Meneliti Kesahihan Dua Hadis tentang Syafaat Nabi ﷺ dan Cahaya Wajah Orang yang Bershalawat
Daftar Isi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam khutbah Jumat, khatib menyampaikan dua kisah berkaitan dengan keutamaan bershalawat kepada Nabi ﷺ.
Hadis pertama menceritakan bahwa Khadijah radhiyallahu ‘anha menangis karena khawatir tidak dapat menjumpai Rasulullah ﷺ di akhirat. Kemudian beliau menjelaskan bahwa dirinya akan berada di tiga tempat untuk menolong umatnya, yaitu di tempat catatan amal, di timbangan amal, dan di sebelah kiri Arasy Allah agar umatnya terhindar dari neraka.
Hadis kedua menyebutkan bahwa wajah orang-orang yang memperbanyak shalawat akan bercahaya pada hari kiamat sehingga Rasulullah ﷺ dapat mengenali mereka.
Apakah kedua hadis tersebut sahih? Bagaimana sikap terbaik apabila seseorang mendengar hadis yang ternyata tidak terbukti berasal dari Rasulullah ﷺ?
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:
بارك الله فيكم، وزادكم الله علمًا وحرصًا على اتباع السنة.
Kedua riwayat tersebut perlu dibedakan antara redaksi yang disampaikan khatib dan hadis-hadis asli yang tercatat dalam kitab hadis bersanad.
Hasil penelusuran menunjukkan adanya hadis tentang tiga tempat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat, tetapi bukan sebagaimana rincian cerita tentang Khadijah yang disebutkan dalam pertanyaan. Demikian pula, terdapat hadis sahih tentang tanda umat Nabi ﷺ pada hari kiamat, tetapi tanda tersebut tidak boleh langsung dikaitkan dengan shalawat tanpa dalil yang membenarkannya.
Pertama: Hadis tentang Khadijah dan Tiga Tempat Rasulullah ﷺ pada Hari Kiamat
1. Hadis bersanad yang ditemukan dalam Sunan at-Tirmidzi
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ: أَنَا فَاعِلٌ».
“Aku meminta kepada Nabi ﷺ agar beliau memberikan syafaat kepadaku pada hari kiamat. Beliau menjawab, ‘Aku akan melakukannya.’”
Anas melanjutkan:
«قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَيْنَ أَطْلُبُكَ؟ قَالَ: اطْلُبْنِي أَوَّلَ مَا تَطْلُبُنِي عَلَى الصِّرَاطِ».
“Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah aku harus mencarimu?’ Beliau menjawab, ‘Pertama-tama, carilah aku di atas shirath.’”
«قَالَ: قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَلْقَكَ عَلَى الصِّرَاطِ؟ قَالَ: فَاطْلُبْنِي عِنْدَ الْمِيزَانِ».
“Aku bertanya, ‘Jika aku tidak menjumpaimu di atas shirath?’ Beliau menjawab, ‘Carilah aku di dekat timbangan amal.’”
«قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَلْقَكَ عِنْدَ الْمِيزَانِ؟ قَالَ: فَاطْلُبْنِي عِنْدَ الْحَوْضِ، فَإِنِّي لَا أُخْطِئُ هَذِهِ الثَّلَاثَ الْمَوَاطِنَ».
“Aku bertanya, ‘Jika aku tidak menjumpaimu di dekat timbangan amal?’ Beliau menjawab, ‘Carilah aku di dekat telaga. Sesungguhnya aku tidak akan luput dari ketiga tempat tersebut.’”
Takhrij hadis:
Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, nomor 2433, dan Imam Ahmad dalam al-Musnad, nomor 12848.
Sanad Imam at-Tirmidzi adalah:
Imam at-Tirmidzi
Abdullah bin ash-Shabbah al-Hasyimi
Badal bin al-Muhabbar
Harb bin Maimun al-Anshari
an-Nadhr bin Anas bin Malik
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah ﷺ
Setelah meriwayatkan hadis tersebut, Imam at-Tirmidzi berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ».
“Hadis ini hasan gharib. Kami tidak mengetahuinya kecuali melalui jalur ini.”
Artinya, hadis tersebut dinilai hasan gharib oleh Imam at-Tirmidzi.
Dengan demikian, tiga tempat yang disebutkan dalam riwayat Anas adalah:
• Ash-Shirath (الصِّرَاطُ).
• Al-Mizan (الْمِيزَانُ), yaitu timbangan amal.
• Al-Haudh (الْحَوْضُ), yaitu telaga Nabi ﷺ.
