Setelah Nabi ﷺ menyampaikan risalah dengan sempurna, Makkah dibebaskan, dan manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong, Allah mewajibkan haji kepada manusia pada akhir tahun kesembilan Hijriah. Rasulullah ﷺ berniat menunaikan haji dan mengumumkannya kepada masyarakat. Ketika orang-orang mengetahui bahwa beliau akan berhaji pada tahun itu, banyak orang datang ke Madinah. Mereka ingin berhaji bersama Rasulullah ﷺ dan mengikuti tuntunan beliau.
Beliau meninggalkan Madinah pada tanggal 25 Dzulqa‘dah tahun kesepuluh Hijriah. Berangkat setelah Zuhur, beliau tiba di Dzulhulaifah, mandi untuk ihram, memakai minyak dan wewangian, mengenakan kain bawah dan kain atas, serta memberi tanda pada hewan kurbannya. Beliau berniat haji dan umrah sekaligus (qiran), lalu meneruskan perjalanan sambil bertalbiyah. Ketika mendekati Makkah, beliau singgah di Dzi Thuwa dan bermalam di sana pada malam Ahad tanggal empat Dzulhijjah. Beliau mengerjakan salat Subuh di sana, mandi, lalu memasuki Makkah pada siang hari dari arah atas.
Ketika memasuki Masjidilharam, beliau bertawaf mengelilingi Ka‘bah dan bersai antara Shafa dan Marwah. Beliau tidak keluar dari ihram karena menunaikan haji qiran dan membawa hewan kurban. Beliau memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hewan kurban agar menjadikan ihram mereka sebagai umrah, melakukan tawaf dan sai, kemudian bertahalul. Nabi ﷺ dan para sahabat tinggal di Makkah selama empat hari, dari Ahad hingga Rabu.