Hukum Melaksanakan Dua Badal Umrah untuk Ayah dan Ibu dalam Satu Perjalanan
Daftar Isi
Pertanyaan:
Bismillah. Ahsanallahu ilaikum, Ustadzuna. Izin bertanya, Ustadzuna.
Bolehkah dalam satu safar umrah digunakan untuk dua badal, yaitu untuk bapak dan ibu? Misalnya, mengambil miqat pertama dengan niat umrah untuk bapak yang sudah meninggal, kemudian melaksanakan rukun-rukun umrah sampai selesai. Setelah itu pergi ke Tan‘im untuk mengambil miqat umrah kedua dan berniat badal umrah untuk ibu, lalu melakukan rukun-rukun umrah hingga selesai.
Atas jawabannya, jazakumullahu khairan.
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.
Pertama: Mengulang umrah dalam satu perjalanan bukan kebiasaan Nabi ﷺ dan para sahabat
Seorang Muslim melakukan umrah berulang kali dalam satu kali perjalanan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, bukanlah termasuk kebiasaan dan Sunnah Nabi ﷺ, para sahabat beliau رضي الله عنهم, maupun petunjuk generasi salaf. Sebab, pada asalnya setiap umrah dilakukan dalam perjalanan tersendiri.
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam Zād al-Ma‘ād (2/89–90):
“ولم يكن في عُمَره صلى الله عليه وسلم عمرةٌ واحدةٌ خارجاً من مكة ، كما يفعل كثير من الناس اليوم ، وإنما كانت عمَرُه كلُها داخلاً إلى مكة ، وقد أقام بعد الوحي بمكة ثلاث عشرة سنة ، لم ينقل عنه أنه اعتمر خارجاً من مكة في تلك المدة أصلاً ، فالعمرة التي فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم وشرعها هي عمرة الداخل إلى مكة ، لا عمرة من كان بها فيخرج إلى الحل ليعتمر ، ولم يَفعل هذا على عهده أحدٌ قط ، إلا عائشة وحدها بين سائر من كان معه ؛ لأنها كانت قد أهلت بالعمرة فحاضت فأمرها فأدخلت الحج على العمرة وصارت قارنة ، وأخبرها أن طوافها بالبيت وبين الصفا والمروة قد وقع عن حجتها وعمرتها ، فوجدت في نفسها أن يرجع صواحباتها بحج وعمرة مستقلين – فإنهن كن متمتعات ، ولم يحضن ، ولم يقرنَّ – وترجع هي بعمرة في ضمن حجتها ، فأمر أخاها أن يُعمرها من التنعيم ؛ تطييباً لقلبها ، ولم يعتمر هو من التنعيم في تلك الحجة ، ولا أحدٌ ممن كان معه ” انتهى
Terjemahannya:
“Dalam seluruh umrah Rasulullah ﷺ, tidak ada satu pun umrah yang beliau lakukan dengan keluar dari Makkah [menuju tanah halal untuk memulai umrah], sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada masa sekarang. Akan tetapi, seluruh umrah beliau dilakukan dalam keadaan datang memasuki Makkah.
Setelah turunnya wahyu, beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun. Tidak pernah dinukil bahwa selama masa tersebut beliau keluar dari Makkah untuk melakukan umrah.
Maka umrah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan beliau syariatkan adalah umrah orang yang datang memasuki Makkah, bukan umrah orang yang sudah berada di Makkah lalu keluar menuju tanah halal untuk melakukan umrah. Pada masa beliau, tidak seorang pun pernah melakukan hal tersebut, kecuali Aisyah رضي الله عنها seorang diri di antara seluruh orang yang bersama beliau.
Hal itu karena sebelumnya Aisyah telah berihram untuk umrah, kemudian mengalami haid. Maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk memasukkan haji ke dalam umrahnya sehingga ia menjadi orang yang melaksanakan haji qiran. Beliau juga memberitahukan kepadanya bahwa thawafnya di Ka‘bah dan sa‘inya antara Shafa dan Marwah telah mencukupi untuk haji dan umrahnya.
Namun, dalam hati Aisyah muncul perasaan kurang puas karena sahabat-sahabat wanitanya akan pulang dengan membawa haji dan umrah yang masing-masing berdiri sendiri—sebab mereka melakukan haji tamattu‘, tidak mengalami haid, dan tidak melakukan haji qiran—sedangkan dirinya akan pulang dengan umrah yang tergabung di dalam hajinya.
Karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan saudara laki-lakinya [Abdurrahman bin Abu Bakar رضي الله عنه] untuk membawanya melakukan umrah dari Tan‘im, sebagai bentuk menyenangkan dan menenangkan hatinya.
