Bagian 103: Pelajaran dan Hikmah dari Perang Mu’tah
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 103
Pelajaran dan Hikmah dari Perang Mu’tah
Wahyu memberi tahu Rasulullah ﷺ—ketika beliau berada di Madinah—rincian peristiwa yang dialami pasukan beliau di Syam. Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi ﷺ menyampaikan gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Ibnu Rawahah kepada orang-orang sebelum kabar itu sampai kepada mereka.” Beliau bersabda, “Zaid mengambil panji lalu gugur. Kemudian Ja‘far mengambilnya lalu gugur. Setelah itu Ibnu Rawahah mengambilnya lalu gugur.” Kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Beliau melanjutkan, “Kemudian panji diambil oleh salah satu pedang Allah, hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka.”
Perang Mu’tah merupakan salah satu mukjizat dan kemuliaan yang luar biasa. Jarang sekali terjadi tiga ribu orang mampu menghadapi dua ratus ribu pasukan, bertahan, bahkan menimbulkan banyak korban di pihak lawan. Khalid bin Walid berkata, “Pada hari Mu’tah, sembilan pedang patah di tanganku. Yang tersisa hanyalah sebilah pedang Yaman.” Sungguh jarang seorang prajurit berdiri menghadapi tujuh puluh prajurit bersenjata. Namun, kekuatan imanlah yang membuat kaum muslimin bertahan di hadapan pasukan musuh.
Perang itu membuat nama kaum muslimin semakin disegani di kalangan bangsa Arab. Tak seorang pun membayangkan ada yang berani menghadapi kekuatan terbesar di muka bumi. Apalagi pasukan kecil itu kembali tanpa kerugian berarti.