Sirah Nabawiyah

Durus Minas Sirah – Baiat Aqabah

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah

بَيْعَةُ الْعَقَبَةِ

Baiat Aqabah

لَمَّا اسْتَمَرَّتْ قُرَيْشٌ فِي تَكْذِيبِهَا وَعِنَادِهَا رَكَّزَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ دَعْوَتَهُ عَلَى الْقَادِمِينَ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ ﷺ يَعْرِضُ نَفْسَهُ فِي الْمَوَاسِمِ عَلَى قَبَائِلِ الْعَرَبِ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ، وَيُخْبِرُهُمْ أَنَّهُ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، يَطْلُبُ مِنْهُمْ أَنْ يَتَّبِعُوهُ وَيَمْنَعُوهُ حَتَّى يُبَيِّنَ عَنِ اللَّهِ مَا بَعَثَهُ بِهِ، وَكَانَ عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ يَتْبَعُهُ، وَيُحَذِّرُ الْقَبَائِلَ مِنْ تَصْدِيقِهِ.

Ketika kaum Quraisy terus-menerus mendustakan Rasulullah ﷺ dan bersikap keras kepala dalam menolak dakwah beliau, Rasulullah ﷺ mulai memusatkan perhatian dakwahnya kepada orang-orang yang datang ke Makkah. Pada musim-musim pertemuan masyarakat Arab, beliau mendatangi berbagai kabilah dan menawarkan dakwah Islam kepada mereka. Beliau mengajak mereka untuk beriman kepada Allah serta memberitahukan bahwa dirinya adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah. Rasulullah ﷺ meminta mereka agar mengikuti dan melindungi beliau sehingga beliau dapat menyampaikan dan menjelaskan risalah yang Allah amanahkan kepadanya. Akan tetapi, Abu Lahab, paman beliau sendiri, selalu mengikuti beliau dan memperingatkan berbagai kabilah agar tidak memercayai atau membenarkan dakwah Rasulullah ﷺ.

فَعَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى الْإِسْلَامِ بِذِي الْمَجَازِ، وَخَلْفَهُ رَجُلٌ أَحْوَلُ يَقُولُ: لَا يَغْلِبَنَّكُمْ هَذَا عَنْ دِينِكُمْ وَدِينِ آبَائِكُمْ، قُلْتُ لِأَبِي وَأَنَا غُلَامٌ: مَنْ هَذَا الْأَحْوَلُ الَّذِي يَمْشِي خَلْفَهُ؟ قَالَ: هَذَا عَمُّهُ أَبُو لَهَبٍ».

Diriwayatkan dari Rabi‘ah bin ‘Abbad, ia berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang mengajak manusia kepada agama Islam di Dzul Majaz. Di belakang beliau terdapat seorang laki-laki bermata juling yang berkata, ‘Jangan sampai orang ini memengaruhi kalian sehingga kalian meninggalkan agama kalian dan agama nenek moyang kalian.’ Ketika itu aku masih kecil. Aku pun bertanya kepada ayahku, ‘Siapakah laki-laki bermata juling yang berjalan di belakangnya itu?’ Ayahku menjawab, ‘Dia adalah pamannya sendiri, Abu Lahab.’”

وَفِي ذَاتِ مَرَّةٍ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى جَمَاعَةٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَدَعَاهُمْ، فَاسْتَجَابُوا لَهُ، وَقَدْ كَانَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْمَعُونَ مِنَ الْيَهُودِ أَنَّ نَبِيًّا قَدْ قَرُبَ زَمَانُ بِعْثَتِهِ، فَلَمَّا دَعَاهُمْ عَرَفُوا أَنَّهُ النَّبِيُّ الَّذِي تَذْكُرُهُ الْيَهُودُ؛ فَأَسْرَعُوا إِلَى الْإِسْلَامِ، وَقَالُوا: «لَا تَسْبِقَنَّكُمُ الْيَهُودُ إِلَى ذَلِكَ». وَكَانُوا سِتَّةَ أَشْخَاصٍ، وَفِي الْعَامِ التَّالِي قَدِمَ مِنَ الْمَدِينَةِ اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا، فَاجْتَمَعُوا بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَأَسْلَمُوا، وَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى الْمَدِينَةِ أَرْسَلَ مَعَهُمْ مُصْعَبَ بْنَ عُمَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لِيُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ وَأَحْكَامَ الدِّينِ، ثُمَّ فِي الْعَامِ التَّالِي عَادَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى مَكَّةَ وَمَعَهُ اثْنَانِ وَسَبْعُونَ رَجُلًا وَامْرَأَتَانِ، فَاجْتَمَعَ بِهِمُ النَّبِيُّ ﷺ فَبَايَعُوهُ وَعَاهَدُوهُ عَلَى حِمَايَتِهِ وَنُصْرَةِ دِينِهِ.

Pada suatu kesempatan, Rasulullah ﷺ mendatangi sekelompok penduduk Madinah dan mengajak mereka kepada agama Islam. Mereka pun menerima dakwah beliau. Sebelumnya, penduduk Madinah sering mendengar dari orang-orang Yahudi bahwa waktu diutusnya seorang nabi telah semakin dekat. Ketika Rasulullah ﷺ mengajak mereka kepada Islam, mereka menyadari bahwa beliau adalah nabi yang selama ini disebut-sebut oleh orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka segera memeluk agama Islam dan berkata, “Jangan sampai orang-orang Yahudi mendahului kalian dalam menerima agama ini.” Kelompok tersebut terdiri atas enam orang. Pada tahun berikutnya, dua belas orang laki-laki dari Madinah datang ke Makkah. Mereka bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan memeluk agama Islam. Ketika mereka kembali ke Madinah, Rasulullah ﷺ mengutus Mush‘ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu bersama mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an dan hukum-hukum agama Islam. Kemudian, pada tahun berikutnya, Mush‘ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu kembali ke Makkah bersama tujuh puluh dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Rasulullah ﷺ pun bertemu dengan mereka. Mereka kemudian berbaiat kepada beliau dan mengadakan perjanjian untuk melindungi Rasulullah ﷺ serta memberikan pertolongan dalam membela agama beliau.

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دُرُوسٌ مِنَ السِّيرَةِ), pembahasan Bay‘at al-‘Aqabah, halaman 43 kitab (PDF halaman 44).
Teks Arab diberi harakat untuk memudahkan pembacaan, disertai terjemahan bahasa Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button