Tawakal Kepada Allah Ta’ala
TAWAKAL KEPADA ALLAH TA’ALA
☷ Daftar Isi Artikel
التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى
KHUTBAH PERTAMA
Tawakal: Kekuatan Iman dan Ketenteraman Hati
Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang mampu menyesatkannya. Barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang mampu memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Allah juga berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Dia akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)
Amma ba’du.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya di antara perkara terbesar yang dapat menguatkan dan mengokohkan keimanan seseorang adalah memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya.
Allah adalah Zat Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Tidak ada satu zarah pun yang bergerak kecuali dengan izin-Nya. Tidak ada suatu peristiwa pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.
Dialah Allah, Maha Pemberi Rezeki, Pemilik kekuatan yang sangat kukuh.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ﴾
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat engkau ketika berdiri (untuk salat), dan melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang bersujud.” (QS. Asy-Syu’ara: 217–219)
Allah juga berfirman:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا﴾
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, yang tidak akan mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58)
Diriwayatkan bahwa ketika Ibrahim Al-Khawwash rahimahullah membaca ayat ini, beliau berkata:
«مَا يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى أَحَدٍ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى».
“Tidak sepantasnya seorang hamba, setelah membaca ayat ini, menggantungkan perlindungannya kepada siapa pun selain Allah Ta’ala.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Tawakal kepada Allah merupakan keyakinan yang kuat terhadap rububiyah-Nya, keimanan terhadap kekuasaan-Nya, dan kesadaran bahwa Allah menguasai seluruh kehidupan, segala yang ada, peredaran benda-benda langit, serta seluruh alam semesta.
Semuanya berada di bawah pengaturan, kehendak, dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tawakal adalah ketulusan hati dalam menggantungkan harapan kepada Allah untuk memperoleh berbagai kemaslahatan dan menolak segala keburukan. Tawakal juga berarti melepaskan ketergantungan hati kepada makhluk, sambil tetap menempuh sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin menukil salah satu definisi tawakal dari sebagian ulama:
«عِلْمُ الْقَلْبِ بِكِفَايَةِ الرَّبِّ لِلْعَبْدِ».
“Pengetahuan dan keyakinan hati bahwa Rabb akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya.”
Dengan demikian, tawakal adalah kejujuran iman, ketenangan jiwa, kedamaian hati, kepercayaan kepada Allah, dan harapan yang senantiasa disertai amal serta usaha.
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا».
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal tidak berarti berdiam diri. Burung tetap keluar dari sarangnya, bergerak, terbang, dan mencari makanan.
Demikian pula seorang muslim. Ia berusaha mencari rezeki, tetapi hatinya bergantung kepada Allah, bukan semata-mata kepada usahanya.
Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ…»
“Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan, ‘Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,’ maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.'”
Kemudian setan-setan menjauh darinya. Salah satu setan berkata kepada setan lainnya:
«كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟»
“Bagaimana mungkin engkau dapat mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi?”
Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾
“Sesungguhnya setan tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. An-Nahl: 99)
Tawakal Para Nabi dan Rasul
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya tawakal kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya merupakan tempat berlindung para nabi dan rasul ketika menghadapi kekejaman penguasa yang sewenang-wenang dan orang-orang yang menyombongkan diri.
Perhatikanlah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Ketika kaumnya mendustakan beliau dan menyakiti para pengikutnya, Nabi Nuh tetap teguh dan menyatakan ketawakalan kepada Allah dengan berkata:
﴿يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ﴾
“Wahai kaumku! Jika keberadaanku di tengah kalian dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah terasa berat bagi kalian, maka hanya kepada Allah aku bertawakal. Karena itu, bulatkanlah keputusan kalian bersama sekutu-sekutu kalian, kemudian janganlah keputusan kalian itu dirahasiakan. Laksanakanlah terhadapku keputusan kalian itu dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71)
Demikian pula Nabi Musa ‘alaihissalam.
Keyakinannya kepada Allah tetap kukuh pada saat yang paling genting.
Ketika Nabi Musa bersama Bani Israil berada di hadapan lautan, sedangkan Fir’aun dan pasukannya mengejar mereka dari belakang, para pengikut Nabi Musa berkata:
﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ﴾
“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
Namun, dengan penuh keyakinan, Nabi Musa menjawab:
﴿كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Rabbku bersamaku. Dia akan memberiku petunjuk.” (QS. Asy-Syu’ara: 61–62)
Betapa agung keyakinan Nabi Musa kepada Allah. Ketika seluruh jalan seolah tertutup, beliau tetap percaya bahwa pertolongan Allah akan datang.
Demikian pula Nabi Ya’qub ‘alaihissalam.
Ketika beliau kehilangan putranya, Yusuf, dan kemudian mengkhawatirkan keselamatan putranya yang lain, beliau menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.
