Satu, dua, bahkan tiga bulan pernah berlalu tanpa api dinyalakan di rumah beliau ﷺ. Makanan mereka hanya dua yang berwarna gelap: kurma dan air. Terkadang beliau seharian menahan rasa lapar yang sangat dan tidak menemukan sesuatu untuk mengisi perutnya. Sebagian besar roti beliau terbuat dari gandum jelai, dan tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau makan roti yang halus. Anas radhiyallahu ‘anhu, pelayan beliau, menyebutkan bahwa hidangan roti dan daging tidak pernah tersedia untuk makan siang maupun malam di rumah beliau kecuali ketika ada tamu.
Keadaan pakaian beliau tidak berbeda dari kesederhanaan makanannya. Para sahabat bersaksi bahwa beliau zuhud dan tidak berlebihan dalam berpakaian, padahal beliau mampu mengenakan pakaian yang paling mahal. Seorang sahabat menggambarkan, “Aku datang menemui Rasulullah ﷺ untuk membicarakan sesuatu. Ternyata beliau sedang duduk mengenakan kain katun yang tebal.” Abu Burdah pernah menemui Aisyah, Ummul Mukminin. Aisyah mengeluarkan selimut usang dan kain tebal, lalu berkata, “Rasulullah ﷺ wafat dengan mengenakan kedua pakaian ini.” Anas bin Malik berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, sementara beliau mengenakan selendang Najrani yang tepiannya tebal.”
Ketika wafat, beliau ﷺ tidak meninggalkan dirham, dinar, budak laki-laki atau perempuan, maupun harta lainnya. Yang beliau tinggalkan hanyalah bagal putih, senjata, dan sebidang tanah yang dijadikan sedekah. Aisyah berkata, “Rasulullah ﷺ wafat, sementara di rak rumahku tidak ada makanan untuk makhluk bernyawa kecuali sedikit gandum jelai.” Beliau wafat dalam keadaan baju besinya tergadai kepada seorang Yahudi sebagai jaminan atas sejumlah gandum jelai.