Pada malam ketika pasukan sekutu mundur dari pengepungan Madinah, Rasulullah ﷺ ingin mengetahui keadaan di perkemahan kaum musyrik. Beliau meminta seorang sahabat pergi membawa kabar tentang mereka. Udara sangat dingin, angin bertiup kencang, dan malam amat gelap. Para sahabat ragu untuk berangkat, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan Hudzaifah bin Al-Yaman pergi menjalankan tugas itu.
Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada malam Perang Ahzab, kami duduk sementara Abu Sufyan dan pasukannya berada di atas kami, sedangkan Bani Quraizhah berada di bawah kami. Kami mengkhawatirkan keselamatan keluarga kami. Belum pernah kami mengalami malam yang lebih gelap dan lebih berangin daripada malam itu. Tak seorang pun dapat melihat jarinya sendiri. Aku tidak memiliki pelindung dari musuh maupun dari dingin, kecuali selimut istriku yang hanya menutupi sampai lutut.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang bersedia berdiri, melihat keadaan pasukan itu, lalu kembali? Aku memohon kepada Allah agar ia menjadi temanku di surga.” Tidak seorang pun bergerak karena rasa takut, lapar, dan dingin yang berat. Ketika tak ada yang berdiri, Rasulullah ﷺ memanggilku. Aku pun harus berangkat setelah beliau memanggilku.
Rasulullah ﷺ berkata kepadaku, “Wahai Hudzaifah, pergilah dan masuklah ke tengah pasukan itu. Lihat apa yang mereka lakukan.” Aku pun berangkat dan menyusup ke tengah mereka. Angin dan bala tentara Allah menerpa mereka: tidak ada periuk, api, atau bangunan yang dapat berdiri tenang. Abu Sufyan bangkit dan berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, tempat ini tidak layak lagi untuk kita tinggali. Kuda dan unta kita telah kelelahan, Bani Quraizhah mengingkari janji kepada kita, dan telah sampai kepada kita berita tentang mereka yang tidak kita sukai. Karena itu, berangkatlah. Aku sendiri akan berangkat.”