Beliau berkata:
﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾
“Keputusan itu hanyalah milik Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan hanya kepada-Nya hendaknya orang-orang yang bertawakal menyerahkan diri.” (QS. Yusuf: 67)
Selanjutnya, perhatikan pula ketawakalan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimash-shalatu was-salam.
Keduanya menunjukkan ketawakalan yang luar biasa ketika menghadapi keadaan yang sangat berat.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
«حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ».
“Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Dia adalah sebaik-baik tempat menyerahkan urusan.”
Ucapan tersebut disampaikan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api.
Ucapan yang sama juga disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika orang-orang mengatakan bahwa musuh telah mengumpulkan kekuatan besar untuk menghadapi kaum muslimin.
Allah mengabadikannya dalam firman-Nya:
﴿إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾
“Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Karena itu, takutlah kepada mereka. Namun, perkataan itu justru menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.'” (QS. Ali ‘Imran: 173)
Riwayat ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari.
Allah juga memerintahkan Nabi-Nya ﷺ agar bertawakal kepada-Nya:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا﴾
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup, yang tidak akan mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58)
Tawakal dan Datangnya Pertolongan Allah
Wahai hamba-hamba Allah!
Apabila tawakal kepada Allah semakin kuat dan harapan kepada-Nya semakin besar, pertolongan serta jalan keluar akan datang dengan izin Allah.
Ingatlah kisah Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam.
Beliau meninggalkan istrinya, Hajar, bersama putranya yang masih bayi, Ismail, di sebuah lembah yang tandus, tanpa tanaman dan tanpa manusia yang menemani mereka.
Hal itu dilakukan semata-mata karena ketakwaan, ketawakalan, dan ketaatan kepada perintah Allah.
Lalu Allah meliputi mereka dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya.
Renungkan pula kisah Rasulullah ﷺ bersama sahabat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Ketika keduanya berhijrah menuju Madinah, mereka bersembunyi di Gua Tsur. Orang-orang musyrik yang mengejar mereka bahkan sampai di mulut gua.
Dalam keadaan yang sangat genting itu, Abu Bakar berkata:
«لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا».
“Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita.”
Namun, Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan dan keyakinan kepada Allah:
«مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا؟».
“Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah menjadi pihak ketiga bersama keduanya?”
Maksudnya, Allah senantiasa menyertai keduanya dengan pertolongan, penjagaan, dan perlindungan-Nya.
Allah pun menurunkan ketenangan dan memberikan pertolongan kepada Nabi-Nya.
Menghadapi Kesulitan dengan Tawakal dan Doa
Wahai hamba-hamba Allah!
Apabila kesulitan hidup datang bertubi-tubi, cobaan mengelilingimu, pintu-pintu seakan tertutup, dan berbagai persoalan menekan kehidupanmu, ingatlah bahwa tidak ada tempat berlindung dari ketentuan Allah kecuali kembali kepada-Nya.
Angkatlah kedua tanganmu dengan penuh kerendahan hati.
Adukanlah seluruh kesulitanmu kepada Allah.
Serahkanlah urusanmu kepada-Nya.
Carilah waktu-waktu yang diharapkan terkabulnya doa, seperti ketika sujud dan pada akhir malam.
Apabila tawakal semakin kuat, harapan kepada Allah semakin besar, dan hati benar-benar hadir dalam doa, maka hal itu merupakan sebab yang agung bagi datangnya jalan keluar.
Allah berfirman:
﴿أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ﴾
“Siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml: 62)
Serahkanlah segala urusan kepada Allah, Pemilik seluruh urusan.
Ketahuilah bahwa Allah tidak menyia-nyiakan hamba yang tulus berlindung dan memohon pertolongan kepada-Nya.
Sering kali kelapangan datang ketika kesulitan telah mencapai puncaknya.
Kemudahan menyertai kesulitan.
Barang siapa mengenal Allah pada masa lapang, hendaknya ia terus mengingat dan mengharapkan pertolongan-Nya ketika menghadapi kesempitan.
Barang siapa benar-benar bertawakal kepada Allah dalam perkara yang dibenarkan syariat, dengan menempuh sebab-sebabnya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah, maka dia telah menempuh jalan untuk memperoleh pertolongan dan kecukupan dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Semakin baik prasangkamu kepada Allah, semakin besar pula harapanmu kepada-Nya dan ketulusan tawakalmu.
Sebaliknya, orang yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah, merasa cukup dengan kemampuan, kekuatan, atau kecerdasannya sendiri, lalu melupakan Allah, telah menempatkan dirinya dalam keadaan yang membahayakan.
