Durus Minas Sirah – Hijrah ke Madinah
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah
Hijrah ke Madinah
لَمَّا انْتَشَرَ الْإِسْلَامُ فِي الْمَدِينَةِ، أَصْبَحَتْ مَلَاذًا آمِنًا لِلْحَقِّ وَأَهْلِهِ؛ فَبَدَأَ الْمُسْلِمُونَ فِي مَكَّةَ يُهَاجِرُونَ إِلَيْهَا، غَيْرَ أَنَّ قُرَيْشًا لَمْ تَتْرُكِ الْمُسْلِمِينَ وَشَأْنَهُمْ كَيْ يُهَاجِرُوا بِدِينِهِمْ، خَوْفًا مِنْ أَنْ يَظْهَرَ أَمْرُهُمْ، وَتَقْوَى شَوْكَتُهُمْ، وَتَرْتَفِعَ رَايَةُ الْإِسْلَامِ، فَلَقِيَ بَعْضُ الْمُهَاجِرِينَ أَنْوَاعًا كَثِيرَةً مِنَ الْأَذَى وَالْعَذَابِ مِنْ أَجْلِ الْحَيْلُولَةِ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْهِجْرَةِ، إِلَّا أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يَمْنَعْهُمْ مِنَ التَّضْحِيَةِ بِكُلِّ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ الْفِرَارِ بِدِينِهِمْ، وَكَانَ الْمُسْلِمُونَ يُهَاجِرُونَ سِرًّا.
Ketika Islam telah tersebar di Madinah, kota tersebut menjadi tempat perlindungan yang aman bagi kebenaran dan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya. Oleh karena itu, kaum Muslimin yang berada di Makkah mulai berhijrah menuju Madinah. Akan tetapi, kaum Quraisy tidak membiarkan kaum Muslimin pergi begitu saja untuk menyelamatkan agama mereka. Kaum Quraisy khawatir apabila kaum Muslimin semakin berkembang, kekuatan mereka semakin besar, dan panji Islam semakin berkibar. Karena itulah, sebagian kaum Muslimin yang hendak berhijrah mengalami berbagai bentuk gangguan dan penyiksaan. Semua itu dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi mereka meninggalkan Makkah. Meskipun demikian, berbagai ancaman dan siksaan tersebut tidak menghalangi kaum Muslimin untuk mengorbankan segala sesuatu demi menyelamatkan agama mereka. Pada masa itu, kaum Muslimin melaksanakan hijrah secara sembunyi-sembunyi.
وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ هَاجَرَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الْأَسَدِ، وَكَانَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ مِنْ أَوَائِلِ الْمُهَاجِرِينَ، وَهَاجَرَ بِلَالُ بْنُ رَبَاحٍ، وَعَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَحَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ، وَغَيْرُهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَمْ يَبْقَ فِي مَكَّةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ غَيْرُ أَبِي بَكْرٍ وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَبَعْضِ مَنْ حُبِسَ وَفُتِنَ.
Orang pertama yang berhijrah adalah Abu Salamah bin Abdul Asad. Sementara itu, Mush‘ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum termasuk di antara orang-orang yang pertama kali berhijrah. Di antara para sahabat lain yang berhijrah adalah Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, Sa‘ad bin Abi Waqqash, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, Hamzah bin Abdul Muththalib, Thalhah, Az-Zubair bin Al-Awwam, serta para sahabat lainnya, radhiyallahu ‘anhum. Setelah itu, hampir tidak ada lagi kaum Muslimin yang tinggal di Makkah bersama Rasulullah ﷺ, kecuali Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, serta sebagian kaum Muslimin yang masih ditahan atau mengalami penindasan sehingga tidak dapat berhijrah.
وَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فِي الْهِجْرَةِ، فَقَالَ لَهُ: «لَا تَعْجَلْ، لَعَلَّ اللَّهَ يَجْعَلُ لَكَ صَاحِبًا». فَبَقِيَ حَتَّى جَاءَ الْإِذْنُ لِلنَّبِيِّ ﷺ بِالْهِجْرَةِ بَعْدَ أَنْ هَاجَرَ أَكْثَرُ الْمُسْلِمِينَ، فَأَصْبَحَ رَفِيقَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي هِجْرَتِهِ.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk berhijrah. Namun, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Janganlah terburu-buru. Mudah-mudahan Allah menjadikan seorang teman perjalanan bagimu.” Maka Abu Bakar tetap tinggal di Makkah sambil menantikan izin tersebut. Hingga akhirnya, setelah sebagian besar kaum Muslimin berhijrah, Allah memberikan izin kepada Nabi ﷺ untuk melaksanakan hijrah. Dengan demikian, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mendapatkan kemuliaan menjadi sahabat yang mendampingi Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah beliau.