Tadabbur Al-Quran

Tadabur Surah Asy-Syura Ayat 28

TADABUR AL-QUR’AN

Tadabur Surah Asy-Syura Ayat 28

Hujan, Rahmat Allah, Syukur, dan Keteguhan Iman

Majelis ke-50 • Rabu, 5 Rabiul Akhir 1448 H

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا
Pengaturan ukuran tulisan

Pembukaan

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba’du.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikan kepada kalian, wahai saudara-saudaraku yang mulia, para penuntut ilmu.

Kita kembali bertemu dalam majelis kelima puluh dari rangkaian kajian Tadabur Al-Qur’an, yang membahas Surah Asy-Syura. Majelis ini bertepatan dengan hari Rabu, 5 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.

Doa

Saya memohon kepada Allah Yang Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa agar Dia menganugerahkan taufik dan hidayah kepada saya dan kalian, menerima amal-amal serta majelis-majelis ini dengan penerimaan yang baik, serta mengaruniakan keikhlasan dan keberkahan dalam setiap ucapan dan perbuatan kita.

Ya Allah, berilah kami petunjuk, jadikanlah kami sebab orang lain memperoleh petunjuk, dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat petunjuk serta membimbing kepada petunjuk, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami, wahai Zat Yang Mahamulia.

1. Hubungan Ayat 28 dengan Ayat Sebelumnya

Pada pertemuan sebelumnya, kita berhenti pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.”

QS. Asy-Syura: 28

Ayat ini, wahai saudara-saudaraku yang mulia, memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan pada ayat sebelumnya bahwa di antara hikmah dan ketetapan-Nya adalah melapangkan serta menyempitkan rezeki sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Dia juga menjelaskan bahwa tidak semua hamba diberikan rezeki secara berlebihan. Sebab, Allah mengetahui bahwa kelapangan rezeki yang melampaui batas tertentu dapat membahayakan mereka, terutama dalam urusan agama, karena dapat menyebabkan kesombongan dan tindakan melampaui batas.

Oleh karena itu, Allah berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki.”

QS. Asy-Syura: 27

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk melampaui batas ketika merasa dirinya telah berkecukupan. Sebagaimana firman Allah:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”

QS. Al-‘Alaq: 6–7

Karena itulah, hikmah Allah menghendaki agar rezeki diturunkan menurut kadar yang Dia kehendaki.

Kemudian, Allah menjelaskan bahwa ketika para hamba benar-benar membutuhkan rezeki tersebut, Dia tidak akan menghalangi mereka dari karunia-Nya. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.”

QS. Asy-Syura: 28

Dengan demikian, ayat ke-28 merupakan penyempurna ayat ke-27.

Dari hubungan kedua ayat ini, kita dapat memahami bahwa hujan termasuk rezeki yang berada dalam kekuasaan Allah dan diberikan berdasarkan hikmah-Nya.

Turunnya hujan berjalan sesuai dengan ketetapan dan hukum-hukum Allah di alam semesta, sebagaimana kelapangan dan kesempitan rezeki juga berlangsung menurut ketetapan-Nya. Semuanya terjadi berdasarkan hikmah Allah Yang Mahaagung.

2. Hujan Merupakan Salah Satu Bentuk Rezeki

Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah menyebut hujan sebagai rezeki di dalam Al-Qur’an?

Apakah terdapat ayat lain yang secara tegas menyatakan bahwa hujan adalah rezeki?

Jawabannya: Ya.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا

“Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya dan menurunkan rezeki dari langit untukmu.”

QS. Ghafir: 13

Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, makna rezeki sangat luas dan tidak terbatas pada satu jenis pemberian saja.

Ayat yang sedang kita bahas ini menunjukkan berbagai macam nikmat dan rezeki yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Di antara nikmat yang paling besar adalah turunnya hujan yang membawa kehidupan dan keberkahan.

3. Perbedaan antara Al-Ghaits (الغيث) dan Al-Mathar (المطر)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata al-ghaits (الغيث), bukan al-mathar (المطر).

Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan makna antara keduanya.

Kata al-ghaits memiliki makna yang lebih khusus daripada al-mathar.

Al-ghaits adalah hujan yang mendatangkan pertolongan, menghilangkan kesulitan, dan menyelamatkan manusia dari keadaan yang berat.

Adapun al-mathar adalah hujan secara umum. Hujan yang turun belum tentu menghilangkan kesulitan yang sedang dialami manusia.

Terkadang hujan turun, tetapi kekeringan dan kesulitan belum juga berakhir. Adapun al-ghaits merupakan hujan yang dengannya kesulitan tersebut terangkat.

Barangkali kalian masih mengingat sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا، وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا، وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Bukanlah musim paceklik itu ketika kalian tidak mendapatkan hujan. Akan tetapi, musim paceklik adalah ketika kalian mendapatkan hujan berkali-kali, namun bumi tidak menumbuhkan sesuatu pun.”

HR. Muslim

Hadis ini mengisyaratkan bahwa yang terpenting adalah keberkahan.

Sekali lagi, yang menjadi ukuran adalah keberkahan.

Karena itu, Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan yang membawa pertolongan.”

QS. Asy-Syura: 28

Allah tidak menggunakan kata al-mathar, karena al-ghaits mengandung makna hujan yang membawa kebaikan dan keberkahan.

Hujan secara umum terkadang menjadi rahmat, tetapi terkadang pula menjadi azab.

4. Keindahan Bahasa Al-Qur’an dalam Kata يُنَزِّلُ

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan.”

QS. Asy-Syura: 28

Kata يُنَزِّلُ menggunakan bentuk kata kerja yang mengandung penggandaan huruf atau tasydid.

Bentuk ini memberikan isyarat tentang turunnya hujan secara berulang dan terus diperbarui.

Dengan demikian, turunnya hujan bukanlah karunia yang hanya terjadi sekali, melainkan nikmat yang terus Allah perbarui bagi para hamba-Nya.

Kemudian, Allah menggunakan bentuk kata kerja lampau dalam firman-Nya:

مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا

“Setelah mereka berputus asa.”

QS. Asy-Syura: 28

Penggunaan bentuk lampau ini memberikan isyarat bahwa mereka telah mencapai tingkat keputusasaan yang sangat mendalam.

Mereka telah lama menunggu turunnya hujan hingga akhirnya benar-benar merasa putus asa.

Setelah mereka berada dalam keadaan demikian, datanglah hujan yang membawa pertolongan.

Hujan yang turun setelah keputusasaan seperti ini memiliki pengaruh yang sangat besar, baik terhadap keadaan jiwa manusia maupun terhadap kondisi bumi.

5. Kepada Siapa Kata Ganti dalam قَنَطُوا Kembali?

Perhatikan firman Allah:

مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا

“Setelah mereka berputus asa.”

QS. Asy-Syura: 28

Kepada siapakah kata ganti mereka dalam ayat ini kembali?

Jawabannya adalah kepada para hamba Allah.

Di manakah para hamba itu disebutkan?

Mereka disebutkan pada ayat sebelumnya:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya.”

QS. Asy-Syura: 27

Ini kembali menegaskan bahwa ayat yang sedang kita bahas memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya.

Lalu, mengapa Allah menggunakan kata hamba-hamba-Nya, bukan orang-orang beriman?

Jawabannya adalah karena rezeki Allah tidak dikhususkan bagi orang-orang beriman saja.

Allah memberikan rezeki kepada orang beriman maupun orang kafir.

Dia melimpahkan karunia-Nya kepada kedua golongan tersebut.

Akan tetapi, orang-orang beriman mensyukuri nikmat Allah, sedangkan orang-orang kafir mengingkarinya.

Kebaikan dan pemberian Allah meliputi seluruh makhluk-Nya, bahkan hewan-hewan yang hidup di muka bumi.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.”

QS. Hud: 6

Adapun makna firman Allah:

مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا

“Setelah mereka berputus asa.”

QS. Asy-Syura: 28

Yaitu setelah mereka berputus asa dari turunnya hujan karena hujan tersebut terlambat datang dari waktu yang biasanya.

