Bagian 134: Musailimah si Pendusta
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 134
Musailimah si Pendusta
Musailimah mengaku sebagai nabi ketika Rasulullah ﷺ masih hidup. Saat Perang Riddah berkobar, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengirim Khalid bin Walid bersama sepuluh ribu pasukan untuk menghadapinya. Musailimah memiliki empat puluh ribu pasukan. Pertempuran pun pecah. Bani Hanifah menyerang hingga mencapai tenda Khalid bin Walid. Khalid menyeru kaum muslimin dan mendorong mereka berperang. Kaum muslimin bertempur dengan gagah berani. Khalid dan pasukannya menyerang perkemahan Musailimah, sehingga Musailimah dan Bani Hanifah melarikan diri dan berlindung di sebuah kebun. Mereka menutup pintu kebun, dan kaum muslimin kebingungan menghadapi keadaan itu.
Al-Bara bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seorang pemberani dan tangkas, berkata, “Wahai kaum muslimin, lemparkanlah aku ke tengah mereka di dalam kebun!” Ia terus mendesak mereka, lalu mereka melemparkannya ke dalam kebun. Dengan dua pedang di tangannya, ia bertempur hingga berhasil membukakan pintu bagi kaum muslimin. Mereka memasuki kebun dan terjadilah pertempuran dahsyat. Kaum murtad bertempur mati-matian. Wahsyi mencari Musailimah dan ketika melihatnya, ia melemparkan tombaknya. Tombak itu menembus jantung Musailimah dan keluar dari punggungnya. Pada saat yang sama, Abu Dujanah—sahabat yang terkenal sebagai pahlawan dengan ikat kepala merah—memukul kepala Musailimah dengan pedangnya. Keduanya bersama-sama membunuhnya. Bani Hanifah pun runtuh dan melarikan diri. Pada hari itu seribu kaum muslimin terbunuh sebagai syahid, sedangkan lima belas ribu orang murtad tewas.