Aqidah Nabi Muhammad ﷺ dan Penjagaan Beliau terhadap Tauhid

Aqidah Nabi Muhammad ﷺ dan Penjagaan Beliau terhadap Tauhid
Aqidah yang dibawa dan diajarkan Nabi Muhammad ﷺ berporos pada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan memurnikan seluruh bentuk penghambaan hanya kepada-Nya. Tauhid merupakan perkara paling agung yang dibawa Rasulullah ﷺ dan menjadi fondasi seluruh ajaran Islam. Seluruh nabi dan rasul membawa prinsip yang sama: menyeru manusia agar hanya beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Allah Ta‘ala berfirman:
«﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, mendirikan salat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)»
Karena itu, perhatian Rasulullah ﷺ terhadap aqidah tidak terbatas pada mengajarkan tauhid. Beliau juga menutup seluruh pintu yang dapat mengantarkan kepada syirik atau merusak kesempurnaan tauhid.
1. Melarang Ghuluw dalam Agama
Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya dari sikap ghuluw, yaitu melampaui batas yang telah ditetapkan syariat, termasuk berlebihan dalam mengagungkan orang-orang saleh.
Beliau ﷺ bersabda:
««يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ؛ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»
“Wahai manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”»
Takhrij: HR. An-Nasa’i dalam Sunan an-Nasa’i, no. 3057; Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah, no. 3029; dan Ahmad dalam al-Musnad, no. 3248, dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما. Hadis ini sahih.
Larangan ini sangat penting dalam menjaga aqidah, sebab di antara jalan yang mengantarkan umat terdahulu kepada penyimpangan adalah sikap berlebihan terhadap orang-orang saleh.
2. Melarang Ghuluw terhadap Diri Rasulullah ﷺ
Bahkan terhadap diri beliau sendiri, Rasulullah ﷺ melarang umatnya memberikan pujian yang melampaui kedudukan yang Allah berikan kepada beliau.
Beliau ﷺ bersabda:
««لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”»
Takhrij: HR. Al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīts al-Anbiyā’, Bāb Qaulillāh: Ważkur fil-Kitābi Maryam, no. 3445, dari Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه.
Hadis ini menunjukkan keseimbangan aqidah Islam terhadap Rasulullah ﷺ. Kita wajib mencintai, memuliakan, menaati, dan mengikuti beliau, tetapi tidak boleh mengangkat beliau kepada derajat yang menjadi kekhususan Allah.
Beliau adalah:
«عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Hamba Allah dan utusan-Nya.”»
3. Menjaga Pengagungan Hanya kepada Allah
Di antara bentuk penjagaan Nabi ﷺ terhadap tauhid adalah melarang bersumpah dengan selain Allah.
Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
««مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ»
“Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh ia telah melakukan kekufuran atau kesyirikan.”»
Takhrij: HR. Abu Dawud, no. 3251; At-Tirmidzi, no. 1535; dan Ahmad, no. 6072. At-Tirmidzi berkata: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ» (hadis ini hasan), dan dinilai sahih oleh Al-Albani.
Hal ini menunjukkan bahwa tauhid tidak berhenti pada keyakinan dalam hati. Tauhid juga tercermin dalam ucapan, pengagungan, tawakal, rasa takut, harapan, doa, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.
4. Melarang Perdukunan dan Ramalan
Nabi ﷺ juga menjaga aqidah umat dengan sangat tegas dari perdukunan, ramalan, dan klaim mengetahui perkara gaib.
Beliau ﷺ bersabda:
««مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Barang siapa mendatangi seorang peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, salatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”»
Takhrij: HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb as-Salām, Bāb Taḥrīm al-Kahānah wa Ityān al-Kuhhān, no. 2230, dari sebagian istri Nabi ﷺ.
Larangan ini berkaitan erat dengan tauhid karena pengetahuan tentang perkara gaib pada asalnya merupakan kekhususan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
«﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)»
Karena itu, seorang Muslim wajib menjaga aqidahnya dari dukun, paranormal, peramal nasib, ramalan zodiak, maupun klaim-klaim mengetahui masa depan yang tidak didasarkan kepada wahyu.
