Gangguan yang dialami Rasulullah ﷺ bukanlah hal kecil atau hanya datang dari kelompok tertentu. Bahkan, gangguan itu datang dari orang-orang terdekat beliau. Pamannya, Abu Lahab, mengikuti beliau ketika pergi ke tempat berkumpul dan pasar untuk mengajak orang-orang kepada Islam. Abu Lahab mendustakan beliau dan melarang orang-orang membenarkannya. Istrinya, Ummu Jamil, mengumpulkan kayu bakar dan duri, lalu meletakkannya di jalan yang dilalui Nabi ﷺ. Beliau tetap bersabar menghadapi gangguan mereka.
Gangguan itu mencapai puncaknya ketika beliau ﷺ bersama para sahabat dikurung selama tiga tahun di lembah Abu Thalib. Karena sangat lapar, mereka sampai memakan daun-daun pohon. Setelah itu, kesedihan demi kesedihan menimpa beliau: istrinya, Khadijah, yang menghibur dan membantunya wafat; kemudian pamannya, yang melindungi dan membelanya, juga meninggal. Kesedihan beliau bertambah karena pamannya meninggal dalam keadaan kafir.
Ketika gangguan kaumnya mencapai puncak, beliau berhijrah setelah beberapa kali mereka berusaha membunuhnya. Di Madinah, Rasulullah ﷺ memulai masa baru yang dipenuhi kesabaran, pengorbanan, kerja keras, dan kesulitan. Beliau pernah kelaparan dan hidup kekurangan, sampai mengikat batu pada perutnya karena lapar. Beliau ﷺ bersabda, “Aku pernah dibuat takut karena Allah, sementara tidak ada seorang pun yang merasa takut terhadapku. Aku pernah disakiti karena Allah, sementara tidak ada seorang pun yang disakiti. Tiga puluh hari dan malam pernah berlalu, sedangkan aku dan Bilal tidak memiliki makanan yang dapat dimakan makhluk bernyawa, kecuali sesuatu yang dapat disembunyikan di ketiak Bilal.”