Durūs min as-Sīrah

Bagian 123: Kisah Tiga Sahabat

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 123

خَبَرُ الثَّلَاثَةِ

Kisah Tiga Sahabat

كَانَ مِمَّنْ تَخَلَّفَ عَنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ ثَلَاثَةٌ مِنْ خِيَارِ الصَّحَابَةِ، هُمْ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ، وَمُرَارَةُ بْنُ الرَّبِيعِ، وَهِلَالُ بْنُ أُمَيَّةَ. وَكَانُوا مِنَ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ، وَلَهُمْ حُسْنُ بَلَاءٍ فِي الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يَكُنْ تَخَلُّفُهُمْ عَنْ شَكٍّ وَلَا نِفَاقٍ. فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اعْتَذَرَ مَنِ اعْتَذَرَ مِنَ الْمُنَافِقِينَ، وَقَبِلَ الرَّسُولُ ﷺ أَعْذَارَهُمْ، إِلَّا هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ؛ فَإِنَّهُمْ نَدِمُوا عَلَى مَا فَعَلُوا، وَصَدَقُوا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَلَمْ يَحْلِفُوا كَذِبًا وَلَمْ يُنَافِقُوا كَمَا فَعَلَ غَيْرُهُمْ. فَأَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِهِجْرِ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ، فَاعْتَزَلَهُمُ الْمُسْلِمُونَ وَهَجَرُوهُمْ خَمْسِينَ لَيْلَةً؛ لَا يُكَلِّمُونَهُمْ وَلَا يَرُدُّونَ عَلَيْهِمُ السَّلَامَ وَلَا يُجِيبُونَ دَعْوَتَهُمْ. وَلَمَّا مَضَتْ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً أَمَرَهُمُ النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يَعْتَزِلُوا نِسَاءَهُمْ أَيْضًا، حَتَّى ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ، وَضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا.

Di antara orang-orang yang tidak ikut dalam Perang Tabuk terdapat tiga sahabat terbaik: Ka‘ab bin Malik, Murarah bin Rabi‘, dan Hilal bin Umayyah. Mereka termasuk orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam dan telah mengukir pengabdian yang baik. Mereka tidak tertinggal karena ragu atau munafik. Ketika Rasulullah ﷺ kembali, orang-orang munafik menyampaikan alasan dan Rasulullah ﷺ menerima alasan mereka, sedangkan ketiga sahabat ini menyesali perbuatan mereka dan berkata jujur kepada beliau. Mereka tidak bersumpah palsu atau bersikap munafik seperti yang lain. Nabi ﷺ memerintahkan kaum muslimin memboikot mereka selama lima puluh malam: tidak berbicara kepada mereka, tidak menjawab salam, dan tidak memenuhi undangan mereka. Setelah empat puluh malam, beliau memerintahkan mereka berpisah dari istri-istri mereka juga. Bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan dunia seisinya terasa menyesakkan.

أَمَّا هِلَالُ بْنُ أُمَيَّةَ وَمُرَارَةُ بْنُ الرَّبِيعِ فَقَعَدَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي بَيْتِهِ يَبْكِي، وَأَمَّا كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَكَانَ يَطُوفُ فِي الْأَسْوَاقِ وَيُسَلِّمُ، وَلَكِنْ لَا أَحَدَ يَرُدُّ عَلَيْهِ السَّلَامَ. ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ تَوْبَتَهُ عَلَيْهِمْ، بَعْدَ أَنْ مَحَّصَهُمْ وَعَلِمَ صِدْقَ تَوْبَتِهِمْ وَقُوَّةَ إِيمَانِهِمْ وَصِدْقَ يَقِينِهِمْ. قَالَ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ﴾ [التَّوْبَةِ: ١١٨].

Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi‘ masing-masing tinggal di rumah sambil menangis. Adapun Ka‘ab bin Malik berkeliling di pasar dan mengucapkan salam, tetapi tak seorang pun menjawab salamnya. Kemudian Allah menerima tobat mereka setelah menguji mereka dan mengetahui ketulusan tobat, kekuatan iman, serta keyakinan mereka. Allah Ta‘ala berfirman, “Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang), hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, serta mereka mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah kecuali kepada-Nya. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 118)

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Kisah Tiga Sahabat (خَبَرُ الثَّلَاثَةِ), halaman 140 kitab (halaman 141 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button