Sikap Rasulullah ﷺ terhadap keluarganya mencakup akhlak yang mulia. Beliau rendah hati dan penyayang kepada mereka, serta selalu membantu keperluan keluarga. Buktinya adalah hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, ketika beliau ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”
Beliau berusaha berlaku adil kepada para istrinya dengan membagi giliran bermalam, tempat tinggal, dan nafkah. Adapun dalam hal cinta, beliau berdoa, “Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang mampu kukendalikan. Janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang tidak mampu kukendalikan.” Jika salah seorang istri beliau minum dari sebuah bejana, beliau mengambilnya, meletakkan mulutnya di tempat mulut istrinya, lalu minum. Jika hendak bepergian, beliau mengundi istri-istrinya; siapa yang namanya keluar, ia ikut bepergian. Saat sakit, beliau meminta izin kepada para istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah, dan mereka mengizinkannya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tentang keadaan perempuan pada masa jahiliah. Ia berkata, “Demi Allah, pada masa jahiliah kami tidak menganggap perempuan memiliki kedudukan apa pun, hingga Allah menurunkan ketentuan tentang mereka dan memberikan hak yang telah Dia tetapkan.” Adapun Rasulullah ﷺ memberikan teladan tertinggi dalam memperlakukan perempuan dengan baik dan hidup bersama keluarga secara harmonis. Beliau memberi perempuan—sebagai istri, ibu, anak, ataupun saudara perempuan—kedudukan yang layak. Beliau menjadikan keutamaan dan kebaikan seorang laki-laki diukur dari baiknya ia bergaul dan hidup bersama keluarganya.