Durūs min as-Sīrah

Bagian 172: Amalan Sunah yang Ditekankan Nabi ﷺ

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 172

نَوَافِلُ أَكَّدَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ ﷺ

Amalan Sunah yang Ditekankan Nabi ﷺ

جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ؛ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى».

Dalam Shahih Muslim, Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Pada setiap persendian salah seorang di antara kalian terdapat sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat salat Duha.”

فَصَلَاةُ الضُّحَى سُنَّةٌ نَبَوِيَّةٌ عَظِيمَةٌ، يَحْسُنُ بِالْمُسْلِمِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا. وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ، وَأَفْضَلُ وَقْتِهَا حِينَ يَرْتَفِعُ النَّهَارُ وَتَشْتَدُّ حَرَارَةُ الشَّمْسِ، وَيَخْرُجُ وَقْتُهَا بِقِيَامِ قَائِمِ الظَّهِيرَةِ. وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ، وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهَا.

Salat Duha adalah sunah Nabi yang agung, dan seorang Muslim dianjurkan untuk menjaganya. Salat ini disebut salat orang-orang yang kembali kepada Allah. Waktu terbaiknya adalah ketika matahari sudah meninggi dan panasnya terasa, sedangkan waktunya berakhir saat matahari tepat di tengah langit. Jumlah paling sedikitnya dua rakaat, dan tidak ada batas maksimal untuk jumlah rakaatnya.

وَمِنْ هَدْيِهِ عَلَيْهِ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَزْكَى التَّسْلِيمِ الْمُحَافَظَةُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ. فَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا». وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ ﷺ قِيَامُ اللَّيْلِ وَالْحَثُّ عَلَيْهِ. فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سُئِلَ: أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ؟ فَقَالَ: «أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ».

Di antara tuntunan beliau ﷺ adalah menjaga salat witir. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda, “Jadikanlah salat witir sebagai salat terakhir kalian pada malam hari.” Tuntunan beliau juga mencakup salat malam dan anjuran untuk mengerjakannya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya, “Salat apakah yang paling utama setelah salat wajib?” Beliau menjawab, “Salat paling utama setelah salat wajib adalah salat pada pertengahan malam.”

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Amalan Sunah yang Ditekankan Nabi ﷺ (نَوَافِلُ أَكَّدَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ ﷺ), halaman 193 kitab (halaman 194 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button