Setelah selesai salat Subuh pada hari setelah Perang Uhud, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal menyerukan kepada orang-orang, “Rasulullah ﷺ memerintahkan kalian berangkat mengejar musuh. Jangan ikut keluar selain orang-orang yang kemarin turut berperang.”
Sa‘d bin Mu‘adz berangkat dan memerintahkan kaumnya ikut keluar, meskipun banyak dari mereka mengalami luka. Mereka menyambut perintah itu dan segera bersiap. Ketika Usaid bin Hudhair mendengar seruan tersebut—padahal ia memiliki tujuh luka dan hendak mengobatinya—ia berkata, “Kami mendengar dan menaati,” lalu meninggalkan perawatan lukanya.
Ketika ‘Abdullah bin Sahl dan Rafi‘ bin Sahl bin ‘Abdul Asyhal mendengar seruan Rasulullah ﷺ, salah seorang berkata kepada temannya, “Demi Allah, sungguh rugi jika kita tidak ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. Padahal kita tidak memiliki kendaraan.” Dengan luka-luka mereka, keduanya merangkak keluar. Ketika Rafi‘ melemah, ‘Abdullah menggendongnya di punggung untuk beberapa waktu, lalu membiarkannya berjalan sendiri. Mereka akhirnya sampai kepada Rasulullah ﷺ pada waktu Isya. Beliau mendoakan kebaikan bagi keduanya.
Rasulullah ﷺ sendiri berangkat dalam keadaan terluka. Wajah beliau masih menunjukkan bekas luka dari dua mata rantai, dahi beliau terluka, gigi seri beliau patah, bagian dalam bibir beliau terluka, bahu kanan beliau melemah akibat pukulan Ibnu Qami’ah, dan kedua lutut beliau lecet. Abu Qatadah menyeru Bani Salimah ketika mereka sedang merawat luka. Mereka segera bangkit mengambil senjata. Empat puluh orang yang terluka ikut berangkat. Di antara mereka, Ath-Thufail bin An-Nu‘man memiliki tiga belas luka, Khirasy bin Ash-Shimmah sepuluh luka, Ka‘b bin Malik lebih dari sepuluh luka, dan Quthbah bin ‘Amir sembilan luka.