Bukan tempat catatan amal, timbangan amal, dan sebelah kiri Arasy sebagaimana redaksi yang disampaikan dalam pertanyaan.
Rujukan primer: Sunan at-Tirmidzi, hadis nomor 2433.
2. Riwayat lain yang menyebut seorang istri Nabi menangis
Dalam Sunan Abi Dawud, hadis nomor 4755, terdapat riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bukan Khadijah.
Diriwayatkan bahwa Aisyah mengingat neraka lalu menangis. Rasulullah ﷺ bertanya:
«مَا يُبْكِيكِ؟»
“Apa yang membuatmu menangis?”
Aisyah menjawab:
«ذَكَرْتُ النَّارَ فَبَكَيْتُ، فَهَلْ تَذْكُرُونَ أَهْلِيكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟»
“Aku teringat neraka sehingga aku menangis. Apakah kalian akan mengingat keluarga kalian pada hari kiamat?”
Dalam riwayat ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan adanya tiga keadaan yang begitu dahsyat sehingga seseorang tidak mengingat orang lain:
• Ketika penimbangan amal.
• Ketika pembagian catatan amal.
• Ketika melintasi shirath.
Sanad yang dicantumkan Abu Dawud:
Imam Abu Dawud
Ya‘qub bin Ibrahim dan Humaid bin Mas‘adah
Isma‘il bin Ibrahim
Yunus bin ‘Ubaid
al-Hasan al-Bashri
Aisyah radhiyallahu ‘anha
Rasulullah ﷺ
Status sanad: Lemah karena terputus.
Dalam tahkik Sunan Abi Dawud, Syu‘aib al-Arna’uth dan timnya menjelaskan:
«إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ لِانْقِطَاعِهِ. الْحَسَنُ: وَهُوَ الْبَصْرِيُّ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عَائِشَةَ».
“Sanadnya lemah karena terputus. Al-Hasan, yaitu al-Hasan al-Bashri, tidak mendengar hadis secara langsung dari Aisyah.”
Syekh al-Albani juga menilai riwayat ini lemah dalam Dha‘if at-Targhib, nomor 2108.
Rujukan: Sunan Abi Dawud (7/133), hadis 4755, beserta catatan tahkik.
Hasil pemeriksaan hadis pertama
Terdapat dua riwayat yang mempunyai kemiripan dengan kisah dalam pertanyaan:
• Riwayat Anas tentang Rasulullah ﷺ di shirath, mizan, dan telaga: dinilai hasan gharib oleh at-Tirmidzi.
• Riwayat Aisyah yang menangis dan bertanya tentang keadaan keluarga di akhirat: memiliki kelemahan sanad.
Namun, kisah Khadijah beserta rincian bahwa Nabi ﷺ menambah catatan kebaikan umat, menambah timbangan amal mereka, serta menghalau mereka dari sebelah kiri Arasy menuju surga, belum ditemukan dengan sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, rincian kisah tersebut tidak boleh dinyatakan sebagai hadis sahih. Tidak tepat pula menggabungkan dua riwayat tadi untuk membentuk sebuah cerita baru lalu menisbatkan keseluruhannya kepada Rasulullah ﷺ.
Kedua: Hadis tentang Cahaya Wajah karena Bershalawat
Dalam masalah ini ditemukan riwayat yang cukup dekat dengan perkataan khatib, tetapi perlu diperhatikan siapa yang meriwayatkannya dan bagaimana keadaan sanadnya.
1. Riwayat dalam Syu‘ab al-Iman karya Imam al-Baihaqi
Imam al-Baihaqi meriwayatkan perkataan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
«مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِهِ مِنَ النُّورِ نُورٌ، يَقُولُ النَّاسُ: أَيُّ شَيْءٍ كَانَ يَعْمَلُ هَذَا؟».
“Barang siapa bershalawat kepada Nabi ﷺ pada hari Jumat sebanyak seratus kali, ia akan datang pada hari kiamat dengan cahaya pada wajahnya, sehingga manusia bertanya, ‘Amalan apakah yang dahulu dilakukan orang ini?’”
Rujukan: Imam al-Baihaqi, Syu‘ab al-Iman, nomor 2774, cetakan Maktabah ar-Rusyd, jilid 4, hlm. 435–436.
Pemeriksaan sanad:
Jalur riwayat tersebut melalui Muhammad bin ‘Ajlan, dari ayahnya, kemudian dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib.
Terdapat beberapa persoalan:
• Riwayat ini berbentuk perkataan yang dinisbatkan kepada Ali (mauquf), bukan sabda Nabi ﷺ (marfu‘).