Sedangkan Nabi ﷺ sendiri tidak melakukan umrah dari Tan‘im pada haji tersebut, dan tidak pula seorang pun dari para sahabat yang bersama beliau melakukannya.”
— Ibnul Qayyim رحمه الله, Zād al-Ma‘ād, 2/89–90.
Kedua: Jumhur ulama membolehkan mengulang umrah dalam satu perjalanan
Meskipun demikian, mayoritas ulama memberikan keringanan bagi orang yang telah melakukan umrah dalam suatu perjalanan untuk melakukan umrah lainnya. Terutama apabila ia berasal dari negeri yang jauh sehingga sulit baginya untuk kembali lagi ke Makkah.
Dalam keadaan demikian, jika ia sedang berada di Makkah, ia harus keluar menuju tanah halal terdekat, lalu berihram dari sana untuk umrah berikutnya.
Dalil utamanya adalah hadis Aisyah رضي الله عنها. Al-Bukhari (no. 1215) dan Muslim (no. 1211) meriwayatkan bahwa Aisyah berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، اعْتَمَرْتُمْ وَلَمْ أَعْتَمِرْ، فَقَالَ: «يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، اذْهَبْ بِأُخْتِكَ فَأَعْمِرْهَا مِنَ التَّنْعِيمِ». فَأَحْقَبَهَا عَلَى نَاقَةٍ فَاعْتَمَرَتْ.
“Wahai Rasulullah, kalian telah melakukan umrah sedangkan aku belum melakukan umrah.” Maka beliau bersabda:
«يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، اذْهَبْ بِأُخْتِكَ فَأَعْمِرْهَا مِنَ التَّنْعِيمِ»
“Wahai Abdurrahman, pergilah bersama saudara perempuanmu dan bawalah ia melakukan umrah dari Tan‘im.”
Kemudian Abdurrahman membonceng Aisyah di atas unta, lalu Aisyah melakukan umrah.
Kata أَحْقَبَهَا berarti memboncengkannya di belakangnya.
Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda kepada Abdurrahman:
«اخْرُجْ بِأُخْتِكَ مِنَ الْحَرَمِ فَلْتُهِلَّ بِعُمْرَةٍ»
“Bawalah saudara perempuanmu keluar dari tanah Haram, lalu hendaklah ia berihram untuk umrah.”
Penjelasan Imam an-Nawawi رحمه الله
Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim (8/210):
” ( اُخْرُجْ بِأُخْتِك مِنْ الْحَرَم فَلْتُهِلَّ بِعُمْرَةٍ ) فِيهِ دَلِيل لِمَا قَالَهُ الْعُلَمَاء : أَنَّ مَنْ كَانَ بِمَكَّة وَأَرَادَ الْعُمْرَة فَمِيقَاته لَهَا أَدْنَى الْحِلّ ، وَلا يَجُوز أَنْ يُحْرِم بِهَا مِنْ الْحَرَم .
قَالَ الْعُلَمَاء: وَإِنَّمَا وَجَبَ الْخُرُوج إِلَى الْحِلّ لِيَجْمَع فِي نُسُكه بَيْن الْحِلّ وَالْحَرَم ، كَمَا أَنَّ الْحَاجّ يَجْمَع بَيْنهمَا ، فَإِنَّهُ يَقِف بِعَرَفَاتٍ وَهِيَ فِي الْحِلّ ، ثُمَّ يَدْخُل مَكَّة لِلطَّوَافِ وَغَيْره .
هَذَا تَفْصِيل مَذْهَب الشَّافِعِيّ ، وَهَكَذَا قَالَ جُمْهُور الْعُلَمَاء : أَنَّهُ يَجِب الْخُرُوج لإِحْرَامِ الْعُمْرَة إِلَى أَدْنَى الْحِلّ ، وَأَنَّهُ لَوْ أَحْرَمَ بِهَا فِي الْحَرَم وَلَمْ يَخْرُج لَزِمَهُ دَم ، وَقَالَ عَطَاء: لا شَيْء عَلَيْهِ ، وَقَالَ مَالِك : لا يُجْزِئهُ حَتَّى يَخْرُج إِلَى الْحِلّ ، قَالَ الْقَاضِي عِيَاض : وَقَالَ مَالِك: لا بُدّ مِنْ إِحْرَامه مِنْ التَّنْعِيم خَاصَّة ، قَالُوا : وَهُوَ مِيقَات الْمُعْتَمِرِينَ مِنْ مَكَّة ، وَهَذَا شَاذّ مَرْدُود ، وَاَلَّذِي عَلَيْهِ الْجَمَاهِير أَنَّ جَمِيع جِهَات الْحِلّ سَوَاء ، وَلا تَخْتَصّ بِالتَّنْعِيمِ ” انتهى
“Bawalah saudara perempuanmu keluar dari tanah Haram, lalu hendaklah ia berihram untuk umrah.”
