Bagaimana Menjadikan Aktivitas Mubah Bernilai Ibadah dan Mendapatkan Pahala?
Nomor Fatwa: 206
Bagaimana Menjadikan Aktivitas Mubah Bernilai Ibadah dan Mendapatkan Pahala?
☷ Daftar Isi Artikel
Pertanyaan
Bismillah.
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Afwan Ustadz @Ust Berian Muntaqo Fatkhuri.
Saya seorang awam, izin bertanya, Ustadz.
Saya ingin bertanya bagaimana cara untuk meniatkan segala sesuatu yang kita lakukan, terkhusus pada hal yang mubah, untuk beribadah sehingga berpahala. Karena saya susah meniatkan suatu aktivitas kalau hal itu tidak ada korelasinya dengan akhirat.
Misal ketika kita shalat, puasa, sedekah, itu kita bisa niatkan untuk dapat pahala karena memang Allah sudah janjikan ganjaran di baliknya.
Dan juga misal makan, mandi, bisa kita korelasikan ke ibadah, yaitu kita mandi —> kita jadi segar dan nyaman untuk —> ibadah, shalat.
Tapi saya susah mengkorelasikan aktivitas seperti belajar bahasa asing, mencuci pakaian, buka HP untuk lihat berita, minum minuman kesukaan ke ibadah.
Bagaimana hal seperti ini, Ustadz, cara mengkorelasikan aktivitas mubah ke ibadah agar bernilai pahala?
Mohon penjelasannya, Ustadz. 🙏🏻
Jawaban
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Tujuan Utama Kehidupan Manusia
Perlu kita pahami bahwa tujuan utama kehidupan manusia adalah beribadah kepada Allah ﷻ. Allah tidak menciptakan kita sekadar untuk makan, minum, bekerja, belajar, beristirahat, atau menikmati kehidupan dunia, tetapi agar seluruh kehidupan kita diarahkan kepada penghambaan kepada-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah juga berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.”
(QS. Al-An’am: 162–163)
Ayat ini mengajarkan bahwa bukan hanya salat dan puasa yang kita persembahkan kepada Allah, tetapi seluruh kehidupan kita, bahkan sampai kematian, hendaknya diarahkan untuk mencari keridaan-Nya.
Memanfaatkan Nikmat dan Kesempatan
Setiap tarikan napas, setiap detik waktu, kesehatan, kesempatan belajar, kemampuan berpikir, dan berbagai kenikmatan yang Allah berikan merupakan anugerah sekaligus kesempatan untuk memperbanyak bekal menuju akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari, no. 6412)
Perkara Mubah Dapat Bernilai Ibadah
Karena itu, jangan membatasi makna ibadah hanya pada aktivitas yang secara langsung berbentuk ibadah ritual. Dalam Islam, perkara mubah pun dapat bernilai ibadah apabila disertai niat yang baik dan dilakukan dengan cara yang dibenarkan syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 1; Muslim, no. 1907)
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
أَنَّ الْمُبَاحَ إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى صَارَ طَاعَةً، وَيُثَابُ عَلَيْهِ.
“Sesungguhnya perkara mubah apabila diniatkan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, maka ia menjadi ketaatan dan pelakunya mendapatkan pahala.”
(Lihat Syarh Shahih Muslim, penjelasan hadis tentang hubungan suami istri yang bernilai sedekah.)
Bahkan Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه berkata:
أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي.
“Adapun aku, aku tidur dan aku bangun untuk salat. Aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari bangunku untuk salat.”
(HR. Al-Bukhari, no. 4342)
Perhatikanlah, bahkan tidur yang merupakan kebutuhan manusia dapat bernilai pahala apabila diniatkan untuk menguatkan diri dalam ketaatan kepada Allah.
Contoh Niat dalam Aktivitas Sehari-hari
Lantas, bagaimana menerapkannya pada kegiatan sehari-hari?
