Tatsqif

Ketika Manusia Takut pada Alat-Alatnya

Ketika Manusia Takut pada Alat-Alatnya

☷ Daftar Isi Artikel
Standar
Progres membaca 0% 0%

Setiap kali muncul alat baru, selalu ada yang berkata, “Ruh dan nilai-nilai kemanusiaan telah hilang!”

Apa yang hari ini dikatakan tentang kecerdasan buatan sesungguhnya pernah pula dikatakan tentang tulisan, mesin cetak, kalkulator, dan internet. Namun, kemudian semua alat itu menjadi bagian dari kehidupan kita, hingga kita justru merasa heran bagaimana manusia dahulu dapat hidup tanpa alat-alat tersebut.

Sesungguhnya, sikap yang benar berada di tengah-tengah. Siapa yang telah memiliki ilmu, kemudian memanfaatkan alat untuk membantunya, akan semakin meningkatkan mutu ilmunya. Sebaliknya, siapa yang menggunakan alat untuk menggantikan pengetahuan yang sebenarnya tidak ia miliki, boleh jadi akan kesulitan membedakan antara kebenaran dan halusinasi atau informasi keliru yang dihasilkan alat tersebut.

Berikut beberapa contohnya:

1. Pencatatan Hadis 📜

Sebagian sahabat Nabi dan generasi tabiin tidak menyukai penulisan hadis karena berbagai alasan. Di antaranya ialah kekhawatiran bahwa orang akan terlalu bergantung pada lembaran-lembaran tertulis dan mengabaikan hafalan. Al-Khatib al-Baghdadi mengumpulkan berbagai riwayat tentang perbedaan pandangan ini dalam kitabnya, Taqyid al-‘Ilm (تقييد العلم).

Kemudian, pada pergantian abad pertama Hijriah, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm:

انظر ما كان من حديث رسول الله ﷺ فاكتبه، فإني خفت دروس العلم وذهاب العلماء

“Perhatikanlah hadis-hadis Rasulullah ﷺ, lalu tulislah. Sesungguhnya aku khawatir ilmu akan memudar dan para ulama akan tiada.”

Sementara itu, Ibnu Syihab az-Zuhri mencatat segala sesuatu yang ia dengar. Abu az-Zinad berkata:

كنا نكتب الحلال والحرام، وكان ابن شهاب يكتب كل ما سمع، فلما احتيج إليه علمت أنه أعلم الناس

“Dahulu kami mencatat persoalan halal dan haram, sedangkan Ibnu Syihab mencatat segala sesuatu yang didengarnya. Ketika catatan-catatan itu dibutuhkan, aku pun menyadari bahwa dialah orang yang paling berilmu.”

Dengan demikian, dalam pemeliharaan Sunnah berpadu dua kekuatan: hafalan yang tersimpan dalam ingatan dan ketelitian pencatatan dalam tulisan.

2. Mesin Cetak 🖨️

Mesin cetak Gutenberg muncul sekitar tahun 1450 M. Akan tetapi, penyebaran teknologi percetakan dengan huruf Arab mengalami keterlambatan di sebagian wilayah dunia Islam. Hal ini berlangsung di tengah berbagai keberatan dan fatwa yang mengharamkannya, berkaitan dengan ketepatan penyalinan teks serta kepentingan para penyalin naskah.

Kekhawatiran mengenai ketepatan teks tersebut memang memiliki alasan. Pada tahun 1537–1538 M, sebuah mushaf Al-Qur’an dicetak di Venesia dengan banyak kesalahan. Bahkan, salah seorang peneliti kontemporer yang mengkajinya menyatakan bahwa hampir tidak ada satu kata pun di dalamnya yang terbebas dari kesalahan.

Namun, kemudian mesin cetak justru menjadi penjaga keakuratan teks. Saat ini, di Arab Saudi terdapat Kompleks Percetakan Mushaf Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah, yang telah mencetak ratusan juta eksemplar mushaf serta menyediakan terjemahan makna Al-Qur’an dalam hampir 80 bahasa.

3. Mesin Ketik ⌨️

Dahulu, para penulis terbiasa menyusun draf dan menyalinnya dengan tangan mereka sendiri. Keadaan ini berlangsung hingga perusahaan Remington memperkenalkan mesin ketik Sholes and Glidden pada tahun 1874 M, yang dikenal sebagai mesin ketik pertama yang berhasil secara komersial.

