Tarbawi

Akulah yang Membutuhkan-Mu Bag 1

TAZKIYATUN NAFS • BAGIAN 1

Akulah yang Membutuhkan-Mu

Sebuah Renungan tentang Kefakiran Hamba di Hadapan Allah

Aku tersesat di jalan-jalan kehidupan, mencari seteguk petunjuk.

Aku mengakui ketidakberdayaanku di hadapan kuasa-Mu, kelemahanku di hadapan kekuatan-Mu, dan kefakiranku di hadapan kekayaan-Mu.

Aku akan binasa jika rahmat-Mu tidak segera menjangkauku. Maka, rahmatilah aku, wahai Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.

Renungan Keimanan

Bagaimana Menggapai Rasa Butuh kepada Allah

01

Ujian dan Cobaan

Ada dua jenis kefakiran atau kebutuhan kepada Allah:

a

Kebutuhan yang Melekat pada Setiap Makhluk

Kebutuhan ini berlaku bagi orang beriman maupun kafir, orang saleh maupun durhaka. Tanpa pemeliharaan dan penjagaan Allah, seluruh makhluk pasti binasa. Semua makhluk senantiasa berada dalam limpahan kebaikan dan kemurahan-Nya.

Seandainya kita tidak diberi udara selama satu jam saja, kita pasti binasa. Seandainya Allah membiarkan langit tanpa menahannya, langit pasti menimpa bumi dan kita pun binasa. Seandainya Dia menahan hujan dari kita, kita pun akan binasa.

Namun, bukan kebutuhan semacam ini yang dimaksud dalam tulisan ini. Sebab, kebutuhan ini saja tidak mendatangkan manfaat bagi seseorang.1

Catatan penjelas penerjemah: Yang dimaksud ialah bahwa kebutuhan yang melekat pada setiap makhluk, tanpa disertai kesadaran dan ketundukan kepada Allah, tidak dengan sendirinya memberikan manfaat keimanan.
b

Kebutuhan yang Disadari dan Dihayati atas Kehendak Sendiri

Yaitu merasa membutuhkan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta mengosongkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya. Tidak bertawakal kecuali kepada-Nya, tidak mencari perlindungan kecuali kepada-Nya, tidak menaruh kepercayaan kecuali kepada-Nya, tidak mengharapkan keridaan kecuali dari-Nya, dan tidak memohon kecuali kepada-Nya.

✦

Berikut Beberapa Teladan

a

Muhammad ﷺ

Beliau adalah penghulu orang-orang yang merasa membutuhkan Allah. Perhatikanlah apa yang beliau alami di Thaif ketika menemui tiga putra Abdu Yalail.

Salah seorang dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang selain dirimu untuk diutus?”

Yang kedua berkata, “Sungguh, aku akan merobek penutup Ka‘bah jika engkau benar-benar seorang nabi.”

Yang ketiga berkata, “Jika engkau seorang nabi, kedudukanmu terlalu tinggi untuk aku ajak bicara. Namun, jika engkau seorang pendusta, aku tidak akan berbicara dengan seorang pendusta.”

Nabi ﷺ dilempari batu. Ketika beliau berlari, beliau dilempari hingga tersungkur ke tanah. Beliau lalu diangkat dengan memegang kedua lengannya, kemudian dilempari lagi. Beliau kembali diangkat dengan memegang kedua lengannya hingga akhirnya jatuh. Anak-anak terus mengejar beliau sambil mencaci dan menuduh beliau bodoh serta gila.

Di tengah cobaan ini, doa mengalir tulus dari hati beliau, dipenuhi rasa butuh kepada rahmat Allah dan harapan akan keridaan-Nya. Beliau berdoa:

DOA RASULULLAH ﷺ

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, keterbatasan daya upayaku, dan kehinaanku di mata manusia. Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku.

Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang menyambutku dengan wajah masam, atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atas urusanku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli.

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang menerangi segala kegelapan dan menjadikan urusan dunia serta akhirat berjalan baik, dari kemurkaan-Mu yang menimpaku atau amarah-Mu yang turun kepadaku.

Aku terus memohon keridaan-Mu hingga Engkau rida. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.”

Allah pun mengabulkan doa beliau dan menguatkannya melalui manusia dan malaikat.

Pertolongan melalui manusia: Ada beberapa orang dari Yatsrib yang beliau tawari Islam, lalu mereka memeluknya.

Pertolongan melalui malaikat: Malaikat penjaga gunung meminta izin kepada beliau untuk menimpakan dua gunung Akhsyabain—dua gunung di sekitar Makkah—kepada mereka. Namun, Rasulullah ﷺ menolak.

✦
b

Musa عليه السلام

Ketika Fir‘aun beserta pasukannya mengepung Musa, dan bumi yang luas terasa sempit baginya, beliau berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemukanya perhiasan serta harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka sehingga mereka tidak beriman hingga melihat azab yang pedih.”

Allah berfirman:

“Sungguh, doa kalian berdua telah dikabulkan. Maka, tetaplah kalian berdua istiqamah dan jangan mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”

Surah Yunus: 88–89

Doa ini dipanjatkan ketika cobaan semakin berat dan kesewenang-wenangan semakin menjadi-jadi. Jarak antara doa tersebut dan kebinasaan Fir‘aun adalah empat puluh tahun.

✦
c

Seorang Lelaki yang Mendatangi Bisyr bin Al-Harits

Seorang lelaki miskin mendatangi Bisyr bin Al-Harits untuk meminta didoakan. Bisyr menasihatinya agar menunggu saat anak-anaknya memberitahukan bahwa persediaan tepung telah habis, lalu berdoa kepada Allah pada saat itu.

“Doamu saat itu lebih utama daripada doaku.”

Mengapa? Karena dalam keadaan tersebut, ia tidak akan meminta pertolongan kecuali kepada Allah dan tidak akan bersandar kecuali kepada-Nya.

Ketika Bisyr bertemu seorang lelaki yang meminta-minta kepada sesama makhluk, padahal merekalah yang memiliki kekayaan, beliau memukulnya dengan cambuk dan menasihatinya:

“Tidakkah engkau malu meminta dunia kepada mereka yang juga mengejar dunia? … Mintalah dunia kepada Dia yang menggenggam dunia di tangan-Nya.”

RENUNGAN

Wahai saudariku, rasa butuh kepada Allah yang kita tumbuhkan melalui cobaan akan mendorong kita untuk bersabar. Kesabaran adalah pintu untuk memasuki surga di akhirat, sekaligus salah satu pintu kelapangan di dunia. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.

02

Dosa-Dosa

MUNAJAT SEORANG HAMBA

Ya Rabb, dengan kaki yang manakah aku melangkah menuju-Mu? Dengan kedua kakiku yang selama ini berulang kali melangkah menuju kemurkaan-Mu dan menjauh dari rahmat-Mu?

Ya Rabb, dengan mata yang manakah aku memandang-Mu? Dengan kedua mataku yang menikmati perkara haram dan mendambakan pemenuhan syahwat?

Ya Rabb, dengan lisan yang manakah aku bermunajat kepada-Mu? Dengan lisanku yang telah melontarkan ucapan paling buruk dan mengucapkan kata-kata yang paling keji?

Ya Rabb, dengan hati yang manakah aku mengharapkan-Mu? Dengan hatiku yang seluruh ruangnya dipenuhi kesibukan dunia, hingga tak tersisa sejengkal pun tempat untuk akhirat? Ataukah dengan hatiku yang belum mengenal-Mu dan belum mencintai-Mu, yang telah mengecap nikmat-Mu tetapi belum menunaikan hak-Mu untuk disembah?

Ya Rabb, jika Engkau tidak merahmatiku, adakah selain-Mu yang memiliki rahmat untuk kusentuh? Jika Engkau tidak mengampuni, adakah selain-Mu yang dapat mengampuni dosa?!

Wahai saudaraku…

Perlihatkanlah kelemahanmu kepada Allah, semoga Dia memulihkannya. Datanglah dengan kefakiran dan air mata, kesedihan dan kegelisahan, rasa takut dan khawatir, kegentaran dan tangisan. Raihlah surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Seorang hamba menyendiri; dosa-dosanya telah menyerahkannya
kepada kekerasan hati yang menutup segala jalan keselamatannya.

Ia berlari menuju Sang Pelindung dan menyerahkan dirinya,
lalu menambatkan tali kehidupannya pada ketakwaan.

Ia menyeru ketika malam menurunkan tirainya,
sementara air mata terus membasahi matanya.

Gejolak kerinduan membara di dalam dadanya,
hingga tubuhnya seakan terbakar oleh nyala api itu.

Ia telah mendurhakai Sang Raja, Pelindung yang melimpahkan ampunan;
maka ia merendahkan diri, bertobat sebelum kematiannya.

Serulah Tuhanmu dengan penuh ketulusan:

PERMOHONAN AMPUNAN

“Wahai Zat yang tidak pernah jemu menerima doa, tidak merasa gelisah oleh seruan hamba, tidak mengecewakan harapan, dan perbendaharaan karunia-Nya tidak pernah habis meski terus memberi.

Wahai Yang Mahakaya, yang tidak membutuhkan siksa untuk menghukumku, akulah yang paling membutuhkan ampunan-Mu.”

Memohonlah dengan penuh kerendahan hati. Nyatakanlah ketidakberdayaanmu, agar Dia melimpahkan pertolongan kepadamu. Teladanilah saudara-saudara Yusuf agar Dia berkenan melimpahkan karunia kepadamu…

Dosa-dosa telah membebaniku, tak mampu kuhitung semuanya;
maka jadikanlah limpahan kebaikan-Mu meliputinya.

Kasihanilah diriku, wahai Pemilik kemurahan, jika aku tak menyadari
betapa luas ampunan-Mu bagi dosa-dosa itu.

RENUNGAN

Rasa butuh kepada Allah yang kita tumbuhkan melalui kesadaran akan dahsyatnya dampak dosa akan mendorong kita untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Tobat yang tulus disertai dengan peningkatan derajat dan penggantian keburukan menjadi kebaikan. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.

Wahai mataku, menangislah dan cucurkanlah air mata
atas dosa yang menyelimuti hati hingga ia tunduk mendengarkannya.

Di manakah air mata atas pipi yang sekian kali mengalir?
Jiwa telah condong kepada kedurhakaan, wahai Rabb.

Akankah engkau sadar dari mabuk syahwat,
atau tetap berada di jurang kesengsaraan?

Bagaimana kaki akan melangkah di atas gunung-gunung dosa?
Bagaimana akan berdiri orang yang tak memiliki amal?

Air mataku telah enggan mengalir karena kurangnya ketakwaan,
padahal aku telah memohon kepadanya untuk turut mengadukan derita.

Aku termasuk orang yang berharap pintu itu tak tertutup;
tetapi aku tak mengetuknya, bahkan berdiri menjauh darinya.

Sumber Tulisan

Diterjemahkan dari kitab Hibbi Ya Rihal Iman, karya Khalid Abu Syadi.

Bagikan manfaat ini:

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Bagikan