Tidak semua kegiatan harus dicari-cari hubungannya secara rumit dengan akhirat. Cukup hadirkan tujuan baik yang benar dan masuk akal, misalnya:
- Belajar bahasa asing: Berniat mengembangkan kemampuan yang Allah anugerahkan, memahami ilmu yang bermanfaat, memperluas kesempatan berbuat baik, membantu orang lain, atau menjadi sarana menyampaikan kebaikan.
- Mencuci pakaian: Berniat menjaga kebersihan, menunaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri, menjaga penampilan yang baik, serta mempersiapkan pakaian yang bersih untuk beribadah dan berinteraksi dengan sesama.
- Membuka HP untuk membaca berita: Berniat mengetahui keadaan masyarakat, mengambil pelajaran, menambah wawasan yang bermanfaat, atau mengetahui keadaan kaum muslimin agar dapat membantu sesuai kemampuan. Tentunya dengan menghindari berita bohong, ghibah, dan hal-hal yang diharamkan.
- Meminum minuman kesukaan: Berniat mensyukuri nikmat Allah, menyenangkan diri dengan sesuatu yang halal, serta menyegarkan tubuh dan pikiran agar tetap bersemangat menjalankan kewajiban dan kebaikan.
Menikmati yang Halal dengan Rasa Syukur
Bahkan menikmati sesuatu yang halal dengan penuh rasa syukur merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kamu beribadah.”
(QS. Al-Baqarah: 172)
Namun, perlu dibedakan antara perkara mubah yang sekadar dilakukan sehingga tetap mubah, dan perkara mubah yang dilakukan dengan niat kebaikan sehingga diharapkan mendapatkan pahala. Niat yang baik juga tidak menjadikan sesuatu yang haram berubah menjadi halal.
Nasihat Imam Ahmad tentang Niat
Nasihat yang sangat indah dalam masalah ini datang dari Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله.
Diriwayatkan bahwa beliau menasihati putranya:
يَا بُنَيَّ، انْوِ الْخَيْرَ، فَإِنَّكَ لَا تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْرَ.
“Wahai anakku, niatkanlah kebaikan, karena engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau meniatkan kebaikan.”
Nasihat ini dinukil oleh Ibnu Muflih dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah, pada pembahasan tentang niat.
Jangan Memberatkan Diri dalam Berniat
Maka, biasakanlah mengawali berbagai aktivitas dengan niat yang baik. Tidak harus selalu mengucapkannya dengan lisan atau menyusun niat yang panjang. Niat adalah amalan hati. Cukup hadirkan dalam hati bahwa aktivitas tersebut dilakukan untuk tujuan yang baik dan diridai Allah.
Jangan pula sampai terlalu sibuk mencari hubungan setiap aktivitas dengan akhirat sehingga akhirnya merasa terbebani. Syariat Islam tidak mengharuskan kita menjadikan setiap kegiatan mubah sebagai ibadah khusus. Menikmati perkara yang halal tetap diperbolehkan, sekalipun tidak selalu terlintas niat tertentu untuk memperoleh pahala.
Yang terpenting adalah membangun kebiasaan hidup dengan kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah, menggunakan nikmat-Nya dalam perkara yang diridai-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan memperbanyak niat baik semampu kita.
Menjadikan Dunia sebagai Ladang Pahala
Dengan demikian, dunia tidak harus ditinggalkan untuk meraih akhirat. Justru berbagai aktivitas dunia dapat menjadi ladang pahala apabila diarahkan dengan niat yang benar.
Doa Penutup
Semoga Allah menjadikan setiap napas yang masih diberikan kepada kita sebagai kesempatan untuk beribadah, setiap waktu sebagai bekal menuju akhirat, dan setiap aktivitas yang kita lakukan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّاتِنَا وَأَعْمَالَنَا، وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا كُلَّهَا فِي طَاعَتِكَ وَمَرْضَاتِكَ.
“Ya Allah, perbaikilah niat dan amal kami, serta jadikanlah seluruh kehidupan kami berada dalam ketaatan dan keridaan-Mu.”
والله أعلم بالصواب.