Dalam kitab Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid disebutkan:
«وَمَنْ تَعَلَّقَ بِغَيْرِهِ، أَوْ سَكَنَ إِلَى عِلْمِهِ وَعَقْلِهِ وَدَوَائِهِ وَتَمَائِمِهِ، وَاعْتَمَدَ عَلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى ذَلِكَ وَخَذَلَهُ، وَهَذَا مَعْرُوفٌ بِالنُّصُوصِ وَالتَّجَارِبِ».
“Barang siapa menggantungkan diri kepada selain Allah, atau merasa tenteram dengan ilmu, akal, obat-obatan, atau jimat-jimatnya, serta bersandar kepada kemampuan dan kekuatannya sendiri, maka Allah akan menyerahkannya kepada apa yang dia jadikan sandaran itu dan membiarkannya tanpa pertolongan. Hal ini diketahui berdasarkan dalil-dalil dan pengalaman.”
Perkataan tersebut bukan berarti manusia dilarang menggunakan ilmu, akal, atau pengobatan yang dibenarkan. Yang tercela adalah menggantungkan hati sepenuhnya kepada perkara-perkara tersebut, seolah-olah semuanya dapat mendatangkan manfaat secara mandiri tanpa kehendak Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا﴾
“Dan sebutlah nama Rabbmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. Dialah Rabb timur dan barat, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai tempat menyerahkan segala urusan.” (QS. Al-Muzzammil: 8–9)
Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur’an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita semua melalui ayat-ayat serta peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Aku menyampaikan apa yang kalian dengarkan. Aku memohon ampunan kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan seluruh kaum muslimin atas setiap dosa dan kesalahan. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
KHUTBAH KEDUA
Tawakal Tidak Bertentangan dengan Ikhtiar
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada manusia paling mulia di antara para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Amma ba’du.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya mewujudkan tawakal yang benar kepada Allah tidak bertentangan dengan usaha, kerja keras, dan menempuh sebab-sebab yang dibenarkan.
Berusaha dengan anggota badan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal merupakan amalan hati dan bagian dari keimanan kepada-Nya.
Orang-orang yang benar-benar bertawakal justru merupakan orang-orang yang beramal.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾
“Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, yaitu orang-orang yang bersabar dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 58–59)
Allah telah menentukan takdir segala sesuatu dan menetapkan berbagai sebab yang mengantarkan kepada tujuan-tujuannya. Segala sesuatu berjalan berdasarkan hikmah, kehendak, dan ketentuan-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
«فَالِالْتِفَاتُ إِلَى الْأَسْبَابِ نَقْصٌ فِي التَّوْحِيدِ، وَمَحْوُ الْأَسْبَابِ أَنْ تَكُونَ أَسْبَابًا قَدْحٌ فِي الْعَقْلِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ قَدْحٌ فِي الشَّرْعِ».
“Menggantungkan hati kepada sebab-sebab merupakan kekurangan dalam tauhid. Mengingkari bahwa sebab-sebab itu memiliki fungsi sebagai sebab merupakan kekurangan dalam akal. Adapun meninggalkan sebab-sebab secara keseluruhan merupakan kekurangan dalam pengamalan syariat.”
Perkataan yang agung ini menunjukkan keseimbangan Islam antara keimanan dan usaha.
Seorang hamba harus menempuh sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada sebab-sebab tersebut.
Rasulullah ﷺ Mengambil Sebab-Sebab dalam Kehidupannya
Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling sempurna tawakalnya kepada Allah.
Namun, beliau tidak pernah mengabaikan usaha dan persiapan.
Ketika menghadapi Perang Uhud, beliau memakai dua lapis baju besi sebagai bentuk perlindungan diri.
Ketika berhijrah menuju Madinah, beliau menyewa seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalur perjalanan.
Ketika menghadapi Perang Ahzab, beliau bersama kaum muslimin menggali parit sebagai bentuk strategi pertahanan.
Ketika dikejar orang-orang musyrik dalam perjalanan hijrah, beliau bersembunyi di Gua Tsur.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kewaspadaan dan berbagai langkah pencegahan bahaya, termasuk menutup pintu dan memadamkan api ketika hendak tidur.
Semua itu menunjukkan bahwa tawakal tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan, strategi, dan usaha.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ apakah dia harus mengikat untanya terlebih dahulu kemudian bertawakal, atau membiarkannya terlepas kemudian bertawakal.
Rasulullah ﷺ menjawab:
«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ».
“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan adanya pembahasan ulama tentang kekuatan sanadnya. Meskipun demikian, maknanya selaras dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat tentang pentingnya mengambil sebab-sebab.
Allah Ta’ala juga berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap-siagalah dan berhati-hatilah kalian.” (QS. An-Nisa: 71)
Hakikat Tawakal yang Benar
Hakikat tawakal adalah menempuh sebab-sebab dengan anggota badan, sementara hati bersandar sepenuhnya kepada Allah, Zat yang menciptakan dan mengatur sebab-sebab itu.