Pada awalnya, masyarakat menyambutnya dengan kurang antusias. Sebagian sastrawan juga memiliki keberatan terhadap pengaruh mesin tersebut pada hubungan personal mereka dengan karya tulis. Namun, seiring waktu, naskah yang diketik dengan mesin menjadi sesuatu yang lazim di kalangan penerbit.

Bahkan, susunan huruf Latin pada papan ketik yang kita gunakan hingga hari ini masih merupakan warisan dari teknologi tersebut.

Dengan mesin ketik, tangan penulis terbebas dari sebagian kesulitan menyalin naskah, sehingga tenaganya dapat lebih diarahkan untuk meninjau kembali dan menyempurnakan tulisan.

4. Kalkulator 🧮

Pada awal dekade 1970-an, kalkulator mulai hadir dalam bentuk yang dapat dibawa di saku. Sebagian guru pun khawatir bahwa penggunaan alat tersebut akan melemahkan kemampuan berhitung para siswa.

Kekhawatiran mereka memiliki dasar. Ketergantungan yang berlebihan pada kalkulator memang dapat melemahkan kemampuan berhitung secara mental. Akan tetapi, pada masa sekarang, hampir tidak ada orang yang menuntut seorang akuntan menyusun laporan keuangan sebuah perusahaan hanya dengan perhitungan manual.

Dengan demikian, sebagian usaha intelektual manusia beralih dari sekadar melakukan operasi hitung menuju pemahaman atas proses perhitungan dan pemeriksaan kebenaran hasilnya.

5. Internet dan Google 🌐

Pada tahun 1995 M, seorang astronom bernama Clifford Stoll menerbitkan artikel di majalah Newsweek yang meragukan berbagai janji besar tentang internet.

Namun, internet kemudian mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berbelanja. Lima belas tahun sesudahnya, Stoll sendiri menganggap artikelnya tersebut sebagai salah satu kekeliruannya yang paling terkenal.

Selanjutnya, Google muncul pada tahun 1998 M. Pada tahun 2008 M, Nicholas Carr mengajukan pertanyaan yang terkenal, “Apakah Google membuat kita menjadi bodoh?”

Sebuah penelitian dari Universitas Columbia pada tahun 2011 M menunjukkan bahwa ketika seseorang memperkirakan suatu informasi dapat dicari kembali pada kemudian hari, kemampuannya untuk mengingat informasi tersebut dapat berkurang, sementara kemampuannya mengingat lokasi penyimpanan informasi justru meningkat.

Akhirnya, akses terhadap informasi menjadi semakin mudah, tetapi pada saat yang sama kemampuan memahami, mengkritisi, dan menghubungkan berbagai informasi menjadi semakin penting.

6. Maktabah Syamilah 📚

Maktabah Syamilah menghimpun ribuan kitab dalam satu program. Namun, sebagian peneliti pernah menolak penggunaan pencarian elektronik karena khawatir bahwa teknologi tersebut akan melemahkan kemampuan membaca secara mendalam dan melakukan penelusuran ilmiah yang menyeluruh.

Di samping itu, sebagian pengguna juga terjatuh dalam kekeliruan ketika mengutip kesalahan penyalinan atau salah baca yang terdapat dalam teks-teks elektronik, tanpa memeriksa kembali sumber aslinya.

Adapun peneliti yang bersungguh-sungguh menjadikan Maktabah Syamilah sebagai sarana untuk menemukan sumber. Setelah itu, ia kembali kepada rujukan asli untuk melakukan pemeriksaan dan verifikasi. Dengan demikian, ia berhasil memadukan kecepatan akses dengan ketelitian penelitian ilmiah.

7. Kecerdasan Buatan 🤖

ChatGPT diluncurkan pada November 2022 M. Para analis memperkirakan bahwa jumlah pengguna aktifnya mencapai sekitar 100 juta orang hanya dalam waktu dua bulan.

Kisah lama pun terulang kembali. Akan tetapi, kali ini alat yang hadir tidak sekadar menjalankan fungsi pencarian informasi dan perhitungan, melainkan telah merambah kemampuan analisis, penulisan, kritik, dan pemberian saran.

Saat ini, sebagian peneliti memanfaatkan kecerdasan buatan untuk melakukan penelusuran, penulisan, serta peninjauan karya-karya ilmiah. Dengan bantuannya, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan jam, padahal sebelumnya pekerjaan yang sama membutuhkan waktu berhari-hari.