Kemudian Allah menurunkan hujan ketika kebutuhan mereka telah begitu mendesak.

Turunnya hujan secara tiba-tiba pada saat manusia sangat membutuhkannya, setelah sebelumnya mereka berputus asa, memberikan pengaruh yang jauh lebih kuat dalam jiwa mereka.

Pada saat itulah rahmat, kemurahan, kedermawanan, dan karunia Allah semakin jelas terlihat.

Oleh sebab itu, penggunaan kata al-ghaits sangat sesuai dengan konteks ayat.

Seandainya kata tersebut diganti dengan al-mathar, nuansa maknanya akan berbeda.

Sebab, hujan belum tentu mendatangkan pertolongan, menghilangkan kesulitan, atau menimbulkan kegembiraan sebagaimana yang digambarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Adapun al-ghaits berasal dari makna pertolongan dan penyelamatan, sedangkan al-qunuth berarti keputusasaan.

6. Pengkhususan Turunnya Hujan Hanya kepada Allah

Di antara keindahan balaghah Al-Qur’an dalam ayat ini adalah penggunaan gaya bahasa pembatasan atau al-qashr.

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“Dan Dialah yang menurunkan hujan.”

QS. Asy-Syura: 28

Apakah bentuk pembatasan yang terdapat dalam ayat ini?

Yang dimaksud adalah pembatasan perbuatan menurunkan hujan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menurunkan hujan merupakan salah satu kekhususan Allah.

Dialah satu-satunya Zat yang menurunkan hujan, bukan makhluk selain-Nya.

Seluruh makhluk tidak memiliki kekuasaan apa pun secara mandiri, bahkan terhadap diri mereka sendiri.

Hanya Allah yang memberikan pertolongan melalui turunnya hujan.

Karena itu, ayat ini menggunakan susunan bahasa yang menunjukkan pengkhususan dan pembatasan melalui ungkapan:

وَهُوَ الَّذِي

“Dan Dialah yang…”

Susunan ini menegaskan bahwa Allah semata yang memiliki kekuasaan untuk menurunkan hujan.

Di antara manusia terdapat orang-orang yang menyekutukan Allah dengan meyakini bahwa turunnya hujan merupakan hasil pengaruh atau kekuasaan bintang-bintang.

Bahkan, ada pula orang yang mengaku beragama Islam tetapi menganggap turunnya hujan semata-mata bergantung kepada sebab-sebab alamiah yang biasa menyertainya, tanpa mengembalikannya kepada kehendak Allah.

Pada masa jahiliah, manusia meyakini bahwa hujan turun karena pengaruh benda-benda langit.

Oleh sebab itu, ayat ini datang dengan susunan bahasa yang menegaskan bahwa Allah sajalah yang menurunkan hujan.

Maknanya, Allah sendiri yang menurunkan hujan kepada hamba-hamba-Nya setelah mereka menunggu dalam waktu yang panjang.

Mereka telah sampai pada keadaan putus asa. Tanda-tanda keputusasaan bahkan telah tampak pada wajah mereka.

Kemudian, setelah semua itu, datanglah rahmat Allah.

Karena itulah Allah melanjutkan firman-Nya:

وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.”

QS. Asy-Syura: 28

7. Gambaran Turunnya Hujan dalam Surah Ar-Rum

Pada bagian akhir Surah Ar-Rum, Allah menggambarkan pemandangan yang sangat indah mengenai turunnya hujan setelah manusia mengalami keputusasaan.

Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira.”

QS. Ar-Rum: 48

Apa yang Allah firmankan setelah ayat ini?

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ

“Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.”

QS. Ar-Rum: 49

Mereka telah sampai pada tingkatan al-iblas, yaitu keputusasaan yang sangat mendalam.

Kemudian Allah berfirman:

فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati.”

QS. Ar-Rum: 50

Allah menyebut turunnya hujan sebagai sebab kehidupan.

Sebab, kehidupan bumi bergantung pada air hujan.

Demikian pula kehidupan hati bergantung pada curahan petunjuk Al-Qur’an.

Dengan demikian, terdapat dua macam hujan yang membawa kehidupan.