Kita harus meyakini bahwa hasil dari setiap usaha berada di tangan Allah.
Jika Allah menghendaki, sebab-sebab tersebut dapat mendatangkan hasil yang diharapkan.
Jika Allah menghendaki, Dia dapat menghalangi terwujudnya hasil tersebut.
Jika Allah menghendaki, Dia dapat menghadirkan berbagai penghalang sehingga sesuatu yang secara lahiriah tampak pasti ternyata tidak terjadi.
Semua itu berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya.
Karena itu, seorang mukmin yang mentauhidkan Allah tidak menggantungkan hatinya kepada sebab-sebab hingga melupakan Allah.
Namun, dia juga tidak meremehkan, membatalkan, atau meninggalkan sebab-sebab yang telah Allah perintahkan.
Dia berusaha secara sungguh-sungguh, tetapi hatinya senantiasa mengingat Allah sebagai Zat yang mengatur segala hasil.
Dengan demikian, tawakal bukanlah sikap mengabaikan akibat, meninggalkan perencanaan, atau tidak mempersiapkan diri.
Menurut orang-orang berakal dan para ulama, sikap demikian merupakan bentuk kelemahan dan kelalaian.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Perhatikan urutan yang disebutkan dalam ayat ini.
Allah memerintahkan musyawarah, kemudian membulatkan tekad, lalu bertawakal kepada-Nya.
Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan perencanaan yang matang dan keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan berbagai sebab.
Seorang mukmin harus menggabungkan usaha dan tawakal.
Dia tidak menjadikan kemalasan sebagai tawakal dan tidak menganggap tawakal sebagai kelemahan.
Apabila sesuatu terasa sulit, dia meyakini bahwa semua itu terjadi berdasarkan ketetapan Allah.
Apabila suatu urusan menjadi mudah, dia pun meyakini bahwa kemudahan tersebut datang karena Allah yang memudahkannya.
Pelajaran dari Penduduk Yaman yang Berhaji Tanpa Bekal
Mengambil sebab-sebab merupakan salah satu jalan hidup yang dicontohkan para rasul.
Allah telah memberikan pelajaran kepada sebagian orang yang meninggalkan usaha dengan alasan bertawakal.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:
«كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّونَ وَلَا يَتَزَوَّدُونَ، وَيَقُولُونَ: نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُونَ، فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾».
“Dahulu penduduk Yaman pergi menunaikan ibadah haji tanpa membawa bekal. Mereka berkata, ‘Kami adalah orang-orang yang bertawakal.’ Namun, ketika tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada orang lain. Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Bawalah bekal, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.'”
(QS. Al-Baqarah: 197; HR. Al-Bukhari no. 1523)Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan persiapan dan menggantungkan kebutuhan kepada orang lain.
Seorang muslim diperintahkan mempersiapkan bekal perjalanannya, mencari rezeki, merencanakan urusannya, dan melakukan usaha yang dibenarkan.
Akan tetapi, setelah melakukan seluruh usaha tersebut, hatinya harus tetap bersandar kepada Allah.
Sebab hanya Allah yang menciptakan sebab-sebab dan menentukan hasilnya.
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82)
Doa Penutup Khutbah
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang bertawakal kepada-Mu, lalu Engkau mencukupi kebutuhannya.
Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memohon petunjuk kepada-Mu, lalu Engkau memberinya petunjuk.
Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memohon pertolongan kepada-Mu, lalu Engkau menolongnya.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keikhlasan dalam setiap perkataan dan perbuatan kami. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang diterima amalannya.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, pasangan kami, keturunan kami, dan seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan serta orang-orang yang memusuhinya dengan kezaliman.
Ya Allah, siapa saja yang menghendaki keburukan terhadap kami dan kaum muslimin, sibukkanlah dia dengan urusannya sendiri. Gagalkanlah tipu dayanya dan jadikanlah rencana jahatnya berbalik menimpa dirinya sendiri, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, timpakanlah hukuman-Mu kepada orang-orang Yahudi yang zalim. Cerai-beraikanlah persatuan mereka, pecah-belah kekuatan mereka, dan jadikanlah perselisihan di antara mereka.
Ya Allah, timpakanlah hukuman-Mu kepada kelompok Houthi yang melakukan agresi dan kepada siapa saja yang tidak takut kepada-Mu ketika berbuat zalim terhadap manusia.
Ya Allah, perlihatkanlah keajaiban kekuasaan-Mu terhadap orang-orang yang melakukan kezaliman dan lindungilah kami serta seluruh kaum muslimin dari kejahatan mereka.
