Durūs min as-Sīrah

Bagian 83: Butir-Butir Perjanjian Hudaibiyah

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 83

بُنُودُ صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ

Butir-Butir Perjanjian Hudaibiyah

كَانَتْ بُنُودُ صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ الَّتِي كَتَبَهَا الرَّسُولُ ﷺ مَعَ قُرَيْشٍ عَلَى مَا يَأْتِي:

Butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang disepakati Rasulullah ﷺ dengan Quraisy adalah sebagai berikut:

أَوَّلًا: وَقْفُ الْحَرْبِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَقُرَيْشٍ عَشْرَ سِنِينَ.

Pertama, perang antara kaum muslimin dan Quraisy dihentikan selama sepuluh tahun.

ثَانِيًا: أَنْ يَرْجِعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَالْمُسْلِمُونَ هَذَا الْعَامَ دُونَ دُخُولِ مَكَّةَ، فَإِذَا جَاءَ الْعَامُ التَّالِي دَخَلُوهَا بِغَيْرِ سِلَاحٍ، سِوَى السُّيُوفِ فِي الْقُرُبِ.

Kedua, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin kembali pada tahun itu tanpa memasuki Makkah. Pada tahun berikutnya mereka boleh memasukinya tanpa membawa senjata selain pedang yang tersimpan di dalam sarungnya.

ثَالِثًا: مَنْ أَتَى إِلَى الْمُسْلِمِينَ مِنْ قُرَيْشٍ رَدُّوهُ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ جَاءَ إِلَى قُرَيْشٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ لَا يَلْزَمُهُمْ رَدُّهُ.

Ketiga, siapa pun dari Quraisy yang datang kepada kaum muslimin harus dikembalikan kepada Quraisy, sedangkan siapa pun dari kaum muslimin yang datang kepada Quraisy tidak wajib dikembalikan kepada kaum muslimin.

رَابِعًا: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَدْخُلَ فِي عَهْدِ الْمُسْلِمِينَ دَخَلَ فِيهِ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَدْخُلَ فِي عَهْدِ قُرَيْشٍ دَخَلَ فِيهِ. فَدَخَلَتْ بِهَذَا الشَّرْطِ قَبِيلَةُ خُزَاعَةَ فِي عَهْدِ الْمُسْلِمِينَ، وَدَخَلَتْ قَبِيلَةُ بَنِي بَكْرٍ فِي عَهْدِ الْمُشْرِكِينَ.

Keempat, siapa pun yang ingin bergabung dalam perjanjian kaum muslimin boleh melakukannya, dan siapa pun yang ingin bergabung dalam perjanjian Quraisy juga boleh melakukannya. Dengan ketentuan ini, Khuza‘ah bergabung dalam perjanjian kaum muslimin, sedangkan Bani Bakr bergabung dalam perjanjian kaum musyrik.

غَيْرَ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَتَقَبَّلُوا تِلْكَ الشُّرُوطَ بِسُهُولَةٍ؛ فَقَدْ رَأَوْهَا مُهِينَةً وَمُجْحِفَةً بِحَقِّهِمْ. لِذَلِكَ لَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ كِتَابَةِ الْمُعَاهَدَةِ قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ: «قُومُوا فَانْحَرُوا هَدْيَكُمْ»، فَلَمْ يَقُمْ أَحَدٌ، فَغَضِبَ الرَّسُولُ ﷺ وَدَخَلَ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ، فَذَكَرَ لَهَا مَا لَقِيَ مِنَ النَّاسِ. فَقَالَتْ: «اخْرُجْ، ثُمَّ لَا تُكَلِّمْ أَحَدًا كَلِمَةً حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ وَتَدْعُوَ حَالِقَكَ فَيَحْلِقَكَ». فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَخَرَجَ، فَلَمْ يُكَلِّمْ أَحَدًا حَتَّى نَحَرَ بُدْنَهُ وَدَعَا حَالِقَهُ فَحَلَقَهُ. فَلَمَّا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ قَامُوا فَنَحَرُوا إِبِلَهُمْ، وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَحْلِقُ بَعْضًا.

Kaum muslimin tidak mudah menerima syarat-syarat itu karena mereka menganggapnya merendahkan dan merugikan hak mereka. Setelah selesai menulis perjanjian, Rasulullah ﷺ berkata, “Bangkitlah dan sembelihlah hewan kurban kalian.” Tidak seorang pun bergerak. Rasulullah ﷺ pun marah dan masuk menemui Ummu Salamah. Beliau menyampaikan apa yang terjadi. Ummu Salamah berkata, “Keluarlah, lalu jangan berbicara kepada siapa pun sampai engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambutmu.” Rasulullah ﷺ keluar tanpa berbicara kepada siapa pun, lalu menyembelih hewan kurban dan memanggil tukang cukur. Ketika melihat hal itu, para sahabat bangkit, menyembelih unta-unta mereka, dan saling mencukur rambut.

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Butir-Butir Perjanjian Hudaibiyah (بُنُودُ صُلْحِ الْحُدَيْبِيَةِ), halaman 100 kitab (halaman 101 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button