Mereka juga meminta kecerdasan buatan untuk mengkritisi gagasan-gagasan mereka dan menemukan titik-titik kelemahannya. Kemudian, mereka menimbang hasilnya, menerima sebagian masukan, menolak sebagian lainnya, serta melakukan koreksi. Pada akhirnya, penilaian tetap berada di tangan ilmu dan pengalaman manusia.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri sebagai konsultan, dosen perguruan tinggi, dan penelaah penelitian ilmiah, saya melihat bahwa kecerdasan buatan mampu melipatgandakan kemampuan seorang peneliti yang telah menguasai bidang ilmunya. Teknologi ini juga dapat membantu pemula dalam proses pembelajaran.

Namun, kecerdasan buatan juga dapat memberikan kepada seseorang yang minim pengetahuan sebuah tulisan yang sangat fasih dan indah, padahal ia sendiri tidak memahami isinya. Ketidakmampuannya pun akan segera tersingkap begitu ia menghadapi diskusi atau pengujian pertama.

💡 Kesimpulan

Ketakutan manusia terhadap alat-alat baru tidak seluruhnya merupakan khayalan atau kekhawatiran tanpa dasar. Setiap alat memiliki manfaat sekaligus konsekuensi dan biaya yang menyertainya.

Namun, sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kemampuan menggunakan suatu sarana dengan baik jauh lebih penting daripada sekadar memilikinya.

Kalkulator tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang ahli matematika. Maktabah Syamilah tidak otomatis menjadikan seseorang ahli hadis. Demikian pula, kecerdasan buatan tidak serta-merta menjadikan seseorang peneliti hanya karena ia mampu menghasilkan tulisan yang indah.

Pesan Akhir

Alat akan melipatgandakan apa yang Anda miliki, sekaligus memperlihatkan apa yang tidak Anda miliki. 🎯

Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari tulisan berbahasa Arab karya Dr. Hamad Al-Hubaisyi. Nama tokoh, peristiwa, angka, pernyataan, dan rujukan yang disebutkan dipertahankan sesuai naskah sumber. Terjemahan ini bukan merupakan verifikasi independen terhadap seluruh klaim sejarah dan ilmiahnya.

📜 Baca naskah asli berbahasa Arab secara lengkap

حين خاف الإنسان من أدواته

د. حمد الحبيشي

كلما ظهرت أداة جديدة قيل: ضاعت الروح!

وما يقال اليوم عن الذكاء الاصطناعي قيل من قبل عن الكتابة والمطبعة والحاسبة والإنترنت، ثم صارت هذه الأدوات جزءا من حياتنا، حتى صرنا نعجب كيف عاش الناس قبلها.

والحق وسط؛ فمن ملك المعرفة ثم استعان بالأداة جوّد علمه، ومن استعان بها ليعوض معرفة لا يملكها، فقد يعجز عن التمييز بين الصواب والهلوسة.

وإليكم بعض الأمثلة/

1. تدوين الحديث 📜

كره جماعة من الصحابة والتابعين كتابة الحديث لأسباب متعددة، منها خشية الاتكال على الصحف وإهمال الحفظ، وجمع الخطيب البغدادي أخبار هذا الخلاف في كتابه «تقييد العلم».

ثم كتب عمر بن عبد العزيز على رأس المئة الأولى إلى أبي بكر بن حزم: “انظر ما كان من حديث رسول الله ﷺ فاكتبه، فإني خفت دروس العلم وذهاب العلماء”، وكان ابن شهاب الزهري يكتب كل ما يسمع، فقال أبو الزناد: “كنا نكتب الحلال والحرام، وكان ابن شهاب يكتب كل ما سمع، فلما احتيج إليه علمت أنه أعلم الناس“.

فاجتمع للسنة حفظ الصدور وضبط السطور.

2. المطبعة 🖨️

ظهرت مطبعة غوتنبرغ نحو عام 1450م، وتأخر انتشار الطباعة بالحروف العربية في بعض أنحاء العالم الإسلامي، وسط تحفظات وفتاوى أنها حرام لأمور تتعلق بضبط النصوص ومصالح النساخ.

وكان لخوف الضبط ما يسوغه، فقد طبع في البندقية بين 1537 و1538م مصحف كثرت فيه الأخطاء، حتى قال أحد دارسيه المعاصرين إنه لا تكاد كلمة فيه تخلو من خطأ.

ثم صارت المطبعة حارسة للنص، ففي السعودية اليوم مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف بالمدينة المنورة، الذي طبع مئات الملايين من نسخ المصحف، وأتاح ترجمات لمعاني القرآن الكريم بزهاء 80 لغة.

