Konsultasi

Tata Cara Salat Istisqa dan Waktu Pelaksanaannya

Nomor Fatwa: 139 Tata Cara Salat Istisqa dan Waktu Pelaksanaannya

☷ Daftar Isi Artikel

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz Berian Muntaqo Fatkhuri, mohon pencerahannya mengenai:

  • Bagaimana tata cara salat Istisqa beserta dalil-dalilnya?
  • Kapan waktu pelaksanaan salat Istisqa?

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Salat Istisqa (صلاة الاستسقاء) adalah salat yang disyariatkan untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan, terutama ketika terjadi kekeringan, kekurangan air, atau terhentinya hujan yang dibutuhkan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Menurut mazhab Syafi’i, salat Istisqa hukumnya sunah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan) dan disyariatkan dilaksanakan secara berjamaah.

1. Dalil disyariatkannya salat Istisqa

Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:

عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ:

«خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ يَسْتَسْقِي، فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو، وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ».

Artinya:

“Nabi ﷺ keluar untuk memohon hujan. Beliau menghadap kiblat sambil berdoa, membalikkan selendangnya, kemudian melaksanakan salat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan pada keduanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi yang terdapat dalam riwayat Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ melaksanakan salat Istisqa dua rakaat, berdoa memohon hujan, dan membalikkan selendangnya.

2. Tata cara salat Istisqa menurut mazhab Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i, tata cara salat Istisqa pada dasarnya menyerupai salat Id, yaitu dua rakaat dengan takbir tambahan, kemudian dilanjutkan dengan dua khutbah.

Berikut penjelasannya.

A. Persiapan sebelum salat

Disunahkan bagi imam atau pemimpin untuk mengajak masyarakat bertobat, memperbanyak istigfar, meninggalkan kezaliman, mengembalikan hak orang lain, bersedekah, dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyyah juga disebutkan anjuran berpuasa selama tiga hari sebelum keluar melaksanakan salat Istisqa, kemudian keluar pada hari keempat dalam keadaan berpuasa.

Ketentuan ini merupakan anjuran fikih dalam mazhab Syafi’i, bukan syarat sah salat Istisqa.

B. Pelaksanaan salat dua rakaat

Rakaat pertama:

  • Berniat melaksanakan salat sunah Istisqa.
  • Melakukan takbiratul ihram.
  • Membaca doa iftitah.
  • Melakukan tujuh takbir tambahan menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’i.
  • Membaca surah Al-Fatihah.
  • Membaca surah lain, disunahkan surah Qaf menurut keterangan sebagian kitab fikih Syafi’iyyah.
  • Melaksanakan rukuk, iktidal, dua sujud, dan duduk di antara dua sujud sebagaimana salat biasa.

Rakaat kedua:

  • Berdiri untuk rakaat kedua.
  • Melakukan lima takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah.
  • Membaca surah Al-Fatihah.
  • Membaca surah lain, disunahkan surah Al-Qamar menurut keterangan sebagian kitab fikih Syafi’iyyah.
  • Menyempurnakan salat sebagaimana biasa hingga salam.

Bacaan Al-Fatihah dan surah dilakukan dengan suara keras (jahr) sebagaimana salat Id.

Perlu diperhatikan bahwa tujuh dan lima takbir tersebut adalah takbir tambahan, sehingga takbiratul ihram pada rakaat pertama dan takbir ketika bangkit menuju rakaat kedua tidak termasuk dalam hitungan takbir tambahan tersebut.

C. Khutbah Istisqa

Setelah salat selesai, imam menyampaikan dua khutbah sebagaimana ketentuan dalam mazhab Syafi’i.

Dalam khutbah tersebut dianjurkan memperbanyak istigfar, mengingatkan jamaah agar bertobat, serta memperbanyak doa memohon hujan.

Di antara kekhususan yang disebutkan dalam fikih Syafi’i ialah mengganti takbir pembuka khutbah Id dengan istigfar, yaitu sembilan kali pada permulaan khutbah pertama dan tujuh kali pada permulaan khutbah kedua.

