Seorang Arab Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab, “Tidaklah beliau memerintahkan sesuatu, melainkan akal berkata, ‘Andai saja beliau melarangnya.’ Dan tidaklah beliau melarang sesuatu, melainkan akal berkata, ‘Andai saja beliau memerintahkannya.’”
Siapa pun yang menelaah dakwah Nabi kita Muhammad ﷺ akan mendapati kebenarannya terang dan jelas. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang keras kepala. Nabi yang ummi, tidak membaca dan tidak menulis, berubah menjadi pengajar umat manusia, mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.
Di antara bukti kebenaran para nabi dan rasul adalah pertolongan dan dukungan Allah kepada mereka. Tidak mungkin seseorang mengaku diutus oleh Allah padahal ia berdusta, lalu Allah mendukung dan menolongnya serta mengirim para malaikat untuk menguatkan dan melindunginya, tanpa menghukumnya, menyingkap kebohongannya, mempermalukannya, atau menjadikannya pelajaran bagi orang lain. Keadaan Musailimah si Pendusta, Al-Aswad Al-Ansi, dan Dajjal menjadi contoh kebalikannya.
Kesaksian kaumnya juga menjadi bukti. Sebelum diangkat menjadi nabi, kaum musyrik telah menjuluki beliau ﷺ “orang yang jujur dan terpercaya”. Mereka bahkan menitipkan barang-barang mereka kepadanya karena mengetahui amanah dan mempercayainya. Sikap zuhud para rasul terhadap kesenangan dan perhiasan dunia yang fana juga menunjukkan kebenaran mereka: mereka tidak meminta upah dari manusia. Nabi kita ﷺ adalah orang yang paling zuhud. Beliau hidup sederhana, menginfakkan segala yang datang kepadanya, dan tidak menyimpan apa pun untuk dirinya.