Dalam sabda ini terdapat dalil bagi apa yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu bahwa orang yang berada di Makkah dan hendak melaksanakan umrah, maka miqat umrahnya adalah tanah halal yang paling dekat. Ia tidak boleh memulai ihram umrah dari dalam tanah Haram.
Para ulama berkata: Diwajibkannya keluar menuju tanah halal adalah agar dalam pelaksanaan manasiknya ia menggabungkan antara tanah halal dan tanah Haram, sebagaimana orang yang berhaji juga menggabungkan keduanya. Orang yang berhaji melakukan wukuf di Arafah, sedangkan Arafah berada di wilayah tanah halal, kemudian ia memasuki Makkah untuk melakukan thawaf dan ibadah lainnya.
Inilah rincian pendapat dalam mazhab Imam asy-Syafi‘i.
Demikian pula jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang hendak berihram untuk umrah [sedangkan ia berada di Makkah] wajib keluar menuju tanah halal yang paling dekat.
Apabila ia berihram untuk umrah dari dalam tanah Haram dan tidak keluar menuju tanah halal, maka ia wajib membayar dam.
Sedangkan ‘Atha’ berpendapat: “Tidak ada kewajiban apa pun atasnya.”
Adapun Imam Malik berpendapat: “Umrahnya belum mencukupi sampai ia keluar menuju tanah halal.”
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Imam Malik berpendapat bahwa ia harus memulai ihramnya dari Tan‘im secara khusus.”
Mereka berkata: “Tan‘im adalah miqat bagi orang yang hendak melakukan umrah dari Makkah.”
Namun, pendapat ini syadz (menyelisihi pendapat mayoritas) dan tertolak.
Pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa seluruh arah dan wilayah tanah halal kedudukannya sama; tidak dikhususkan hanya Tan‘im.”
Inti perkataan Imam an-Nawawi رحمه الله: seseorang yang sudah berada di Makkah kemudian ingin melaksanakan umrah harus keluar dari batas tanah Haram. Ia tidak harus ke Tan‘im; boleh berihram dari bagian mana pun dari tanah halal. Menurut jumhur, bila ia berihram dari dalam tanah Haram tanpa keluar ke tanah halal, umrahnya sah tetapi ia terkena kewajiban dam.
Pendapat Imam Malik رحمه الله
Imam Malik berkata dalam al-Muwaththa’ (1/282):
فَأَمَّا الْعُمْرَةُ مِنَ التَّنْعِيمِ فَإِنَّهُ مَنْ شَاءَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْحَرَمِ ثُمَّ يُحْرِمَ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُجْزِئٌ عَنْهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَلَكِنِ الْفَضْلُ أَنْ يُهِلَّ مِنَ الْمِيقَاتِ الَّذِي وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ مَا هُوَ أَبْعَدُ مِنَ التَّنْعِيمِ.
“Adapun umrah dari Tan‘im, siapa yang ingin keluar dari tanah Haram kemudian berihram, maka hal itu mencukupinya, insyaallah. Akan tetapi, yang lebih utama adalah berihram dari miqat yang telah ditentukan Rasulullah ﷺ, atau dari tempat yang lebih jauh daripada Tan‘im.”
Pendapat Imam asy-Syafi‘i رحمه الله
Imam asy-Syafi‘i berkata dalam al-Umm (2/133):
مِيقَاتُ الْعُمْرَةِ لِمَنْ كَانَ بِمَكَّةَ الْحِلُّ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يُحْرِمَ مِنَ الْجِعْرَانَةِ أَوِ التَّنْعِيمِ.
“Miqat umrah bagi orang yang berada di Makkah adalah tanah halal. Dan yang lebih utama adalah ia berihram dari Ji‘ranah atau Tan‘im.”
Pendapat Ibnu Qudamah رحمه الله
Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni (3/246):
وَأَهْلُ مَكَّةَ إِذَا أَرَادُوا الْعُمْرَةَ فَمِنَ الْحِلِّ، وَإِذَا أَرَادُوا الْحَجَّ فَمِنْ مَكَّةَ… وَإِنْ أَرَادَ الْعُمْرَةَ فَمِنَ الْحِلِّ، لَا نَعْلَمُ فِي هَذَا خِلَافًا، وَلِذَلِكَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ أَنْ يُعْمِرَ عَائِشَةَ مِنَ التَّنْعِيمِ.
