Bagian 90: Kisah Abu Sufyan bersama Heraklius
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 90
Kisah Abu Sufyan bersama Heraklius
Abu Sufyan berkata, “Aku berada di Syam bersama rombongan Quraisy—saat itu Abu Sufyan belum masuk Islam. Heraklius mengundang kami ke majelisnya, lalu meminta penerjemah dan bertanya, ‘Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku sebagai nabi ini?’ Aku menjawab, ‘Aku.’ Ia mendekatkanku dan menempatkan teman-temanku di belakangku. Kemudian ia berkata, ‘Aku akan bertanya kepadanya tentang orang itu. Jika ia berdusta kepadaku, sangkallah dia.’”
Kemudian ia bertanya kepadaku, “Bagaimana nasabnya di antara kalian?” Kujawab, “Ia berasal dari keluarga terpandang.” Ia bertanya, “Adakah di antara kalian yang pernah mengatakan hal seperti ini sebelumnya?” Kujawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Adakah di antara nenek moyangnya yang pernah menjadi raja?” Kujawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Siapa yang mengikutinya, orang-orang terpandang atau orang-orang lemah?” Kujawab, “Orang-orang lemah.” Ia bertanya, “Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?” Kujawab, “Bertambah.” Ia bertanya, “Adakah di antara mereka yang murtad karena tidak menyukai agamanya setelah memeluknya?” Kujawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Sebelum menyampaikan apa yang ia sampaikan sekarang, apakah kalian pernah menuduhnya berdusta?” Kujawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Apakah ia berkhianat?” Kujawab, “Tidak. Namun, sekarang kami sedang terikat perjanjian dengannya dan kami tidak tahu apa yang akan ia lakukan dalam masa itu.”
Heraklius bertanya, “Apakah kalian pernah memeranginya?” Kujawab, “Ya.” Ia bertanya, “Bagaimana peperangan kalian dengannya?” Kujawab, “Perang antara kami dan dia berlangsung silih berganti; kadang ia mengalahkan kami dan kadang kami mengalahkannya.” Ia bertanya, “Apa yang ia perintahkan kepada kalian?” Kujawab, “Ia berkata, ‘Sembahlah Allah semata, jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan tinggalkanlah ajaran nenek moyang kalian.’ Ia juga memerintahkan kami untuk salat, berkata jujur, menjaga kehormatan diri, dan menyambung silaturahmi.”
Heraklius berkata, “Jika yang engkau katakan benar, ia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak ini. Aku telah mengetahui bahwa seorang nabi akan muncul, tetapi aku tidak menyangka ia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu dapat bertemu dengannya, tentu aku akan bersusah payah menemuinya. Jika aku berada di hadapannya, niscaya aku akan membasuh kedua kakinya.”