Hukum Mengedarkan Kotak Infak Saat Khatib Sedang Berkhutbah Jumat
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya apabila khatib sudah naik mimbar dan mengucapkan salam, tetapi pengurus masjid masih mengedarkan kotak infak atau celengan Jumat kepada jamaah? Mohon penjelasannya berdasarkan dalil dan pendapat para ulama fikih.
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Pada dasarnya, bersedekah dan berinfak untuk kepentingan masjid merupakan amal saleh yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, pelaksanaannya harus memperhatikan waktu dan adab yang telah ditetapkan syariat.
Apabila khatib sudah memulai khutbah Jumat, jamaah diperintahkan untuk diam dan mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh. Karena itu, mengedarkan kotak infak ketika khutbah sedang berlangsung merupakan perbuatan yang sebaiknya dihindari, terutama apabila mengganggu konsentrasi jamaah.
Daftar Isi
1. Dalil tentang kewajiban mendengarkan khutbah
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Ayat ini menunjukkan pentingnya memusatkan perhatian kepada ibadah Jumat dan meninggalkan aktivitas yang dapat menyibukkan seseorang darinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ.
Artinya:
“Apabila engkau mengatakan kepada temanmu pada hari Jumat, ‘Diamlah!’, sedangkan imam sedang berkhutbah, sungguh engkau telah melakukan perbuatan sia-sia.”
(HR. Al-Bukhari, no. 934; Muslim, no. 851, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Hadis ini menunjukkan bahwa bahkan menegur orang lain agar diam dengan ucapan dapat termasuk laghw (perbuatan sia-sia) ketika khutbah sedang berlangsung.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا.
Artinya:
“Barang siapa memainkan kerikil, sungguh ia telah melakukan perbuatan sia-sia.”
(HR. Muslim, no. 857, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian lantai masjid berupa tanah dan kerikil. Hadis ini menunjukkan bahwa menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak diperlukan ketika khutbah, sekalipun hanya memainkan kerikil, bertentangan dengan kesempurnaan adab mendengarkan khutbah.
2. Pendapat para ulama fikih
Pertama: Ulama Mazhab Maliki
Imam Al-Lakhmi menjelaskan dalam kitab At-Tabshirah:
الْإِنْصَاتُ لِلْخُطْبَةِ وَالِاسْتِمَاعُ لَهَا وَاجِبٌ.
Artinya:
“Diam dan mendengarkan khutbah hukumnya wajib.”
Beliau juga menerangkan bahwa seseorang tidak boleh menggerakkan sesuatu yang menimbulkan suara dan mengganggu pendengar khutbah, seperti buku, pakaian, atau benda lainnya.
Rujukan: At-Tabshirah, jilid 2, hlm. 579.
Dengan demikian, mengedarkan kotak infak yang menimbulkan suara atau menyibukkan jamaah dari mendengarkan khutbah bertentangan dengan prinsip yang dijelaskan oleh ulama Maliki tersebut.
Kedua: Ulama Mazhab Hanbali
Imam Al-Buhuti menjelaskan dalam kitab Kasysyaf Al-Qina’:
وَالصَّدَقَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ عِنْدَ دُخُولِهِ أَوْ خُرُوجِهِ أَوْلَى مِنَ الصَّدَقَةِ حَالَ الْخُطْبَةِ.
Artinya:
“Bersedekah di pintu masjid ketika masuk atau keluar lebih utama daripada bersedekah ketika khutbah berlangsung.”
Beliau juga menyatakan:
وَيُكْرَهُ الْعَبَثُ حَالَ الْخُطْبَةِ.
Artinya:
“Dimakruhkan melakukan aktivitas yang sia-sia ketika khutbah berlangsung.”
Rujukan: Kasysyaf Al-Qina’ ‘an Matn Al-Iqna’, jilid 3, hlm. 388.
Menariknya, kitab ini juga menjelaskan bahwa bersedekah ketika khutbah tidak dilarang secara mutlak. Terdapat perincian antara memberikan sedekah kepada orang yang meminta-minta saat khutbah, yang dapat membantu perbuatan terlarang, dan memberikan sedekah kepada orang yang tidak meminta-minta.
