Tarbawi

Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Kedua Belas)

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān : 74)

Mereka tetap memperhatikan sisi sosial yang memang memiliki pengaruh terhadap diri seseorang. Manusia adalah pada tabiatnya adalah makhluk sosial, hidup di tengah ikatan keluarga, memiliki pasangan dan keturunan. Oleh sebab itu, sudah keharusan bagi seorang mukmin untuk meminta kepada Allah agar diberi kesalihan bagi pasangan dan keturunan, agar kiranya mereka menjadi penyejuk pandangannya, kebahagiaannya, tidak menjadi sebab kesulitan dan pengeruh kehidupannya. Tidak akan sejuk pandangan  hamba-hamba Allah yang saleh tersebut hingga mereka memperbaiki orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Renungkanlah keadaan kedua orang tua yang saleh dengan anaknya yang kafir. Allah berfirman,

اُفٍّ لَّكُمَآ اَتَعِدَانِنِيْٓ اَنْ اُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُوْنُ مِنْ قَبْلِيْۚ وَهُمَا يَسْتَغِيْثٰنِ اللّٰهَ وَيْلَكَ اٰمِنْ ۖاِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّۚ فَيَقُوْلُ مَا هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ

“Namun, orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah, kamu berdua! Apakah kamu berdua memperingatkanku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal umat-umat sebelumku telah berlalu?” Sementara itu, kedua orang tuanya memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata,) “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu, dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu.” (QS. Al-Aḥqāf : 17)

Tidak akan pernah sejuk pandangan seorang mukmin sampai mereka berupaya menjadikan anak-anak mereka sebagai orang saleh. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Kami menghadiri majelis Al-Miqdād bin Al-Aswad pada suatu hari. Tiba-tiba ada seorang pria yang melintas. Orang itu pun berkata, ‘Beruntunglah kedua mata ini yang telah melihat rasulullah ﷺ.’ Saya juga sungguh sangat ingin melihat apa yang engkau lihat dan menyaksikan apa yang pernah engkau saksikan.’ Disebabkan ucapan itu beliau pun marah. Aku pun heran, padahal pria itu tidak berbicara melainkan kebaikan. Aku pun kemudian menghadap kepada beliau. Beliau pun berujar, ‘Apa yang membuat orang itu berangan-angan untuk mendapati suatu kejadian yang telah Allah hindarkan darinya? Ia tidak tahu jika sekiranya ia menyaksikan kejadian yang dimaksud, bagaimanakah ia bersikap? Demi Allah, banyak kaum yang bertemu Rasulullah ﷺ namun Allah telungkupkan mereka di atas wajah-wajah mereka di neraka Jahanam. Mereka tidak menjawab Nabi, tidak membenarkannya. Mengapa kalian tidak memuji Allah yang melahirkan kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui kecuali Tuhan kalian, membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi kalian, diselamatkan dari ujian dengan kaum yang lain? Allah telah mengutus Nabi pada keadaan tersulit di mana Allah mengutus satu nabi dari para nabi di suatu masa Jahiliyah. Mereka saat itu tidak memandang bahwa agama lebih baik dari pada menyembah berhala. Nabi pun datang dengan pembeda yang membedakan antara yang benar dan yang batil, memisahkan antara orang tua dan anaknya, hingga seseorang melihat ayahnya, anaknya, atau saudarnya kafir, sedangkan Allah membuka gembok hatinya untuk beriman. Ia tahu jika ayah/anak/saudaranya mati maka ia akan masuk neraka. Maka tak sejuk pandangnya sedang ia tahu bahwa orang yang dicintainya berada di neraka. Itulah yang Allah firmankan,

Baca Juga  Kabar Gembira Bagi Para Pecinta Al-Quran

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān : 74)[1]

Dalam urusan ini, berpegang dengan doa begitu sangat jelas (keharusannya) karena setiap orang tidak tahu apa yang akan ia dapati dari kerabatnya yang berinteraksi kuat dengan dirinya. Mungkin mereka menjadi sebab keakraban dan kebahagiaan, mungkin juga mereka menjadi sebab kerisauan, kesulitan dan nelangsa.