Ya Allah, berikanlah taufik-Mu kepada pemimpin kami, kuatkanlah dia dengan pertolongan-Mu, dan jadikanlah amal serta kebijakannya berada dalam keridaan-Mu.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Salman, beserta putra mahkotanya. Bimbinglah keduanya agar seluruh amal dan kebijakan mereka berada dalam keridaan-Mu.
Anugerahkanlah kepada keduanya para penasihat yang saleh dan tulus, serta jauhkanlah dari keduanya para penasihat yang buruk.
Ya Allah, tolonglah para tentara dan orang-orang yang menjaga perbatasan kami. Tepatkanlah sasaran mereka, teguhkanlah hati mereka, dan karuniakanlah keikhlasan dalam perkataan serta perbuatan mereka.
Allah Ta’ala mengajarkan doa:
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Wahai Rabb kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)
Wahai Rabb kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, orang tua mereka, serta seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
(QS. Al-Ahzab: 56)Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Catatan Penyuntingan Naskah
Naskah di atas telah diperbaiki dalam ejaan, susunan kalimat, tanda baca, dan penulisan ayat Al-Qur’an serta hadis. Beberapa kalimat yang rusak akibat transkripsi otomatis telah disusun kembali berdasarkan konteks khutbah, tanpa dimaksudkan sebagai lafaz persis dari rekaman.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Perkataan Ibrahim Al-Khawwash. Lafaznya telah disesuaikan dengan sumber tertulis yang ditemukan. Riwayat perkataan tersebut berkaitan dengan QS. Al-Furqan: 58, bukan semata-mata QS. Asy-Syu’ara: 217–219.
- Definisi tawakal. Lafaz «عِلْمُ الْقَلْبِ بِكِفَايَةِ الرَّبِّ لِلْعَبْدِ» dinukil oleh Ibnul Qayyim dari sebagian ulama. Karena itu, lebih teliti menyebutnya sebagai definisi yang dinukil Ibnul Qayyim, bukan secara langsung sebagai rumusan eksklusif beliau.
- Hadis tentang burung. Hadis «لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ…» diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Maknanya menegaskan hubungan tawakal dengan usaha.
- Hadis keluar rumah. Redaksinya dikembalikan kepada lafaz yang diriwayatkan Abu Dawud, termasuk bagian tentang setan yang menjauh dari orang yang membaca doa tersebut.
- Perkataan Ibnu Taimiyah. Kutipan mengenai sebab-sebab telah diperbaiki agar tidak menimbulkan pemahaman bahwa sebab-sebab boleh diabaikan. Yang dilarang adalah ketergantungan hati kepada sebab-sebab, bukan penggunaan sebab-sebab yang dibenarkan.
- Hadis mengikat unta. Hadis ini memiliki perbedaan penilaian sanad. Pesannya sesuai dengan dalil lain mengenai usaha, tetapi status hadisnya harus dijelaskan ketika digunakan dalam tulisan ilmiah.
- Doa penutup. Beberapa kata dalam doa akhir khutbah sangat rusak, khususnya penyebutan pihak-pihak tertentu dan sejumlah redaksi permohonan. Naskah suntingan mempertahankan arah umum doa, tetapi menyederhanakan atau merekonstruksi bagian yang tidak jelas. Karena itu, bagian tersebut belum dapat dianggap sebagai kutipan harfiah dari khatib.
- Pengulangan. Sejumlah kalimat yang diulang-ulang secara lisan, termasuk beberapa doa, dirapikan agar lebih mudah dibaca. Terjemahan mengikuti naskah yang telah disunting.
Kesimpulan isi khutbah: Tawakal yang benar adalah mengerahkan usaha yang dibenarkan, menggantungkan hati kepada Allah, menyerahkan hasil kepada-Nya, dan menerima ketetapan-Nya dengan iman. Tawakal bukan kemalasan atau meninggalkan ikhtiar, melainkan menyatukan usaha anggota badan dengan keyakinan hati kepada Rabb semesta alam.
Naskah Khutbah Bahasa Arab
الْخُطْبَةُ الْأُولَى
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
قال الله تعالى:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: ١٠٢].
وقال سبحانه:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: ٧٠–٧١].
أَمَّا بَعْدُ:
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُثَبِّتُ الْإِيمَانَ وَيُرَسِّخُهُ الِاسْتِعَانَةَ بِاللَّهِ وَالتَّوَكُّلَ عَلَيْهِ؛ فَهُوَ سُبْحَانَهُ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ، لَا تَتَحَرَّكُ ذَرَّةٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا يَجْرِي حَادِثٌ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ، وَلَا تَسْقُطُ وَرَقَةٌ إِلَّا يَعْلَمُهَا، وَهُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ.
قال الله تعالى:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ﴾ [الشعراء: ٢١٧–٢١٩].
وقال سبحانه:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا﴾ [الفرقان: ٥٨].
