Durūs min as-Sīrah

Bagian 120: Peristiwa-Peristiwa Keimanan

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 120

مَوَاقِفُ إِيمَانِيَّةٌ

Peristiwa-Peristiwa Keimanan

تَخَلَّفَ أَبُو خَيْثَمَةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنِ الذَّهَابِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ. وَفِي أَحَدِ الْأَيَّامِ، وَقَدِ انْطَلَقَ جَيْشُ الْمُسْلِمِينَ وَغَادَرَ الْمَدِينَةَ، رَجَعَ أَبُو خَيْثَمَةَ إِلَى دَارِهِ، فَوَجَدَ زَوْجَتَيْهِ قَدْ هَيَّأَتَا لَهُ مَكَانَ جُلُوسِهِ وَرَشَّتَاهُ وَبَرَّدَتَا الْمَاءَ. فَوَقَفَ عَلَى بَابِ الْعَرِيشِ وَلَمْ يَدْخُلْ، وَقَالَ: «رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الْحَرِّ وَالسَّمُومِ، وَأَنَا فِي الظِّلِّ وَالنَّعِيمِ؟ مَا هَذَا بِإِنْصَافٍ». ثُمَّ أَمَرَ بِنَاقَتِهِ فَجُهِّزَتْ لَهُ، وَانْطَلَقَ مِنْ سَاعَتِهِ لِيَلْحَقَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ. فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَى مُعَسْكَرِ الْمُسْلِمِينَ وَرَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُقْبِلًا مِنْ بَعِيدٍ قَالَ: «كُنْ أَبَا خَيْثَمَةَ». فَلَمَّا اقْتَرَبَ قَالَ النَّاسُ: «هُوَ أَبُو خَيْثَمَةَ». فَجَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَدَعَا لَهُ.

Abu Khaitsamah Al-Anshari tidak ikut berangkat bersama Rasulullah ﷺ dalam Perang Tabuk. Suatu hari, setelah pasukan muslimin meninggalkan Madinah, ia pulang ke rumah dan mendapati kedua istrinya telah menyiapkan tempat duduk, memercikinya dengan air, serta mendinginkan air minum. Ia berdiri di ambang tempat berteduh tanpa masuk, lalu berkata, “Rasulullah ﷺ berada di tengah panas dan angin yang membakar, sementara aku berada di tempat teduh dan penuh kenikmatan? Ini bukan sikap yang adil.” Ia meminta agar untanya disiapkan dan segera berangkat menyusul Rasulullah ﷺ. Ketika melihatnya mendekat dari kejauhan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadilah Abu Khaitsamah.” Saat ia makin dekat, orang-orang berkata, “Itu Abu Khaitsamah.” Ia pun menemui Nabi ﷺ dan beliau mendoakannya.

وَكَانَ أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدْ تَأَخَّرَ عَنِ الْجَيْشِ، فَبَحَثَ عَنْ رَاحِلَةٍ تُمَكِّنُهُ مِنَ اللِّحَاقِ بِهِمْ، فَلَمْ يَجِدْ سِوَى رَاحِلَةٍ هَزِيلَةٍ، فَلَمَّا أَبْطَأَتْ بِهِ وَخَشِيَ أَنْ يَتَأَخَّرَ أَخَذَ مَتَاعَهُ وَحَمَلَهُ عَلَى ظَهْرِهِ، وَمَشَى عَلَى قَدَمَيْهِ حَتَّى اقْتَرَبَ مِنَ الْجَيْشِ. فَرَآهُ أَحَدُ الصَّحَابَةِ فَقَالَ: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا رَجُلٌ يَمْشِي عَلَى الطَّرِيقِ». فَقَالَ ﷺ: «كُنْ أَبَا ذَرٍّ». فَلَمَّا تَأَمَّلَهُ الْقَوْمُ قَالُوا: «يَا رَسُولَ اللَّهِ، هُوَ وَاللَّهِ أَبُو ذَرٍّ». فَقَالَ ﷺ: «رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ».

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu tertinggal dari pasukan. Ia mencari kendaraan agar dapat menyusul mereka, tetapi hanya menemukan seekor unta yang kurus. Ketika unta itu berjalan lambat dan ia khawatir tertinggal, ia mengambil barang-barangnya, memikulnya di punggung, lalu berjalan kaki hingga mendekati pasukan. Seorang sahabat melihatnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki berjalan di jalan.” Nabi ﷺ bersabda, “Semoga itu Abu Dzar.” Ketika orang-orang memperhatikannya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, itu Abu Dzar.” Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan dibangkitkan seorang diri.”

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Peristiwa-Peristiwa Keimanan (مَوَاقِفُ إِيمَانِيَّةٌ), halaman 137 kitab (halaman 138 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button