3. الآلة الكاتبة ⌨️

اعتاد المؤلفون كتابة مسوداتهم ونسخها بأيديهم، حتى طرحت شركة ريمنغتون عام 1874م آلة شولز وغليدن، أول آلة كاتبة ناجحة تجاريا، فاستقبلها الناس أول أمرها بفتور، وتحفظ بعض الأدباء على أثرها في صلتهم بالنص، ثم أصبحت المسودات المكتوبة بها مألوفة لدى الناشرين، ولا يزال ترتيب الحروف اللاتينية على لوحات مفاتيحنا اليوم موروثا منها.

فتخففت يد الكاتب من مشقة النسخ، وانصرف جهده إلى المراجعة والتجويد.

4. الآلة الحاسبة 🧮

صارت الحاسبة تحمل في الجيب في مطلع السبعينات، فخشي بعض المعلمين أن تضعف مهارات الطلاب، وكان لخوفهم وجه؛ إذ قد يضعف الاعتماد المفرط عليها الحساب الذهني، لكن أحدا اليوم لا يطالب المحاسب بإعداد ميزانية شركة بالحساب اليدوي.

فانتقل جانب من جهد العقل من إجراء العملية إلى فهمها والتحقق من نتيجتها.

5. الإنترنت وغوغل 🌐

نشر عالم الفلك كليفورد ستول عام 1995م مقالا في مجلة نيوزويك يشكك في وعود الإنترنت، ثم غيّر الإنترنت العمل والتعليم والتسوق، فعدّ ستول مقاله بعد 15 عاما من أشهر أخطائه.

وظهر غوغل عام 1998م، فتساءل نيكولاس كار عام 2008م: «هل يجعلنا غوغل أغبياء؟»، وأشارت دراسة من جامعة كولومبيا عام 2011م إلى أن توقع إمكان الرجوع إلى المعلومة لاحقا قد يقلل تذكرها، ويزيد تذكر موضع حفظها.

فأصبح الوصول إلى المعلومة أيسر، وازدادت أهمية فهمها ونقدها وربطها.

6. المكتبة الشاملة 📚

جمعت المكتبة الشاملة آلاف الكتب في برنامج واحد، فأنكر بعض الباحثين البحث الإلكتروني خشية إضعاف ملكة القراءة والاستقصاء، كما وقع بعضهم في نقل تصحيفات النصوص الإلكترونية دون مراجعة أصولها.

أما الباحث الجاد فاتخذ الشاملة دليلا إلى المصدر، ثم رجع إلى الأصل فتحقق، فجمع بين سرعة الوصول ودقة التحقيق.

7. الذكاء الاصطناعي 🤖

أطلق شات جي بي تي في نوفمبر 2022م، فقدّر محللون أن مستخدميه النشطين بلغوا نحو 100 مليون في شهرين، وتكررت الحكاية، غير أن الأداة هذه المرة تتجاوز البحث والحساب إلى التحليل والكتابة والنقد والاقتراح.

ويستعين بها بعض الباحثين اليوم في البحث والكتابة ومراجعة الأعمال العلمية، فينجزون في ساعات ما كان يستغرق أياما، ويطلبون منها نقد أفكارهم وكشف مواضع الضعف فيها، ثم يقبلون ويردون ويصححون، ويبقى الحكم للعلم والخبرة.

ومن واقع عملي مستشارا وأستاذا جامعيا ومحكما للأبحاث، أرى أن الذكاء الاصطناعي يضاعف قدرة الباحث المتمكن، ويعين المبتدئ على التعلم، لكنه قد يمنح قليل العلم نصا بليغا لا يفهمه، فينكشف عجزه عند أول مناقشة.

💡 الخلاصة

لم تكن مخاوف الناس من الأدوات الجديدة كلها أوهاما، فلكل أداة منافع وتكاليف، لكن التاريخ يعلمنا أن حسن استعمال الوسيلة أهم من مجرد امتلاكها.

فالآلة الحاسبة لا تصنع عالم رياضيات، والمكتبة الشاملة لا تصنع محدثا، والذكاء الاصطناعي لا يصنع باحثا بمجرد إنتاج نص جميل.

الخلاصة

الأداة تضاعف ما تملكه، وتكشف لك ما تفقده. 🎯

↑ Kembali ke Atas

Rusmin Nuryadin, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button