Renungan Singkat

Mengapa Zikir “Subhanallahi wa Bihamdihi” Menjadi Sebab Pengampunan Dosa Sebanyak Buih di Lautan?

Mengapa Zikir “Subhanallahi wa Bihamdihi” Menjadi Sebab Pengampunan Dosa Sebanyak Buih di Lautan?

Keindahan makna tasbih dan hubungannya dengan ampunan Allah menurut penjelasan Ibnu Hubairah.

Daftar Isi
  1. Penjelasan Indah dari Ibnu Hubairah
  2. Bukti Kemurahan dan Luasnya Rahmat Allah
  3. Penutup

Di antara bentuk kemurahan dan luasnya rahmat Allah Ta‘ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menjadikan amalan yang ringan di lisan sebagai sebab memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa.

Salah satu amalan tersebut adalah membaca:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Subḥānallāhi wa biḥamdih.

“Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

“Barang siapa mengucapkan Subḥānallāhi wa biḥamdih sebanyak seratus kali dalam sehari, niscaya dosa-dosanya akan dihapuskan, meskipun sebanyak buih di lautan.”

(HR. Al-Bukhari, no. 6405; Muslim, no. 2691).

Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan zikir tersebut. Namun, terdapat satu sisi keindahan makna yang patut direnungkan: Mengapa zikir yang berisi penyucian Allah dari segala kekurangan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa seorang hamba?

Penjelasan Indah dari Ibnu Hubairah

Al-Imam Yahya bin Muhammad bin Hubairah rahimahullah menjelaskan hubungan yang sangat indah antara makna tasbih dan pengampunan dosa.

Beliau berkata:

فَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَمِنْ كُلِّ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ.

“Kami telah menjelaskan bahwa kalimat tersebut merupakan penyucian Allah ‘Azza wa Jalla dari segala keburukan dan segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.”

Kemudian beliau menjelaskan bahwa kalimat tersebut menjadi sebab penyucian orang yang mengucapkannya dari dosa-dosa yang melekat pada dirinya.

(Al-Ifshah ‘an Ma‘ani ash-Shihah, jilid 6, hlm. 417).

Penjelasan ini mengandung hubungan makna yang sangat menyentuh.

Ketika seorang hamba mengucapkan Subhanallah, ia sedang menyucikan Allah dari segala kekurangan, keburukan, dan sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

Sementara itu, manusia adalah makhluk yang tidak terlepas dari kekurangan, kesalahan, dan dosa.

Maka, ketika seorang hamba menyucikan Allah dari segala kekurangan yang mustahil bagi-Nya, Allah dengan kemurahan dan rahmat-Nya menjadikan zikir tersebut sebagai sebab untuk membersihkan hamba itu dari dosa-dosa yang melekat pada dirinya.

Seakan-akan terdapat kesesuaian makna yang indah: seorang hamba menyucikan Allah melalui tasbih, lalu Allah menganugerahkan penyucian dari dosa kepada hamba tersebut melalui ampunan-Nya.

Inilah salah satu hikmah yang dijelaskan oleh Ibnu Hubairah. Penjelasan tersebut merupakan perenungan terhadap kesesuaian makna zikir dengan balasannya, sedangkan kepastian pahala dan pengampunannya bersumber dari hadis Rasulullah ﷺ.

Bukti Kemurahan dan Luasnya Rahmat Allah

Keutamaan ini memperlihatkan betapa Allah Ta‘ala Maha Pengampun, Maha Penyayang, Mahamulia, dan Maha Mensyukuri amal hamba-hamba-Nya.

Allah tidak membutuhkan tasbih dan pujian manusia. Namun, dengan kemurahan-Nya, Dia memberikan balasan yang sangat besar atas zikir yang ringan diucapkan.

Hanya dengan mengucapkan beberapa kata sebanyak seratus kali sehari, seorang hamba mendapatkan janji penghapusan dosa, meskipun dosa-dosa kecilnya begitu banyak seperti buih di lautan.

Para ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa melalui amalan semacam ini pada dasarnya berlaku bagi dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar memerlukan tobat yang sungguh-sungguh. Demikian pula, hak manusia yang dilanggar tidak gugur hanya dengan memperbanyak zikir, tetapi harus diselesaikan sesuai ketentuannya.

Karena itu, keutamaan zikir tidak semestinya menjadikan seseorang meremehkan maksiat. Sebaliknya, semakin besar pengetahuan seorang hamba tentang keluasan ampunan Allah, semakin besar pula dorongannya untuk bertobat, bersyukur, dan memperbanyak amal saleh.

Penutup

Sungguh indah hubungan antara makna tasbih dan balasan yang Allah janjikan.

Lisan yang menyucikan Allah dari segala kekurangan menjadi salah satu jalan bagi seorang hamba untuk memperoleh pengampunan atas kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, jangan meremehkan zikir yang ringan diucapkan. Jadikanlah Subḥānallāhi wa biḥamdih sebagai amalan harian, dengan menghadirkan hati, memahami maknanya, dan mengharapkan ampunan Allah Ta‘ala.

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ.

Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Mahasuci Allah Yang Mahaagung.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Rusmin Nuryadin, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button