Ketika mengetahui bahwa Nabi ﷺ berangkat untuk berumrah, Quraisy menyiapkan perlengkapan perang dan bertekad menghalangi kaum muslimin memasuki Makkah dengan segala cara. Rasulullah ﷺ terus berjalan hingga mendekati Makkah. Namun, Quraisy bersikeras mencegah beliau memasuki kota dan bertawaf di Baitullah. Mereka mengirim pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Al-Walid untuk menghalangi Rasulullah ﷺ dan para sahabat memasuki Makkah.
Ketika mengetahui keberangkatan pasukan berkuda kaum musyrik, Rasulullah ﷺ beralih dari jalur yang mereka tempuh dan melanjutkan perjalanan melalui jalan lain. Beliau tidak ingin berhadapan langsung dengan Quraisy.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang berjalan, untanya berhenti dan menderum di suatu tempat dekat Makkah yang bernama Hudaibiyah. Para sahabat berkata, “Al-Qashwa’ mogok,” yang mereka maksud adalah unta beliau. Nabi ﷺ bersabda, “Al-Qashwa’ tidak mogok; itu bukan kebiasaannya. Namun, ia ditahan oleh Zat yang dahulu menahan pasukan bergajah.”
Rasulullah ﷺ memahami bahwa pada saat itu Allah tidak menghendaki beliau memasuki Makkah dan berhadapan langsung dengan Quraisy. Beliau memutuskan untuk berunding mengenai izin memasuki Makkah dan mengunjungi Baitullah. Beliau bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika mereka mengajukan kepadaku suatu ketentuan yang mengagungkan hal-hal yang dimuliakan Allah, pasti akan aku kabulkan.”