Durus Minas Sirah – Masuk Islamnya Seorang Tokoh Yahudi
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 41
Masuk Islamnya Seorang Tokoh Yahudi
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia meriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Nabi ﷺ ke Madinah. Ia pun menemui beliau dan bertanya tentang beberapa hal. Ia berkata, “Aku akan menanyakan kepadamu tiga hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi: Apa tanda pertama Kiamat? Apa makanan pertama yang disantap penghuni surga? Mengapa seorang anak memiliki kemiripan dengan ayahnya, dan mengapa ia memiliki kemiripan dengan paman-paman dari pihak ibunya?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Jibril baru saja memberitahukannya kepadaku.” Abdullah berkata, “Dia adalah musuh orang-orang Yahudi dari kalangan malaikat.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tanda pertama Kiamat adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Makanan pertama yang disantap penghuni surga adalah bagian tambahan dari hati ikan. Adapun kemiripan anak, apabila ketika seorang laki-laki menggauli istrinya air maninya lebih dahulu keluar, anak itu akan mirip dengannya. Jika air mani istrinya lebih dahulu, anak itu akan mirip dengannya.”
Abdullah berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka berdusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, mereka akan menjelek-jelekkan diriku di hadapanmu.” Orang-orang Yahudi pun datang, sementara Abdullah masuk ke dalam rumah. Nabi ﷺ bertanya, “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di antara kalian?” Mereka menjawab, “Ia orang paling berilmu di antara kami, putra orang paling berilmu di antara kami; orang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami.” Nabi ﷺ bertanya, “Bagaimana menurut kalian jika Abdullah bin Salam masuk Islam?” Mereka menjawab, “Semoga Allah melindunginya dari hal itu.” Abdullah pun keluar menemui mereka dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Mereka berkata, “Ia orang paling buruk di antara kami dan putra orang paling buruk di antara kami,” lalu mencela dirinya.