• Dalam sanad terdapat Abu Yahya dan Abu Fatimah yang tidak diketahui identitasnya secara memadai.
• Hubungan periwayatan dari ayah Muhammad bin ‘Ajlan kepada Ali juga bermasalah dari sisi kesinambungan sanad.
Pentahkik Syu‘ab al-Iman memberikan catatan:
«إِسْنَادُهُ: فِيهِ مَنْ لَمْ أَعْرِفْهُ».
“Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak aku ketahui.”
Beliau kemudian menyebut Abu Yahya dan Abu Fatimah sebagai perawi yang tidak dikenalnya.
Rujukan: Catatan tahkik Syu‘ab al-Iman (4/435).
Dengan demikian, riwayat ini tidak dapat dijadikan dalil yang sahih untuk memastikan adanya keutamaan khusus berupa cahaya pada wajah karena seratus kali shalawat pada hari Jumat.
2. Riwayat dalam Hilyat al-Auliya karya Abu Nu‘aim
Imam Abu Nu‘aim al-Ashbahani juga meriwayatkan lafaz:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَعَهُ نُورٌ، لَوْ قُسِمَ ذَلِكَ النُّورُ بَيْنَ الْخَلْقِ كُلِّهِمْ لَوَسِعَهُمْ».
“Barang siapa bershalawat kepadaku pada hari Jumat sebanyak seratus kali, ia akan datang pada hari kiamat dengan membawa cahaya. Seandainya cahaya tersebut dibagikan kepada seluruh makhluk, niscaya cahaya itu mencukupi mereka semuanya.”
Riwayat ini disandarkan kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib.
Imam Abu Nu‘aim menyebutnya sebagai riwayat gharib dan menjelaskan keterbatasan jalur periwayatannya. Sifat gharib saja tidak otomatis berarti palsu, tetapi juga tidak membuktikan kesahihannya.
Rujukan: Abu Nu‘aim, Hilyat al-Auliya, jilid 8, hlm. 46–47.
Riwayat ini pun tidak menyebut bahwa Nabi ﷺ mengenali umatnya secara khusus melalui cahaya akibat shalawat tersebut.
3. Hadis sahih tentang tanda umat Nabi pada hari kiamat
Adapun dalil sahih mengenai cara Rasulullah ﷺ mengenali umatnya terdapat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Ketika para sahabat bertanya bagaimana Rasulullah ﷺ mengenali umatnya yang belum lahir, beliau bersabda:
«فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ».
“Sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan wajah serta anggota tubuh mereka bercahaya karena wudu, dan aku akan mendahului mereka di telaga.”
Takhrij: Imam Muslim, Shahih Muslim, nomor 249, Kitab ath-Thaharah. Hadis sahih.
Sanadnya melalui Isma‘il bin Ja‘far, dari al-‘Ala’ bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Rujukan: Shahih Muslim (1/150).
Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ menyebut:
«مِنَ الْوُضُوءِ»
“Karena wudu.”
Bukan karena shalawat.
Ini merupakan perbedaan penting. Keutamaan yang dinyatakan dalam sebuah hadis harus dikaitkan dengan amalan yang memang disebutkan oleh hadis tersebut.
Ketiga: Keutamaan Bershalawat Tetap Ditetapkan dengan Hadis Sahih
Walaupun beberapa riwayat tentang cahaya wajah tidak terbukti sahih, keutamaan bershalawat kepada Nabi ﷺ tidak diragukan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا».
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.”
Takhrij: Imam Muslim dalam Shahih Muslim, nomor 408. Rujukan: Shahih Muslim (2/17).
Demikian pula terdapat hadis sahih tentang syafaat Nabi ﷺ bagi orang yang memohonkan wasilah untuk beliau setelah azan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahih Muslim, nomor 384.
Rujukan: Shahih Muslim (2/4).
Dalil-dalil sahih tersebut sudah mencukupi untuk menjelaskan keutamaan bershalawat tanpa perlu menggunakan riwayat yang belum jelas kesahihannya.
Keempat: Bagaimana Sikap terhadap Khatib yang Menyampaikan Riwayat Tersebut?
Sikap terbaik adalah menggabungkan penghormatan terhadap khatib dengan kehati-hatian menjaga kemurnian hadis.
Pertama, hendaknya berbaik sangka bahwa khatib bermaksud mengajak jamaah memperbanyak shalawat dan mungkin memperoleh kisah tersebut dari sumber yang belum diperiksa secara mendalam.