Ungkapan ‘anugerah (الهبة)’ dalam pembahasan keturunan, disebutkan sebanyak sepuluh kali di dalam Al-Quran :

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً

 “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu.” (QS. Āli ‘Imrān : 38)

فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ

“Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” (QS. Maryam : 5)

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَ

“Kami menganugerahkan kepada Daud (anak bernama) Sulaiman.” (QS. Ṣād : 30)

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ

“Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub.” (Al-An’ām : 84)

لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا

“… untuk memberikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci kepadamu.” (QS. Maryam : 19)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِيْ عَلَى الْكِبَرِ اِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(-ku) Ismail dan Ishaq.” (QS. Ibrāhim : 39)

يَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ

“… memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syūrā : 49)

Begitu tampak kemurnian pemberian secara langsung. Ini hanya bisa dipahami dan dirasakan oleh orang yang menanti datangnya buah hati.

Kemudian, lingkaran ‘ketamakan’ hamba-hamba Ar-Rahman akan keutamaan Tuhan mereka semakin meluas. Setelah mereka meminta manfaat yang terkhusus bagi diri mereka sendiri yaitu terkait dengan pasangan dan keturunan, jiwa mereka pun menginginkan manfaat yang dirasakan bagi seluruh kaum muslimin. Mereka pun berdoa,

وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“… serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān : 74)

Kepemimpinan dalam agama adalah sebuah derajat yang begitu mulia dan tinggi. Kepemimpinan dalam agama adalah pelanjut Nabi ﷺ di tengah-tengah umatnya serta penerima warisannya yang tidak pernah habis.

وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَ ۙ

Baca Juga  Jangan Remehkan Sebuah Amalan!

“Kami menjadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk atas perintah Kami dan Kami mewahyukan kepada mereka (perintah) berbuat kebaikan, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, serta hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS. Al-Anbiyā` : 24)

Olehnya, dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama akan diperoleh.

Ketika sifat-sifat mulia ini terkumpul pada golongan tersebut, Allah lantas mengganjar mereka dengan keutamaan dan anugerahnya dengan ganjaran terbaik dan pemberian termulia. Allah berfirman,

اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ۙ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal di dalamnya. (Surga) itu sebaik-baik tempat menetap dan kediaman.” (QS. Al-Furqān : 75-76).

Balasan setimpal dengan perbuatan, ketika cita-cita mereka tinggi, mereka pun dibalas dengan bilik-bilik dan derajat yang tinggi di surga. Ketika mereka mampu bersabar di atas ketaatan kepada Allah, bersabar menghindari kemaksiatan, mengerjakan perintah, menjauhi larangan, mereka pun meraih berbagai macam nikmat, syahwat, kelezatan lahir dan batin yang disukai oleh hati dan nikmat dipandang mata disertai dengan kekekalan abadi sebagai buah kesabaran panjang mereka.

Dahulu, saat orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” Bila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya. Pada hari kiamat mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.

Allah berfirman dalam ayat lain,

وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ

“… malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.   (Malaikat berkata,) “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga).” (QS. Ar-Ra’du : 23-24)

Semoga Allah menjadikan kita, kedua orang tua kita, pasangan, dan keturunan kita hamba-hamba Ar-Rahman dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di di dalam tafsirnya menyebutkan makna global ayat-ayat ini,

