Nabi ﷺ mengutus Al-Harits bin Umair membawa surat kepada penguasa Busra. Di tengah perjalanan, ia dihadang dan dibunuh oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, pejabat Kaisar di wilayah Balqa. Membunuh utusan termasuk kejahatan yang sangat berat, bahkan setara dengan deklarasi perang. Peristiwa itu sangat menyedihkan Rasulullah ﷺ. Beliau menyiapkan pasukan berjumlah tiga ribu orang dan mengirimnya menuju Mu’tah, sebuah desa di wilayah Syam.
Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima. Beliau bersabda, “Jika Zaid terbunuh, Ja‘far yang menggantikannya; jika Ja‘far terbunuh, Abdullah bin Rawahah yang menggantikannya.” Beliau berpesan kepada mereka, “Berperanglah dengan nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan mengambil harta rampasan sebelum dibagikan, jangan mencincang tubuh, jangan membunuh anak-anak, dan jangan membunuh para penghuni biara.”
Pasukan berangkat. Ketika mendekati Syam, mereka mendapat kabar bahwa Heraklius telah mengumpulkan dua ratus ribu pasukan. Mereka bermusyawarah. Sebagian berkata, “Kita kirim surat kepada Nabi ﷺ; beliau bisa mengirim bala bantuan atau memberi perintah yang akan kita laksanakan.” Sebagian lain berkata, “Kita telah memasuki wilayah mereka dan membuat penduduknya takut. Mari kita pulang, sebab tidak ada yang lebih baik daripada keselamatan.” Abdullah bin Rawahah berkata, “Wahai kaumku, demi Allah, justru hal yang kalian tidak sukai itulah tujuan kalian berangkat: mencari syahid. Kita tidak memerangi manusia dengan jumlah, perlengkapan, atau banyaknya pasukan. Kita memerangi mereka dengan agama yang Allah muliakan bagi kita. Teruslah berangkat! Hanya ada satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid.” Semua menyambut seruannya, lalu pasukan berangkat.