037. Bab V · Bagian 07/61 — Harun ar-Rasyid
الْبَابُ الْخَامِسُ — الدَّوْلَةُ الْعَبَّاسِيَّةُ
Harun ar-Rasyid
هَارُونُ الرَّشِيدُ — ١٧٠–١٩٣هـ / ٧٨٦–٨٠٨م
Daftar Isi
حَيَاتُهُ وَفَضَائِلُهُ
Kehidupan dan Keutamaannya
هُوَ هَارُونُ الرَّشِيدُ بْنُ الْمَهْدِيِّ، دُرَّةُ التَّاجِ الْعَبَّاسِيِّ، وَيُعْتَبَرُ بِحَقٍّ أَحَدَ عُظَمَاءِ الْمُلُوكِ فِي التَّارِيخِ. وَفِي عَهْدِهِ شَمِلَ الرَّخَاءُ الْإِمْبِرَاطُورِيَّةَ الْإِسْلَامِيَّةَ عَلَى نَحْوٍ لَمْ يَتَوَافَرْ مِنْ قَبْلُ. بَلَغَتِ الدَّوْلَةُ فِي أَيَّامِهِ قِمَّةَ أَوْجِهَا وَعَظَمَتِهَا وَاسْتِقْرَارِهَا، وَاكْتَمَلَتْ لَهَا أَلْوَانُ الْعَظَمَةِ وَالْقُوَّةِ وَالْمَجْدِ الْعِلْمِيِّ، وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ مَهِيبَةَ الْجَانِبِ عَظِيمَةَ الْقَدْرِ.
Ia adalah Harun ar-Rasyid bin al-Mahdi, yang dijuluki penulis sebagai permata mahkota Abbasiyah dan salah satu raja besar dalam sejarah. Pada masanya kemakmuran meliputi wilayah Islam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Negara mencapai puncak kejayaan, kebesaran, dan stabilitas. Berbagai unsur kekuatan serta kemajuan ilmu berpadu; negara disegani dan berkedudukan tinggi.
يَقُولُ السُّيُوطِيُّ: «إِنَّ أَيَّامَ الرَّشِيدِ كَانَتْ كُلُّهَا أَيَّامَ خَيْرٍ، كَأَنَّهَا فِي حُسْنِهَا أَعْرَاسٌ وَأَعْيَادٌ». وَكَانَ شُجَاعًا، قَادَ الْجُيُوشَ إِلَى بِلَادِ الرُّومِ فَأَخْضَعَهُمْ فِي عَهْدِ أَبِيهِ وَهُوَ فِي سِنِّ الْعِشْرِينَ. وَكَانَ تَقِيًّا يَخْشَى اللَّهَ فِي أُمُورِهِ كُلِّهَا. حَجَّ تِسْعَةَ مَوَاسِمَ، فَشَاعَ بَيْنَ النَّاسِ أَنَّهُ يَحُجُّ عَامًا وَيَغْزُو عَامًا. وَكَانَ يَسْتَمِعُ إِلَى الْوُعَّاظِ فَيَبْكِي مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، فَكَانَ مِنْ أَفَاضِلِ الْخُلَفَاءِ وَفُصَحَائِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ وَكُرَمَائِهِمْ.
As-Suyuthi berkata, “Hari-hari ar-Rasyid seluruhnya adalah hari-hari kebaikan, seakan-akan keindahannya merupakan pesta pernikahan dan hari raya.” Ia pemberani. Pada masa ayahnya, ketika berusia dua puluh tahun, ia memimpin pasukan dan menundukkan Romawi. Ia bertakwa dan takut kepada Allah dalam urusannya. Ia berhaji sembilan kali sehingga beredar ungkapan bahwa ia berhaji setahun dan berperang setahun. Ia mendengarkan para pemberi nasihat lalu menangis karena takut kepada Allah. Penulis menempatkannya di antara khalifah yang utama, fasih, berilmu, dan dermawan.
