Khutbah Jumat: Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Download Pdfnya Klik
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Di antara karunia terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam adalah adanya sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Malam-malam yang penuh keberkahan, malam yang di dalamnya terdapat kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan, rahmat, dan pembebasan dari neraka.
Mengapa malam-malam itu begitu mulia?
Karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari 83 tahun ibadah. Satu malam saja bisa lebih berharga daripada umur panjang manusia.
Karena itulah, Nabi memberikan teladan yang luar biasa dalam memuliakan sepuluh malam terakhir Ramadan. Ibnunda Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,
كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَي لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ.
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari no. 2024, Muslim no. 1174)
Saking pentingnya momen ini, bukan hanya beliau sendiri yang beribadah, tetapi beliau juga membangunkan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan malam-malam ini harus dirasakan seluruh keluarga dengan menghidupkan malam-malam tersebut.
Menghidupkan malam berarti mengisinya dengan:
- shalat malam
- membaca Al-Qur’an
- doa dan istighfar
- dzikir
- ibadah dengan penuh kekhusyukan
Jika seseorang tidur pada sebagian malam untuk menguatkan diri, maka tidak mengapa. Namun siapa yang mampu menghidupkan malam seluruhnya, itu lebih utama.
Nabi bersabda,
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ.
“Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 2021, Muslim no. 1167)
Dalam riwayat lain disebutkan,
الْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ.
“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari no. 2027, Abu Dawud no. 1382, Malik no. 701)
Malam ganjil itu adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Banyak ulama menyebut malam ke-27 sebagai malam yang paling diharapkan. (Lihat: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Ibnu Baz 16/482)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di antara sunnah terbesar pada sepuluh malam terakhir adalah i‘tikaf.
Secara bahasa, i‘tikaf berarti menetap dan berdiam. Secara syariat, i‘tikaf adalah berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah. (Lihat: Syarh as-Sunnah al-Baghawi 6/391)
Namun hakikat i‘tikaf lebih dalam daripada sekadar tinggal di masjid.
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tujuan i‘tikaf adalah:
- memusatkan hati hanya kepada Allah
- memutus kesibukan dengan manusia
- menyibukkan diri dengan dzikir dan ibadah
- mengganti kecintaan kepada makhluk dengan kecintaan kepada Allah
(Lihat: Zad al-Ma‘ad 2/82-83)
Ini merupakan momen latihan spiritual yang besar, menjadikan hati hanya bersama Allah.
Karena tujuan ini paling sempurna dengan puasa, maka i‘tikaf disyariatkan pada hari-hari terbaik puasa, yaitu sepuluh hari terakhir Ramadan.
I‘tikaf adalah ibadah syar‘i. Orang yang beri‘tikaf tidak keluar dari masjid kecuali karena kebutuhan mendesak, dan hendaknya ia menyibukkan diri dengan ibadah.
(Lihat: Majmu‘ al-Fatawa 22/197-198)
Rukun i‘tikaf adalah berdiam di masjid untuk ibadah, dan yang membatalkannya adalah hubungan suami istri.
(Lihat: Iqtida’ as-Sirat al-Mustaqim 2/356)
I‘tikaf hanya sah di masjid. Allah berfirman,
﴿وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ﴾
“Janganlah kalian mencampuri istri kalian ketika kalian beri‘tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Maka i‘tikaf tidak dilakukan di rumah, di kuburan, di gua, atau tempat lain selain masjid. (Lihat: Majmu‘ al-Fatawa 27/252)
Beberapa adab penting i‘tikaf adalah sebagai berikut:
- Disunnahkan dalam keadaan suci
- Tidak menyentuh pasangan dengan syahwat
- Fokus pada ibadah, tidak menyibukkan diri dengan gawai dan urusan lainnya.
- Tidak menjadikan diam total sebagai ibadah
Karena diam tanpa bicara sebagai ibadah adalah bid‘ah yang makruh menurut kesepakatan ulama. (Lihat: al-Fatawa al-Kubra 2/479)
Istri boleh mengunjungi suami yang sedang i‘tikaf. Dalam hadits disebutkan bahwa Shafiyyah radhiyallahu ‘anha mengunjungi Nabi ketika beliau i‘tikaf dan beliau mengantarnya sampai pintu masjid. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Lailatul Qadr tidak ditentukan pada satu malam tertentu, tetapi berpindah di malam-malam ganjil sepuluh terakhir.
Di antara tanda-tandanya disebutkan dalam hadis Ubay bin Ka‘b berikut:
أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ فِي صَبِيحَتِهَا لَا شُعَاعَ لَهَا.
“Matahari pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ طَلْقَةٌ لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ.
“Malam itu tenang, tidak panas dan tidak dingin.” (HR. Ibn Khuzaimah)
Disebutkan pula bahwa malaikat turun sangat banyak pada malam itu. (Lihat: Fath al-Bari Ibnu Hajar 4/260)
Wahai kaum muslimin…
Sepuluh malam terakhir mungkin kesempatan terakhir kita. Bisa jadi Ramadan ini adalah Ramadan terakhir kita. Mari hidupkan malamnya, perbanyak doa, bertaubat dengan sungguh-sungguh, serta mari mendekatkan hati kepada Allah.
وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ٱللَّهِ، ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Jika kita ingin meraih Lailatul Qadr, maka lakukan tiga hal:
- Hidupkan malam dengan ibadah
- Perbanyak doa dan istighfar
- Ikuti sunnah Nabi dalam i‘tikaf jika mampu
Dan jangan lupa doa terbaik pada malam Lailatul Qadr yang diajarkan Nabi adalah sebagai berikut :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
ٱللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ ٱلْقَدْرِ، وَٱجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ ٱلْمَقْبُولِينَ، وَٱغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ ٱلْمُسْلِمِينَ.
ٱللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَٱجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
عِبَادَ ٱللَّهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي ٱلْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَاءِ وَٱلْمُنْكَرِ وَٱلْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
رَبَّنَا لَا تَزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.
فَٱذْكُرُوا ٱللَّهَ ٱلْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَٱشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ، وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.ٱللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيِهِمْ لِلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَى، وَاجْعَلْ هَذَا ٱلْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ ٱلْمُسْلِمِينَ.
وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
+6285333345252