وقد رُوي عن إبراهيم الخوَّاص رحمه الله تعالى أنه لما قرأ هذه الآية قال:
«مَا يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ أَنْ يَلْجَأَ إِلَى أَحَدٍ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى».
عِبَادَ اللَّهِ، التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ يَقِينٌ بِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِيمَانٌ بِقُدْرَتِهِ، وَاسْتِحْضَارٌ لِهَيْمَنَتِهِ عَلَى الْحَيَاةِ وَالْوُجُودِ وَالْأَفْلَاكِ وَالْأَكْوَانِ؛ فَكُلُّ ذَلِكَ مَحْكُومٌ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
وَالتَّوَكُّلُ هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَدَفْعِ الْمَضَارِّ، وَقَطْعُ تَعَلُّقِ الْقَلْبِ بِالْخَلَائِقِ، مَعَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ الْمَشْرُوعَةِ.
وَقَدْ نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي «مَدَارِجِ السَّالِكِينَ» عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَعْرِيفِ التَّوَكُّلِ أَنَّهُ:
«عِلْمُ الْقَلْبِ بِكِفَايَةِ الرَّبِّ لِلْعَبْدِ».
فَالتَّوَكُّلُ صِدْقٌ وَإِيمَانٌ، وَسَكِينَةٌ وَاطْمِئْنَانٌ، وَثِقَةٌ بِاللَّهِ، وَأَمَلٌ يَصْحَبُهُ الْعَمَلُ.
رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا».
وَفِي السُّنَنِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
«إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟».
وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [النحل: ٩٩].
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى وَالِاعْتِصَامَ بِهِ وَحْدَهُ كَانَ هُوَ الْمَلْجَأَ الَّذِي لَجَأَ إِلَيْهِ الْأَنْبِيَاءُ وَالْمُرْسَلُونَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ مِنْ بَطْشِ الْجَبَابِرَةِ وَالْمُسْتَكْبِرِينَ.
فَهَذَا نُوحٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ، لَمَّا كَذَّبَهُ قَوْمُهُ وَآذَوْا أَتْبَاعَهُ، خَاطَبَهُمْ مُعْلِنًا تَوَكُّلَهُ عَلَى اللَّهِ، فَقَالَ:
﴿يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ﴾ [يونس: ٧١].
وَظَلَّ يَقِينُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ بِرَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رَاسِخًا فِي أَحْرَجِ الْمَوَاقِفِ وَأَشَدِّهَا، فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى:
﴿إِنَّا لَمُدْرَكُونَ﴾.
فَقَالَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ:
﴿كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ﴾ [الشعراء: ٦١–٦٢].
وَيَعْقُوبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، لَمَّا فَقَدَ وَلَدَهُ وَخَافَ عَلَى الْآخَرِ، أَعْلَنَ تَوَكُّلَهُ عَلَى اللَّهِ وَتَفْوِيضَهُ أَمْرَهُ إِلَيْهِ، فَقَالَ:
﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ﴾ [يوسف: ٦٧].
وَإِبْرَاهِيمُ وَمُحَمَّدٌ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ تَوَكَّلَا عَلَى اللَّهِ فِي أَحْرَجِ السَّاعَاتِ.
فَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
«حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ ﷺ حِينَ قَالُوا: ﴿إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾».
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
وَأَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ ﷺ بِالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ، فَقَالَ:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا﴾ [الفرقان: ٥٨].
عِبَادَ اللَّهِ، إِذَا قَوِيَ التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ، وَعَظُمَ الرَّجَاءُ فِيهِ، جَاءَ الْفَرَجُ بِإِذْنِ اللَّهِ تَعَالَى.
فَهَذَا إِبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ تَرَكَ زَوْجَتَهُ وَابْنَهُ الصَّغِيرَ الرَّضِيعَ بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ، لَا أَنِيسَ فِيهِ وَلَا زَرْعَ، تَوَكُّلًا عَلَى اللَّهِ وَامْتِثَالًا لِأَمْرِهِ، فَأَحَاطَهُمُ اللَّهُ بِعِنَايَتِهِ وَرِعَايَتِهِ.
وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ ﷺ يَتَوَارَى مَعَ صَاحِبِهِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي غَارِ ثَوْرٍ، حِينَ خَرَجَا مُهَاجِرَيْنِ إِلَى الْمَدِينَةِ، حَتَّى بَلَغَ الْمُشْرِكُونَ فَمَ الْغَارِ.
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
«لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لَأَبْصَرَنَا».
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ قَوْلَةَ الْوَاثِقِ بِرَبِّهِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَيْهِ:
«مَا ظَنُّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا؟».
فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ، وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ يَرَوْهَا.
