Bagian 130: Wafatnya Pemimpin Kaum Munafik Abdullah bin Ubay
Serial Terjemahan Kitab Durūs min as-Sīrah • Bagian 130
Wafatnya Pemimpin Kaum Munafik Abdullah bin Ubay
Pada akhir bulan Syaban tahun kesembilan Hijriah, Abdullah bin Ubay bin Salul—pemimpin kaum munafik—mulai jatuh sakit dan mengalami penderitaan penyakit serta sakaratulmaut. Setelah ia meninggal, putranya Abdullah, yang termasuk sahabat terbaik, datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, berikanlah bajumu untuk mengafani ayahku, salatkanlah dia, dan mohonkanlah ampunan baginya.” Nabi ﷺ memberikan bajunya dan berdiri untuk menyalatkannya. Umar bin Khattab berkata, “Bukankah Allah melarangmu menyalatkan orang-orang munafik?” Beliau bersabda, “Aku diberi pilihan dan telah memilih. Seandainya aku tahu bahwa dengan menambah lebih dari tujuh puluh kali permohonan ampun ia akan diampuni, tentu aku akan menambahnya.”
Setelah Nabi ﷺ menyalatkannya, turunlah firman Allah Ta‘ala, “Janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84). Dengan meninggalnya Abdullah bin Ubay bin Salul, gerakan kemunafikan melemah secara signifikan. Sebagian anggotanya meninggalkan kesesatan, sedangkan sebagian lainnya memilih tetap menyembunyikan kekufuran dan menampakkan kemunafikan. Tidak ada yang mengenali mereka selain Hudzaifah bin Yaman, pemegang rahasia Rasulullah ﷺ.