Kedua, apabila memungkinkan, setelah salat Jumat dapat bertanya dengan santun mengenai kitab dan nomor hadis yang menjadi rujukannya. Bisa jadi khatib memiliki rujukan tambahan yang belum diketahui penanya.
Ketiga, apabila ternyata riwayat yang disebutkan tidak sahih, sampaikan koreksi secara pribadi, dengan menunjukkan sumber hadis yang benar, bukan dengan mempermalukan khatib di hadapan jamaah.
Keempat, jangan menyebarkan kembali cerita tersebut dengan menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar mengucapkannya sebelum memperoleh bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan melalui hadis yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhu:
«إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
Takhrij: Imam al-Bukhari, nomor 1291. Rujukan: Shahih al-Bukhari (2/80).
Ancaman hadis ini berkaitan dengan kedustaan yang disengaja. Oleh karena itu, tidak boleh langsung menuduh khatib sengaja berdusta apabila belum diketahui keadaan sebenarnya.
Kesimpulan Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran terhadap literatur hadis dan pemeriksaan sanadnya, kisah Khadijah radhiyallahu ‘anha yang menangis karena khawatir tidak dapat bertemu Rasulullah ﷺ pada hari kiamat, kemudian beliau menjanjikan pertolongan kepada umatnya di tiga tempat sebagaimana diceritakan oleh khatib, belum ditemukan sanad yang dapat membuktikan kebenaran rincian kisah tersebut. Oleh karena itu, kisah ini tidak dapat dinyatakan sebagai hadis sahih yang berasal dari Rasulullah ﷺ.
Adapun hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tentang keberadaan Rasulullah ﷺ di tiga tempat pada hari kiamat, yaitu di shirath, mizan (timbangan amal), dan haudh (telaga Nabi), merupakan riwayat yang dinilai hasan gharib oleh Imam at-Tirmidzi. Hadis ini memiliki dasar periwayatan, tetapi tidak memuat rincian cerita tentang Khadijah maupun penambahan catatan amal dan pengalihan umat dari sebelah kiri Arasy menuju surga sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan.
Sementara itu, riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menangis ketika mengingat neraka, kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai keadaan keluarga pada hari kiamat, merupakan hadis yang lemah karena terdapat keterputusan sanad antara al-Hasan al-Bashri dan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Oleh sebab itu, riwayat tersebut tidak dapat dijadikan landasan yang kuat untuk menetapkan rincian perkara gaib yang disebutkan di dalamnya.
Mengenai riwayat yang menyatakan bahwa wajah seseorang akan bercahaya pada hari kiamat karena membaca shalawat kepada Nabi ﷺ sebanyak seratus kali pada hari Jumat, riwayat tersebut memang ditemukan dalam beberapa kitab hadis. Akan tetapi, sanadnya bermasalah sehingga tidak dapat dinyatakan sahih. Terlebih lagi, tambahan bahwa Rasulullah ﷺ akan mengenali umatnya secara khusus karena cahaya yang muncul akibat shalawat tersebut belum terbukti melalui riwayat yang sahih.
Sebaliknya, terdapat hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ akan mengenali umat beliau pada hari kiamat melalui cahaya yang tampak pada wajah dan anggota tubuh mereka akibat berwudu. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, nomor 249, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dengan demikian, cahaya yang disebutkan dalam hadis tersebut secara tegas dikaitkan dengan bekas wudu, bukan dengan banyaknya shalawat.
Adapun keutamaan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ tetap memiliki landasan yang sahih. Di antaranya adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا».
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, nomor 408, dan merupakan hadis sahih.
Dengan demikian, keutamaan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ merupakan perkara yang telah ditetapkan melalui dalil-dalil sahih dan tidak memerlukan penguatan dengan kisah-kisah yang belum dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Setiap riwayat yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, terlebih yang berkaitan dengan perkara gaib dan keadaan pada hari kiamat, hendaknya diperiksa sumber, sanad, dan penilaian para ulama hadis sebelum disampaikan kepada masyarakat.
Apabila terdapat khatib atau penceramah yang menyampaikan riwayat yang belum terbukti kesahihannya, sikap terbaik adalah tetap menghormatinya, berbaik sangka terhadap maksudnya, serta memberikan nasihat dan koreksi dengan cara yang santun dan disertai rujukan ilmiah. Kesalahan dalam menyampaikan riwayat tidak boleh langsung dianggap sebagai kedustaan yang disengaja selama belum terdapat bukti yang menunjukkan demikian.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.