عِبَادَ اللَّهِ، إِذَا تَكَالَبَتْ عَلَيْكَ الْأَيَّامُ، وَأَحَاطَتْ بِكَ الْمِحَنُ وَالْخُطُوبُ، فَلَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ.
ارْفَعْ كَفَّ الضَّرَاعَةِ إِلَيْهِ، وَأَلْقِ كَرْبَكَ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَفَوِّضْ أَمْرَكَ إِلَيْهِ، وَتَحَرَّ أَوْقَاتَ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ، كَالسُّجُودِ وَآخِرِ اللَّيْلِ.
وَإِذَا قَوِيَ التَّوَكُّلُ وَالرَّجَاءُ، وَحَضَرَ الْقَلْبُ فِي الدُّعَاءِ، كَانَ ذَلِكَ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْفَرَجِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ﴾ [النمل: ٦٢].
فَسَلِّمِ الْأَمْرَ لِمَالِكِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يُضَيِّعُ مَنْ اسْتَجَارَ بِهِ، وَلَا يَخْذُلُ مَنْ صَدَقَ فِي الِالْتِجَاءِ إِلَيْهِ.
وَتَفْرِيجُ الْكَرْبِ قَدْ يَكُونُ عِنْدَ اشْتِدَادِهِ، وَالتَّيْسِيرُ مَقْرُونٌ بِالْعُسْرِ، وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فِي الرَّخَاءِ رَجَا مَعُونَتَهُ فِي الشِّدَّةِ.
وَمَنْ صَدَقَ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللَّهِ فِي الْأُمُورِ الْمَشْرُوعَةِ، وَفَوَّضَ أَمْرَهُ إِلَيْهِ، فَقَدْ أَخَذَ بِأَسْبَابِ الْعَوْنِ وَالْكِفَايَةِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ [الطلاق: ٣].
وَعَلَى قَدْرِ حُسْنِ ظَنِّكَ بِرَبِّكَ وَرَجَائِكَ لَهُ يَكُونُ تَوَكُّلُكَ عَلَيْهِ.
أَمَّا مَنْ تَعَلَّقَ بِغَيْرِ اللَّهِ، وَرَكَنَ إِلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، وَاعْتَمَدَ عَلَيْهَا مُعْرِضًا عَنِ اللَّهِ، فَقَدْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلْخِذْلَانِ.
وَقَدْ جَاءَ فِي كِتَابِ «تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ»:
«وَمَنْ تَعَلَّقَ بِغَيْرِهِ، أَوْ سَكَنَ إِلَى عِلْمِهِ وَعَقْلِهِ وَدَوَائِهِ وَتَمَائِمِهِ، وَاعْتَمَدَ عَلَى حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى ذَلِكَ وَخَذَلَهُ، وَهَذَا مَعْرُوفٌ بِالنُّصُوصِ وَالتَّجَارِبِ».
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا﴾ [المزمل: ٨–٩].
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ:
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ تَحْقِيقَ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ لَا يُنَافِي السَّعْيَ وَالْأَخْذَ بِالْأَسْبَابِ، فَإِنَّ السَّعْيَ بِالْجَوَارِحِ طَاعَةٌ لِلَّهِ، وَالتَّوَكُّلَ عَلَيْهِ عَمَلُ الْقَلْبِ وَإِيمَانُهُ.
فَالْمُتَوَكِّلُونَ حَقًّا هُمُ الْعَامِلُونَ، كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [العنكبوت: ٥٨–٥٩].
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدَّرَ لِلْأُمُورِ أَقْدَارَهَا، وَهَيَّأَ لِغَايَاتِهَا أَسْبَابَهَا، وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِحِكْمَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ.
وَقَدْ قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ:
«فَالِالْتِفَاتُ إِلَى الْأَسْبَابِ نَقْصٌ فِي التَّوْحِيدِ، وَمَحْوُ الْأَسْبَابِ أَنْ تَكُونَ أَسْبَابًا قَدْحٌ فِي الْعَقْلِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ قَدْحٌ فِي الشَّرْعِ».
فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَفْعَلَ الْأَسْبَابَ الْمَشْرُوعَةَ، وَلْيَكُنْ قَلْبُهُ مُعْتَمِدًا عَلَى اللَّهِ لَا عَلَى الْأَسْبَابِ.
فَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ ﷺ، وَهُوَ أَكْمَلُ الْمُتَوَكِّلِينَ وَإِمَامُهُمْ، لَمْ يُخِلَّ بِالْأَسْبَابِ؛ فَقَدْ ظَاهَرَ بَيْنَ دِرْعَيْنِ يَوْمَ أُحُدٍ، وَاسْتَأْجَرَ دَلِيلًا يَدُلُّهُ عَلَى طَرِيقِ الْهِجْرَةِ، وَحَفَرَ الْخَنْدَقَ فِي غَزْوَةِ الْأَحْزَابِ، وَاخْتَبَأَ فِي الْغَارِ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، وَأَخَذَ بِأَسْبَابِ الْحِفْظِ وَالِاحْتِرَاسِ.
