Bagian 95: Perang Dzātur Riqa‘
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 95
Perang Dzātur Riqa‘
Setelah kaum muslimin meraih kemenangan besar dalam Perang Bani Nadhir dan orang-orang Yahudi diusir tanpa pertempuran, kekuatan kaum muslimin semakin kokoh dan wibawa mereka pulih. Kaum munafik pun melemah dan tidak lagi terang-terangan menunjukkan tipu daya mereka. Rasulullah ﷺ kemudian berfokus menghadapi orang-orang Arab Badui yang semakin sering menindas masyarakat setelah kekalahan kaum muslimin di Uhud. Keberanian mereka bahkan sampai pada rencana menyerang Madinah.
Kabilah-kabilah Ghathafan mulai berkumpul dan bersiap berangkat menyerang Madinah. Ketika mendengar persiapan mereka, Rasulullah ﷺ berangkat menghadapi mereka bersama empat ratus sahabat—menurut pendapat lain, tujuh ratus orang. Mendengar keberangkatan beliau, orang-orang Badui diliputi ketakutan dan melarikan diri ke puncak-puncak gunung, meninggalkan kaum perempuan dan anak-anak mereka. Kaum muslimin pun kembali ke Madinah tanpa terjadi pertempuran.
Perang ini dinamai Dzātur Riqa‘ karena kaum muslimin harus mengikatkan kain dan kulit pada kaki mereka setelah sepatu dan khuf rusak akibat beratnya medan. Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami berangkat bersama Nabi ﷺ dalam suatu ekspedisi. Kami berjumlah enam orang dan bergantian menaiki seekor unta. Kaki kami lecet, kedua kakiku pun lecet, dan kuku-kukuku terlepas. Kami membalut kaki dengan kain-kain. Karena kain yang kami ikatkan pada kaki itulah perang ini disebut Dzātur Riqa‘.” Perang ini juga disebut Perang Najd. Dalam ekspedisi ini, Rasulullah ﷺ pertama kali mengimami para sahabat dalam salat khauf di dalam Islam.