Konsultasi

Adab Mendengarkan Khutbah Jumat dan Hukum Mengkhususkan Sedekah pada Hari Jumat

Nomor Fatwa: 164 Adab Mendengarkan Khutbah Jumat dan Hukum Mengkhususkan Sedekah pada Hari Jumat

☷ Daftar Isi Artikel

Pertanyaan Pertama: Adab Mendengarkan Khutbah Jumat

Bismillah.

Izin bertanya, Ustaz.

Sikap jamaah saat mendengarkan khutbah, bolehkah berdiri?

Dan bagaimana jika ada khatib Jumat yang khutbahnya membuat jamaah tertawa?

Jawaban

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, kepada keluarga beliau dan para sahabat beliau. Amma ba’du:

Sikap Jamaah Saat Mendengarkan Khutbah

Adapun berdirinya para jamaah di tengah-tengah khutbah Jumat, meskipun tidak terdapat larangan khusus tentang hal tersebut, namun perbuatan itu bertentangan dengan sunnah yang terus diwariskan sejak zaman Rasulullah ﷺ dan generasi setelah beliau.

Sunnah bagi para jamaah adalah duduk dengan penuh adab dan khusyuk selama mendengarkan khutbah. Sebagian ulama bahkan menganjurkan agar mereka duduk dengan posisi bersila (تربع), menghadap kepada khatib dengan wajah mereka, serta mendengarkan dan menyimak nasihat dengan penuh perhatian.

Adapun berdiri ketika khutbah sedang berlangsung, maka hal itu menyelisihi sunnah dan tidak sepatutnya dilakukan.

Namun, apabila terdapat uzur seperti padatnya jamaah, sempitnya tempat, atau sebab lain yang serupa, maka insya Allah tidak mengapa.

Adab Menghadap Khatib Ketika Khutbah

Disebutkan dalam kitab Ar-Raudh beserta hasyiahnya mengenai adab makmum ketika mendengarkan khutbah:

وينحرفون إليه –أي إلى الخطيب- لفعل الصحابة ذكره في المبدع، أي ينحرف المأمومون إلى الخطيب فيستقبلونه، قال ابن مسعود: كان إذا استوى على المنبر استقبلناه بوجوهنا، رواه الترمذي، وقد تقرر استقباله الناس وقت الخطبة، واستدارة أصحابه إليه بوجوههم من غير وجه وقال الترمذي: والعمل عليه عند أهل العلم من الصحابة وغيرهم، يستحبونه اهـ

“Para jamaah memalingkan tubuh mereka ke arah khatib.”

Hal itu dilakukan berdasarkan amalan para sahabat sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mubdi’.

Artinya, para makmum menghadapkan diri mereka kepada khatib dan menghadapinya dengan wajah mereka.

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, beliau berkata:

كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا

“Apabila Rasulullah ﷺ telah duduk atau berdiri di atas mimbar, kami menghadap beliau dengan wajah-wajah kami.”

(HR. At-Tirmidzi)

Telah menjadi ketetapan bahwa Nabi ﷺ menghadap kepada manusia ketika berkhutbah, sementara para sahabat menghadap kepada beliau dengan wajah mereka.

Imam At-Tirmidzi berkata:

“Amalan ini dipraktikkan oleh para ulama dari kalangan sahabat dan selain mereka, dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang dianjurkan.”

Karena memang demikianlah tuntutan adab, dan hal itu lebih kuat pengaruhnya dalam penyampaian nasihat.

Anjuran Duduk Bersila dan Menghadap Khatib

Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi رحمه الله berkata:

وهو مجمع عليه، قال إمام الحرمين: سبب استقبالهم له واستقباله إياهم واستدباره القبلة أن يخاطبهم، فلو استدبرهم كان قبيحا، وإن استقبلوه استدبروا القبلة، فاستدبار واحد واستقبال الجميع أولى من عكسه، ويتربعون حال الخطبة، وهو أخشع، وفي صحيح مسلم أنه كان عليه الصلاة والسلام يفعله إذا صلى الفجر، وفي الصحيح عن ابن عمر أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم محتبيا بيديه، وهو القرفصاء، وروي عن جماعة من الصحابة. انتهى

“Hal ini merupakan kesepakatan para ulama.”

Imam Al-Haramain menjelaskan:

“Hikmah para jamaah menghadap kepada khatib dan khatib menghadap kepada mereka serta membelakangi kiblat adalah karena ia sedang berbicara kepada mereka.

Seandainya khatib membelakangi mereka tentu itu tidak pantas.

Dan jika para jamaah menghadap kepada khatib, maka mereka otomatis membelakangi kiblat.

Maka membelakangi kiblat oleh satu orang (yaitu khatib) lebih ringan daripada seluruh jamaah membelakangi khatib.”

Beliau juga menyebutkan bahwa para jamaah dianjurkan duduk bersila ketika khutbah karena posisi tersebut lebih mendatangkan kekhusyukan.

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah duduk dengan posisi tersebut setelah shalat Subuh.

