Khutbah Jumat: Memulikan Warisan Nabi: Kedudukan Ulama Dan Bahaya Propoaganda Penistatannya

Download Pdfnya Klik
Memulikan Warisan Nabi: Kedudukan Ulama Dan Bahaya Propoaganda Penistatannya
Penulis:
(Doktor King Saud University, Riyadh, KSA)
Ustaz Dr. Eko Mishbahuddin, Lc., M.A.
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَفَعَ مَنَارَ العِلْمِ فِي الآفاق، وَأَنَارَ بِنُورِ الوَحْيِ بَصَائِرَ الخَلاَئِقِ، وَجَعَلَ العُلَمَاءَ شُمُوسًا تُبَدِّدُ ظُلُمَاتِ الجَهْلِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِ وَجْهِهِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِهِ، كَمَا يَتَنَسَّمُ الصَّبَاحُ بِعَبِيرِ الإِيمَانِ، وَتَتَرَنَّمُ الأَرْوَاحُ بِطَاعَةِ الرَّحْمَنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهِدَ لِنَفْسِهِ بِالتَّوْحِيدِ وَقَرَنَ شَهَادَتَهُ بِشَهَادَةِ مَلَائِكَتِهِ وَأُولِي العِلْمِ المَجِيدِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، المَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَسِرَاجًا مُنِيرًا لِلْسَّالِكِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ المَيَامِينِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan jin dengan satu tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk beribadah dan mengabdikan diri hanya kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Karena tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah, maka ilmu teragung yang harus dipelajari manusia adalah ilmu tauhid, yang membimbingnya memahami hakikat penciptaannya. Dengan ilmu inilah, seorang hamba dapat berjalan menuju keridaan Allah Azza wa Jalla.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Allah Azza wa Jalla telah memuliakan ulama dengan kedudukan yang sangat tinggi di sisi-Nya. Kemuliaan yang mereka raih bukanlah karena nasab, harta, warna kulit, maupun kebangsaan, melainkan karena ilmu syariat yang tertanam di dada mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut: 49)
Kedudukan mulia ini ditegaskan kembali oleh Allah, dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah niscaya mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Bahkan, Allah Jalla Jalāluh menyandingkan kesaksian para ulama dengan kesaksian-Nya dan kesaksian para malaikat-Nya atas keesaan-Nya:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“Allah menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali ‘Imran: 18)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda mengenai warisan teragung yang dipegang oleh para ulama, beliau bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Jamaah yang berbahagia,
Ulama adalah pembawa rahmat bagi umat. Ketika ilmu redup dan kebodohan meluas, perpecahan dan fitnah akan merajalela. Namun, dalam perjalanan sejarah, para penurut hawa nafsu selalu berusaha merusak hubungan antara umat dan ulama.
Pola ini bukanlah hal baru. Para nabi terdahulu pun mengalami penolakan serupa. Ketika Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam berdakwah, kaumnya duduk di setiap jalan untuk menghalangi manusia dari ajaran Allah.
Allah Ta’ala mengabadikan hal ini dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah…” (QS. Al-A’raf: 86)
Demikian pula yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama kurang lebih sepuluh tahun, beliau mendatangi pusat-pusat keramaian dan musim haji untuk menyampaikan risalah Allah. Namun, para pemuka Quraisy mendatangi orang-orang yang datang dari luar Makkah sambil menakut-nakuti agar mereka tidak mendengarkan beliau. Mereka menuduh Nabi sebagai tukang sihir, penyair, atau orang gila semata-mata untuk memisahkan antara pembawa risalah dan risalah itu sendiri.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di era modern saat ini, media dan teknologi berkembang sangat pesat. Alat tulis dan sarana informasi begitu mudah diakses oleh siapa saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengisyaratkan kondisi zaman mendekati kiamat:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تِسْلِيمَ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ… وَظُهُورَ الْقَلَمِ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah salam hanya kepada orang tertentu, meluasnya perdagangan…, dan banyaknya penyebaran pena (tulisan).” (HR. Ahmad)
Maraknya karya tulis dan kemudahan menyampaikan pendapat di zaman ini kerap tidak diimbangi dengan kedalaman ilmu. Banyak orang yang hanya berbekal kemampuan merangkai kata, namun menyebarkan kebodohan dan berani mencela para ulama.
Upaya menjatuhkan ulama dan mencederai kehormatan mereka pada hakikatnya adalah sarana untuk merusak rasa percaya masyarakat terhadap ilmu agama yang mereka bawa. Apabila kepercayaan kepada pembawa ilmu telah runtuh, maka ilmu dan risalah Islam itu sendiri akan ditinggalkan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hati kita, memelihara lisan kita dari mencela para ulama, serta membimbing kita untuk selalu bernaung di bawah petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ البَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَوَعَتْ أُذُنٌ بِخَبَرٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِينِ الشُّرَفَاءِ الْأَخْيَار.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوّى، وّاعْلَمُوْا أَنَّ أَجْسَادَنَا عَلىَ النَّارِ لاَ تَقْوَى.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di akhir khutbah ini, mari kita merenungkan pentingnya bersikap adil dan bijaksana terhadap ulama dan mualim. Kita harus bisa membedakan antara dua sikap:
1. Menghormati dan memuliakan ulama tanpa mengagungkannya secara berlebihan (taqdis). Kita menyadari bahwa ulama bukan sosok yang maksum. Mereka bisa saja keliru dalam berijtihad atau berucap.
2. Kritik yang berniat memperbaiki vs perburuan kesalahan (tatabbu’ al-‘atsarat). Nasihat dan koreksi yang disampaikan dengan adab dan kebenaran adalah hal yang disyariatkan. Namun, mencari-cari kesalahan ulama dengan niat menjatuhkan kehormatan serta menolak ajaran agama yang mereka sampaikan adalah bentuk penyimpangan hati.
Mengadu domba dan memutus hubungan antara masyarakat dan ulama merupakan dosa besar. Jika memutus silaturahmi antar kerabat saja diancam dosa besar, maka memutus hubungan spiritual dan keilmuan antara masyarakat dan para ulama lebih besar dampaknya karena dapat merusak agama umat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang perilaku kaum munafik yang selalu berusaha menyebarkan fitnah di tengah kaum mukminin:
لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ
“Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah kepadamu selain kekacauan, dan tentu mereka akan bergegas maju di celah-celah barisanmu untuk memfitnahmu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka…” (QS. At-Taubah: 47)
Marilah kita menjadi pribadi yang cerdas, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bertujuan menggoyahkan kepercayaan kita terhadap ajaran agama dan para penyampainya. Tetaplah berpegang teguh pada kebenaran dan terus menuntut ilmu dari sumber-sumber yang terpercaya.
Hadirin sekalian, ingatlah bahwa Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk senantiasa berselawat kepada Nabi kita Muhammad, firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ عُلَمَاءَنَا وَدُعَاتَنَا وَالمُصْلِحِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَاحْرُسْهُمْ بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ، وَاجْعَلْهُمُ هُدَاةً مُهْتَدِينَ غيرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالطَّعْنِ فِي أَعْرَاضِ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ القَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُشْتَبِهًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

+6285333345252



