Setelah Perang Ahzab, Amr bin Ash mengumpulkan beberapa orang temannya dan menyarankan agar mereka pergi menemui Najasyi, sambil menunggu perkembangan keadaan kaum muslimin. Jika kaum muslimin menang atas Quraisy, mereka akan tinggal di Habasyah selama sisa hidup mereka. Jika Quraisy mengalahkan kaum muslimin, mereka akan kembali ke negeri sendiri. Teman-temannya menyetujui pendapat itu dan bersiap untuk berangkat.
Ketika mereka berada di Habasyah, Amr bin Umayyah Adh-Dhamri datang menemui Najasyi untuk mencari Ja‘far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabatnya. Amr bin Ash menganggap kedatangannya sebagai kesempatan untuk membunuhnya. Ia menghadap Najasyi dan meminta agar diserahkan Amr bin Umayyah. Najasyi sangat marah, mengulurkan tangan, lalu memukul hidung Amr hingga nyaris mematahkannya. Amr berkata, “Wahai Raja, demi Allah, seandainya aku tahu engkau akan memuliakannya, aku tidak akan memintanya.” Najasyi menjawab, “Apakah engkau memintaku menyerahkan utusan dari seorang lelaki yang didatangi wahyu terbesar yang dahulu datang kepada Musa, agar engkau membunuhnya?” Amr terkejut dan bertanya, “Wahai Raja, apakah memang demikian?” Najasyi menjawab, “Celaka engkau, wahai Amr! Taati dan ikutilah dia. Demi Allah, ia berada di atas kebenaran dan pasti akan menang atas orang-orang yang menentangnya, sebagaimana Musa menang atas Fir‘aun dan bala tentaranya.”
Setelah itu Allah melapangkan dada Amr bin Ash untuk menerima Islam. Ia meminta Najasyi membaiatnya atas Islam, dan Najasyi pun membaiatnya. Amr bin Ash merahasiakan keislamannya dari teman-temannya lalu kembali ke Makkah.