Durūs min as-Sīrah

Bagian 61: Peristiwa-Peristiwa dalam Perang Uhud

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 61

مَوَاقِفُ مِنْ غَزْوَةِ أُحُدٍ

Peristiwa-Peristiwa dalam Perang Uhud

قُتِلَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، صَاحِبُ لِوَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي الْمَعْرَكَةِ. وَكَانَ قَبْلَ إِسْلَامِهِ أَكْثَرَ شَبَابِ قُرَيْشٍ ثَرَاءً وَغِنًى. فَلَمَّا قُتِلَ لَمْ يَجِدُوا لَهُ شَيْئًا يُكَفِّنُونَهُ فِيهِ إِلَّا ثَوْبَهُ الْقَصِيرَ؛ فَكَانُوا إِذَا غَطَّوْا بِهِ رَأْسَهُ انْكَشَفَتْ رِجْلَاهُ، وَإِذَا وَضَعُوهُ عَلَى رِجْلَيْهِ ظَهَرَ رَأْسُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «غَطُّوا رَأْسَهُ، وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ».

Mush‘ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu, pemegang panji Rasulullah ﷺ dalam perang, gugur. Sebelum masuk Islam, ia termasuk pemuda Quraisy yang paling kaya. Ketika gugur, mereka tidak menemukan kain kafan yang cukup untuknya selain sehelai kain pendek. Jika kain itu ditarik untuk menutupi kepalanya, kedua kakinya terlihat; jika digunakan untuk menutupi kakinya, kepalanya terlihat. Nabi ﷺ bersabda, “Tutuplah kepalanya dan letakkanlah tumbuhan idzkhir pada kedua kakinya.”

أَمَّا عَمْرُو بْنُ الْجَمُوحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَانَ رَجُلًا أَعْرَجَ شَدِيدَ الْعَرَجِ، وَكَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ بَنِينَ. فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ أُحُدٍ أَرَادُوا مَنْعَهُ، وَقَالُوا: «إِنَّ اللَّهَ قَدْ عَذَرَكَ». فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ: «إِنَّ بَنِيَّ يُرِيدُونَ أَنْ يَحْبِسُونِي عَنْ هَذَا الْوَجْهِ وَالْخُرُوجِ مَعَكَ فِيهِ، فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَطَأَ بِعَرْجَتِي هَذِهِ الْجَنَّةَ». فَأَذِنَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ.

Adapun ‘Amr bin Al-Jamuh radhiyallahu ‘anhu, ia seorang yang sangat pincang dan memiliki empat orang putra. Pada hari Uhud, mereka berusaha mencegahnya ikut berperang. Mereka berkata, “Allah telah memberi keringanan bagimu.” Ia pun menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Putra-putraku ingin menahanku agar tidak berangkat bersamamu dalam peperangan ini. Demi Allah, aku berharap dapat menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini.” Nabi ﷺ mengizinkannya. Ia pun berperang hingga gugur. Semoga Allah meridhainya.

وَاسْتُشْهِدَ فِي الْمَعْرَكَةِ حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَكَانَ قَدْ تَزَوَّجَ وَدَخَلَ بِأَهْلِهِ فِي اللَّيْلَةِ الَّتِي أَصْبَحَتْ صَبِيحَتُهَا يَوْمَ أُحُدٍ. فَلَمَّا سَمِعَ مُنَادِيَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَرَجَ مُسْرِعًا قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ. فَلَمَّا اسْتُشْهِدَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنِّي رَأَيْتُ الْمَلَائِكَةَ تَغْسِلُ حَنْظَلَةَ بْنَ أَبِي عَامِرٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ بِمَاءِ الْمُزْنِ فِي صِحَافِ الْفِضَّةِ». فَذَهَبُوا إِلَيْهِ، فَإِذَا رَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً. وَلَمَّا سُئِلَتْ زَوْجَتُهُ جَمِيلَةُ بِنْتُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ عَنْ ذَلِكَ، قَالَتْ: «خَرَجَ وَهُوَ جُنُبٌ لَمَّا سَمِعَ الْمُنَادِيَ».

Dalam perang itu, Hanzhalah bin Abi ‘Amir radhiyallahu ‘anhu juga gugur sebagai syahid. Ia baru menikah dan menggauli istrinya pada malam sebelum Perang Uhud. Ketika mendengar seruan Rasulullah ﷺ, ia segera berangkat sebelum sempat mandi wajib. Setelah ia gugur, Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah bin Abi ‘Amir di antara langit dan bumi dengan air hujan dalam wadah-wadah perak.” Para sahabat pergi melihatnya dan mendapati kepalanya masih meneteskan air. Ketika istrinya, Jamilah binti ‘Abdullah bin Ubay, ditanya tentang hal itu, ia menjawab, “Ia berangkat dalam keadaan junub ketika mendengar seruan.”

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Peristiwa-Peristiwa dalam Perang Uhud (مَوَاقِفُ مِنْ غَزْوَةِ أُحُدٍ), halaman 78 kitab (halaman 79 PDF). Harakat dan tanda baca ditambahkan untuk membantu pembacaan. Pembagian pasangan paragraf bersifat editorial; urutan isi mengikuti naskah asli.

Related Articles

Back to top button