Nabi ﷺ mengumumkan keberangkatan menuju Tabuk dan mendorong orang-orang untuk berinfak di jalan Allah. Beliau bersabda, “Siapa yang melengkapi perlengkapan Pasukan dalam Kesulitan, baginya surga.” (HR. Bukhari). Para sahabat menyambut seruan beliau dan memberi teladan yang luar biasa dalam berkorban dan memberi. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu datang membawa seribu dinar dan meletakkannya di hadapan Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ bergembira atas tindakannya dan bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah apa yang ia lakukan hari ini.” (HR. Tirmidzi). Diriwayatkan pula bahwa ia menanggung kebutuhan tiga ratus unta beserta perlengkapannya.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berusaha mendahului Abu Bakar. Ia menyumbangkan separuh hartanya. Ternyata Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya tanpa menyisakan apa pun bagi keluarganya. Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah berusaha mengunggulimu dalam kebaikan.” Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan dua ribu dirham. Para sahabat kaya lainnya, seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Thalhah bin Ubaidillah, Muhammad bin Maslamah, dan Ashim bin Adi radhiyallahu ‘anhum, memberikan sedekah dalam jumlah besar.
Kaum muslimin yang miskin juga ikut bersedekah. Meski memiliki sedikit, mereka menyerahkan semua yang dapat mereka berikan di jalan Allah. Ada yang datang dengan satu sha‘ kurma, ada yang membawa setengah sha‘ atau kurang dari itu, sesuai kemampuan masing-masing. Para sahabat tidak luput dari ejekan kaum munafik terhadap sedekah orang miskin dan sindiran terhadap niat orang kaya. Al-Qur’an menyingkap keburukan mereka: “(Orang-orang munafik) yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak mendapatkan (sesuatu untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, lalu mereka mengejeknya. Allah akan membalas ejekan mereka dan bagi mereka azab yang pedih.”