“Intinya, Allah menyifati mereka dengan ketenangan, keteduhan, sikap tawaduk kepada-Nya dan hamba-hamba-Nya, adab yang baik, santun, dan mulia, gemar memaafkan orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas keburukan mereka dengan kebaikan, ikhlas mendirikan salat malam, takut neraka, memelas kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, mengeluarkan nafkah wajib dan sunah, bersikap pertengahan dalam mengeluarkan nafkah yang mana sering terjadi kelalaian dan sikap berlebihan di dalamnya, maka sikap pertengahan dalam urusan mereka yang lain lebih utama, selamat dari dosa-dosa besar, bersifat ikhlas kepada Allah dan hamba-hamba-Nya, menjaga diri dari darah dan kehormatan orang lain, bertobat jika ternyata mengusik hal tersebut, mereka juga tidak menghadiri perkumpulan yang mungkar serta kefasikan baik dari segi perbuatan maupun ucapan, mereka pun tidak mengerjakannya, mereka juga menghindari hal yang tidak bermanfaat, perbuatan rendahan yang tidak ada kebaikan di dalamnya. Ini semua menjadikan mereka memiliki wibawa, kemanusiaan, dan keparipurnaan serta ketinggian jiwa dari segala keburukan ucapan dan perbuatan, menerima ayat-ayat Allah, memahami maknanya, mengamalkan isinya, bersungguh-sungguh mengejawantahkan hukum-hukumnya, mereka pun berdoa kepada Allah dengan sesempurnanya doa. Doa yang mendatangkan manfaat bagi mereka dan orang-orang yang terkait dengan mereka dan kaum muslimin. Manfaat yang dimaksud berupa kesalehan pasangan dan keturunan. Di antara konsekuensi hal tersebut ialah mereka berupaya mengajari, menasihati, dan memberi wejangan kepada pasangan dan keturunan karena orang yang mengharapkan sesuatu dan meminta kepada Allah pasti ia melakukan sebab-sebab yang akan mengantarkannya untuk meraihnya. Mereka pun berdoa kepada Allah agar disampaikan pada derajat yang tertinggi yaitu derajat kepemimpinan dan derajat As-Ṣiddīq.

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Ketiga)

Betapa tinggi sifat-sifat ini, betapa tinggi cita-cita, betapa mulia tujuan yang diinginkan, betapa suci jiwa-jiwa itu, betapa bersih hati-hatinya, betapa murni orang-orang pilihan itu, betapa bertakwanya para penggawa tersebut.

Demi Allah, karunia, nikmat, dan kasih sayang  Allah bagi merekalah yang mengangkat mereka. Kelembutan-Nyalah yang menyampaikan mereka pada derajat ini.

Demi Allah, salah satu bentuk karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Allah menjelaskan sifat-sifat hamba-hamba Ar-Rahman ini, Allah menggambarkan keadaan dan cita-cita mereka, Allah menjelaskan balasan yang mereka jelang agar hamba-hamba Allah rindu untuk berhias dengan sifat-sifat tersebut dan mengerahkan tenaga untuk itu, dan memohon kepada zat yang telah mengaruniai dan memuliakan hamba-hamba Ar-Rahman tersebut, zat yang karunianya ada di setiap ruang dan waktu, agar Dia berkenan memberi petunjuk, mendidik secara khusus sebagaimana Allah mendidik mereka.

Ya Allah, bagi-Mu puja puji. Engkaulah tempat mengadu, hanya Engkau tempat meminta pertolongan, tiada daya, tiada upaya melainkan dengan pertolongan-Mu, kami tidak berdaya mendatangkan manfaat bagi diri kami, tidak berdaya menolak mara bahaya, kami tidak mampu mendatangkan sebiji sawi kebaikan jika Engkau tidak memudahkannya untuk kami, kami ini lemah dan tak mampu dari berbagai sisi.

Kami bersaksi bahwa jika Engkau menyerahkan diri kami kepada diri kami sendiri walau sekejap mata saja, Engkau menyerahkan kami kepada kelemahan, ketidakmampuan, dan kesalahan. Kami tidak yakin wahai Tuhan kami kecuali kepada kasih sayang-Mu yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rezeki, dan memberi kami nikmat lahir batin, serta Engkau palingkan dari kami musibah. Olehnya, kasihilah kami dengan kasih sayang yang mencukupkan kami dari kasih sayang selain-Mu, tidak akan merugi orang yang meminta dan berharap dari-Mu.”[2]

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah segala macam kebaikan.

Penulis

Ahmad bin ‘Abdurrahman Al-Qāḍi

‘Unaizah, 20 Rabiul Awal 1437 H

Diterjemahkan oleh :

Fahmi Alfian, Lc.

Samarinda, 14 Zulkaidah 1443 H

([1]) HR. Ahmad (23810).

([2]) Taysīr Al-Karīm Ar-Rahmān Fī Tafsīr Kalām Al-Mannān hal. 63 cetakan Ar-Risālah.

Fahmi Alfian, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?