وَأَمَرَ بِإِغْلَاقِ الْأَبْوَابِ وَإِطْفَاءِ النِّيرَانِ عِنْدَ النَّوْمِ.
وَجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لَهُ: أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ فَقَالَ:
«اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ».
وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِأَخْذِ الْحَذَرِ، فَقَالَ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ﴾ [النساء: ٧١].
فَحَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ هِيَ الْقِيَامُ بِالْأَسْبَابِ، وَاعْتِمَادُ الْقَلْبِ عَلَى مُسَبِّبِهَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاعْتِقَادُ أَنَّ نَتَائِجَهَا بِيَدِهِ؛ فَإِنْ شَاءَ أَمْضَاهَا، وَإِنْ شَاءَ مَنَعَ آثَارَهَا، وَإِنْ شَاءَ أَقَامَ لَهَا مَوَانِعَ وَصَوَارِفَ.
وَالْمُوَحِّدُ الْمُتَوَكِّلُ لَا يَطْمَئِنُّ إِلَى الْأَسْبَابِ اطْمِئْنَانًا يُنْسِيهِ رَبَّهُ، كَمَا أَنَّهُ لَا يُهْمِلُهَا وَلَا يُبْطِلُهَا، بَلْ يَقُومُ بِهَا، وَيَنْظُرُ بِقَلْبِهِ إِلَى مُسَبِّبِهَا وَمُجْرِيهَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
فَلَيْسَ التَّوَكُّلُ بِإِهْمَالِ الْعَوَاقِبِ وَتَرْكِ التَّدْبِيرِ، بَلْ إِنَّ ذَلِكَ عِنْدَ الْعُقَلَاءِ وَالْعُلَمَاءِ عَجْزٌ وَتَفْرِيطٌ.
فَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾ [آل عمران: ١٥٩].
فَالْمُؤْمِنُ يَجْمَعُ بَيْنَ فِعْلِ الْأَسْبَابِ وَالتَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلَا يَجْعَلُ الْعَجْزَ تَوَكُّلًا، وَلَا التَّوَكُّلَ عَجْزًا.
إِنْ تَعَسَّرَ عَلَيْهِ شَيْءٌ فَبِتَقْدِيرِ اللَّهِ، وَإِنْ تَيَسَّرَ لَهُ شَيْءٌ فَبِتَيْسِيرِ اللَّهِ.
وَالْأَخْذُ بِالْأَسْبَابِ مِنْ سُنَّةِ الْمُرْسَلِينَ.
وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
«كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّونَ وَلَا يَتَزَوَّدُونَ، وَيَقُولُونَ: نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُونَ، فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى﴾».
[البقرة: ١٩٧].
فَالْأَخْذُ بِالْأَسْبَابِ مِنْ تَمَامِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ، وَلَكِنَّ الْمُهِمَّ أَنْ يَبْقَى قَلْبُ الْعَبْدِ بَعْدَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ، وَأَثْنَاءَ الْأَخْذِ بِهَا، مُتَعَلِّقًا بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ مُسَبِّبُ الْأَسْبَابِ، وَالْقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ.
قال تعالى:
﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ [يس: ٨٢].
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ، وَاسْتَهْدَاكَ فَهَدَيْتَهُ، وَاسْتَنْصَرَكَ فَنَصَرْتَهُ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي أَقْوَالِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.
اللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ الْمُسْلِمِينَ بِسُوءٍ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، وَاجْعَلْ تَدْبِيرَهُ تَدْمِيرًا عَلَيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُودِ الظَّالِمِينَ، اللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ.
اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِالْحُوثِيِّينَ الْمُعْتَدِينَ، وَبِكُلِّ مَنْ لَا يَخَافُ اللَّهَ فِي النَّاسِ، اللَّهُمَّ أَرِنَا فِي الْمُعْتَدِينَ عَجَائِبَ قُدْرَتِكَ، وَاكْفِنَا وَالْمُسْلِمِينَ شَرَّهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيدِكَ، وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيفَيْنِ الْمَلِكَ سَلْمَانَ، وَوَلِيَّ عَهْدِهِ، وَاجْعَلْ عَمَلَهُمَا فِي رِضَاكَ، وَهَيِّئْ لَهُمَا الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ، وَأَبْعِدْ عَنْهُمَا بِطَانَةَ السُّوءِ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ جُنُودَنَا وَالْمُرَابِطِينَ، وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ، وَارْبِطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ، وَارْزُقْهُمُ الْإِخْلَاصَ فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَعْمَالِهِمْ.
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾


