Ibnu Rajab berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kaum muslimin terguncang. Sebagian terkejut hingga pikirannya kacau, sebagian duduk dan tidak mampu berdiri, sebagian lidahnya kelu sehingga tidak mampu berbicara, dan sebagian lainnya sepenuhnya mengingkari bahwa beliau telah wafat.”
Ketika kabar itu sampai kepadanya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang menemui Rasulullah ﷺ yang diselimuti di salah satu sisi rumah. Ia membuka wajah beliau, lalu mencium beliau dan menutup kembali wajahnya. Ia keluar ketika Umar sedang berbicara kepada orang-orang. Abu Bakar berkata, “Tenanglah, wahai Umar. Dengarkan!” Namun Umar tetap ingin berbicara. Abu Bakar lalu menghadap orang-orang, memuji Allah, kemudian berkata, “Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.” Kemudian ia membaca firman Allah Ta‘ala, “Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)
Orang-orang pun menjadi tenang. Umar berkata, “Demi Allah, ketika aku mendengar Abu Bakar membaca ayat itu, kedua kakiku seakan-akan lumpuh hingga aku tersungkur ke tanah. Aku sadar bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat.” Rasulullah ﷺ kemudian dimandikan, dikafani, dan dimakamkan di kamar istrinya, Aisyah. Setelah beliau wafat, kaum muslimin sepakat memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah. Ia menjadi khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin.