketundukannya. Apabila hati telah khusyuk, maka seluruh anggota tubuh dan persendian akan ikut khusyuk mengikutinya, karena anggota tubuh adalah pengikut hati. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”[71]
Maka apabila hati telah khusyuk, khusyuk pulalah pendengaran, penglihatan, wajah, seluruh anggota tubuh, dan segala yang muncul darinya, bahkan sampai pada ucapannya. Oleh karena itulah Nabi ﷺ mengucapkan doa dalam rukuk beliau di dalam salat:
»خَشَعَ لَكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي».
“Telah khusyuk (tunduk) kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, sumsumku, tulangku, dan urat sarafku.”[72]
Sebagian ulama Salaf pernah melihat seseorang bermain-main dengan tangannya (tidak bisa diam) di dalam salat, lalu ia berkata:
»لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا؛ لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ».
“Seandainya hati orang ini khusyuk, niscaya akan khusyuk (diam) pula anggota tubuhnya.”[73]
Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia juga menyifati bumi dengan sifat khusyuk. Allah berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ﴾ [فصلت: ٣٩]
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.” (QS. Fushshilat: 39).
Pergerakan dan kesuburannya (naiknya permukaan tanah karena tanaman tumbuh) adalah penghilang bagi sifat “khusyuk” (mati/merunduk) bumi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa “khusyuk” yang sebelumnya dialami oleh bumi adalah keadaan diam dan merendahnya. Demikian pula halnya dengan hati; apabila ia khusyuk, maka terdiam dan meredalah segala lintasan pikiran dan keinginan buruknya yang berasal dari hawa nafsu. Hati tersebut patah (merendah) dan tunduk kepada Allah .
Dengan demikian, hilanglah segala keangkuhan (al-ba’wu),[74] kesombongan, kecongkakan, dan sifat merasa besar yang sebelumnya ada di dalam hati. Kapan pun hal itu terwujud di dalam hati, maka akan khusyuk pulalah seluruh anggota tubuh, persendian, seluruh gerakan, bahkan hingga pada suaranya. Allah Ta’ala telah menyifati suara dengan sifat khusyuk dalam firman-Nya:
﴿وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا﴾ [طه: ١٠٨]
“Dan merendahlah (khusyuklah) semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaha: 108).
Khusyuknya suara adalah ketenangan dan kerendahannya setelah sebelumnya lantang dan meninggi.
Khusyuk haruslah merupakan sesuatu yang hakiki (nyata dari dalam hati), bukan dibuat-buat. Kapan pun seseorang memaksakan dan membuat-buat kekhusyukan pada anggota tubuhnya sementara hatinya kosong dan hampa dari kekhusyukan tersebut, maka itu adalah “khusyuk nifak” (kemunafikan). Hal inilah yang selalu dimohonkan perlindungan darinya oleh para ulama Salaf. Sebagaimana perkataan sebagian dari mereka (yaitu Abu Darda’):
»اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ خُشُوعِ النِّفَاقِ. قَالُوا: وَمَا خُشُوعُ النِّفَاقِ؟ قَالَ: أَنْ تَرَى الْجَسَدَ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ».
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari khusyuk kemunafikan.” Mereka bertanya: “Apakah khusyuk kemunafikan itu?” Ia menjawab: “Yaitu engkau melihat tubuh seseorang tampak khusyuk (merunduk), padahal hatinya tidaklah khusyuk.”[75]
Khusyuk yang hakiki adalah khusyuk yang membuahkan atsar (jejak/bekas), pengaruh, dan kelembutan di dalam hati. Sebagaimana Allah sebutkan dalam menyifati para ulama Ahli Kitab sebelum kita. Allah :
﴿إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا * وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبَّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبَّنَا لَمَفْعُولًا * وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا﴾ [الإسراء: ١٠٧-١٠٩]
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isra: 107-109).
Ayat-ayat ini mengandung pujian bagi orang-orang yang dengan mendengarkan ayat-ayat Allah melahirkan pengaruh, kekhusyukan, dan tangisan pada diri mereka. Sebaliknya, Allah mengancam orang-orang yang berhati keras. Allah berfirman:
﴿فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ﴾ [الزمر: ٢٢-٢٣]
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu (keras) hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 22-23).
