Dalam syariat Rasulullah ﷺ, perang memiliki adab dan aturan yang dilandasi kelembutan serta kasih sayang. Jika beliau terpaksa memilih perang, bukan berarti beliau melepaskan kasih sayang dan menjadikan penumpahan darah sebagai tujuan tanpa memperhatikan perjanjian maupun kehormatan.
Salah satu wujud kelembutan yang menjadi dasar kebijakan perang dalam Islam adalah larangan menyakiti orang-orang yang tidak terlibat dalam pertempuran, seperti para rahib, petani, perempuan, anak-anak, orang tua renta, pekerja upahan, orang yang mengalami gangguan jiwa, orang buta, dan orang yang cacat.
Salah satu adab perang dalam Islam adalah memenuhi jaminan keamanan bagi pihak lawan. Jika seorang prajurit memberikan perlindungan kepada salah seorang musuh, jaminan itu harus dihormati dan orang tersebut tidak boleh disakiti. Hal ini ditunjukkan dalam sabda Nabi ﷺ, “Jaminan kaum muslimin itu satu; orang yang paling rendah kedudukannya pun dapat memberikan perlindungan.” Ketika Abu Rafi‘ datang membawa surat Quraisy kepada Rasulullah ﷺ dan melihat beliau, Islam tertanam di hatinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak akan pernah kembali kepada mereka.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku tidak akan mengkhianati perjanjian dan tidak akan menahan para utusan. Kembalilah. Jika keyakinan yang ada di hatimu sekarang tetap ada, datanglah kembali.” Ia berkata, “Aku pun kembali, lalu datang lagi kepada Rasulullah ﷺ dan masuk Islam.”