وَمِنْ فَضَائِلِهِ رِعَايَتُهُ لِلْعِلْمِ وَتَأْسِيسُهُ بَيْتَ الْحِكْمَةِ، ذَلِكَ الْمَعْهَدَ الَّذِي كَانَ الْمَنَارَ لِلثَّقَافَةِ وَالْفِكْرِ فِي الْعَالَمِ آنَذَاكَ، وَالَّذِي انْبَعَثَتْ مِنْهُ الشُّعْلَةُ الَّتِي أَضَاءَتِ الطَّرِيقَ لِلنَّهْضَةِ الْأُورُوبِّيَّةِ فِيمَا بَعْدُ.
Keutamaannya juga mencakup pemeliharaan ilmu dan pendirian Baitulhikmah. Penulis menggambarkan lembaga itu sebagai mercusuar kebudayaan dan pemikiran dunia saat itu, yang memancarkan cahaya bagi jalan kebangkitan Eropa kemudian.
وَقَدْ أُشِيعَتِ الشَّائِعَاتُ الْمُغْرِضَةُ الْبَاطِلَةُ حَوْلَ الرَّشِيدِ، وَوُجِّهَتْ لَهُ التُّهَمُ بِصِفَتِهِ أَعْظَمَ خُلَفَاءِ بَنِي الْعَبَّاسِ، فَأَشَاعُوا عَنْ لَهْوِهِ وَكَأْسِهِ وَعِرْضِهِ.
Penulis menyatakan bahwa ar-Rasyid menjadi sasaran kabar tendensius dan palsu karena kedudukannya sebagai khalifah Abbasiyah paling agung. Mereka menyebarkan tuduhan tentang hiburannya, minumannya, dan kehormatannya.
الْأَحْدَاثُ
Peristiwa pada Masanya
كَانَ عَهْدُهُ هَادِئًا مُسْتَقِرًّا، فَلَمْ تَقُمْ أَيُّ أَحْدَاثٍ بَارِزَةٍ.
Penulis menggambarkan masanya sebagai masa yang tenang dan stabil, tanpa peristiwa besar yang menonjol.
ثَوْرَةُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، مِنْ ذُرِّيَّةِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ: ثَارَ فِي بِلَادِ الدَّيْلَمِ وَأَخْضَعَ بَعْضَ الْأَقَالِيمِ سَنَةَ ١٧٦هـ / ٧٩٢م، فَقَضَى عَلَيْهِ الرَّشِيدُ سَنَةَ ١٨٠هـ / ٧٩٦م.
Yahya bin Abdullah, keturunan Hasan bin Ali, memberontak di Dailam dan menguasai beberapa daerah pada 176 H/792 M. Ar-Rasyid menumpasnya pada 180 H/796 M.
هَبَّتْ لِلْخَوَارِجِ عَاصِفَةٌ قَوِيَّةٌ فِي عَهْدِ الرَّشِيدِ، كَانَ يَقُودُهَا رَجُلٌ ذُو بَأْسٍ شَدِيدٍ هُوَ الْوَلِيدُ بْنُ طَرِيفٍ الشَّارِيُّ. وَقَامَتْ ثَوْرَتُهُ سَنَةَ ١٧٨هـ فِي الْجَزِيرَةِ، وَاسْتَطَاعَتْ جُيُوشُ الْخِلَافَةِ الْقَضَاءَ عَلَيْهِ بَعْدَ جُهْدٍ جَهِيدٍ.
Khawarij mengobarkan gerakan kuat pada masa ar-Rasyid, dipimpin al-Walid bin Tharif asy-Syari, seorang tokoh yang sangat tangguh. Pemberontakannya dimulai di Jazirah pada 178 H. Pasukan khalifah berhasil menumpasnya setelah usaha berat.
تَغَلَّبَ الزَّنَادِقَةُ عَلَى جُرْجَانَ وَعَاثُوا فِيهَا بِالْفَسَادِ، فَقُضِيَ عَلَيْهِمْ سَنَةَ ١٨١هـ / ٧٩٧م.
