Amalan untuk Menghadapi Fitnah dan Selamat dari Azab Kubur
Nomor Fatwa: 145 Amalan untuk Menghadapi Fitnah dan Selamat dari Azab Kubur
☷ Daftar Isi Artikel
Pertanyaan
Ustadz amalan apa saja supaya kita nanti bisa menjawab dan melalui fitnah kubur? Syukron
Jawaban
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du.
Hal terpenting dalam menghadapi fitnah kubur bukan sekadar menghafal jawaban “Siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu?”, tetapi hidup di atas iman dan tauhid. Sebab, Allah-lah yang memberikan keteguhan kepada seorang mukmin ketika ditanya di dalam kuburnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS. Ibrahim: 27)
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan pertanyaan terhadap seorang mukmin di dalam kuburnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, sebab-sebab keselamatan dari fitnah dan azab kubur dapat dibagi menjadi dua: sebab umum yang berkaitan dengan iman, tobat, dan amal saleh; serta sebab khusus yang disebutkan secara khusus dalam dalil.
Pertama: Sebab-Sebab Umum
1. Menjaga tauhid dan istiqamah di atas iman
Inilah sebab yang paling mendasar. Seorang Muslim hendaknya mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, mengikuti Rasulullah ﷺ, menjalankan agama Islam, dan memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan beriman.
Jawaban di alam kubur bukan semata-mata hasil hafalan, tetapi merupakan taufik dan keteguhan yang Allah berikan kepada orang beriman.
Karena itu, Nabi ﷺ sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2140)
2. Bertobat dan memperbanyak istighfar
Dosa dan kemaksiatan merupakan sebab datangnya hukuman. Karena itu, di antara sebab terbesar keselamatan adalah tobat yang sungguh-sungguh dan memperbanyak istighfar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman akibat dosa dapat terhapus dari seorang hamba melalui sekitar sepuluh sebab. Pertama: tobat, dan hal ini telah disepakati oleh kaum Muslimin…. Sebab kedua: istighfar.”
(Majmu‘ Al-Fatawa, 7/487–488)
Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
“Dan sungguh, Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap berada di jalan petunjuk.”
(QS. Thaha: 82)
3. Memperbanyak amal saleh
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.”
(QS. Hud: 114)
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzarr radliallahu anhu:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1987; beliau menilainya hasan shahih)
Termasuk di dalamnya menjaga salat, puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, zikir, berbakti kepada orang tua, dan berbagai bentuk amal saleh lainnya.
4. Berbuat baik kepada manusia
Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ… وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari Kiamat. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat…. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim no. 2699)
Termasuk di dalamnya memaafkan kesalahan orang lain dan memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan membayar utang.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amal: sebagaimana seseorang memaafkan orang lain, Allah pun memberikan ampunan kepadanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/31)
5. Menjauhi dosa-dosa yang menjadi sebab azab kubur
Di antara perkara yang secara khusus disebutkan Nabi ﷺ sebagai sebab azab kubur adalah tidak menjaga diri dari air kencing dan melakukan namimah atau adu domba.
Nabi ﷺ pernah melewati dua kuburan lalu bersabda:
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Sesungguhnya keduanya sedang diazab…. Adapun salah seorang dari keduanya, ia tidak menjaga diri dari air kencing. Sedangkan yang lainnya biasa berjalan menyebarkan namimah.”
(HR. Al-Bukhari no. 218 dan Muslim no. 292)
6. Memohon perlindungan dari fitnah dan azab kubur
Ini termasuk amalan yang sangat ditekankan oleh Nabi ﷺ.
Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan Al-Masih Ad-Dajjal.’”
(HR. Muslim no. 588. Asal hadis juga diriwayatkan Al-Bukhari no. 1377)
Doa ini dibaca setelah tasyahud akhir sebelum salam.
Aisyah radliallahu anha juga berkata:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَعْدُ صَلَّى صَلَاةً إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Setelah itu, aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melaksanakan salat kecuali beliau memohon perlindungan dari azab kubur.”
(HR. Al-Bukhari no. 1372 dan Muslim no. 586)
Kedua: Amalan dan Keadaan yang Disebutkan Secara Khusus
1. Membaca Surah Al-Mulk
Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً، شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ سُورَةُ: تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ
“Sesungguhnya ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah tersebut memberikan syafaat kepada seseorang hingga ia diampuni, yaitu Surah Tabarakalladzi biyadihil-mulk.”