Dan dalam riwayat shahih dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما disebutkan bahwa beliau melihat Rasulullah ﷺ duduk dengan posisi ihtiba’ (الاحتباء), yaitu duduk sambil merangkul kedua lutut dengan kedua tangan atau kain, yang merupakan salah satu bentuk duduk qurfusha’.

Hal ini juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat رضي الله عنهم.

Hukum Khatib yang Mengundang Tawa Jamaah

Adapun mengenai apa yang Anda sebutkan tentang seorang khatib yang menyampaikan hal-hal lucu atau mengundang tawa di tengah khutbah, maka hal tersebut tidak sepantasnya dilakukan.

Karena tujuan utama khutbah Jumat adalah:

  • Mengingatkan manusia,
  • Memberikan nasihat,
  • Memerintahkan kepada yang ma’ruf,
  • Melarang dari yang mungkar,
  • Mengajarkan kaidah-kaidah agama,
  • Dan menjelaskan pokok-pokok syariat.

Sedangkan cerita-cerita jenaka, candaan, dan hal-hal yang sekadar menghibur berada di luar tujuan utama khutbah yang sebenarnya dimaksudkan untuk melembutkan hati dan mengarahkannya kepada Allah Ta’ala.

Tujuan Khutbah Menurut Para Ulama dan Petunjuk Nabi ﷺ

Ibnu Qasim رحمه الله berkata, menukil ucapan Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah رحمه الله:

ولا تحصل الخطبة باختصار يفوت به المقصود، وقد طال العهد، وخفي نور النبوة على الكثير، فرصعوا الخطب بالتسجيع والفقر، وعلم البديع، فعدم حظ القلوب منها، وفات المقصود بها، وقد كان صلى الله عليه وسلم إذا خطب احمرت عيناه، وعلى صوته، واشتد غضبه، حتى كأنه منذر جيش يقول: صبحكم ومساكم.

وذكر ابن القيم وغيره أن خطبه صلى الله عليه وسلم إنما كانت تقريرا لأصول الإيمان، من الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله ولقائه، وذكر الجنة والنار، وما أعد الله لأوليائه وأهل طاعته، وما أعد لأعدائه وأهل معصيته، ودعوة إلى الله، وتذكير بآلائه التي تحببه إلى خلقه، وأيامه التي تخوفهم من بأسه، وأمرا بذكره وشكره الذي يحببهم إليه، فيملأ القلوب من خطبته إيمانا وتوحيدا، ومعرفة بالله وآياته وآلائه وأيامه، ومحبة لذكره وشكره، فينصرف السامعون وقد أحبوا الله وأحبهم. انتهى

“Khutbah tidak tercapai tujuannya apabila dibuat terlalu singkat hingga menghilangkan maksud utamanya.

Telah berlalu masa yang panjang dan cahaya kenabian telah samar bagi banyak orang, sehingga mereka menghiasi khutbah dengan sajak-sajak, permainan kata, dan ilmu balaghah yang berlebihan.

Akibatnya hati-hati tidak lagi mendapatkan bagian dari khutbah tersebut dan tujuan khutbah pun hilang.”

Padahal Rasulullah ﷺ apabila berkhutbah:

كَانَتْ عَيْنَاهُ تَحْمَرَّانِ، وَيَعْلُو صَوْتُهُ، وَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

“Kedua mata beliau memerah, suara beliau meninggi, dan semangat beliau sangat kuat, seakan-akan beliau adalah seorang pemberi peringatan kepada pasukan musuh yang berkata: ‘Musuh akan menyerang kalian pagi ini atau sore ini!'”

(HR. Muslim)

Ibnu Qayyim dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa isi khutbah Nabi ﷺ pada dasarnya berisi:

  • Penegasan pokok-pokok keimanan,
  • Iman kepada Allah,
  • Para malaikat,
  • Kitab-kitab,
  • Para rasul,
  • Hari perjumpaan dengan Allah,
  • Penyebutan surga dan neraka,
  • Penjelasan tentang apa yang Allah siapkan bagi wali-wali-Nya dan orang-orang yang taat,
  • Serta ancaman bagi musuh-musuh Allah dan pelaku maksiat.

Khutbah beliau juga berisi:

  • Ajakan menuju Allah,
  • Pengingat terhadap nikmat-nikmat Allah yang menumbuhkan kecintaan kepada-Nya,
  • Pengingat terhadap hari-hari azab dan hukuman-Nya yang menumbuhkan rasa takut kepada-Nya,
  • Serta perintah untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Nya.

Akibatnya, hati para pendengar dipenuhi oleh:

  • Iman,
  • Tauhid,
  • Ma’rifat kepada Allah,
  • Kecintaan kepada dzikir dan syukur kepada-Nya.

Sehingga para pendengar pulang dari khutbah dalam keadaan lebih mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.

Sikap Jamaah Ketika Terjadi Sesuatu yang Mengundang Tawa

Apabila dalam khutbah terjadi sesuatu yang membuat orang tertawa, maka seseorang tidak sepatutnya larut dalam tawa tersebut, karena hal itu bertentangan dengan perintah untuk diam dan mendengarkan khutbah.