Ada hujan yang menghidupkan bumi, dan ada pula hujan yang menghidupkan hati.

Hujan yang pertama berupa air yang turun dari langit, sedangkan hujan yang kedua berupa petunjuk Al-Qur’an yang menghidupkan hati manusia.

8. Makna Keindahan Ungkapan وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

Di antara keindahan bahasa Al-Qur’an dalam ayat ini adalah penggunaan kata:

وَيَنْشُرُ

“Dan Dia menyebarkan.”

Ketika berbicara tentang hujan, Allah menggunakan kata yunazzilu, yaitu menurunkan.

Namun, ketika berbicara tentang rahmat, Allah menggunakan kata yansyuru, yaitu menyebarkan.

Perbedaan ungkapan ini menunjukkan makna yang sangat agung.

Kata menyebarkan memberikan gambaran tentang luasnya rahmat Allah, jangkauannya yang sangat besar, serta keberkahannya yang meluas ke berbagai penjuru.

Karena itu, tidak sepantasnya seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah.

Sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Allah berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

QS. Al-A’raf: 156

Kalimat:

وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.”

Memiliki hubungan dengan kalimat sebelumnya, yaitu:

يُنَزِّلُ الْغَيْثَ

“Dia menurunkan hujan.”

Dengan demikian, muncul sebuah pertanyaan penting.

Apakah yang dimaksud dengan rahmat dalam firman Allah:

وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dia menyebarkan rahmat-Nya”?

9. Pendapat Para Ulama tentang Makna Rahmat dalam Ayat

Para ulama tafsir memiliki beberapa pendapat mengenai makna rahmat dalam ayat ini.

Pendapat Pertama: Rahmat adalah Hasil dan Keberkahan Hujan

Yaitu berbagai manfaat yang muncul setelah hujan turun, seperti tumbuhnya tanaman, suburnya lahan pertanian, bertambahnya hasil bumi, meluasnya rezeki, meningkatnya kesejahteraan manusia, dan hidupnya kembali bumi yang sebelumnya kering.

Menurut pendapat ini, yang dimaksud dengan rahmat adalah seluruh dampak dan keberkahan yang dihasilkan oleh hujan.

Keberkahan tersebut sangat luas dan terus berlanjut.

Karena itulah Allah berfirman:

وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.”

QS. Asy-Syura: 28

Rahmat Allah menyebar kepada para hamba melalui turunnya hujan.

Pada umumnya, ketika hujan yang membawa keberkahan turun, manfaatnya akan dirasakan secara luas.

Manfaat tersebut mencakup manusia, berbagai wilayah, hewan ternak, serta makhluk-makhluk hidup lainnya dengan segala jenis dan bentuknya.

Inilah pendapat pertama mengenai makna rahmat dalam ayat tersebut.

Di antara ulama mutaakhirin yang menguatkan pendapat ini adalah Syekh Abdurrahman As-Sa’di dan murid beliau, guru kami Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah.

Pendapat Kedua: Rahmat adalah Hujan Itu Sendiri

Pendapat ini dipilih dan dikuatkan oleh sebagian ahli tafsir, di antaranya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah.

Akan tetapi, sejumlah ulama menilai pendapat ini kurang kuat.

Di antara mereka adalah guru kami, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

Beliau menjelaskan bahwa seandainya yang dimaksud dengan rahmat adalah hujan itu sendiri, tentu susunan ayatnya cukup berbunyi:

يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُهُ

“Dia menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkannya.”

Ilustrasi susunan bahasa dalam penjelasan ulama, bukan kutipan ayat Al-Qur’an.

Akan tetapi, Allah tidak berfirman wa yansyuruhu (dan menyebarkannya).

Allah justru berfirman:

وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ

“Dan Dia menyebarkan rahmat-Nya.”

QS. Asy-Syura: 28

Hal ini semakin menguatkan pendapat pertama, bahwa rahmat yang dimaksud adalah berbagai hasil, manfaat, dan keberkahan yang muncul dari turunnya hujan.

Pendapat Ketiga: Munculnya Matahari Setelah Hujan

Sebagian ulama berpendapat bahwa rahmat dalam ayat tersebut adalah keadaan langit yang kembali cerah setelah hujan turun.

Setelah hujan turun secara terus-menerus, awan mulai menghilang, langit kembali cerah, dan sinar matahari pun muncul.

Keadaan ini juga merupakan salah satu bentuk rahmat Allah bagi para hamba-Nya.

10. Sifat Manusia yang Mudah Bosan terhadap Nikmat

Subhanallah.

Di antara tabiat manusia, kecuali mereka yang Allah berikan petunjuk, adalah mudah merasa bosan terhadap nikmat.

Ketika hujan turun terlalu sering, manusia mulai mengharapkan munculnya matahari.

Sebaliknya, ketika cuaca sangat panas, manusia mengharapkan turunnya hujan.

Pernah seorang saudara kita, salah seorang pelajar dari Eropa, bercerita kepada saya.

Dia mengatakan:

“Kami tidak terlalu bergembira dengan turunnya hujan sebagaimana kalian bergembira. Justru kami sangat bergembira ketika matahari muncul.”

Mengapa demikian?

Karena mereka telah terbiasa mendapatkan hujan dalam jumlah yang banyak, bahkan terkadang secara terus-menerus.

Akibatnya, mereka tidak lagi merasakan kegembiraan yang sama ketika hujan turun.

Sebaliknya, mereka mengetahui betapa berharganya sinar matahari sehingga sangat mengharapkan kemunculannya.

Al-Qur’an telah menggambarkan salah satu contoh yang menunjukkan tabiat manusia yang mudah bosan terhadap nikmat, terutama ketika nikmat tersebut datang terus-menerus dan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Apakah kalian mengingat kisah tersebut?

Dalam surah apakah kisah itu disebutkan?

Ya, wahai Abu Abdurrahman?

Benar, kisah kaum Saba’.

11. Pelajaran dari Kisah Kaum Saba’

Kisah kaum Saba’ merupakan salah satu gambaran tentang tabiat manusia yang terkadang merasa bosan terhadap nikmat, terutama ketika nikmat itu terus berlimpah dalam waktu yang panjang.

Mereka hidup dalam keadaan penuh kemakmuran dan kenikmatan.

Perjalanan mereka pun sangat mudah dan nyaman.

Jarak antartempat persinggahan saling berdekatan.

Apabila salah seorang dari mereka melakukan perjalanan, dia hampir tidak merasakan kesulitan dan kelelahan yang berarti.

Mengapa?

Karena wilayah yang mereka lalui dipenuhi berbagai kebaikan, buah-buahan, tanaman, pepohonan yang hijau, dan kehidupan yang sejahtera.

Orang yang melakukan perjalanan dalam keadaan seperti itu tentu tidak terlalu merasakan beratnya perjalanan.

Namun, setelah waktu berlalu cukup lama, mereka justru merasa bosan dengan nikmat tersebut.

Mereka tidak lagi menghargai karunia yang telah Allah berikan.

Bahkan, mereka sampai berdoa meminta sesuatu yang justru menyulitkan diri mereka sendiri.

Allah berfirman:

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Maka mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,’ dan mereka menzalimi diri mereka sendiri. Maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.”

QS. Saba’: 19

Perhatikanlah pelajaran yang sangat mengagumkan dari keadaan kaum tersebut.

Mereka merasa bosan terhadap nikmat yang telah Allah limpahkan.

Bahkan, mereka meminta agar kemudahan yang mereka miliki diganti dengan kesulitan.

Semoga Allah melindungi kita dari keadaan seperti itu.

Karena itulah, seorang mukmin hendaknya memperhatikan pelajaran yang sangat penting ini.

Jangan sampai seseorang merasa bosan terhadap nikmat Allah.

Sebaliknya, hendaklah dia selalu bersyukur atas segala pemberian-Nya.

12. Nikmat Allah yang Tampak dan Tersembunyi

Sesungguhnya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak.

Allah berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Dia menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya untukmu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”

QS. Luqman: 20

Wahai saudara-saudaraku yang mulia.