Ketentuan ini termasuk tata cara yang dianjurkan dalam mazhab, bukan syarat sah khutbah.

D. Menghadap kiblat dan membalikkan selendang

Ketika berdoa memohon hujan, imam disunahkan menghadap kiblat dan membalikkan selendang atau kain luarnya.

Dalilnya adalah hadis Abdullah bin Zaid:

«وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ»

“Dan beliau membalikkan selendangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam mazhab Syafi’i, membalikkan selendang juga dianjurkan bagi jamaah yang mengenakan kain luar yang sesuai untuk dibalikkan.

Adapun orang yang tidak memakai selendang atau pakaian luar semacam itu tidak perlu memaksakan diri membalikkan bajunya.

E. Doa memohon hujan

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:

«اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا».

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula doa:

«اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ».

“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati.”

(HR. Abu Dawud).

3. Kapan waktu pelaksanaan salat Istisqa?

Dalam mazhab Syafi’i, salat Istisqa tidak dibatasi pada hari atau jam tertentu.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 5, halaman 76–77, menurut cetakan yang dirujuk:

«وَالثَّالِثُ وَهُوَ الصَّحِيحُ بَلِ الصَّوَابُ أَنَّهَا لَا تَخْتَصُّ بِوَقْتٍ، بَلْ تَجُوزُ وَتَصِحُّ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِنْ لَيْلٍ وَنَهَارٍ، إِلَّا أَوْقَاتِ الْكَرَاهَةِ عَلَى أَحَدِ الْوَجْهَيْنِ».

Artinya:

“Pendapat ketiga, dan inilah pendapat yang sahih, bahkan yang benar, bahwa salat Istisqa tidak dikhususkan pada waktu tertentu. Salat tersebut boleh dan sah dilaksanakan kapan saja, baik malam maupun siang, kecuali pada waktu-waktu yang dimakruhkan menurut salah satu pendapat.”

Dengan demikian:

  • Salat Istisqa dapat dilaksanakan pada pagi, siang, atau malam hari, dengan memperhatikan ketentuan waktu yang dimakruhkan untuk salat.
  • Waktu pagi setelah matahari terbit dan meninggi merupakan pilihan yang baik karena sesuai dengan praktik Nabi ﷺ ketika keluar untuk melaksanakan Istisqa.
  • Tidak ada ketentuan bahwa salat Istisqa harus dilaksanakan pada hari Senin, Kamis, Jumat, atau hari tertentu.
  • Salat dapat dilaksanakan ketika terjadi kebutuhan untuk memohon hujan, dan boleh diulangi apabila hujan belum turun.

4. Keterangan ulama mazhab Syafi’i

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Raudhah Ath-Thalibin, pada pembahasan salat Istisqa:

«السُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَهَا فِي الصَّحْرَاءِ».

“Yang disunahkan adalah melaksanakannya di tanah lapang.”

Beliau juga menjelaskan:

«وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ زَائِدَةٍ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا».

“Melaksanakan salat dua rakaat, bertakbir tujuh kali tambahan pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.”

Perlu dipahami bahwa takbir tambahan dan khutbah merupakan kesunahan dalam tata cara salat Istisqa. Jika takbir tambahan terlupa, salat tetap sah.

Demikian pula, salat Istisqa tetap sah apabila dilaksanakan di masjid, meskipun pelaksanaannya di tanah lapang lebih sesuai dengan kesunahan.

Kesimpulan

Menurut mazhab Syafi’i, salat Istisqa hukumnya sunah muakkadah, dilaksanakan dua rakaat seperti salat Id, dengan tujuh takbir tambahan pada rakaat pertama dan lima takbir tambahan pada rakaat kedua. Setelah salat disunahkan dua khutbah yang berisi istigfar, nasihat, dan doa memohon hujan.

Adapun waktunya tidak terbatas pada hari atau jam tertentu. Salat Istisqa dapat dilaksanakan ketika masyarakat membutuhkan hujan, dan waktu pagi setelah matahari meninggi merupakan salah satu waktu yang baik untuk pelaksanaannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button