Ketika Khalid bin Al-Walid menyadari para pemanah telah turun dari bukit, ia menyerang bagian belakang kaum muslimin. Kaum muslimin kehilangan posisi dan mulai bertempur tanpa koordinasi. Hubungan mereka dengan pemimpin terputus, lalu terdengar seruan, “Muhammad telah terbunuh.” Sekelompok kaum muslimin melarikan diri, sebagian menjatuhkan senjata, dan sebagian lainnya tetap bertahan. Anas bin An-Nadhr radhiyallahu ‘anhu berseru, “Wahai kaumku, jika Muhammad telah terbunuh, sesungguhnya Tuhan Muhammad tidak terbunuh. Berperanglah demi agama yang diperjuangkan Muhammad.” Kemudian ia menyerbu dengan pedangnya dan terus berperang hingga gugur sebagai syahid.
Meskipun keadaan memburuk dan para sahabat terbaik gugur, Rasulullah ﷺ tetap menjaga keteguhan hati. Kaum musyrik berusaha mencapai beliau, tetapi beliau bertahan bersama sembilan sahabat yang berjuang mati-matian melindunginya. Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu berdiri menahan anak panah dengan punggungnya agar tidak mengenai Rasulullah ﷺ. Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bertempur di hadapan beliau, menyodorkan anak panah kepada beliau. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Panahlah, wahai Sa‘d. Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”
Ubay bin Khalaf datang hendak membunuh Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ mengambil tombak kecil dan menusuk lehernya. Ubay terjatuh dari kudanya akibat tusukan itu. Meskipun para sahabat berjuang mati-matian membela Rasulullah ﷺ, beliau tetap mengalami banyak luka. Gigi seri beliau patah dan wajah beliau terluka. Beliau mengusap darah dari wajah mulianya sambil bersabda, “Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, padahal mereka melukai wajah nabi mereka yang mengajak mereka kepada Islam?”