Melembutnya hati berarti hilangnya kekerasan pada hati tersebut dikarenakan datangnya kekhusyukan dan kelembutan (kasih sayang) di dalamnya.
Allah juga telah menegur orang yang hatinya tidak khusyuk saat mendengarkan Kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk (khusyuk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16).
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
«مَا كَانَ بَيْنَ إِسْلَامِنَا وَبَيْنَ أَنْ عَاتَبَنَا اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا أَرْبَعُ سِنِينَ».
“Tidak ada jarak antara keislaman kami dengan teguran Allah kepada kami melalui ayat ini, melainkan hanya empat tahun saja.”[76]
Dalam riwayat lain disebutkan:
«فَأَقْبَلَ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ: أَيُّ شَيْءٍ أَحْدَثْنَا؟! أَيُّ شَيْءٍ صَنَعْنَا؟!».
“Lalu kami saling menatap satu sama lain (seraya berkata): ‘Kesalahan baru apa yang telah kita perbuat?! Dosa apa yang telah kita lakukan?!'”[77] Yakni: Mereka mulai saling menegur dan menasihati satu sama lain.
Adapun tentang keagungan Al-Qur’an dan kedahsyatan pengaruhnya terhadap jiwa orang-orang mukmin yang khusyuk, maka hal ini adalah sesuatu yang telah dipersaksikan oleh para ulama Salaf rahimahumullah. Abu ‘Imran al-Jauni rahimahullah berkata:
«وَاللَّهِ لَقَدْ صَرَّفَ إِلَيْنَا رَبُّنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ مَا لَوْ صَرَّفَهُ إِلَى الْجِبَالِ لَمَحَاهَا وَحَنَاهَا».
“Demi Allah, sungguh Tuhan kita telah menjelaskan berulang-ulang kepada kita di dalam Al-Qur’an ini (berbagai peringatan) yang seandainya Ia menjelaskannya (menurunkannya) kepada gunung-gunung, niscaya (Al-Qur’an) itu akan meluluhlantakkan dan membungkukkannya.”[78]
Malik bin Dinar sering membaca ayat ini (surah Al-Hasyr: 21), kemudian beliau berkata:
«أُقْسِمُ لَكُمْ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ بِهَذَا الْقُرْآنِ إِلَّا صُدِعَ قَلْبُهُ».
“Aku bersumpah kepada kalian, tidaklah seorang hamba (benar-benar) beriman kepada Al-Qur’an ini, melainkan pasti hatinya akan terbelah (terpecah karena takut dan tunduk).”[79]
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, bahwa ia berkata:
“Wahai anak Adam, apabila setan membisikkan kepadamu sebuah godaan dosa, atau jiwamu sendiri membisikkannya kepadamu, maka ingatlah saat itu juga apa yang Allah bebankan (pikulkan) kepadamu dari kitab-Nya, yang seandainya Dia memikulkannya kepada gunung-gunung yang kokoh, niscaya ia akan tunduk (khusyuk) dan hancur berkeping-keping. Tidakkah engkau mendengar Dia berfirman:
﴿لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [الحشر: ٢١]
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutan kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr: 21).[80]
Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ini untukmu agar engkau memikirkannya, mengambil pelajaran darinya, dan mencegah dirimu dari bermaksiat kepada-Nya. Padahal engkau, wahai anak Adam, jauh lebih berhak untuk khusyuk mengingat Allah dan menjaga apa yang Dia bebankan kepadamu dari kitab-Nya serta hikmah yang Dia berikan kepadamu; karena engkaulah yang akan dihisab, dan untukmulah (disediakan) surga atau neraka.
Nabi ﷺ senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk, sebagaimana dalam hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ selalu berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا».
