Konsultasi

Bagaimana Menyikapi Riwayat tentang Azab Kubur yang Disaksikan oleh Generasi Salaf?

Nomor Fatwa: 136 Bagaimana Menyikapi Riwayat tentang Azab Kubur yang Disaksikan oleh Generasi Salaf?

☷ Daftar Isi Artikel
Pengaturan Bacaan

Mau tanya, bagaimana sikap kita terhadap riwayat/cerita tentang azab kubur yang dilihat dengan mata telanjang oleh generasi salaf? Contohnya seperti kisah yang terdapat di kitab الكبائر.

Jawaban

Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du.

Sesungguhnya seorang muslim wajib beriman bahwa alam kubur merupakan tempat persinggahan pertama menuju akhirat, dan bahwa manusia di dalam kuburnya berada dalam salah satu dari dua keadaan: berada di taman di antara taman-taman surga atau berada di lubang di antara lubang-lubang neraka.

Adapun mengenai bagaimana bentuk azab kubur yang dialami orang kafir atau orang yang durhaka, telah diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda ketika menjelaskan kepada para sahabat tentang kematian:

«وَإِنَّ الْكَافِرَ أَوِ الْفَاجِرَ» وَذَكَرَ مَوْتَهُ، قَالَ: «… وَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ: مَا هَذَا الرَّسُولُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي.قَالَ: فَيُنَادِي مُنَادٍ: أَنْ كَذَبَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ.قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا.قَالَ: وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ».

“Adapun orang kafir atau orang yang durhaka…” Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan keadaan kematiannya. Beliau bersabda:

“…Kemudian ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat yang mendudukkannya.

Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapakah Rabbmu?’

Ia menjawab, ‘Ah… ah… aku tidak tahu.’

Kedua malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapakah rasul yang diutus kepada kalian ini?’

Ia menjawab, ‘Ah… ah… aku tidak tahu.’

Kemudian terdengarlah suara penyeru yang menyatakan, ‘Hamba-Ku telah berdusta. Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka, pakaikanlah kepadanya pakaian dari neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka.’

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lalu datanglah kepadanya hawa panas dan angin yang sangat membakar dari neraka tersebut.’

Beliau melanjutkan, ‘Kemudian kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling berhimpitan.'”

Dalam sebagian riwayat hadis tersebut juga disebutkan:

«ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَةٌ مِنْ حَدِيدٍ، لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا.قَالَ: فَيَضْرِبُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ، فَيَصِيرُ تُرَابًا، ثُمَّ تُعَادُ فِيهِ الرُّوحُ».

“Kemudian ditugaskan kepadanya sosok yang buta dan bisu, yang membawa sebuah pemukul besar dari besi. Seandainya sebuah gunung dipukul dengan alat tersebut, niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu.

Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lalu ia dipukul dengan satu pukulan yang suaranya terdengar oleh seluruh makhluk di antara timur dan barat, kecuali dua golongan, yaitu manusia dan jin. Akibat pukulan tersebut, tubuhnya hancur menjadi debu, kemudian ruhnya dikembalikan lagi ke dalam tubuhnya.'”

Demikianlah sebagian bentuk azab kubur yang disebutkan dalam riwayat hadis. Azab kubur termasuk perkara gaib yang wajib diimani sebagaimana diterangkan dalam dalil-dalil syariat.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengimani berita-berita yang sahih mengenai azab kubur sebagaimana adanya, tanpa mengingkarinya dan tanpa mereka-reka bagaimana hakikat pelaksanaannya di luar keterangan yang terdapat dalam dalil.

Imam adz-Dzahabi telah mencantumkan kisah tersebut dalam kitab Al-Kabā’ir (Dosa-Dosa Besar), tetapi beliau tidak menyebutkan sanadnya. Beliau hanya mengawalinya dengan ungkapan:

«وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ»

“Dan diriwayatkan dari sebagian ulama salaf…”

Oleh karena itu, kita tidak dapat memastikan apakah kisah tersebut sahih atau tidak.

Namun, banyak riwayat semacam itu yang disebutkan dalam pembahasan at-targhīb wa at-tarhīb (motivasi untuk melakukan kebaikan dan peringatan agar menjauhi keburukan) tanpa disertai sanad, ternyata berstatus lemah (dhaif) atau bahkan palsu (maudhu‘).

Bagaimanapun juga, ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis, dan atsar-atsar sahih yang menjelaskan adanya azab kubur serta memberikan peringatan keras terhadap perbuatan meninggalkan salat sudah cukup menjadi dalil, sehingga kita tidak memerlukan kisah-kisah semacam itu.