Kaum zindik menguasai Jurjan dan membuat kerusakan di sana. Mereka ditumpas pada 181 H/797 M.
نَكْبَةُ الْبَرَامِكَةِ: وَهُمْ مِنْ أَصْلٍ فَارِسِيٍّ مَجُوسِيٍّ، وَكَانَ لَهُمْ نُفُوذٌ كَبِيرٌ وَسَيْطَرَةٌ وَاسِعَةٌ أَيَّامَ الرَّشِيدِ، حَيْثُ جَعَلَهُمْ أُمَرَاءَ وَوُزَرَاءَ فَتَحَكَّمُوا بِالدَّوْلَةِ وَمُقَدَّرَاتِهَا. ثُمَّ قَضَى عَلَيْهِمُ الرَّشِيدُ وَأَنْهَى وُجُودَهُمْ سَنَةَ ١٨٧هـ / ٨٠٢م لِأَسْبَابٍ غَيْرِ وَاضِحَةٍ، وَاخْتَلَفَ الْمُؤَرِّخُونَ كَثِيرًا فِي تِلْكَ الْأَسْبَابِ.
Kejatuhan keluarga Barmak: keluarga ini berasal dari Persia Majusi. Mereka berpengaruh besar pada masa ar-Rasyid, yang mengangkat mereka sebagai pemimpin dan menteri sehingga mengendalikan negara dan sumber dayanya. Ar-Rasyid kemudian menyingkirkan mereka pada 187 H/802 M karena sebab yang tidak jelas dan banyak diperselisihkan para sejarawan.
قَامَتْ ثَوْرَةٌ عَنِيفَةٌ فِي خُرَاسَانَ قَادَهَا رَافِعُ بْنُ لَيْثِ بْنِ نَصْرِ بْنِ سَيَّارٍ نَتِيجَةَ اسْتِبْدَادِ وَتَعَسُّفِ وَالِي خُرَاسَانَ. فَعَزَلَ الرَّشِيدُ هَذَا الْوَالِيَ وَحَبَسَهُ، وَلَكِنَّ الثَّوْرَةَ اسْتَمَرَّتْ، وَقَدِ اسْتَمَرَّ رَافِعٌ فِي سُلْطَانِهِ حَتَّى خَضَعَ لِلْمَأْمُونِ.
Di Khurasan terjadi pemberontakan besar di bawah Rafi‘ bin Laits bin Nashr bin Sayyar akibat kesewenang-wenangan gubernur. Ar-Rasyid memberhentikan dan memenjarakan gubernur itu, tetapi pemberontakan berlanjut. Rafi‘ tetap berkuasa hingga tunduk kepada al-Ma’mun.
فَتْحُ هِرَقْلَةَ
Penaklukan Herakleia
كَانَ الْغَزْوُ فِي بِلَادِ الرُّومِ لَا يَنْقَطِعُ، وَيَقُودُهُ الرَّشِيدُ بِنَفْسِهِ أَحْيَانًا. وَفِي عَامِ ١٨٧هـ / ٨٠٢م نَقَضَ الرُّومُ بَعْدَ أَنْ وَلَّوْا عَلَيْهِمْ نِقْفُورَ الَّذِي كَتَبَ إِلَى الرَّشِيدِ: «مِنْ نِقْفُورَ مَلِكِ الرُّومِ إِلَى هَارُونَ مَلِكِ الْعَرَبِ: إِذَا قَرَأْتَ كِتَابِي هَذَا فَارْدُدْ إِلَيَّ مَا حُمِلَ إِلَيْكَ مِنَ الْأَمْوَالِ وَافْتَدِ نَفْسَكَ، وَإِلَّا فَالسَّيْفُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ».
Ekspedisi ke Romawi terus berlangsung dan kadang dipimpin sendiri oleh ar-Rasyid. Pada 187 H/802 M, Romawi melanggar perjanjian setelah mengangkat Nikephoros. Ia menulis kepada ar-Rasyid: “Dari Nikephoros, raja Romawi, kepada Harun, raja Arab. Setelah membaca suratku, kembalikan harta yang telah dikirim kepadamu dan tebuslah dirimu. Jika tidak, pedanglah yang memutuskan antara kami dan engkau.”
فَغَضِبَ الرَّشِيدُ غَضَبًا شَدِيدًا وَكَتَبَ إِلَيْهِ: «مِنْ هَارُونَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى نِقْفُورَ كَلْبِ الرُّومِ: قَرَأْتُ كِتَابَكَ يَا ابْنَ الْكَافِرَةِ، وَالْجَوَابُ مَا تَرَاهُ دُونَ مَا تَسْمَعُهُ». وَسَارَ إِلَيْهِ عَلَى جَيْشٍ كَبِيرٍ حَتَّى دَخَلَ الْعَاصِمَةَ، هِرَقْلَةَ، وَانْتَصَرَ عَلَيْهِمْ وَأَسَرَ ابْنَةَ مَلِكِهِمْ وَغَنِمَ الْكَثِيرَ وَفَرَضَ عَلَيْهِمُ الْجِزْيَةَ. وَنَقَضَ أَهْلُ قُبْرُصَ فَأَخْضَعَهُمْ.
Ar-Rasyid sangat marah dan membalas: “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, anjing Romawi. Aku telah membaca suratmu, wahai putra perempuan kafir. Jawabannya ialah apa yang akan engkau lihat, bukan yang engkau dengar.” Ia berangkat dengan pasukan besar hingga memasuki Herakleia, yang disebut buku sebagai ibu kota. Ia menang, menawan putri raja, memperoleh banyak rampasan, dan membebankan jizyah. Penduduk Siprus melanggar perjanjian dan kembali ditundukkannya.
وِلَايَةُ الْعَهْدِ وَوَفَاتُهُ
Penunjukan Penerus dan Wafatnya
عَهِدَ مِنْ بَعْدِهِ لِوَلَدَيْهِ الْأَمِينِ ثُمَّ الْمَأْمُونِ، وَكَانَ ذَلِكَ بَابَ فِتْنَةٍ هَوْجَاءَ هَبَّتْ عَقِبَ وَفَاتِهِ بَيْنَ الْأَخَوَيْنِ فَأَكَلَتِ الْآلَافَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ. وَتُوُفِّيَ الرَّشِيدُ عَامَ ١٩٣هـ / ٨٠٨م، وَدَامَ حُكْمُهُ ثَلَاثَةً وَعِشْرِينَ عَامًا.
Ia menunjuk dua putranya, al-Amin kemudian al-Ma’mun, sebagai penerus. Penunjukan itu menjadi pintu fitnah besar antara kedua saudara setelah ia wafat dan menelan ribuan korban Muslim. Ar-Rasyid wafat pada 193 H/808 M setelah memerintah dua puluh tiga tahun.
Catatan Kaki Sumber
-
أَحْمَدُ شَلَبِيٍّ، التَّارِيخُ الْإِسْلَامِيُّ، ج ٣، ص ١٤٦.
Ahmad Syalabi, At-Tarikh al-Islami, jilid 3, halaman 146. Catatan nomor 2 pada halaman 186, setelah uraian Baitulhikmah.
Sumber: Ahmad Ma‘mur al-‘Asiri, مُوجَزُ التَّارِيخِ الْإِسْلَامِيِّ, halaman kitab 186–188. Harakat ditambahkan dan susunan baris OCR dirapikan. Angka, kronologi, dan penilaian sejarah mengikuti teks sumber, dengan atribusi kepada penulis; belum seluruhnya diverifikasi secara eksternal. Penambahan penjelasan atas perbedaan angka dinyatakan secara terbuka.