(HR. Abu Dawud no. 1400, At-Tirmidzi no. 2891, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad. At-Tirmidzi menilainya hasan)
Adapun hadis Ibnu Abbas radliallahu anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda mengenai Surah Al-Mulk:
هِيَ الْمَانِعَةُ، هِيَ الْمُنْجِيَةُ، تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Surah itu adalah penghalang dan penyelamat; ia menyelamatkannya dari azab kubur.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2890)
At-Tirmidzi menyebutnya gharib, dan Syaikh Al-Albani menilai riwayat marfu‘ ini dha‘if.
Namun terdapat atsar dari Abdullah bin Mas‘ud radliallahu anhu:
فَهِيَ الْمَانِعَةُ، تَمْنَعُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Surah itu adalah Al-Mani‘ah (penghalang); ia menghalangi dari azab kubur.”
Diriwayatkan pula dari beliau:
كُنَّا نُسَمِّيهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْمَانِعَةَ
“Pada masa Rasulullah ﷺ kami menamakannya Al-Mani‘ah (penghalang).”
Dengan demikian, keutamaan Surah Al-Mulk memiliki dasar yang kuat. Adapun riwayat yang secara eksplisit menyatakan bahwa ia menyelamatkan dari azab kubur, hendaknya disampaikan dengan menjelaskan perbedaan derajat riwayatnya.
2. Ribath di jalan Allah
Dari Salman Al-Farisi radliallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
“Ribath sehari semalam lebih baik daripada puasa sebulan beserta salat malamnya. Apabila ia meninggal, amal yang biasa dikerjakannya akan terus mengalir, rezekinya terus diberikan kepadanya, dan ia diamankan dari fitnah.”
(HR. Muslim no. 1913)
Ibnu Al-Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa وَأَمِنَ الْفَتَّانَ bermakna aman dari fitnah kubur, yaitu pertanyaan malaikat. (Kasyf Al-Musykil, 4/36)
3. Mati syahid di jalan Allah
Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radliallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ؛ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ…
“Orang yang mati syahid mendapatkan enam keistimewaan di sisi Allah: ia diampuni sejak pertama kali, diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, dilindungi dari azab kubur, dan diamankan dari ketakutan yang paling besar….”
(HR. At-Tirmidzi no. 1663; beliau menilainya shahih gharib)
Dalam hadis lain seseorang bertanya:
“Wahai Rasulullah, mengapa kaum mukminin diuji di dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?”
Beliau ﷺ menjawab:
كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً
“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian baginya.”
(HR. An-Nasa’i no. 2053)
4. Meninggal karena penyakit perut
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ لَمْ يُعَذَّبْ فِي قَبْرِهِ
“Barang siapa meninggal karena penyakit perutnya, ia tidak akan diazab di dalam kuburnya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1064; beliau menilainya hasan gharib)
5. Memperbanyak puasa
Nabi ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Al-Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151)
Lebih khusus lagi, Utsman bin Abi Al-‘Ash radliallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
“Puasa adalah perisai dari azab Allah sebagaimana perisai salah seorang dari kalian dalam peperangan.”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 29/436; para pentahqiq Musnad Ahmad menilai sanadnya shahih sesuai syarat Muslim)
6. Doa dan istighfar orang-orang beriman setelah seseorang meninggal
Dari Utsman bin Affan radliallahu anhu, apabila Nabi ﷺ selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di dekat kuburnya kemudian bersabda:
اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ؛ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
“Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian dan mintalah kepada Allah agar ia diberikan keteguhan, karena sekarang ia sedang ditanya.”
(HR. Abu Dawud no. 3221)
Hadis ini menunjukkan pentingnya doa orang-orang yang masih hidup bagi seorang Muslim yang baru dikuburkan. Karena itu, keluarga dan orang-orang yang menghadiri pemakaman dianjurkan memohonkan ampun dan keteguhan baginya.
Kesimpulan
Kunci utama menghadapi fitnah kubur adalah iman dan istiqamah di atas tauhid hingga meninggal. Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
(QS. Ibrahim: 27)
Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga tauhid dan ketaatan, segera bertobat dari dosa, memperbanyak amal saleh, menjauhi sebab-sebab azab kubur, serta senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dan azab kubur.
Bukan sekadar menghafal jawaban pertanyaan kubur, tetapi menjalani kehidupan dengan iman yang benar. Ketika seorang hamba hidup dan meninggal di atas iman, maka kita berharap Allah memberikan kepadanya keteguhan ketika ia sangat membutuhkannya.
Wallahu a‘lam.