Bahkan, sebagai peringatan keras terhadap perbuatan meninggalkan salat, cukuplah bahwa syariat menyebut orang yang meninggalkannya sebagai kafir, dan Al-Qur’an menyebutkan ancaman neraka Saqar bagi mereka—kita berlindung kepada Allah darinya.

Selain itu, dalam Shahih Ibnu Hibban terdapat riwayat yang dinilai hasan oleh Syekh al-Albani, yang menjelaskan bentuk azab yang dialami seseorang di dalam kuburnya akibat meninggalkan salat dan melakukan kemaksiatan lainnya. Riwayat tersebut juga menjelaskan bahwa orang yang senantiasa menjaga salatnya akan mendapatkan perlindungan dari azab kubur disebabkan salat yang dikerjakannya.

Riwayat yang dimaksud adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang keadaan seorang mukmin di dalam kubur, ketika salat, puasa, zakat, dan amal kebajikannya menjadi pelindung dari berbagai arah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, pada Kitab al-Jana’iz, bagian Ahwal al-Mayyit fi Qabrihi (Keadaan Orang yang Meninggal di Dalam Kubur). Syekh al-Albani menilai hadis tersebut hasan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ، وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ.فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ، فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَمِينِهِ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، فَتَقُولُ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ.

“Sesungguhnya apabila seseorang yang telah meninggal diletakkan di dalam kuburnya, ia benar-benar mendengar suara langkah sandal orang-orang yang meninggalkannya.

Apabila ia seorang mukmin, maka salat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat berada di sebelah kirinya, sedangkan berbagai amal kebajikan berupa sedekah, menyambung silaturahmi, berbuat baik, dan memberikan kebaikan kepada manusia berada di dekat kedua kakinya.

Kemudian didatangi dari arah kepalanya, lalu salat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’

Kemudian didatangi dari sebelah kanannya, lalu puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’

Kemudian didatangi dari sebelah kirinya, lalu zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’

Kemudian didatangi dari arah kedua kakinya, lalu berbagai amal kebajikan berupa sedekah, silaturahmi, perbuatan baik, dan kebaikan kepada manusia berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.'”

Lanjutan kandungan hadis

Setelah amal-amal salehnya menjadi pelindung, seorang mukmin diperintahkan duduk dan ditanya mengenai Nabi Muhammad ﷺ. Ia menjawab bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang membawa kebenaran.

Kemudian dikatakan kepadanya:

عَلَى ذَلِكَ حَيِيتَ وَعَلَى ذَلِكَ مِتَّ، وَعَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

“Di atas keyakinan itulah engkau hidup, di atasnya engkau meninggal, dan di atasnya pula engkau akan dibangkitkan, insyaallah.”

Selanjutnya, dibukakan untuknya pintu surga, diperlihatkan tempatnya di surga, dan kuburnya dilapangkan serta diterangi.

Adapun orang kafir, ketika didatangi dari berbagai arah, tidak ditemukan amal yang melindunginya. Ia tidak mampu memberikan jawaban yang benar tentang Rasulullah ﷺ. Kemudian diperlihatkan kepadanya tempat di neraka dan kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling berhimpitan.

Takhrij hadis

صحيح ابن حبان، رقم ٣١١٣، ج ٧، ص ٣٨٠–٣٨٢، ترتيب ابن بلبان، تحقيق شعيب الأرناؤوط، مؤسسة الرسالة.

Shahih Ibnu Hibban, hadis no. 3113, jilid 7, halaman 380–382, susunan Ibnu Balban, tahqiq Syu’aib al-Arna’uth, terbitan Mu’assasah ar-Risalah.

Dalam penomoran lain, hadis ini tercantum sebagai no. 3178.

Selanjutnya, kami mengingatkan bahwa tidak sepatutnya seseorang begitu saja mempercayai gambar-gambar yang beredar di internet yang diklaim memperlihatkan orang-orang sedang diazab di dalam kubur, atau gambar-gambar semacamnya.

Sebab, sejauh yang kami ketahui, tidak ada bukti yang dapat memastikan kebenaran gambar-gambar tersebut.

Bahkan, klaim semacam itu tampaknya bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ عَذَابَ الْقَبْرِ»

“Seandainya bukan karena kekhawatiran bahwa kalian tidak akan saling menguburkan jenazah, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur.”

(HR. Muslim)

Wallāhu a‘lam. Dan Allah Maha Mengetahui.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button