Hal ini menunjukkan bahwa sedekah itu sendiri tidak otomatis haram ketika khutbah, tetapi cara pelaksanaannya harus diperhatikan.
Ketiga: Imam Al-Qadhi Abdul Wahhab Al-Maliki
Dalam kitab Al-Isyraf ‘ala Nukat Masa’il Al-Khilaf, beliau menegaskan kewajiban mendengarkan khutbah dan menjelaskan bahwa menyibukkan diri dari mendengarkannya bertentangan dengan tujuan disyariatkannya khutbah.
Beliau juga membedakan antara keadaan ketika khatib baru naik mimbar dan ketika khutbah sudah dimulai. Dalam pendapat Maliki yang beliau jelaskan, berbicara sebelum khutbah dimulai masih diperbolehkan, sedangkan ketika khutbah berlangsung jamaah wajib mendengarkannya.
Rujukan: Al-Isyraf, jilid 1, hlm. 330–331.
3. Bagaimana hukum mengedarkan celengan Jumat?
Dalam masalah ini perlu dibedakan beberapa keadaan.
Keadaan pertama: Khatib baru naik mimbar dan mengucapkan salam, tetapi khutbah belum dimulai.
Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai kapan larangan berbicara mulai berlaku. Karena itu, salam khatib tidak dengan sendirinya menjadikan setiap aktivitas jamaah haram menurut seluruh mazhab.
Meskipun demikian, pengurus masjid sebaiknya sudah menyelesaikan pengumpulan infak sebelum khatib naik mimbar.
Keadaan kedua: Khatib sedang menyampaikan khutbah.
Apabila kotak infak masih diedarkan dari satu jamaah kepada jamaah lainnya, kemudian mereka sibuk mencari uang, membuka dompet, memberikan uang, dan mengoper kotak, aktivitas tersebut berpotensi mengurangi perhatian terhadap khutbah.
Jika sampai mengganggu kewajiban mendengarkan khutbah, maka perbuatan tersebut tidak dibenarkan. Adapun sekadar memasukkan uang tanpa mengganggu pendengaran khutbah tidak otomatis dihukumi haram, sebagaimana perincian dalam kitab Kasysyaf Al-Qina’.
Namun, menjadikan pengedaran kotak infak sebagai kegiatan rutin sepanjang khutbah sebaiknya ditinggalkan.
4. Bagaimana sebaiknya pengurus masjid mengumpulkan infak?
Pengumpulan infak dapat dilakukan sebelum khatib naik mimbar atau setelah salat Jumat selesai.
Pengurus masjid juga dapat menyediakan kotak infak di pintu masuk dan keluar masjid agar jamaah dapat bersedekah tanpa mengganggu khutbah.
Cara tersebut lebih sesuai dengan penjelasan Imam Al-Buhuti dan lebih membantu jamaah menjaga kekhusyukan ibadah Jumat.
Kesimpulan
Mengedarkan kotak infak ketika khatib sedang berkhutbah bukanlah tindakan yang tepat untuk dijadikan kebiasaan. Apabila aktivitas tersebut mengganggu jamaah dalam mendengarkan khutbah, maka harus dihindari. Namun, tidak tepat pula menyatakan bahwa setiap orang yang memasukkan uang ke kotak infak saat khutbah pasti berdosa.
Kepada pengurus masjid, hendaknya persoalan ini disampaikan dengan santun. Tujuannya bukan melarang sedekah, melainkan mengatur waktunya agar dua kebaikan dapat terlaksana: jamaah tetap bersedekah dan tetap mendengarkan khutbah dengan baik.
Adapun bagi jamaah, jika kotak infak datang ketika khutbah berlangsung, tidak ada kewajiban untuk segera memasukkan uang. Sedekah dapat diberikan setelah salat Jumat selesai.
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memuliakan syiar Jumat, menjaga adab ketika khutbah, dan senantiasa bersemangat dalam bersedekah.
والله تعالى أعلم بالصواب.