Tadabbur Al-Quran

Tadabur Surat Al Fajr ayat ke 15-16

Tadabur Surat Al Fajr ayat ke 15-16

☷ Daftar Isi Artikel
  1. Kelapangan dan Kesempitan Rezeki adalah Ujian
  2. Penjelasan Ibnu Katsir tentang Ujian Rezeki
  3. Ketaatan sebagai Ukuran dalam Menyikapi Rezeki
  4. Mensyukuri Berbagai Nikmat Allah
  5. Wujud Syukur dalam Amalan
  6. Doa dan Penutup
  7. Sumber dan Keterangan Penulis

“KEDUA-DUANYA ADALAH UJIAN … “

Kelapangan dan Kesempitan Rezeki adalah Ujian

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang ujian, baik berupa kelapangan dan kesempitan di dalam rezeki di Surat Al-Fajr ayat 15-16 :

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞ ﲟ ﲠ ﲡ ﲢ ﲣ ﲤ ﲥ ﲦ ﲧ ﲨ ﲩ ﲪ ﲫ ﲬ} [سورة الفجر: 15-16].

Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16)

Penjelasan Ibnu Katsir tentang Ujian Rezeki

Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan: “Dalam ayat tersebut, Allah mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rezeki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian.

Bukankah kita pernah mendengar firman Allah :

{ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃﳄ ﳅ ﳆ ﳇ ﳈ} [سورة المؤمنون: 55-56].

Artinya: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)

Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinakannya. Sebenarnya tidak seperti itu sama sekali.

Allah memberi rezeki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.

Ketaatan sebagai Ukuran dalam Menyikapi Rezeki

Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut.

Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”

Pahamilah wahai saudaraku….!

Tidak perlu merasa iri dengan rezeki orang lain. Kita dilapangkan rezeki, itu adalah ujian. Kita disempitkan rezeki, itu pun ujian. Dilapangkan rezeki agar kita diuji apakah termasuk orang yang bersyukur atau tidak. Disempitkan rezeki agar kita diuji termasuk orang yang bersabar atau tidak.

Maka tergantung kita dalam menyikapi rezeki yang Allah berikan. Apakah dengannya mendekatkan kita kepada Allah ataupun tidak…

Tidak perlu bersedih jika kita tidak ditakdirkan mendapatkan rezeki seperti saudara kita. Allah tentu mengetahui yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Mensyukuri Berbagai Nikmat Allah

Cobalah kita perhatikan bahwa rezeki dan nikmat bukanlah pada harta saja. Kesehatan badan, nikmat waktu senggang, bahkan yang terbesar yaitu nikmat hidayah Islam dan Iman, itu pun termasuk nikmat yang patut disyukuri.

Pertanyaannya adalah, sudahkah anda bersyukur dengan syukur yang sebenarnya?

Wujud Syukur dalam Amalan

Bersyukur dengan menggunakan setiap fasilitas yang Allah mudahkan untuk menambah kedekatan kita kepadaNya?

Bersyukur dengan melaksanakan sholat lima waktu bersama kaum muslimin …

Bersyukur dengan menyedekahkan sedikit harta yang Allah titipkan…

Bersyukur dengan berpuasa di bulan Ramadhan …

Bersyukur dengan berhaji ke Baitullah bagi yang telah punya kelapangan …

Bersyukur dengan memperbanyak amalan-amalan Sunnah …

Doa dan Penutup

Semoga Allah memilih kita menjadi hamba yang pandai mensyukuri nikmatNya dengan syukur yang sebenarnya …. Amien.

هذا، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمين …

Sumber dan Keterangan Penulis

Dikutip dari : https://quranbest.page.link/7HbUbS4s9eHTFcCg9

Diedit dan disempurnakan di Buraidah-Qassim-KSA

30 Rabiul Awwal 1442H/ 16 November 2020M

Agus Rinaldi Afrizal, Lc

(Mahasiswa Pascasarjana universitas Qassim-KSA)

Agus Rinaldi Afrizal, Lc., M.A., Ph.D.

Alumni Program Doktor (S3), Al-Madinah International University (MEDIU), Malaysia. Mahasiswa Program Doktor (S3), Universitas Qassim, Arab Saudi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button