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”[81]
Oleh karena itulah Allah Ta’ala mensyariatkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai macam ibadah di mana khusyuknya badan akan tampak sebagai hasil (turunan) dari khusyuknya hati, kehinaannya, dan patahnya egonya. Dan di antara ibadah yang paling agung dalam menampakkan kekhusyukan badan kepada Allah Ta’ala adalah ibadah Salat. Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk di dalamnya melalui firman-Nya:
﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ﴾
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
Dan di antara posisi paling khusyuk adalah saat Sujud. Sujud adalah posisi paling agung yang menampakkan kehinaan seorang hamba kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla, di mana seorang hamba meletakkan anggota tubuhnya yang paling mulia, paling berharga baginya, dan paling tinggi posisinya di tempat yang serendah-rendahnya yang bisa ia lakukan, lalu ia membenamkannya di atas debu/tanah. Gerakan fisik ini kemudian diikuti oleh patahnya hati (dari kesombongan), ketawadukannya, dan kekhusyukannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh sebab itulah, balasan bagi seorang mukmin apabila ia melakukan hal tersebut adalah: Allah akan mendekatkannya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ﴾ [العلق: ١٩]
“Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (QS. Al-‘Alaq: 19).
Dan Nabi ﷺ bersabda:
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ».
“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud.”[82]
Sujud adalah hal yang dahulu sangat dienggani dan dibenci oleh kaum musyrikin yang sombong dan enggan beribadah kepada Allah. Sebagian dari mereka ada yang berkata: “Aku benci jika harus bersujud karena nanti pantatku akan lebih tinggi diatasku.” Dan ada pula sebagian dari mereka yang hanya mengambil segenggam kerikil (dari tanah), lalu mengangkatnya ke wajahnya, dan ia merasa sudah cukup bersujud dengan cara itu.[83]
Demikian halnya Iblis, sesungguhnya Allah hanya mengusirnya semata-mata karena ia sombong dan enggan bersujud kepada Dzat yang Allah perintahkan untuk bersujud kepada-Nya. Oleh karena itu, Iblis menangis jika ada seorang mukmin yang sujud, dan ia berkata: “Anak Adam diperintahkan untuk sujud lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud namun aku bermaksiat (menolak), maka bagiku neraka.”[84]
Dan di antara kesempurnaan khusyuk seorang hamba kepada Allah serta ketawadukannya kepada-Nya dalam rukuk dan sujudnya adalah: ketika ia telah merendahkan diri kepada Rabbnya melalui rukuk dan sujud, ia menyifati Rabbnya pada saat itu juga dengan sifat-sifat Kemuliaan (al-‘izz), Kesombongan (al-kibriya’), Keagungan (al-‘azhamah), dan Ketinggian (al-‘uluw). Maka, seakan-akan ia sedang berkata: “Hina dan rendah adalah sifatku, sedangkan tinggi, agung, dan sombong adalah sifat-Mu.”
Oleh karena itulah, disyariatkan bagi seorang hamba untuk mengucapkan dalam rukuknya: Subhana Rabbiyal ‘Azhim (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung), dan dalam sujudnya: Subhana Rabbiyal A’la (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).
Maka, kapan pun hati seorang hamba telah dipenuhi dengan rasa khusyuk, ketundukan, kerendahan, dan patahnya kesombongan ego, niscaya ia telah sampai pada inti terdalam dari ibadah, ia telah mewujudkan tujuannya, dan ia telah meraih puncaknya.
Penutup
Inilah sebelas sifat (karakteristik), yang dengannya seseorang akan diberi taufik untuk dapat menyelami ruh, inti, dan tujuan utama dari iktikaf. Tujuan (puncak) ini sejatinya tidak hanya berlaku khusus untuk iktikaf semata, melainkan berlaku untuk seluruh amal ibadah.
Semoga Allah mengaruniakan kepadaku dan kepadamu kejujuran (kesungguhan) yang berkesinambungan, serta melimpahkan karunia-Nya kepadaku dan kepadamu untuk senantiasa melazimkan rasa butuh (iftiqar) kepada-Nya dan senantiasa merendah (hina) di hadapan-Nya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar hati ini senantiasa beriktikaf (terpaut) dan terus menghadap kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari rasa hina kecuali hanya kepada-Nya, dari ketundukan kecuali hanya di hadapan-Nya, dan dari mencari tempat bersandar kecuali hanya kepada-Nya.
﴿وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ﴾ [هود: ٨٨]
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).
Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-‘Aql
Buraidah – Al-Qasim
5 Ramadan 1435 H (5/9/1435 H)
Narahubung (Kontak):
Telepon Seluler (HP): 0504883988 – 0591100113 – 0535600013
E-mail: al.agal@hotmail.com / _khaleefa@hotmail.com
- Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, jilid 4 halaman 1986, nomor 2564, dari hadis Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. ↑
- Ilhāf berarti sangat bersungguh-sungguh dalam meminta. Lihat: Tahdzīb al-Lughah (46/5); Lisān al-‘Arab (9/314), entri kata: (لـحـف). ↑
- Disebutkan oleh as-Sarakhsi dalam al-Mabsūth (3/815). Lihat juga: Wazhāif Ramadhān, hlm. 75. ↑
- Lihat: Madārij as-Sālikīn (1/263); Wazhāif Ramadhān, hlm. 60. ↑
- Khībā’ adalah tenda yang terbuat dari bulu atau wol. Kemudian istilah ini digunakan untuk menyebut rumah secara umum. Lihat: an-Nihāyah (9/2); Lisān al-‘Arab (14/223), entri kata: خبا. ↑
- Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/48), no. 2033; dan Muslim (2/715), no. 1172. ↑
- Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah, jilid 1, hlm. 187, dengan sedikit penyesuaian. ↑
- Akhlāq Ḥamalat al-Qur’ān, hlm. 18. ↑
- Al-Qawā‘id al-Ḥisān li Tafsīr al-Qur’ān, hlm. 87. ↑
- Yatul (dibaca dengan dhammah pada huruf tā’) berasal dari fi‘il tal. Ada pula yang mengatakan yatil (dengan kasrah pada huruf tā’), yang berarti: “menuangkan” atau “melemparkan”. Lihat: an-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar (1/195); Tāj al-‘Arūs (28/138). ↑
- Ath-ṭilasm adalah nama bagi rahasia yang tersembunyi. Yang dimaksud di sini adalah makna-makna halus yang tidak tampak bagi orang yang tidak mendalam dalam pemahaman, ilmu, dan ketelitian. Lihat: Tāj al-‘Arūs (33/24–25). ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/450–451). ↑
- Diriwayatkan oleh an-Nasā’ī (2/177) no. 1310; Ibnu Mājah (1/429) no. 1350; Aḥmad (35/309) (33) no. 21388; dan al-Ḥākim (1/367) no. 879. Sanadnya hasan. ↑
- Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya az-Zarkasyī (1/471). ↑
- Mukhtaṣar Minhāj al-Qāṣidīn, hlm. 53. ↑
- Dhail Ṭabaqāt al-Ḥanābilah (4/519). Lihat juga: Ittiḥāf al-Qārī karya ad-Duhaimī, hlm. 119. ↑
- Al-Fawā’id, hlm. 3, secara ringkas. ↑
- Fatāwā Ibn aṣ-Ṣalāḥ (1/234). Lihat juga: Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (1/291). ↑
- Mukhtaṣar Minhāj al-Qāṣidīn, hlm. 46. ↑
- Tafsīr Ibn Abī Ḥātim (6/1960). ↑
- Diriwayatkan oleh as-Sulamī dalam Ṭabaqāt aṣ-Ṣūfiyyah hlm. 94, dan Abū Nu‘aim dalam Ḥilyat al-Awliyā’ (1/22). ↑
- Lihat: Ḥilyat al-Awliyā’ (9/369). ↑
- Diriwayatkan oleh Abū Nu‘aim dalam al-Ḥilyah (9/275), dan Ibnu ‘Asākir dalam Tārīkh Dimashq (34/146). ↑
- Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn (1/454), dan oleh Ibn Rajab dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam hlm. 189. Lihat juga: Ittiḥāf al-Qārī karya ad-Duhaimī, hlm. 130–139. ↑
- Disebutkan oleh al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn (1/275). Lihat juga: At-Tibyān fī Ādāb Ḥamalat al-Qur’ān, hlm. 28. ↑
- Al-‘ab adalah minum air dengan keras dan berturut-turut dalam beberapa tegukan, tanpa hisapan dan tanpa mengambil napas. Lihat: Kitāb al-‘Ain (1/93); Jamhara al-Lughah (1/73). ↑
- Yakni: sebagai pengganti berbagai kegelisahan dan lintasan hati. ↑
- Zād al-Ma‘ād (2/82–83). ↑
- Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hlm. 599. ↑
- Diriwayatkan oleh ath-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān (23/634). ↑
- Lihat: Rūḥ aṣ-Ṣiyām wa Ma‘ānīhi karya Dr. ‘Abd al-‘Azīz Kāmil, hlm. 89. ↑
- Al-mughal atau al-ghullah adalah pemasukan (hasil) yang diperoleh dari tanaman dan buah-buahan. Lihat: an-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar (3/381); Lisān al-‘Arab (11/504). ↑
- Al-Fawā’id karya Ibnul Qayyim, hlm. 69–70. ↑
- Diriwayatkan oleh al-Bukhari (9/123) no. 7412, dan Muslim (4/2148) no. 2788; lafaz ini milik Muslim. ↑
- Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah (1/289). ↑
- Al-idlāl artinya merasa berjasa (kepada Allah) dengan pemberian atau amal. Lihat: Tahdzīb al-Lughah (14/48); Lisān al-‘Arab (11/248). ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/428). ↑
- Majmū‘ al-Fatāwā (10/194). ↑
- Ṭarīq al-Hijratayn, hlm. 17. ↑
- Ṭarīq al-Hijratayn, hlm. 59. ↑
- Majmū‘ al-Fatāwā (10/187). ↑
- Potongan dari hadis qudsi, diriwayatkan oleh Muslim (4/1994) no. 2577. ↑
- Al-masārib adalah padang rumput tempat hewan ternak merumput. Lihat: al-‘Ayn (7/249). ↑
- Al-idlāl artinya merasa berjasa (karena pemberian atau amal). Lihat: Tahdzīb al-Lughah (14/48); Lisān al-‘Arab (11/248). ↑
- Ṭilā‘ul-arḍ artinya penuhiannya (sepenuh bumi). Lihat: Jamhara al-Lughah (2/915); aṣ-Ṣiḥāḥ (3/1254). ↑
- Diriwayatkan oleh al-Bukhari (12/5) no. 3692. ↑
- Hadis qudsi, diriwayatkan oleh Muslim (4/2023) no. 2621, dari hadis Jundub, dari Nabi ﷺ, dari Rabbnya. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubārak dalam az-Zuhd (1/151) no. 448; Aḥmad dalam az-Zuhd hlm. 195 no. 1342; dan Abū Nu‘aim dalam al-Ḥilyah (2/200). ↑
- Dikatakan: sami‘tu zajala al-qaum yakni “aku mendengar suara-suara mereka”. Yang dimaksud di sini adalah suara tasbih orang-orang yang bertasbih. Lihat: al-Bāri‘ fī al-Lughah, hlm. 637. ↑
- Madārij as-Sālikīn (1/195). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/166) No. (834), dan Muslim (4/2078) No. (2705) dari hadis Abu Bakar ash-Siddiq radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Dikatakan dalam bahasa Arab: nabasa – nabsan, artinya: berbicara dan menggerakkan kedua bibirnya, serta berbicara dengan perkataan yang paling sedikit. (Lihat: Al-Muhkam wa al-Muhith 8/530, dan Lisan al-‘Arab 6/225). ↑
- Al-Wabil ash-Shayyib (hlm. 139-140). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2075) No. (2702) (42) dari hadis Al-Agharr al-Muzani radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Imam An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap Sahih Muslim (17/23-24): “Mengenai sabda beliau: ‘Innahu layughanu ‘ala qalbi’ (Sesungguhnya hatiku tertutup), para ahli bahasa menyatakan bahwa kata al-ghayn dan al-ghaym memiliki makna yang sama. Yang dimaksud di sini adalah: sesuatu yang menutupi hati. Al-Qadhi berkata: Ada yang berpendapat maknanya adalah masa-masa kekosongan dan kelalaian dari berzikir yang padahal beliau selalu merutinkannya. Maka jika beliau terputus darinya atau luput (karena kesibukan), beliau menganggapnya sebagai sebuah dosa, sehingga beliau memohon ampunan karenanya. Ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah rasa gundah beliau akibat memikirkan umatnya dan keadaan mereka sepeninggal beliau, lalu beliau memohonkan ampun untuk mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa hal itu disebabkan oleh kesibukan beliau mengurus kemaslahatan umat, memerangi musuh, berdiplomasi, melunakkan hati para mualaf, dan semacamnya. Karena tingginya kedudukan spiritual beliau, kesibukan (duniawi) tersebut dipandang oleh beliau sebagai sebuah ‘dosa’ (penurunan level) jika dibandingkan dengan keagungan derajat spiritualitasnya.” ↑
- Diriwayatkan pula oleh Muslim (4/2075) No. (2702) (41). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (8/67) No. (6307) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/65) No. (5362), dan Muslim (4/2091) No. (2727). ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (5/345) No. (26733), dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifah ash-Shahabah (4/1891) No. (4762). ↑
- Lihat: Al-Hawi lil Fatawi karya As-Suyuthi (52), dan Syadzarat adz-Dzahab (2/118). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2062) No. (2676) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli tafsir mengenai makna ayat ini, namun ini adalah salah satu pendapat mereka. ↑
