Wa Ziadah

221

Kenikmatan yang tak henti-hentinya diguyurkan kepada hamba dari Sang Khaliq menjadi sebuah tanda rahmat yang tak bertepi dan kasih yang tak terbilang. Sekafir-kafirnya seorang manusia, Allah tidak pernah menagih padanya di dunia ini tentang nikmat yang siang malam dirasakannya untuk dilunasi harga beli atau sewanya. Namun ironisnya, nikmat tersebut malah mereka gunakan untuk membangkang pada titah perintahNya tanpa pernah merasa bersalah. Subhanak ya Rabbana 

Di antara nikmat yang terasa sangat penting dari penciptaan tubuh kita ini adalah mata atau penglihatan dengan berbagai macam turunan nikmat yang bermula darinya, bahkan Allah memerintahkan melihat nikmat dalam tubuh ini dengan nikmat penglihatan ini, sebagaimana firman Allah: Dan apakah kalian tidak melihat (seksama) diri kalian sendiri?! (QS. Adz-Dzariyat: 21). 

Ya Allah! Sungguh dalam titah perintahMu untuk hambamu ini ada nikmat penglihatan yang mesti digunakan untuk melihat nikmat dalam tubuh yang lemah ini. Maka sungguh sangat terasa berat jika nikmat penglihatan ini dicabut dari tubuh yg membutuhkan arah berjalan, serta keseimbangan dan alur bergerak dalam kesehariannya. Olehnya itu, sangat tepat bila Nabi shallallahualaihi wasallam mengistilahkan dua mata ini sebagai dua hal yang sangat dicintai hamba, sebagaimana dalam hadis: Jika seorang hamba diuji dengan kehilangan dua hal yang dicintainya (kedua matanya) dan bersabar atas hal itu maka Allah akan membalasnya dengan surga. (HR. Bukhari) 

Kehilangan penglihatan berarti kehilangan banyak jenis dan variasi nikmat dunia yang dengannya bisa dijadikan sebagai wasilah untuk bertafakur atas ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Bersabar atas ujian ini pantas dibalas dengan surga oleh pencipta mata ini dikarenakan dalam dan sedihnya kadar ujian ini. 

Bahkan syariat yang mulia ini menempatkan penglihatan mata sebagai salah satu cara tercepat untuk bisa mengukur keafdalan sebuah perbuatan atau tidaknya, entah itu dalam permasalahan ibadah ataupun muamalah. Di antara contohnya ialah bahwa pemilihan binatang kurban yang paling afdal adalah yang paling gemuk, sehat dan menyejukkan pandangan; karena kenikmatan itu banyak yang bisa diukur hanya dengan melihatnya saja tanpa harus menyentuh atau mencicipi rasanya. Ya, cukup dengan melihat wujud fisik menjadikan orang yang berkurban itu senang. 

Juga hal ini kita bisa sama perhatikan dari kisah penyembelihan sapi betina oleh kaum Bani Israil dengan alur yang terkesan mencari alasan dan keringanan dari Nabi Musa alaihissalam, tapi ternyata kemudian berujung pada kesusahan yang berbelit-belit akibat ketidakmampuan meletakkan perintah pada porsi sebenarnya. Tapi yang unik dari kisah ini ialah bahwa Nabi Musa sempat menyebutkan bahwa sifat sapi yang diperintahkan untuk disembelih itu adalah yang enak dipandang. Hal ini tentu kembali kepada sifat dasar manusia yang menilai keindahan itu secara otomatis dari pandangan mata. Allah Ta’ala berfirman, Bukankah kami telah menciptakan dua buah mata baginya. (QS. Al-Balad: 8).  

Dengan mata inilah seorang yang ingin menikah diperintahkan untuk melihat calon istrinya agar dapat menyimpulkan kesimpulan secara langsung tentang pantas tidaknya untuk melanjutkanniat baiknya ke tahap selanjutnya. Sungguh nikmat penglihatan ini tidak berhenti di sini, tapi kita diajar oleh yang menciptakan mata ini untuk berdoa agar setelah menikah bisa mendapatkan keturunan yang dapat menyejukkan pandangan mata kita. Sangat sempurna ciptaan Allah ini jika berada pada jalur yang benar dan difungsikan pada hal yang positif. 

Karena indra penglihatan ini bisa menikmati ciptaan Allah tanpa harus mengganggu orang lain, maka keluasan dan ketidakterbatasan nikmat ini adalah cara Allah memberikan sebuah balasan bagi hamba yang tidak bisa ditandingi oleh nikmat surga sekalipun sebagaimana firman Allah: “Orang-orang yang berbuat ihsan baginya surga dan tambahan (melihat wajah Allah). (QS. Yunus: 26). 

Kesempurnaan dan kehebatan surga yang luasnya seluas langit dan bumi ini kemudian menjadi sesuatu tanpa arti ketika dibandingkan dengan nikmat melihat wajah Allah, sebgaimana dalam hadis: Jika penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah menyeru mereka, Apakah kalian ingin ditambahkan nikmat surga? Penghuni surga menjawab, Ya Allah! Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami dan memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Seketika Allah menyingkap tabir penghalang dan menampakkan wajahNya, dan penghuni surga tidak mendapatkan nikmat yang lebih mereka senangi daripada melihat langsung wajah Allah Ta’ala.” (HR Muslim) 

Ya Allah! Jadikanlah nikmat penglihatan yang Engkau anugerahkan kepada kami sebagai mata yang bisa kami jadikan sebagai wasilah melihat wajah-Mu di surgaMu kelak. Amin. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.