“Penduduk Makkah apabila hendak melakukan umrah, maka ihramnya dari tanah halal. Apabila hendak berhaji, maka ihramnya dari Makkah…. Orang yang berada di Makkah, apabila hendak melakukan umrah, maka ihramnya dari tanah halal. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini. Karena itulah Nabi ﷺ memerintahkan Abdurrahman agar membawa Aisyah melakukan umrah dari Tan‘im.”
Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله
Syekh Ibnu Baz pernah ditanya: Apabila seseorang datang ke Makkah untuk berhaji atau umrah, apakah setelah selesai ia boleh melakukan umrah lagi untuk dirinya atau orang lain pada perjalanan yang sama dengan keluar menuju Tan‘im untuk berihram?
Beliau menjawab:
لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ… فَلَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ، لَكِنْ يَأْخُذُهَا مِنَ الْحِلِّ، يَخْرُجُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْحِلِّ، التَّنْعِيمِ أَوِ الْجِعْرَانَةِ أَوْ غَيْرِهِمَا، فَيُحْرِمُ مِنْ هُنَاكَ، ثُمَّ يَدْخُلُ فَيَطُوفُ وَيَسْعَى وَيُقَصِّرُ.
“Tidak mengapa melakukan hal tersebut, alhamdulillah…. Namun, ia harus memulai ihramnya dari tanah halal. Ia keluar dari Makkah menuju tanah halal, seperti Tan‘im, Ji‘ranah, atau tempat lainnya. Kemudian berihram dari sana, masuk kembali ke Makkah, melakukan thawaf, sa‘i dan memendekkan rambut.”
Hal ini berlaku baik umrah tersebut dilakukan untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang telah meninggal, atau orang yang masih hidup tetapi tidak mampu melaksanakan umrah karena usia lanjut dan semisalnya.
Beliau kemudian berdalil dengan kisah Aisyah رضي الله عنها yang melakukan umrah dengan perintah Nabi ﷺ.
Syekh Ibnu Baz menyimpulkan:
فَالْحَاصِلُ: أَنَّهُ لَا حَرَجَ أَنْ يُؤَدِّيَ الْإِنْسَانُ الْحَجَّ عَنْ نَفْسِهِ أَوِ الْعُمْرَةَ عَنْ نَفْسِهِ، ثُمَّ يَعْتَمِرَ لِشَخْصٍ آخَرَ، أَوْ يَعْتَمِرَ عَنْ غَيْرِهِ أَوْ يَحُجَّ عَنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَعْتَمِرَ لِنَفْسِهِ، لَا حَرَجَ فِي ذَلِكَ.
“Kesimpulannya, tidak mengapa seseorang melaksanakan haji atau umrah untuk dirinya sendiri, kemudian melakukan umrah untuk orang lain. Demikian pula ia boleh melakukan umrah atau haji untuk orang lain kemudian melakukan umrah untuk dirinya sendiri. Tidak mengapa dalam hal tersebut.”
Kesimpulan hukum
Dari penjelasan di atas dapat dibedakan antara yang lebih sesuai dengan praktik Sunnah dan yang dibolehkan secara fikih:
1. Yang lebih sesuai dengan praktik Nabi ﷺ: tidak menjadikan keluar-masuk Tan‘im untuk melakukan banyak umrah dalam satu perjalanan sebagai kebiasaan. Nabi ﷺ dan para sahabat tidak biasa melakukannya.
2. Namun menurut jumhur ulama, umrah kedua tetap boleh dan sah, terutama bagi orang yang datang dari tempat yang jauh dan sulit kembali lagi ke Makkah.
3. Apabila seseorang telah selesai umrah untuk dirinya lalu ingin melakukan umrah badal untuk ayahnya yang telah meninggal, ia boleh melakukannya.
4. Karena ia sudah berada di Makkah, ia harus keluar dari batas tanah Haram menuju tanah halal, lalu memulai ihram umrah dari sana.
5. Tidak wajib Tan‘im. Tan‘im hanyalah salah satu lokasi tanah halal. Ji‘ranah atau wilayah halal lainnya juga sah.
6. Tidak wajib mengganti kain ihram yang sebelumnya telah digunakan. Kain ihram tersebut boleh dipakai kembali selama memenuhi ketentuan pakaian ihram. Namun, dianjurkan memakai pakaian yang bersih dan berwarna putih.
Jadi, mengulang umrah dalam satu perjalanan bukan praktik yang biasa dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabat, tetapi jumhur ulama membolehkannya. Adapun bagi orang yang berada di Makkah dan hendak melakukan umrah lagi, ia harus keluar terlebih dahulu ke tanah halal untuk berihram, berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada Aisyah رضي الله عنها.
Wallāhu a‘lam.