5. Menutup Jalan Pengkultusan Kuburan
Rasulullah ﷺ juga menutup jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada pengagungan kuburan secara berlebihan. Bahkan beliau secara khusus memperingatkan umatnya mengenai kuburan beliau sendiri.
Beliau ﷺ bersabda:
««لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ»
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘id (tempat yang didatangi secara berulang untuk perayaan/ritual tertentu). Bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”»
Takhrij: HR. Abu Dawud dalam Sunan Abī Dāwūd, no. 2042, dan Ahmad dalam al-Musnad, no. 8790, dari Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanadnya dinilai hasan, dan hadis ini sahih dengan berbagai jalur dan penguatnya.
Jika terhadap kuburan Rasulullah ﷺ saja diberikan batasan sedemikian rupa, maka terlebih lagi terhadap kuburan manusia selain beliau. Ini menunjukkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam menjaga umat dari segala jalan yang dapat mengantarkan kepada ghuluw dan syirik.
6. Melarang Jimat dan Ketergantungan kepada Selain Allah
Nabi ﷺ juga melarang tamimah, yaitu benda-benda yang digantungkan dengan keyakinan dapat menolak bala, penyakit, ‘ain, atau mendatangkan keselamatan.
Dari Uqbah bin Amir al-Juhani رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
««مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barang siapa menggantungkan tamimah (jimat), maka sungguh ia telah berbuat syirik.”»
Takhrij: HR. Ahmad dalam al-Musnad, no. 17422; Al-Harits bin Abi Usamah, no. 563; dan Al-Hakim, no. 7513, dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه. Syaikh Syu‘aib al-Arnauth menilai sanad Ahmad: «إِسْنَادُهُ قَوِيٌّ» (sanadnya kuat), dan Al-Albani mensahihkannya dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘, no. 6394.
Larangan ini mendidik seorang Muslim agar hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada benda, gelang, kalung, tulisan, simbol, atau sesuatu yang tidak Allah tetapkan sebagai sebab.
Inti Aqidah Nabi ﷺ
Dari petunjuk-petunjuk Nabi ﷺ tersebut dapat disimpulkan bahwa aqidah yang beliau ajarkan berdiri di atas pemurnian tauhid kepada Allah.
Seorang Muslim beribadah hanya kepada Allah; berdoa hanya kepada-Nya; bertawakal kepada-Nya; menggantungkan harapan dan rasa takut ibadah kepada-Nya; serta meyakini bahwa manfaat dan mudarat berada di tangan Allah.
Pada saat yang sama, seorang Muslim menempatkan Rasulullah ﷺ sesuai kedudukan yang Allah berikan kepada beliau: hamba Allah dan Rasul-Nya, manusia terbaik, penutup para nabi, yang wajib dicintai, ditaati dan diikuti, tetapi tidak diberikan satu pun kekhususan rububiyah atau uluhiyah.
Karena itu, Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan apa yang harus diyakini, tetapi juga menjelaskan apa yang dapat merusak aqidah. Beliau memperingatkan umat dari syirik, ghuluw, perdukunan, ramalan, jimat, bersumpah dengan selain Allah, serta berbagai jalan yang dapat mengantarkan kepada pengkultusan makhluk.
Maka, Aqidah Nabi Muhammad ﷺ adalah aqidah tauhid yang murni. Tauhid merupakan fondasi dakwah beliau sejak awal hingga akhir kehidupan beliau.
Beliau ﷺ mengajarkan tauhid, mendakwahkannya, mendidik para sahabat di atasnya, serta menjaga batas-batasnya. Karena itu, mengikuti aqidah Nabi ﷺ tidak cukup hanya dengan mengetahui tauhid, tetapi juga dengan memelihara tauhid dan menjauhi segala perkara yang membatalkan, merusak, atau mengurangi kesempurnaannya.
Dengan demikian, salah satu gambaran paling jelas tentang manhaj Nabi ﷺ dalam aqidah adalah:
تَعْلِيمُ التَّوْحِيدِ، وَالدَّعْوَةُ إِلَيْهِ، وَحِمَايَةُ جَنَابِهِ، وَسَدُّ كُلِّ طَرِيقٍ يُفْضِي إِلَى الشِّرْكِ.
“Mengajarkan tauhid, menyeru kepadanya, menjaga kemurniannya, dan menutup setiap jalan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan.”