- Lihat: Lisan al-Mizan (1955). ↑
- Lihat: Ruh ash-Shiyam wa Ma’anihu (hlm. 116). ↑
- Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath (3/189) No. (2892), Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’ (8/213), dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra (5/190). Sanadnya daif. ↑
- Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (5/394) No. (3479), At-Thabrani dalam Al-Awsath (5/211) No. (519), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/170) No. (817) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata: “Hadis gharib.” ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (2/364). Lihat pula: At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr (5/346). ↑
- Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (11/174) No. (11405), dan dalam kitab Ad-Du’a (hlm. 274) No. (877). Di dalam sanadnya terdapat kelemahan. ↑
- Lihat: Al-Mawahib ar-Rabbaniyyah min Al-Ayat Al-Qur’aniyyah karya As-Sa’di (hlm. 56-58). ↑
- Lihat pembahasan mengenai sifat ini dalam kitab: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 11-28). ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/20) No. (52), dan Muslim (3/1319) No. (1599) dari hadis An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/534) No. (771) dari hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/86) No. (6787), Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (1/419) No. (1188), dan Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (2/266) No. (3308) dari perkataan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah. ↑
- Al-Ba’wu: Yang dimaksud adalah kebanggaan (kesombongan). Lihat: Ash-Shihah (6/2278), Maqayis al-Lughah (1/328), dan An-Nihayah fi Gharib al-Hadits (1/96) pada entri “ba’wu”. ↑
- Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd (1/46) No. (143), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (7/243) No. (35711), Imam Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 117) No. (762), dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (9/220) No. (6567) secara mauquf atas Abu Darda’. Dan diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (9/220) No. (6568) dari hadis Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, namun sanadnya daif (lemah). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2319) No. (3027). ↑
- Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (9/167) No. (5256), dan ini adalah tambahan riwayat yang daif. ↑
- Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/311). Lihat: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 19). ↑
- Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd (hlm. 258) No. (1859), dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’ (2/378). ↑
- Lihat: Al-Khusyu’ fi Ash-Shalah karya Ibnu Rajab (hlm. 19). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (4/2088) No. (2722). ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/350) No. (482) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2/40) No. (1067), dan Muslim (1/405) No. (576) dari hadis Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ membaca surah An-Najm lalu beliau sujud (tilawah) di dalamnya, maka orang-orang yang bersamanya pun ikut sujud, melainkan ada seorang tua yang hanya mengambil segenggam kerikil atau debu tanah lalu mengangkatnya ke dahinya, seraya berkata: “Ini sudah cukup bagiku.” Abdullah berkata: “Sungguh aku melihatnya setelah itu mati terbunuh dalam keadaan kafir.” ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim (1/87) No. (81) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila anak Adam (manusia) membaca ayat Sajdah lalu ia bersujud, maka setan menyingkir sambil menangis dan berkata: ‘Aduhai celakanya aku, anak Adam diperintahkan untuk sujud lalu ia sujud maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan untuk sujud namun aku enggan, maka bagiku neraka.'” ↑



