Bagian 75: Nu‘aim bin Mas‘ud Memecah Belah Pasukan Sekutu
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 75
Nu‘aim bin Mas‘ud Memecah Belah Pasukan Sekutu
Di antara ketetapan Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung dalam Perang Ahzab adalah masuk Islamnya Nu‘aim bin Mas‘ud dari kabilah Ghathafan. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku apa yang engkau kehendaki.” Nabi ﷺ bersabda, “Engkau hanyalah satu orang. Maka, usahakanlah melemahkan kekuatan mereka semampumu. Sesungguhnya perang adalah tipu muslihat.”
Nu‘aim mendatangi orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Ia memiliki hubungan dekat dengan mereka, sementara mereka belum mengetahui keislamannya. Ia berkata, “Jika Quraisy mendapat kesempatan untuk menyerang Muhammad, mereka pasti akan memanfaatkannya. Jika tidak, mereka akan kembali ke negeri mereka.” Mereka bertanya, “Lalu apa yang harus kami lakukan?” Ia menjawab, “Jangan berperang bersama mereka sebelum mereka menyerahkan beberapa orang sebagai jaminan kepada kalian.” Mereka berkata, “Engkau telah memberi saran yang tepat.”
Kemudian Nu‘aim pergi menemui Quraisy dan berkata, “Tahukah kalian bahwa aku menyayangi dan tulus menasihati kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Orang-orang Yahudi menyesal telah melanggar perjanjian dengan kaum muslimin. Mereka telah mengirim kabar kepada Muhammad bahwa mereka akan meminta beberapa orang dari kalian sebagai jaminan, lalu menyerahkan mereka kepadanya. Setelah itu, mereka akan bergabung dengannya untuk memerangi kalian. Jika mereka meminta jaminan, jangan berikan.” Setelah itu ia pergi kepada Ghathafan dan menyampaikan hal serupa.
Quraisy kemudian mengirim pesan kepada orang-orang Yahudi, “Kami tidak dapat tinggal lama di tempat ini; kuda dan unta kami telah kelelahan. Besok, bergeraklah bersama kami untuk menyerang Muhammad.” Orang-orang Yahudi membalas, “Kami tidak akan berperang bersama kalian sebelum kalian mengirim beberapa orang sebagai jaminan.” Ketika utusan Quraisy menerima jawaban itu, mereka berkata, “Demi Allah, Nu‘aim benar.” Mereka lalu mengirim pesan, “Demi Allah, kami tidak akan menyerahkan seorang pun kepada kalian.” Bani Quraizhah pun berkata, “Demi Allah, Nu‘aim benar.” Kedua pihak akhirnya saling melemahkan dan kehilangan kepercayaan satu sama lain.