Nikmat Allah tidak hanya berupa nikmat yang tersembunyi, dan tidak pula terbatas pada nikmat yang tampak.

Nikmat Allah mencakup keduanya.

Ada nikmat yang tampak dan terus mengalir, dan ada pula nikmat tersembunyi yang terus Allah limpahkan kepada para hamba-Nya.

Nikmat-nikmat tersebut begitu banyak dan tidak pernah terputus.

Apabila seseorang merenungkan keadaan dirinya sendiri, dia akan mendapati bahwa Allah telah memberikan kepadanya nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.

Bahkan, manusia sering kali tidak mengetahui nilai dan besarnya nikmat tersebut, kecuali apabila Allah memberinya petunjuk untuk menyadarinya.

13. Nikmat Terbesar adalah Hidayah Islam

Wahai saudara-saudaraku yang mulia.

Sebagaimana telah kalian ketahui, nikmat yang paling besar adalah nikmat mendapatkan petunjuk kepada agama Islam.

Tidak ada amal yang dapat menyamai besarnya nikmat ini.

Karena itu, hendaklah kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam, kapan pun dan di mana pun.

Sebab, terkadang seseorang lalai terhadap besarnya nikmat ini.

Dia tidak menyadari betapa agungnya karunia Allah yang telah memberinya petunjuk kepada Islam.

Bahkan, terkadang seseorang tidak memohon kepada Allah agar diberikan keteguhan dalam beragama.

Padahal, doa memohon keteguhan merupakan perkara yang sangat penting.

Pernah guru kami, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ditanya mengenai seseorang yang mengalami kemunduran dalam agamanya hingga menyimpang dari jalan yang benar.

Beliau ditanya mengenai keadaan orang tersebut dan apa yang mungkin menjadi penyebabnya.

Syekh memberikan jawaban yang sangat mengagumkan.

Beliau menjelaskan bahwa boleh jadi orang tersebut tidak mensyukuri nikmat Islam yang telah Allah berikan kepadanya dan tidak berdoa memohon keteguhan dalam beragama.

Karena itu, wahai saudara-saudaraku yang mulia, jadikanlah doa memohon keteguhan sebagai salah satu doa yang selalu kalian baca.

Biasakanlah membacanya dalam doa-doa kalian, termasuk pada waktu pagi dan petang.

Di antaranya adalah firman Allah:

Doa

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

QS. Ali ‘Imran: 8

Demikian pula doa:

Doa

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Para ulama mengatakan:

الْحَيُّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ

“Orang yang masih hidup tidak dapat dijamin aman dari fitnah.”

Ungkapan nasihat para ulama

Ingatlah selalu ungkapan ini.

Seseorang yang masih hidup tidak dapat merasa aman dari berbagai ujian dan fitnah yang dapat menggoyahkan agamanya.

Apabila demikian keadaannya, tidak ada tempat bergantung bagi kita selain Allah.

Hanya kepada Allah kita memohon agar Dia menjaga diri kita, menjaga agama kita, dan menganugerahkan keteguhan serta istiqamah kepada kita.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan keteguhan tersebut kepada saya dan kalian hingga kita berjumpa dengan-Nya dalam keadaan Dia rida kepada kita.

Penutup Majelis

Pembahasan ini masih akan berlanjut, insyaallah, pada hari Ahad yang akan datang.

Kita akan berusaha menyelesaikan pembahasan yang masih tersisa dari ayat yang mulia ini.

Setelah itu, kita akan beralih kepada pembahasan tentang beberapa pelajaran dan faedah penting yang dapat diambil dari ayat tersebut.

Karena itu, saya berharap kalian mempersiapkan diri untuk pertemuan berikutnya.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menganugerahkan kepada kita semua penerimaan amal, taufik, ketepatan dalam ucapan dan perbuatan, serta keikhlasan dalam setiap perkataan dan amal.

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya. Transkrip Taklim Syekh Prof Dr Abdurrahman Al Aql Hafizhahullah

↑ Kembali ke Atas
Markaz Inayah • Tadabur Al-Qur’an • Majelis ke-50

Sayyid Syadly, Lc

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Bagikan