Adapun sekadar tersenyum ringan, maka tidak mengapa, karena jika senyum tidak membatalkan shalat, maka dalam khutbah tentu lebih ringan lagi hukumnya.

Wallahu a’lam.


Pertanyaan Kedua: Adakah Dalil Khusus Bersedekah pada Hari Jumat?

Adakah dalil khusus bersedekah di hari Jumat, Ustaz?

Barakallahu fikum.

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak disyariatkan untuk mengkhususkan hari Jumat dengan sedekah, karena pengkhususan atau penentuan suatu ibadah pada waktu tertentu memerlukan dalil, sementara setahu saya tidak terdapat dalil yang secara khusus menetapkan keutamaan bersedekah pada hari Jumat.

Karena hari Jumat memiliki berbagai keutamaan dan kekhususan tersendiri, maka syariat justru datang dengan larangan untuk mengkhususkan hari tersebut dengan puasa dan mengkhususkan malamnya dengan qiyamul lail.

Dalil tentang Larangan Mengkhususkan Ibadah pada Hari Jumat

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan qiyam (shalat malam) di antara malam-malam lainnya, dan jangan pula mengkhususkan hari Jumat dengan puasa di antara hari-hari lainnya, kecuali jika puasa tersebut merupakan bagian dari puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian.”

(HR. Muslim)

Dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah رضي الله عنه:

أَنَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ؟

‘Apakah Nabi ﷺ melarang puasa pada hari Jumat?’

Beliau menjawab:

نَعَمْ

‘Ya.'”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian pula dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pendapat Sebagian Ulama tentang Keutamaan Sedekah Hari Jumat

Namun demikian, sebagian ulama memang menyebutkan adanya keutamaan bersedekah pada hari Jumat.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata:

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْظِيمُ هَذَا الْيَوْمِ وَتَشْرِيفُهُ ، وَتَخْصِيصُهُ بِعِبَادَاتٍ يَخْتَصُّ بِهَا عَنْ غَيْرِهِ .

وقَالَ في تعدادِ خَصائصِهِ : أَنَّ لِلصَّدَقَةِ فِيهِ مَزِيَّةً عَلَيْهَا فِي سَائِرِ الأَيَّامِ، وَالصَّدَقَةُ فِيهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ أَيَّامِ الأُسْبُوعِ كَالصَّدَقَةِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ الشُّهُورِ .

وَشَاهَدْتُ شَيْخَ الإِسْلامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ إِذَا خَرَجَ إِلَى اْلْجُمُعَةِ يَأْخُذُ مَا وَجَدَ فِي الْبَيْتِ مِنْ خُبْزٍ أَوْ غَيْرِهِ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ فِي طَرِيقِهِ سِرًّا، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: إِذَا كَانَ اللَّهُ قَدْ أَمَرَنَا بِالصَّدَقَةِ بَيْنَ يَدَيْ مُنَاجَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَالصَّدَقَةُ بَيْنَ يَدَيْ مُنَاجَاتِهِ تَعَالَى أَفْضَلُ وَأَوْلَى بِالْفَضِيلَةِ . اهـ .

“Di antara petunjuk Nabi ﷺ adalah mengagungkan dan memuliakan hari Jumat, serta mengkhususkannya dengan berbagai ibadah yang tidak terdapat pada hari-hari lainnya.”

Beliau juga menyebutkan di antara kekhususan hari Jumat:

“Sesungguhnya sedekah pada hari Jumat memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada hari-hari lainnya. Kedudukan sedekah pada hari Jumat dibandingkan hari-hari lain dalam sepekan seperti kedudukan sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya.”

Beliau juga berkata:

“Aku pernah melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, apabila beliau keluar menuju shalat Jumat, beliau mengambil apa saja yang ada di rumah berupa roti atau selainnya, lalu beliau menyedekahkannya secara sembunyi-sembunyi di tengah perjalanan.”

Dan aku mendengar beliau berkata:

“Jika Allah telah memerintahkan kita untuk bersedekah sebelum bermunajat dengan Rasulullah ﷺ, maka bersedekah sebelum bermunajat kepada Allah Ta’ala tentu lebih utama dan lebih layak mendapatkan keutamaan.”

Beliau mengisyaratkan firman Allah Ta’ala:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, maka dahulukanlah sedekah sebelum pembicaraan kalian itu.”

(QS. Al-Mujadilah: 12)

Kesimpulan

  1. Tidak ada dalil shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengkhususkan hari Jumat untuk bersedekah secara rutin dan meyakini bahwa hal itu merupakan sunnah khusus.
  2. Namun, jika seseorang bersedekah pada hari Jumat tanpa keyakinan adanya pensyariatan khusus, hanya karena ingin memanfaatkan kemuliaan hari tersebut atau mengikuti pendapat sebagian ulama tentang keutamaannya, maka hal itu diperbolehkan menurut banyak ulama.
  3. Oleh karena itu, perbedaannya adalah antara:
    • Meyakini adanya sunnah khusus yang tetap tanpa dalil, dan
    • Bersedekah pada hari Jumat sesekali karena memanfaatkan waktu yang mulia.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button