Sirah Nabawiyah

Durus Minas Sirah – Hijrah Kedua ke Habasyah

Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 26

الْهِجْرَةُ الثَّانِيَةُ إِلَى الْحَبَشَةِ

Hijrah Kedua ke Habasyah

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمًا فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَقَرَأَ سُورَةَ النَّجْمِ، فَلَمَّا بَلَغَ السَّجْدَةَ سَجَدَ، وَسَجَدَ مَعَهُ مَنْ كَانَ حَاضِرًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ قَرَعَ أَسْمَاعَهُمْ أَخْبَارُ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ الَّتِي أَهْلَكَهَا اللَّهُ حِينَ تَجَبَّرَتْ وَعَانَدَتْ، فَشَاعَ بَيْنَ النَّاسِ أَنَّ قُرَيْشًا أَسْلَمَتْ، وَوَصَلَتْ هَذِهِ الْإِشَاعَةُ إِلَى الْمُسْلِمِينَ الْمُهَاجِرِينَ فِي الْحَبَشَةِ.

Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat di Masjidilharam, lalu membaca Surah An-Najm. Ketika sampai pada ayat sajdah, beliau bersujud. Orang-orang yang hadir, baik dari kalangan Muslimin maupun musyrikin, ikut bersujud bersama beliau. Kaum musyrikin itu telah mendengar berita tentang umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah ketika mereka bersikap sewenang-wenang dan membangkang. Kemudian tersebar kabar di tengah masyarakat bahwa kaum Quraisy telah masuk Islam. Kabar tersebut sampai kepada kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah.

فَرَجَعَ بَعْضُهُمْ إِلَى مَكَّةَ، لَكِنَّهُمْ أَدْرَكُوا حَقِيقَةَ الْأَمْرِ، فَعَادَ بَعْضُهُمْ إِلَى الْحَبَشَةِ مَرَّةً أُخْرَى، وَهَاجَرَ مَعَهُمْ آخَرُونَ بِسَبَبِ مَا نَالَهُمْ مِنْ أَذَى قُرَيْشٍ، وَكَانَ عَدَدُ مَنْ هَاجَرَ هَذِهِ الْمَرَّةَ قَرِيبًا مِنَ الثَّمَانِينَ، وَهَذِهِ هِيَ الْهِجْرَةُ الثَّانِيَةُ.

Sebagian dari mereka pun kembali ke Makkah. Akan tetapi, setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebagian kembali lagi ke Habasyah. Bersama mereka, turut berhijrah orang-orang lain karena gangguan yang mereka terima dari kaum Quraisy. Jumlah orang yang berhijrah pada kesempatan ini mendekati delapan puluh orang. Inilah yang disebut hijrah kedua ke Habasyah.

غَضِبَتْ قُرَيْشٌ مِنْ هِجْرَةِ الْمُسْلِمِينَ، وَخَافُوا مِنْ تَجَمُّعِهِمْ، وَظُهُورِ أَمْرِهِمْ، فَبَعَثُوا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ وَعَمْرَو بْنَ الْعَاصِ بِالْهَدَايَا إِلَى النَّجَاشِيِّ لِيَرُدَّهُمْ، وَتَشَفَّعُوا إِلَيْهِ بِالْقُوَّادِ مِنْ جُنْدِهِ، فَلَمْ يُجِبْهُمْ إِلَى مَا طَلَبُوا، فَوَشَوْا إِلَيْهِ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ يَقُولُونَ فِي عِيسَى قَوْلًا عَظِيمًا، فَأُحْضِرَ الْمُسْلِمُونَ إِلَى مَجْلِسِهِ، فَسَأَلَهُمْ: «مَا تَقُولُونَ فِي عِيسَى؟» فَتَلَا عَلَيْهِ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سُورَةَ «مَرْيَمَ».

Kaum Quraisy marah atas hijrahnya kaum Muslimin. Mereka khawatir kaum Muslimin akan berkumpul dan kedudukan mereka semakin kuat serta dikenal. Karena itu, Quraisy mengutus Abdullah bin Abi Rabi‘ah dan ‘Amr bin Al-‘Ash dengan membawa hadiah-hadiah kepada Raja Najasyi agar ia memulangkan para muhajirin. Mereka juga meminta bantuan para komandan pasukan Najasyi untuk membujuk sang raja. Namun, Najasyi tidak mengabulkan permintaan tersebut. Kedua utusan itu kemudian mengadukan bahwa kaum Muslimin mengucapkan sesuatu yang besar tentang Isa. Maka para Muslimin dipanggil menghadap Najasyi. Raja itu bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa?” Ja‘far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kemudian membacakan Surah Maryam di hadapannya.

فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذَ النَّجَاشِيُّ عُودًا مِنَ الْأَرْضِ، فَقَالَ: «مَا زَادَ هَذَا عَلَى مَا فِي التَّوْرَاةِ وَلَا هَذَا الْعُودَ». ثُمَّ قَالَ: «اذْهَبُوا فَأَنْتُمْ آمِنُونَ بِأَرْضِي، مَنْ سَبَّكُمْ غَرِمَ». وَقَالَ لِعَمْرٍو وَعَبْدِ اللَّهِ: «وَاللَّهِ لَوْ أَعْطَيْتُمُونِي الذَّهَبَ مَا سَلَّمْتُهُمْ إِلَيْكُمَا». ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِمَا هَدَايَاهُمَا، وَرَجَعَا إِلَى مَكَّةَ خَائِبَيْنِ خَاسِرَيْنِ.

Setelah Ja‘far selesai membaca, Najasyi mengambil sebatang ranting dari tanah lalu berkata, “Apa yang disampaikan ini tidaklah melebihi apa yang ada dalam Taurat, bahkan tidak sebesar ranting ini.” Kemudian ia berkata kepada kaum Muslimin, “Pergilah, kalian aman di negeriku. Siapa pun yang mencela kalian akan dikenai denda.” Kepada ‘Amr dan Abdullah, ia berkata, “Demi Allah, sekalipun kalian memberiku emas, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua.” Setelah itu, Najasyi mengembalikan hadiah-hadiah mereka. Keduanya pulang ke Makkah dalam keadaan gagal dan merugi.

Sumber: Durūs min as-Sīrah (دروس من السيرة), pembahasan Al-Hijrah ats-Tsāniyah ilā al-Ḥabasyah (الهجرة الثانية إلى الحبشة), halaman 32 kitab (halaman 33 PDF). Harakat dan pemisahan paragraf disesuaikan agar lebih mudah dibaca.

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button